
Zan mendengar teriakan Nadia hingga dia urung menutup pintu dan keluar kembali, dengan menjulurkan kepalanya di sana.
“Apa lagi?”
Nadia mendekat sambil mengembalikan barang milik Zan, setelah mengosongkan isinya. Perempuan itu tadi menyimpan makanan berupa beberapa roti ini dan camilan itu meja, lalu mengembalikan piring yang sebenarnya sama sekali tidak kotor.
“Memangnya sudah kamu cuci?” Tanya Zan setelah melirik piring yang disodorkan Nadia padanya. Tentu saja pertanyaan itu membuat Nadia merasa kesal, karena baginya piringnya tidak perlu di cuci.
“Ini nggak kotor, buat apa dicuci, makanan yang kamu kasih tadi semuanya dibungkus plastik!”
“Hiss, bagiku itu tetap kotor, cuci dulu, sana!”
Lagi-lagi Nadia dibuat kesal, kenapa hal ini terasa lebih menyebalkan saat dia kembali teringat, bagaimana seorang anak kecil berteriak memanggil Antoni dengan sebutan ayah, diwaktu ijab qobul tengah berlangsung.
Pintu tertutup dihadapan Nadia, membuat gadis itu mengalah dan kembali ke biliknya, untuk melanjutkan membereskan barang-barang pribadi yang dibawanya.
*****
Nadia kini sudah berdiri di depan sebuah pabrik sepatu yang telah menerimanya sebagai pegawai, entah akan ditempatkan sebagai apa dia nantinya. Dia sudah berpakaian rapi dengan stelan kemeja, rok plisket lebar dan kerudung dengan warna yang senada. Pakaian seperti itu yang kebanyakan dimiliki Nadia. Model kekinian yang sepertinya akan bertahan cukup lama.
Dia menghadap ke meja resepsionis setelah menarik napas dalam dan mengatakan maksud kedatangannya. Setelah menunggu konfirmasi dari pihak informasi itu, akhirnya Nadia dipersilakan menghadap ke ruang personilia. Cukup lama dia menunggu di ruangan itu tapi orang yang diharapkan tidak kunjung datang. Memang ada beberapa pegawai lain di sana, tapi mereka mengaku bukanlah yang bernama Pak Tirta, orang yang akan memberinya pekerjaan nantinya.
Nadia memilih menyibukkan diri dengan ponselnya dan mengirim beberapa pesan pada ibu dan ayahnya. Hal itu sangat membantu membuang rasa jenuh, menunggu tanpa kepastian di tempat asing dan juga menegangkan. Dia seolah berada di pulau terpencil sendirian tidak memiliki makanan dan teman. Sedangkan binatang buas siap menerkam kapan saja. Ini menegangkan sekaligus menjengkelkan.
Setelah Nadia selesai mengirimkan pesan terakhir, seorang pria bertubuh tinggi dan tegap serta memakai stelan jas rapi masuk ke ruangan tempat Nadia menunggu orang bernama Tirta. Pria itu menoleh ke arah Nadia berada, tapi gadis itu tidak bisa melihat apakah benar pria itu melihatnya atau tidak, sebab dia memakai masker dan kaca mata hitam.
Seketika beberapa pegawai berdiri dan menunduk hormat padanya, melihat hal itu, Nadia pun mengikuti dengan melakukan hal yang sama.
“Hei, kamu! Pegawai baru ya?” kata orang itu setelah berdiri di hadapan Nadia.
Melihat tingkah orang itu, tiba-tiba Nadia teringat dengan tetangga menyebalkannya di tempat kost. Saat dia berangkat tadi, pintu bilik Zan tertutup rapat begitu juga semua jendelanya, membuat Nadia menduga bila pria itu masih sibuk dengan mimpi-mimpi.
“Benar, Pak. Saya baru diterima hari ini.” Kata Nadia sopan. Mereka masih bicara dalam keadaan berdiri saling berhadapan.
Pria itu menelisik penampilan Nadia dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu dia memutari badannya sambil memegang dagunya yang ditutup masker.
__ADS_1
“Buat apa kamu pakai penampilan begini, ini tidak cocok dengan pekerjaan yang akan aku berikan padamu.” Kata pria itu lagi. Sementara itu, pegawai lainnya sudah menyibukkan diri kembali dengan pekerjaannya.
Nadia merasa dihempaskan dalam kegelapan saat itu juga, mungkin Tuhan belum akan berhenti mengujinya, sebab ini ujian menyebalkan lainnya di saat dia dalam proses move on dari kegagalan pernikahannya.
Dia sudah hampir menangis tiba-tiba rasa sakit di ulu hati itu kembali terasa bagai menyayat hatinya menjadi serpihan kecil. Dia dipermalukan seperti ini karena penampilan, padahal dia pikir ini penampilan terbaiknya.
Nadia masih diam dengan tangan memegang tasnya dengan kuat menahan geram.
“Besok lagi, kamu gak perlu berpenampilan menarik dan cantik seperti ini, karena kamu akan saya tempatkan dibagian cleaning servis!” kata pria itu lagi.
‘Apa, apa katanya barusan, penampilanku menarik dan cantik? Hai, orang aneh ya, dia ini?’ batin Nadia kesal.
“Baik, saya paham, Pak!” kata Nadia masih tetap sopan.
