
Antoni menyelesaikan makan malam dengan cepat, setelah mencium Ghia—anaknya dan, mengucapkan selamat malam padanya, pria itu berjalan menuju tangga yang menghubungkan lantai atas dan bawah rumah lalu, masuk ke kamarnya. Dia hendak menanyakan keadaan Novi karena hanya bertemu sekali dengan wanita itu sebelum dia berangkat ke kantor pagi ini. Dia mulai berpikir positif tentang semuanya termasuk hubungan cinta dan pernikahannya. Belajar mencintai Novi sama saja berbakti pada ibunya sendiri.
Antoni masuk setelah menutup pintu kamar lalu, duduk di sisi tempat tidur. Dia menunggu Novi yang kebetulan tengah membersihkan diri. Letak kamar mandi itu tidak terlalu jauh dari tempat tidur mereka.
“Kamu baru mandi malam-malam begini?” Tanya Antoni pada Novi yang baru saja keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan bathrobe dan handuk kecil melilit di kepala. Sementara aroma wangi sabun menguar dari tubuhnya.
Perempuan itu terkejut melihat Antoni yang sudah ada di kamar dan menatap dengan tatapan mata yang rumit. Sebab, hal ini terlalu aneh baginya tidak biasanya pria itu menampakkan perhatian sedalam ini padanya.
“Ya. Kenapa memangnya?” Novi balik bertanya, dengan alis yang bertaut.
“Aku sudah makan, tapi kamu belum. Apa kamu tidak lapar?”
“Aku sudah makan tadi sore, waktu kamu belum pulang,” kata Novi sedikit canggung. Dia melirik Antoni sekilas lalu, duduk di depan cermin meja rias.
Selama ini mereka berdua hidup bagai minyak dan air yang tak bisa bersatu, hingga kejadian pernikahan suaminya di mana wanita itu hadir dan merusak segalanya. Betapa marahnya Antoni saat itu karena gagal menikahi pujaan hatinya.
Akan tetapi, dari kejadian itulah membuat Antoni sadar bahwa, takdir Tuhan berkuasa atas segalanya. Bila manusia tidak diizinkan untuk memiliki sesuatu maka sekeras apa pun usahanya tidak akan pernah bisa menjadi miliknya.
Butuh waktu yang agak lama bagi Antoni untuk merenungi diri dan, menyadari kekeliruannya. Bersamaan dengan itu, keadaan justru berbalik yang marah atau memusuhi bukan Antoni tapi, Novi. Perempuan itu merasa jenuh dan berniat ingin pergi.
Namun, janji yang terucap pada ibu Antoni, membuat Novi kembali pada kenyataan dan nasibnya sendiri menjadi istri Antoni. Dia mengalah. Walaupun begitu, mereka hampir tidak pernah melakukan hubungan suami istri. Hanya sekali saja saat pria itu lupa diri dan mengira dirinya adalah Nadia. Sakit sekali rasanya, lahir dan batin tersiksa.
Akhir-akhir ini Novi menangkap perubahan yang signifikan pada suaminya, pria itu lebih banyak memberi perhatian dan sering ada di rumah. Tidak seperti sebelumnya hingga dia selalu merasa kesepian bahkan menjadi istri pajangan saja. Kalau bukan karena kepercayaan ibu untuk merawat Ghia dan pria di hadapannya, mungkin dia sudah meninggalkan Antoni sejak lama.
“Apa kamu selalu mandi selarut ini?” tanya Antoni, dia beranjak dari sisi ranjang melangkah mendekati dan berdiri di belakangnya Novi, lalu, membungkuk hingga wajahnya dan wajah wanita itu berada sejajar di depan cermin. Mereka saling menatap melalui kaca rias itu.
Novi beringsut menjauhkan duduk serta kepalanya, walau mereka terikat dalam ikatan sah dan sudah pernah melakukan hubungan suami istri tapi, dia masih saja canggung.
__ADS_1
Antini menoleh, hingga hidungnya menempel pada lekukan leher istrinya dan menghirup aroma wangi yang menguar dari kulitnya. Novi merinding, sebab suaminya itu belum pernah bersikap begitu mesra padanya.
Satu tangan Antoni membelai leher mulus dan jenjang milik Novi lalu,, turun ke pundak, sampai ke punggung tangannya. Novi memejamkan mata sesaat, merasakan gelanyar aneh yang menjalar dari perut, naik ke ulu hati dan sampai ke ubun-ubun.
“Aku akan ke Surabaya lusa ....” kata Antoni sambil mengecupi leher Novi sampai ke tengkuknya membuat wanita itu semakin merinding saja.
“Lalu, apa hubungannya denganku. Pergilah kalau kamu memang ingin pergi. Mungkin kamu akan bertemu kekasihmu di sana!” kata Novi, seketika menghentikan ciuman Antoni padanya.
Pria itu berdiri tegak, menatap Novi dari balik cermin meja rias, sementara gadis itu terlihat acuh tak acuh dan membuka lilitan handuk di kepalanya lalu, mulai mengeringkan rambutnya.
Antoni mengerutkan alis, mencoba mencerna arah ucapan istrinya tentang orang yang di maksud kekasih olehnya. Apakah itu Nadia, dari mana dia tahu jika Nadia ada di Surabaya? Akan tetapi dia pergi bukan karena gadis itu, bukan! Dia memang memiliki urusannya sendiri di sana.
Pria itu sudah mengusir semua kenangan indah tentang Nadia sekuat hati dari pikirannya. Kini dia sudah tidak lagi mengharapkan gadis itu. Dia sadar, Nadia bukanlah jodohnya dan di antara mereka sudah tidak memiliki hubungan apa-apa.
