
Nadia dan ibunya bertanya secara bersamaan. Salima merasa tidak pernah memberikan perintah apa pun pada laki-laki itu.
Namun, wanita yang sudah berumur itu berpikir sejenak hingga dia kemudian berdehem lirih. Tiba-tiba dia teringat tentang Usulannya yang pernah dia utarakan pada mereka untuk segera menikah, dikarenakan oleh mereka yang sudah selama beberapa hari selalu berdua, berada di bangsal rumah sakit.
“Coba, Ibu Ingat lagi tentang perintah Ibu pada kami waktu Nadia masih di rumah sakit.” Fauzan berkata sambil tersenyum yang tercetak pada masker medis yang digunakannya.
Nadia langsung menyela dengan tegas, “Itu, kan, dulu!”
“Tapi, nggak ada salahnya menikah sekarang!” kata Fauzan.
“Aku nggak mau!” sahut Nadia sambil terus berjalan dan memegangi tangan ibunya.
“Kenapa?” tanya Fauzan.
“Kalo nggak mau, ya, nggak mau!” kata Nadia, suaranya sedikit meninggi.
“Dosa loh, membantah keinginan orang tua ....” kata Fauzan lagi yang membuat Nadia diam.
Nadia tidak mungkin mengatakan tentang masa lalunya yang pernah gagal menikah kepada orang asing seperti Fauzan karena akan sangat memalukan. Apalagi dia tidak punya hubungan apa pun dengan pria itu.
Laki-laki itu terkesan putus asa di hadapan Nadia, karena mengajaknya menikah dalam kondisinya yang seperti ini. Wanita itu menduga jika rasa putus asa yang ditampakkan Fauzan akibat dari kemarahan ibu tirinya, sampai dia tidak mendapatkan jodoh karena harus menutupi identitas. Betapa mengenaskan! Nadia sedikit mengangguk membenarkan issu yang pernah didengar saat teman-temannya menggunjing di tempat bekerja, tentang Fauzan.
“Jadi, bener nih, nggak butuh tumpangan?” tanya Fauzan sekali lagi.
“Baiklah. Ayo!” kata Salima kemudian, tidak terduga oleh Nadia juga Fauzan.
Sebenarnya wajar saja wanita itu berkata demikian karena wajahnya sudah menunjukkan kelelahan. Tidak terasa mereka sudah berjalan cukup jauh dari rumah sakit. Begitu juga dengan Nadia, sudah terlihat sudah lelah, apalagi sinar matahari seperti tengah memanggang kulit kepala, seolah jika mereka berada di luar sana sebentar lagi, maka, tubuh mereka akan meleleh seperti es krim yang tidak di simpan dalam lemari es.
Setelah mendengar Salima setuju untuk menumpang, Fauzan terlihat sangat bersemangat. Dia berjalan ke mobilnya lebih dulu lalu, membukakan pintu untuk kedua wanita itu.
Akan tetapi, berbeda dengan Nadia, dia seperti berada di persimpangan jalan. Antara dua pilihan yang sulit, apabila tidak dituruti atau dituruti akan sama-sama menyebalkan.
Nadia mengikuti langkah ibunya yang lebih dahulu masuk ke dalam mobil. Setelah dia duduk di samping Salima, Fauzan menutup pintu dan duduk di belakang kemudi sambil melirik Nadia dari kaca spion depan, dia tersenyum tetapi, tidak bisa dilihat oleh siapa pun.
‘Yes! Berhasil!’ pikir Fauzan
__ADS_1
Sepanjang perjalanan pulang, semua yang ada dalam mobil itu tidak bersuara, mereka sama-sama sibuk dengan pikirannya masing-masing. Nadia dan ibunya menoleh ke jendela, sementara Fauzan fokus ke jalanan.
Sampai di persimpangan jalan, Salima hampir membuka mulutnya untuk bersuara menunjukkan ke mana arah yang harus mereka tuju, tapi, ternyata sang sopir yang duduk di belakang kemudi sudah mengetahui letak rumah tanpa diberitahunya.
Hal ini membuat Salima heran seraya menatap anaknya yang duduk di sampingnya, sementara Nadia diam saja karena dia sudah mengerti bahwa orang yang diutus untuk menjemput ibunya dahulu, pasti sudah memberitahukan di mana letak rumahnya. Wanita itu hanya mengedikkan bahu menanggapi keheranan Salima.
Nadia dan Salima turun terlebih dahulu sebelum dibukakan pintu karena dia segera bergegas masuk dalam rumahnya sementara Salimah berdiri di samping mobil Fauzan dan menatap pria itu lekat-lekat.
“Silakan mampir dulu, Nak.” Kata Salima.
“Apa boleh Bu, saya tidak merepotkan?”
“Mampir saja dulu, sebagai ucapan terima kasih saya sudah diantarkan sampai di rumah.”
