
Di Persimpangan Jalan
Nadia tersenyum lebar begitu terdengar suara ceria dari balik telepon. Di seberang sana, Dodi, orang yang mengalami kecelakaan yang sama dengannya, menyahut panggilan dengan cepat. Gadis itu begitu terharu karena ternyata temannya itu baik-baik saja.
Mereka mengalami luka yang sama, saat kejadian itu, hanya berbeda letaknya saja. Kini Dodi harus tetap diam di pembaringan dan tidak bisa bergerak karena kakinya yang patah. Sepertinya dia masih membutuhkan perawatan dan dia tidak bisa apa-apa selama dua bulan ini dan akan terus berlanjut sampai tulangnya pulih.
Mereka mulai asyik berdua mengobrol di telepon, setelah menanyakan kabar masing-masing.
“Ah, syukurlah, Nad, kamu baik-baik saja, di mana kamu sekarang?”
“Oh, aku pulang ke kampung halamanku, tidak ada yang merawatku di sana.” Nadia menjawabnya tenang.
“Sama, aku juga pulang kampung, Nad.”
“Jadi, menurutmu apa kita masih bisa bekerja di tempat itu?” tanya Nadia lagim
“Aku tidak tahu tapi, sepertinya mungkin kita cukup diberi tunjangan saja.” Dodi menjawab dari balik telepon dengan tegas seolah-olah mempunyai pengalaman sebelumnya.
Tentang orang-orang yang sakit dan libur cukup lama, biasanya tidak akan diperkerjakan kembali oleh, sebuah naungan perusahaan, instansi atau kantor apa pun itu karena biasanya, mereka sudah mencari pengganti. Bukankah banyak sekali orang yang membutuhkan pekerjaan di zaman sekarang, sedangkan untuk mendapatkan pekerjaan kembali itu sangat sulit.
Selebihnya lagi, kebanyakan di antara para pegawai yang lama tidak bekerja itu terlalu malu untuk kembali.
“Dodi, kamu sekarang masih di rumah sakit?”
“Ya, enggak, lah ... mereka tidak akan selamanya membayar perawatan di rumah sakit, kita ini cuma karyawan rendah, nggak mungkin kita dirawat sampai benar-benar sembuh, kartu kesehatan kita, kan, ada batasnya! Ah, bersyukur saja sudah dapat pengobatan secara gratis selama ini.” Kata Dodi panjang lebar.
“Berapa hari kamu dirawat di Rumah sakit?”
“Mungkin sama dengan kamulah, Nad! Cuma tiga hari!”
Mendengarkan pernyataan dari teman sekerjanya itu, Nadia tercengang, dia mendapatkan perawatan begitu lama di rumah sakit, bahkan di ruang yang tergolong mahal, ada AC dan satu set sofa di dalamnya.
__ADS_1
Dia mungkin diperlakukan berbeda dengan para pekerja yang lainnya, apakah karena dia menyimpan sebuah rahasia ruangan Bos? Namun, bukankah yang membayar biaya kompensasi kecelakaan kerja itu pemilik gedung sebelah? Nadia bingung memikirkannya.
Nadia sudah berjanji untuk tidak mengatakan rahasia itu pada siapa pun. Jadi, walaupun perusahaannya, Fauzan ataupun Hadian tidak membayar biaya rumah sakit pun, dia tetap akan memegang teguh janjinya, serta tidak akan mengatakan secara sembarangan bahwa pimpinan mereka memiliki ruangan rahasia di kantornya dan menyimpan benda-benda pribadi dan berharga lainnya di sana.
Bukankah ini sebuah janji adalah ikatan yang teguh antara sesama manusia bahkan dengan Tuhan kalau dia mengingkari janjinya berarti dia mengingkari ikatannya dengan Tuhan.
Nadia masih bertanya dalam hati dan dia takut untuk mengingkari janjinya walaupun, dia hanya sebagai pegawai rendahan yang dibayar sesuai pekerjaan. Betapa mengenaskan pegawai yang mengalami nasib seperti dirinya. Apabila tidak ada orang-orang sukses yang mendirikan perusahaan lalu, membayar mereka, maka, orang-orang rendahan seperti dirinya tidak bisa menjadi apa-apa.
Nadia menutup teleponnya setelah obrolan dirasa cukup, dia menyimpulkan bahwa memang perlakuan dirinya berbeda dengan karyawan lainnya dan dia cukup senang karena Dodi baik-baik saja. Pemulihan cedera tulang memang membutuhkan waktu lama sebagaimana dirinya. Kemudian dia pun memutuskan tidak akan kembali bekerja di tempat yang sama.