“Dari mana kamu tahu Nadia ada di Surabaya?” tanya Antoni, Novi tersenyum tipis seolah menertawakan dirinya sendiri tapi, senyuman itu sukses membuat jantung Antoni berdebar lebih kencang. Itu senyum yang manis dan tidak pernah dia sadari sebelumnya.
“Kebetulan saja aku dengar dari tetangganya, yang kebetulan kenalanku, dia yang mengatakannya.” Nadia berkata tanpa melihat ke arah Antoni, sambil sibuk mengeringkan rambutnya yang panjang dan hitam.
Antoni meraih pengering rambut di tangan Novi, mematikannya lalu, menyimpannya.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Novi sambil berusaha meraih kembali hair dryer dari tangan Antoni, tapi, Antoni menahan pinggang wanita itu dengan satu tangan lainnya.
Antoni menoleh pada Novi hingga pandangan mereka bertemu, lalu dia berkata, “Rambutmu sudah cukup kering.” Cup! Ciuman kecil di bibir Novi mendarat dari Antoni.
Perempuan itu bergeming, membiarkan tubuhnya di angkat oleh Antoni dan merebahkannya di tempat tidur. Setelah Novi terbaring lurus, pria itu mengungkungnya, menopang tubuhnya sendiri dengan kedua tangan dan lututnya di atas tubuh Novi.
“Dengar, aku tidak ke sana untuk menemui perempuan itu, aku ke sana untuk urusan bisnis. Kalau kamu tidak percaya, ikutlah bersamaku, lusa kita berangkat, apa kau mau?” Antoni berkata sambil membelai wajah Novi dengan lembut. Lalu menciuminya.
__ADS_1
“Apa kepercayaanku penting bagimu?” tanya Novi sambil menahan suara yang hampir keluar dari mulutnya karena saat itu suaminya tengah mencium lehernya
Antoni menghentikan gerakannya, “Ya. Aku ingin kamu percaya, bahwa aku sudah merelakannya ... aku rela dia jadi milik orang lain karena dia jelas-jelas menolakku. Novi ... Aku menginginkanmu malam ini ...” kata Antoni lembut dengan suaranya yang sudah mulai serak dan sinar mata melembut memandang seluruh tubuh wanita di bawanya itu.
Novi merasa bingung, di satu sisi dia sangat mengharapkan kehangatan seperti ini dari Antoni tapi, dilain sisi dia masih ragu apakah suaminya itu benar-benar menginginkannya? Dia berasumsi bahwa pria itu melakukan hanya karena melampiaskan perasaan galaunya semata, yang tidak tersalurkan pada Nadia!
Ternyata tidak, Antoni tetap melakukan keinginannya dan, Novi tidak bisa menolak, dia takut akan dosa. Saat tangan kekar pria itu menyibakkan handuk kimono hanya dengan satu tarikan saja, maka, tubuhnya yang tidak memakai pakaian dalam lagi dibaliknya, langsung terekspos secara sempurna.
Antoni mulai melakukan aktivitas membuat suara Novi keluar tanpa kompromi dari mulutnya saat tangan kekar suaminya menekan lembut bukit kembar di dadanya lalu, memainkannya. Kepala pria itu turun untuk menyesap benda cantik itu dengan lidahnya. Terasa geli dan sekaligus memunculkan naluri aneh kewanitaannya di bawah sana untuk meminta lebih.
“Ah, Antoni ....” bibir Novi secara refleks menggumamkan nama itu saat tangan Antoni mulai merayap turun dan meraba area di antara lekukan kedua kakinya.
“Ya. Aku suka kamu memanggil namaku,” Ucap Antoni sambil berbisik di telinga istrinya lalu, menjilatnya hingga terasa basah dan dingin karena ludah pria itu menempel di sana.
Kepala Novi bergerak mengimbangi, saat Antoni mulai menciumi bibirnya dengan kuat dan menguasai hingga seluruh sisi mulut mereka, seolah makanan lezat. Leher keduanya beberapa kali bergerak mengganti posisi.
Mereka belum pernah bercumbu sehebat itu hingga Novi merasa begitu diinginkan dan dihargai. Bukan hanya bibir tapi, Antoni juga mengulum lembut telinga dan juga **** ************* membuatnya serasa terbang, dia merasa benar-benar dicintai. Seluruh tubuhnya diselisuri nyaris inci demi inci penuh ciuman, rabaan bertubi-tubi. Menyenangkan dan mengesankan.
Tidak lama setelah pemanasan cukup, Antoni mulai melepaskan pakaiannya sendiri, kerana miliknya sudah mengeras sejak tadi, ibarat kayu yang sudah matang usianya, lebih kuat dan lebih padat. Siap memuaskan pasangannya.
Antoni mulai melakukannya ke dalam cekungan indah yang sudah basah di bawah sana. Pria itu lebih bersemangat menggerakkan tubuhnya sambil terus meraba bagian tertentu milik istrinya.
Antoni pun merasa selama ini diamnya sia-sia, tidak secepatnya meluluhkan hati istrinya hingga dia bisa lebih cepat bisa menikmati keindahan surgawi itu bersamanya sebanyak yang diinginkannya.
“Jadi ... apa kamu mau ikut?” tanya Antoni sambil berbisik, tanpa menghentikan permainannya mencari sensasi, mencari kenikmatan pada bagian yang disukainya, benda kenyal indah dengan hiasan di tengahnya.
“Baiklah ....” Novi menjawab sambil menahan gejolak berbagai perasaannya.
__ADS_1
“Oke.” Antoni menjawab sambil mempercepat gerakannya hingga akhirnya dia mencapai kenikmatan yang di inginkannya, begitu juga Novi, mereka sampai di puncak secara bersamaan.
Bersambung