Fauzan mengangguk menuruti wanita tua itu dan melangkah mengikutinya ke dalam rumah sederhana milik Salimah. Sampai di depan teras, Maulana--suaminya sudah menunggu. Pria tua itu heran memandang lelaki berkacamata yang ada di belakang istrinya.
“Untuk apa kamu datang kemari?” tanya Maulana tegas.
Salimah menarik tangan suaminya dan membawanya masuk, dia mengatakan sesuatu tentang yang terjadi tadi saat di rumah sakit. Tak lupa dia pun mengatakan semua percakapan mereka tentang pernikahan. Mendengar ucapan istrinya pria tua itu mengurutkan kening sambil melihat Fauzan dari ujung rambut sampai ujung kakinya kemudian dia melangkah mendekat dan mempersilahkannya duduk.
“Bu, ambilkan minum dulu!” Kata Maulana saat mereka sudah duduk saling berhadapan di sofa ruang tamu.
Sementara di ruang tamu Maulana memberikan banyak pertanyaan pada Fauzan seputar identitas dan kepribadiannya. Apabila benar laki-laki itu bertekad untuk menikahi Nadia, tentu saja dia harus mengetahui siapa pria itu sebenarnya. Karena di antara mereka belum saling mengenal apalagi laki-laki itu selalu menutupi wajahnya seolah tidak ingin diketahui identitasnya membuat Maulana sedikit curiga.
“Memangnya kamu sudah lama kenal sama Nadia?” Maulana bertanya dengan tenang, bersamaan dengan saat Salima menyimpan dua gelas teh di atas meja.
“Ya selama Nadia bekerja di kantor saya.” Fauzan menjawab dengan gaya tidak kalah tenang.
“Apa Kalian sering bertemu?”
“Tidak juga.”
“Lalu, kamu suka sama Nadia?”
“Ya.”
__ADS_1
Mendadak suasana menjadi hening, baik di ruang tamu ataupun dari balik kamar Nadia. Dia bisa mendengar semua pembicaraan ayahnya yang seperti seorang polisi sedang menyelidiki tersangka, sangat detail tentang identitas Fauzan termasuk pekerjaannya. Namun, saat mendengar akhir dari pembicaraan itu dia menarik nafas panjang, rasanya berat untuk menerima pengakuan Fauzan.
Akan tetapi, semua yang diakui laki-laki itu di hadapan Ayahnya adalah benar dan tidak ada yang ditutupi dia mengakui semuanya. Bahkan dia menceritakan bagaimana keadaan keluarganya serta kakaknya yang dirawat di rumah sakit dalam keadaan koma.
Nadia memberanikan diri untuk keluar dari kamar lalu, berdiri di belakang ayahnya kemudian, dia menyela pembicaraan kedua orang itu sementara Ibunya sudah duduk di samping ayahnya.
“Tapi, Aku nggak suka sama kamu gimana kalau aku nolak kamu?” kata Nadia ketus.
“Sudah, sudah ... ayo Silakan diminum dulu tehnya!” kata Salima kepada tamu dan suaminya sambil mengulurkan tangan membuka cemilan yang dia suguhkan di atas meja.
“Nadia, duduk!” perintah sang ayah pada anaknya.
Nadia pun duduk di salah satu kursi yang ada di antara Fauzan dan Maulana. Tiba-tiba dia merasa seolah menjadi seorang terdakwa dalam persidangan sebuah kasus, semua mata tertuju padanya.
‘Memangnya aku punya salah apa sih sama mereka?’ Batin Nadia sambil menundukkan pandangan.
Fauzan yang dipersilahkan untuk mencicipi makanan dia terlihat kikuk, melihat antara Salimah dan minuman yang ada di hadapannya. Sementara Nadia terlihat menahan tawa, dia menertawakan Fauzan yang terlihat serba salah. Mau tidak mau apabila dia ingin mencicipi makanannya, tentu saja dia harus membuka maskernya, yang otomatis akan memperlihatkan wajahnya.
‘Memangnya mau bertahan sampai kapan kamu seperti itu, menutupi wajahmu? Sudah ... buka saja sekarang!’ kata Nadia dalam hatinya.
“Apa yang kamu suka dari anak, saya?” tiba-tiba Salimah bertanya dengan nada tegas kepada Fauzan yang masih terlihat bingung, antara harus membuka masker atau merelakan makanan enak di depannya begitu saja.
“Saya tidak butuh alasan untuk jatuh cinta. Jadi, saya tidak punya alasan apa pun untuk mencintai Nadia, karena memang saya suka, ya ... suka aja.” jawab Fauzan sungguh-sungguh.
“Terus, kamu Nadia, gimana? Kamu suka sama laki-laki ini memang kamu tahu gimana mukanya?” tanya Salima lagi tidak kalah tegasnya saat dia bertanya pada Fauzan. Menurutnya bagaimana mungkin orang akan menjadi cinta apabila melihat wajahnya saja tidak pernah.
Saat itu tiba-tiba Fauzan menggerakkan tangannya untuk mengambil gelas teh.
Bersambung
__ADS_1