
Siapa Tidak Beretika
Gadis itu adalah Ella, seorang wanita yang baru saja menjadi perbincangan antara Fauzan dan ibu sambungnya. Dialah orang yang tadi menghubungi Fauzan dan berjanji akan menengok pacarnya, Arfan, yang dalam keadaan koma.
Saat berbincang-bincang di telepon, Fauzan memintanya untuk datang terlebih dahulu ke rumah sakit, karena pria itu mengaku tengah berada di depot pengisian bahan bakar dan terjebak macet. Oleh karena itu dia pun menunda kedatangannya, dia enggan bertemu dengan Imma.
Menurut Ella, calon mertuanya itu menilainya sebelah mata soal istilah materialistis. Dia heran dari mana perempuan itu menilainya tidak realistis, padahal dia hanya menggunakan uang sekedarnya, untuk barang-barang mewah yang dia beli pun sekedarnya saja.
Apalagi akhir-akhir ini Imma menjadi sangat cerewet mengomentari sikapnya yang berusaha mendekati Fauzan. Perasaannya pada pria itu wajar, karena Arfan tidak bisa melakukan sesuatu untuk dirinya. Jadi, jika dia kini menyukai Fauzan, tentunya tidak apa-apa.
Akhirnya dia membeli beberapa bingkisan dan oleh-oleh sebagai alasan untuk datang terlambat. Dia berharap Imma sudah pergi dari kamar perawatan anaknya. Namun, nyatanya wanita itu masih ada di sana dan ada wanita lain yang duduk di sisi Fauzan, membuatnya kesal.
“Fauzan! Siapa dia?” Ella mengulangi perbuatannya.
“Dia?” Fauzan balik bertanya sambil menoleh Nadia dan merangkul bahunya lembut. “Dia calon istriku!”
“Apa? Kamu bohong, kan? Mana ada orang yang mau menikah sama kamu yang pengangguran, miskin, gak keliatan mukanya?” Kata Ella sambil tertawa.
“Itu kan, menurutmu!” ucap Fauzan.
“Ya. Kamu selama ini sudah jadi orang seperti itu. Mana mungkin perempuan ini mau menikah sama kamu!” Ella menyahut sambil duduk di salah satu sofa yang ada di antara Imma dan Fauzan.
“Kalau memang ada, kamu mau apa? Pilihan bukan di tanganmu, El!” Imma menyahut sambil meraih tasnya, lalu berdiri.
“Mama mau ke mana?” tanya Ella sambil menoleh pada Imma dengan malu-malu sebab dari tadi berusaha mengabaikan perempuan itu.
“Bukan urusanmu, aneh ya Pak Jali. Apa AC-nya mati, kok, jadi gerah begini?” Imma berkata sambil mengibas-ngibaskan telapak tangannya di hadapan wajahnya sendiri memberi isyarat seolah-olah ruangan menjadi gerah karena kedatangan Ella.
“Sepertinya begitu Nyonya ... apa Nyonya mau pergi sekarang juga?” kata Pak Jali sambil menunduk hormat.
“Ya. Antar saya dulu ya Pak nanti baru ke sini lagi.” Imma berkata sambil melangkah meninggalkan ruangan.
“Baik.”
Setelah itu Jali mengikuti langkah kaki Imma, tapi, sebelumnya dia melihat ke arah Nadia sambil tersenyum simpul dan mengangguk hormat padanya.
Nadia membalas dengan anggukan kepala dan senyuman pula, padahal dalam hati dia menggerutu karena tidak punya kesempatan untuk berbicara. Dia ingin sekali menanyakan beberapa hal pada Jali.
Pada waktu Nadia masih dalam perawatan, dia pernah melihat pria itu di depan rumah sewa. Sikapnya yang tiba-tiba pergi karena melihat Nadia, tentu membuatnya curiga.
Jali waktu itu takut, jika dia ketahuan Nadia, maka identitas Fauzan—majikannya, akan terbongkar, oleh karena itu dia memilih hengkang dari sana. Namun, siapa yang menyangka justru Nadia dan keluarganya pergi dari rumah sewa tanpa sepengetahuannya.
__ADS_1
Akibatnya, Fauzan marah besar padanya, dan resiko yang harus diambil adalah dia harus mencari Nadia ke mana pun. Keesokan harinya barulah Jali tahu jika Nadia pulang bersama kedua orang tua ke kampung halamannya.
Setelah mengetahui hal itu, maka, baik Fauzan maupun Jali tidak mencari Nadia lagi, mereka hanya mengirim seorang utusan untuk mengawasi dan melaporkan kegiatan Nadia selama berada di rumah.
“Siapa namamu?” tanya Ella tanpa mengulurkan tangannya, dia hanya sibuk mengutak-atik layar ponselnya sambil melirik Fauzan yang terkesan cuek padanya.
“Aku Nadia.”
“Oh, apa benar kamu mau jadi istri laki-laki pemain seperti dia?” tanya Ella sambil melipat kedua kalinya dengan cara yang elegan.
“Apa maksudmu, Ella? Siapa maksudmu lelaki pemain?” kata Ella menatap Fauzan sambil mencibir.
“Kamu, siapa lagi?” tandas Ella.
“Jaga bicaramu! Kamu tidak berhak membuka siapa aku sebenarnya pada Nadia. Aku sendiri yang akan membicarakannya!” kata Fauzan sambil merubah posisi duduknya.
“Makanya, Zan ... kamu pikir dia mau sama kamu setelah tahu siapa kamu?” Ella berkata sambil kbali tertawa.
“Diam, kamu Ella!” sela Fauzan.