“Ya sudah, pergi sana ke ruang cleaning servis, ganti baju seragam mereka!” pria itu kemudian berbalik setelah berkata demikian, dia keluar ruangan dengan gaya pongah dan tanpa diketahui siapa pun, dia tersenyum miring dengan sinar mata lucu menatap Nadia.
‘Nadia, Kamu nggak kenal, kan, siapa aku?’ batin pria itu.
“Maaf, Mas. Siapa ya, Bapak itu, tadi?” tanya Nadia pada salah satu pegawai yang ada di sana, setelah pria itu pergi. “Apa beliau yang bernama Pak Tirta?”
“Oh, bukan ... itu Pak Fauzan Adam, anak pimpinan perusahaan, sejak datang ke sini, dia selalu begitu, gak pernah nunjukin mukanya. Tenang aja, dia memang semaunya tapi, jarang datang kok, Cuma kalau perlu aja sama Bapaknya. Oh iya, Pak Tirta itu sering datang kesiangan!” kata pegawai itu panjang lebar lalu, kembali melanjutkan pekerjaannya.
Setelah itu, Nadia melangkah ke tempat berkumpulnya para OB dan cleaning servis kantor tersebut, semua rekan sesama profesi, menyambutnya dengan baik. Setelah mengetahui seluk beluk pekerjaannya, sesuai instruksi dia mengganti pakaian dan mulai melakukan tugas seperti yang lainnya.
Meskipun demikian, dia teringat dengan pesan ibunya dipesan chat tadi, bahwa dia harus bersyukur dengan apa yang sudah dia dapatkan termasuk pekerjaan yang akan dia terima saat ini.
Dia bersyukur sambil menarik napas panjang, lalu menghembuskannya secara perlahan. Dia berjalan mengiringi seorang teman yang akan melakukan tugas membersihkan lobi kantor.
Saat Nadia masih mengepel lantai. Dua orang pria mendekat dan berkata pada satu dan lainnya.
“Nah, ini dia, Pak. Orang yang tadi mencari Bapak, dia bilang pegawai yang baru diterima dan di terima di kantor kita.”
“Kenapa dia, jadi cleaning servis?”
“Tadi, waktu dia menunggu Bapak, ada Pak Fauzan datang dan menyuruhnya jadi cleaning servis.”
“Ah, padahal aku mau nyuruh dia jadi asisiten Bu Diana, manajer kita.”
“Sebaiknya kita tanya sama Pak Fauzan saja, Pak.”
__ADS_1
“Ayo!”
Setelah mendengar semua itu, Nadia tercengang karena dia sadar bahwa sudah terjadi sebuah kesalahan dalam pekerjaannya. Ini sulit diterima, bagaimana bisa seorang pimpinan berbuat semaunya pada pegawai dan bawahnya?
Dua orang yang tadi bercakap-cakap adalah seorang pegawai yang ditemuinya di ruang personalia dan Pak Tirta. Gadis itu hanya berharap bila dia tidak akan bekerja sebagai cleaning servis selamanya di sana.
Hari sudah sampai pada ujungnya dan Nadia pun menyelesaikan semua tugas yang diberikan dihari pertama bekerja. Dia menunggu keputusan perubahan status kepegawaian akan tetapi sampai saat dirinya harus pulang, pekerjaannya tidak juga dipindahkan.
Nadia sedang berdiri di dekat tempat parkir ketika seseorang memanggilnya.
“Hai! Kamu cleaning servis, kan? Sini!”
Mendengar panggilan itu, Nadia menoleh dan melihat pria bermasker dan kaca mata hitam tengah bersandar di mobil sambil memainkan kuncinya. Dia adalah Fauzan orang yang tadi sudah salah memberinya pekerjaan.
Sebenarnya Tirta selaku kepala personalia sudah mengkonfirmasi kesalahan pekerjaan Nadia pada Fauzan, tapi pria itu bersikukuh tidak akan memindahkannya. Dia beralasan bahwa pekerjaan yang Nadia terima itu cocok.
Meskipun, Nadia kesal, tapi tetap menghampiri pria itu dengan hormat mengingat dia adalah anak pemilik perusahaan.
“Ada apa, ya, Pak?”
“Hiss. Kamu ini, lihat ... ini kotor!” kata Fauzan sambil menunjuk area disekitar tempat parkir. Sementara Nadia melihat tempat itu bersih, hanya ada sedikit tanah yang mungkin terbawa dan menempel di roda mobil.
Nadia merasa bila pria ini hanya senang mengganggu dirinya saja. Akan tetapi, dia tetap tersenyum dan menjawab dengan tegas.
“Tapi, Pak ... sekarang pekerjaan saya sudah selesai. Sekarang sudah waktunya pulang.”
“Jadi, kamu berani membantah saya?” suara Fauzan mulai meninggi, dia terkesan marah, padahal matanya memandang Nadia dengan jenaka dan bibinya tersenyum lucu. Namun, semua itu tidak bisa melihatnya.
Mau tidak mau Nadia menurut, dia mengambil alat kebersihan dan mulai melakukan hal yang diperintahkan oleh Fauzan hingga tempat itu benar-benar bersih.
“Makanya, jadi perempuan itu harus nurut.” Fauzan berkata setelah Nadia selesai dengan pekerjaannya. Ya, selama gadis itu menyapu, pria itu terus memperhatikannya.
“Maksudnya apa, ya, Pak?”
Bersambung
__ADS_1