AIR MATA PENANTIAN

AIR MATA PENANTIAN
AMP Season 2 part 31 Turunkan Aku


__ADS_3

Turunkan Aku


 


“Bapak masih tinggal di tempat kost itu?” Nadia mengulangi pertanyaannya. Namun, Fauzan tetap diam dan hanya fokus menatap jalanan.


Pria itu bukannya tidak mendengar pertanyaan Nadia, hanya saja dia masih memikirkan bagaimana Nadia bisa menyimpulkan identitasnya dengan begitu mudah. Lalu, tiba-tiba saja dia sedikit menyesal karena sudah mengutus Jali--asistennya pergi ke tempat kost.


Si Jali, asistennya itu tidak konsisten dalam penyamaran, serta memakai pakaian yang tidak sesuai seperti yang dia inginkan. Akan tetapi, dia tidak bisa marah pada lelaki paruh baya itu walau kesal setengah mati.


Waktu itu Fauzan sangat membutuhkan uang kecil untuk membayar hutang kepada Nadia, yang telah membayarkan token listriknya. Dia tidak mempunyai uang recehan karena selalu memakai kartu kredit untuk transaksi.


Lalu, dia meminta Jali membawakan uang kecil secukupnya saja selama dia berada di sana. Namun, Jali  membawa uang kecil dalam jumlah banyak, tidak tanggung-tanggung, satu tas penuh, bahkan lengkap dengan uang pecahan lima ratus rupiah.


Walaupun Fauzan kesal pada Jali, tapi, dia tetaplah asistennya yang setia. Apalagi dia sedang menyamar menjadi pengangguran, tentu akan terlihat lucu jika di tangannya tidak punya uang kecil dan, apa yang di bawa Jali ternyata sangat bermanfaat juga.


Selain itu dia juga cukup ceroboh karena lupa melepaskan jam branded di tangannya waktu itu, yang menjadikan Nadia begitu mudah menaruh rasa curiga.


“Pak, Bapak dengar saya, kan?” tanya Nadia lagi.


“Ah, iya! Masih ... aku masih di sana untuk sementara.” Fauzan sedikit gugup.


“Jadi, yang dimaksud Kakak yang membayari token listrik Bapak waktu itu siapa? Pak Jali?” Nadia terlihat penasaran.


Fauzan menjawab dengan seringaian dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sementara tangan lainnya masih memegang kemudi.


“Ya, siapa lagi kalau bukan dia?” Nadia bergumam sambil tersenyum kecil dan memalingkan wajahnya ke arah jendela.


Sesaat kemudian, suara ponsel milik Fauzan berbunyi membuat pria itu melambatkan laju mobil, dia mengambil benda pipih itu dari balik saku jas dan melihat pada layar dengan dahi berkerut. Lalu, dia mengaktifkan earphone bluetooth di telinga untuk memulai percakapan.


“Halo, Ma ....” sapa Fauzan, suaranya begitu lembut dan tenang. Dia bicara pada orang di seseorang seberang telepon.


Nadia melihat dengan ujung mata saat laki-laki di sampingnya bicara, dengan panik, dan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi setelah sambungan telepon diakhiri.


Nadia pun sedikit panik karena dia baru sadar jika jalan yang mereka lalui sudah jauh dari arah jalan menuju ke rumahnya sendiri.


“Pak! Turunkan saya di sini!”


Mobil tetap melaju, dia tahu bertapa cepatnya kendaraan itu membawanya berlari di jalanan. Dia tidak mungkin turun dengan paksa kecuali siap mengorbankan nyawa.


“Pak! Ini bukan jalan ke arah rumah saya! Turunkan saya di sini, Pak!”


Fauzan tetap diam, matanya seperti melihat ke arah dunia yang berbeda. Tatapan matanya seperti kosong.

__ADS_1


“Fauzan!” Akhirnya Nadia berteriak. Dia benar-benar kesal.


Nadia menatap pria di sampingnya nanar, sambil mencengkram bahunya kuat-kuat dengan tangan kanannya tapi, bukanya menghentikan mobil, Fauzan justru terkekeh geli. Dia merasa tingkah Nadia cukup berani kali ini.


“Turunkan saya di sini, Pak!”


“Tidak bisa!”


“Fauzan!”


“Ya!”


“Turunkan aku!”


“Tidak mau!”


“Kamu menculikku!”


“Ya!”


“Kurang ajar kamu!”


“Biarin!”


Wanita itu tidak tahu apa yang dibicarakan oleh orang yang ada di balik telepon, hingga pria itu sebelahnya menginjak pedal gas.lebih dalam setelah dia berkata, “Baiklah, aku akan segera pulang.”


Di tengah perjalanan, Nadia memutuskan y idur karena dia anggap akan jauh lebih baik dari pada berdebat. Walaupun, dia tiba-tiba ingat dengan baju kotor yang tertinggal di pesta, atau telepon genggam yang sudah hpir habis daya sedangkanz dia tidak membawa chargernya, Ah, abaikan saja.