“Zan, Cuma aku yang ngerti kamu, cuka aku yang bisa terima kamu apa adanya, kita sudah kenal lama, jadi, ayo kita berkencan, oke?” kata Ella dengan tegas.
“Ella, kamu gila! Bisa-bisanya kamu ngomong seperti itu di dekat Arfan? Gimana kalau dia dengar kamu ngomong seperti itu?”
“Zan, sayang ... aku nggak salah, perasaanku tulus sama kamu!” kata Ella dengan penuh penekanan.
“Mana mungkin?”
“Kamu bisa tanya sendiri sama dia.”
Ella menatap Nadia dengan tatapan meremehkan dan mencibir, lalu, mengalihkan pandangannya sambil berkata, “Ah, yang benar saja!”
Sementara Nadia merasa menjadi obat nyamuk yang tidak dianggap, membuatnya bosan. Dari pembicaraan antara Ella dan Fauzan, dia seakan menjadi wanita perebut kekasih orang, membuat Nadia kesal.
Dia tidak suka dengan keadaannya saat ini, melihat kebohongan demi kebohongan yang dia saksikan terjadi di depan mata. Bahkan dia terlibat di dalamnya.
Dia tidak habis pikir dengan semua orang yang seolah kompak dalam menipu semua orang dalam memalsukan identitas, berpura-pura miskin dan menutup wajah hanya karena apa? Nadia juga tidak tahu, yang jelas, dia juga ikut tertipu.
Seandainya dia memiliki uang yang cukup untuk pulang, maka dia akan pulang saat itu juga. Akan tetapi saat ini dia benar-benar seperti seorang pesakitan yang tidak berdaya. Bahkan mungkin lebih enak menjadi orang yang tertidur tanpa sadar di atas bangsal.
“Maaf, silakan kalian ngobrol, aku permisi,” kata Nadia sambil melepaskan tangannya dari genggaman Fauzan dan berdiri.
“Kamu mau ke mana?” tanya Fauzan.
__ADS_1
“Ke depan, nyari udara segar,” ucap Nadia datar.
“Haha, Zan! Kamu dapet dari mana, sih, orang kampung nggak punya etika begini? Yang begini mau kamu jadikan istri?” kata Ella membuat Nadia tersinggung.
Bagaimana tidak tersinggung, dia sudah meminta maaf dan meminta izin untuk pergi, kenapa harus dinilai tidak punya etika?
‘Jadi, etika seperti apa yang dia maksud?’ batin Nadia.
Satu hal lagi yang membuat Nadia kesal, yaitu setiap kali orang mengatakan dia calon istri dari Fauzan, itu bohong, dia tidak pernah bilang akan menjadi istrinya. Hanya saja dia tidak bisa mengatakan yang sejujurnya demi harga diri Fauzan. Mereka harus membicarakannya dari hati ke hati soal calon istri ini.
Tiba-tiba Nadia menyesal, mengapa dia harus tertidur diperjalanan menuju tempat itu, sebab kalau dia tidak tidur mungkin, Fauzan sudah menceritakan tentang hal pribadi padanya. Dia tidak tahu apakah benar selama dia tidur tadi, Fauzan mengisi bensin mobilnya dan menelpon Ella.
“Maaf ya, saya sudah meminta izin, tadi. Jadi, siapa yang tidak beretika di sini, selain orang yang merendahkan orang lain dengan ucapannya?” Nadia kembali berkata dengan perlahan tapi tegas.
“Apa maksudmu?” tanya Ella sambil berdiri mensejajari Nadia.
“Maksud saya jelas, kalau menjaga martabat bukan hanya dengan perbuatannya tapi juga dengan menjadi kata-katanya?” sahut Nadia.
“Memangnya aku ngomong apa, sama kamu? Hah! Dasar kampungan!” Sarkas Ella sinis.
“Anda menilai dari mana, saya kampungan? Bukannya orang yang ngomong sembarangan juga kampungan namanya?” sanggahan Nadia terdengar menghakimi.
“Ella, cukup!” Fauzan berkata sambil berdiri dan menggamit tangan Ella, lalu, pergi ke luar bangsal. Meninggalkan Nadia yang termenung sendiri.
Sepertinya Fauzan berusaha untuk memisahkan perdebatan Nadia dan Ella, entah apa yang dibicarakan mereka di luar sana.
Sementara Nadia mendekati Arfan yang tertidur dalam ketidak sadaran jiwa dan raga. Dia duduk di sisi tempat tidur, sambil mengamati wajah yang sangat mirip dengan Fauzan. Karena inilah mereka sering dikatakan kembar, banyak orang yang sering salah mengira dan tertukar dalam memanggil nama.
Sejenak matanya menangkap sesuatu di dekat bantal Arfan, yang menarik minatnya. Dia mengambil benda itu dengan perlahan, seolah takut membangunkan orang yang sedang tidur itu.
Nadia melihat sekilas ke arah wajah Arfan yang tenang seolah tanpa beban.
“Sampai kapan kamu mau tidur terus seperti itu? Kenalkan, aku Nadia. Kita bisa sah berkenalan kalau kamu sadar. Jadi, ayo bangun!” Nadia berceloteh seperti sedang berbicara dengan menganggap jika Arfan adalah orang yang sehat.
“Kamu tahu nggak gimana aku bisa sampai di sini? Aku di culik!” kata Nadia penuh semangat. Dia yakin jika pria itu mendengar.
“Ah, tapi nggak asik ceritanya kalau kamu tidur. Enaknya kita ngobrol sambil saling melihat. Jadi, ayo bangun!”
Nit nit nit!
Bersambung
__ADS_1