Dia juga tidak membawa pakaian ganti karena memakai pakaian bagus ini sepanjang hari terlalu riskan.


Apalagi jarak yang di tempuh cukup jauh hingga membutuhkan waktu lama menuju kota. Ya, kalau Fauzan mau mebawanya ke sana. Sebab dia memang tidak tahu Fauzan akan membawanya ke mana.


Nadia sudah pasrah seperti pasrahnya seorang tentara yang tertangkap basah di Medan pertempuran dan senjatanya diluciti satu persatu di hadapan lawan.


‘Ya ... asalkan tidak ke Amamu Muru saja!’ pikir Nadia sambil mengedipkan bahu dan memejamkan mata.


Amamu Muru adalah sebuah kota kecil di pesisir Eropa yang di percaya menjadi tempat pertukaran dan munculnya makhluk dunia luar atau dunia arwah sekaligus penghubung antara makhluk gaib dengan dunia nyata, bahkan kepercayaan itu masih ada sampai sekarang.


Melihat Nadia yang tertidur, Fauzan sedikit melambatkan laju kendaraan, lalu menepi secara perlahan, begitu juga mobil pengawal yang di sewanya itu pun, ikut melambat dan menghentikan kendaraan mereka juga.


Pria itu melepas sabuk pengaman dan memiringkan badan untuk merubah posisi kursi yang diduduki Nadia menjadi agak miring. Dengan begitu, dia bisa tertidur dalam posisi yang nyaman. Lalu, Fauzan memberi bantal tidur kecil yang nyaman, melingkar di lehernya. Agar kepala tidak tergoyang karena gerakan kendaraan yang ditumpanginya.


Sementara pengawal melihat apa yang terjadi dan memastikan majikan mereka baik-baik saja. Setelah itu kembali ke mobil sambil menunggu perintah selanjutnya.

__ADS_1


Sebenarnya saat itu Nadia belum begitu nyenyak hingga dia bisa tahu apa yang dilakukan Fauzan padanya. Seketika dia menahan napas dan waspada, ingin tahu apa yang akan pria itu lakukan selanjutnya. Akan tetapi, demi melihat Fauzan hanya membuatnya nyaman dan kembali mengemudi, dia merasa lega.


Memang tadi, Fauzan sempat diam memperhatikan wajahnya cukup lama, sambil mengembuskan napas kasar dan senyum tipis yang menghiasi bibirnya. Nadia sama sekali tidak tahu apa arti senyumannya itu.


Nadia akhirnya benar-benar tertidur. Sampai-sampai dia tidak tahu kapan mobil itu berhenti karena dia terbangun karena mendengar suara sirine yang meraung di sekitarnya.


“Uh,” gumamnya saat membuka mata dan dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Sesaat kemudian dia menyadari jika dia berada di depan sebuah rumah sakit.


Nadia segera beranjak dari posisi tidurnya sambil mengerjakan mata berulangkali guna mengumpulkan kembali kesadaran diri.


“Tidurmu nyenyak sekali, Nona! Ayo! Turun.” Kata Fauzan yang duduk di sampingnya sambil membuka sabuk pengaman.


“Ini rumah sakit?”


“Iya, udah tahu pake nanya lagi!”


“Kenapa kita ke sini?”


“Sebenarnya aku mau cerita banyak tadi, tapi, kamu tidur. Ya, nggak jadi deh, ceritanya.”


“Kenapa aku nggak dibangunin aja?”


Fauzan mengerutkan keningnya saat melihat Nadia bicara, dia sebenarnya ingin  membangunkannya sejak tadi mobilnya berhenti, tapi, dia tidak tega melakukan, setelah melihat wajah bayi polos yang nyenyak tertidur di kursi mobil.


Fauzan membantu Nadia melepaskan sabuk pengaman, di saat itulah kedua mata mereka saling bertemu, membuat keduanya menahan napas sejenak guna menenangkan debaran jantung yang tiba-tiba berdetak lebih cepat.


Nadia sempat terpanah sejenak kemudian memalingkan pandangannya.


“Siapa yang sakit?” tanya Nadia demi mengalihkan suasana yang mendadak canggung.


“Adikku, Arfan.”


‘Jadi benar, dia punya adik yang sakit? Ah, kadang isu juga benar’ batin Nadia, sambil mensejajari pria gagah di sisinya, saat turun dari mobil.


Setelah itu mereka berjalan masuk ke dalam lobi rumah sakit besar yang cukup terkenal di kota. Saat memasuki lift, Fauzan mulai mengenakan kaca mata hitam dan maskernya. Kemudian lift berhenti di lantai tiga lalu, mereka pun mulai menyelusuri lorong di lantai  itu dan masuk ke bangsal perawatan VIP di antara deretan kamar lainnya.


Begitu mereka memasuki ruangan, seorang wanita menyambutnya.


“Zan!”


 


Bersambung

__ADS_1


 


__ADS_2