Ada sesuatu yang menyedihkan ketika Dodi berbicara pesimis tentang kehidupannya karena dengan kakinya yang pincang sekarang, mana mungkin bisa mendapatkan pekerjaan yang bagus. Apalagi di usianya saat ini yang sudah menginjak 35 tahun, kemungkinan perusahaan akan memilih pekerja yang lebih muda dan lebih kuat darinya. Nadia pun berpikir sama.
Gadis itu kembali melihat layar ponselnya dan berniat ingin membalas pesan yang menumpuk, tapi, pesan yang dia balas hanyalah sebuah jawaban bahwa dia baik-baik saja, kepada tetangganya.
Dia belum memiliki banyak teman di tempat kerjanya dulu. Teman dalam satu bagian saja selalu membebani dia dengan pekerjaan yang banyak. Akan tetapi, sekarang dia sudah pergi dari sana dan merasa tidak perlu lagi berhubungan dengan siapa pun di masa lalunya, seperti niatnya semula.
“Nadia ayo kita berangkat sekarang!” kata Salima ketika sudah berpenampilan rapi, dengan membawa tas kecil di tangannya, mereka akan segera pergi ke rumah sakit.
“Baik, Bu!” sahut Nadia seraya meletakkan kembali ponselnya di atas meja kecil di samping tempat tidurnya.
Akan tetapi, semua yang sudah dia dapatkan selama ini, Nadia rasa cukup.
Dua orang ibu dan anak itu pergi ke rumah sakit dengan menggunakan taksi, tidak seperti dua pekan yang lalu saat memeriksakan diri, Maulana yang mengantarnya menggunakan sepeda motor. Namun, kali ini ayah Nadia itu sedang panen di kebunnya sehingga tidak bisa mengantar, sedangkan jadwal pemeriksaan hari ini tidak bisa ditunda.
Sesampainya di rumah sakit Nadia pun tidak harus mengantre lama untuk pemeriksaan di bagian spesialis tulang karena tidak terlalu banyak pasien di sana. Nadia diam saat Dokter melakukan pengecekan, melakukan rontgen hingga semua rangkaian pemeriksaan pun selesai
Dokter yang menangani Nadia itu berkata, “Bu Nadia, perban belum bisa dibuka karena lukanya cukup dalam dan masih mengkhawatirkan.”
“Oh, gitu ya, Dok. Masih lama nggak kira-kira?” tanya Nadia.
“Lukanya luarnya saja baru lima puluh persen, apalagi tulangnya. Kemungkinan bisa tiga bulan lagi.”
Nadia termenung menyadari selama itu dia belum bisa bergerak dengan bebas. Akhirnya dia hanya diam tidak menanggapi dokter itu lagi, sesaat kemudian hanya penutup lukanya yang diganti dengan perban baru oleh para perawat.
__ADS_1
Nadia beranjak dari tempat duduknya, karena serangkaian penanganan sudah selesai, dia dan Salima segera keluar dari ruang pemeriksaan setelah mengucapkan terima kasih lalu, menuju apotek untuk menebus obat yang masih harus dia konsumsi selama masa pemulihan.
Dua wanita itu berdiri di sisi jalan untuk menunggu taxi saat sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di depan mereka, lalu, seorang pria yang memakai masker dan kaca mata hitam keluar dari pintu kemudi sambil melambaikan tangan.
“Selamat, siang. Assalamualaikum!” Sapa Fauzan ramah sambil menundukkan kepala pada Salima menunjukkan kesopanan.
“Wa’alikumsalam!” jawab kedua wanita itu secara bersamaan.
“Apa kabar, Bu? Masih ingat saya, kan?”
Mendengar pertanyaan Fauzan itu, Salima mengangguk pelan.
“Apa butuh tumpangan?” tanya Fauzan.
Dia laki-laki yang sudah menunggu Nadia selama beberapa hari di dalam bangsal perawatan Nadia, membuat Salima tercengang. Bagaimana bisa dia berada di sana lalu memberikan tumpangan di saat mereka tengah membutuhkan? Ini tidak bisa dipercaya.
‘Kenapa dia ada di sini? Selama aku kerja dan tahu aku pulang malam pun dia cuek aja, nggak pernah nawarin tumpangan’ batin Nadia sambil tersenyum tipis.
“Nggak perlu, kami bisa naik taxi!” jawab Nadia. Dia tidak menanyakan keheranannya akan kedatangan Fauzan yang tiba-tiba, sebab orang seperti dia tidak akan menjawab pertanyaan dengan benar tapi, kalau dia yang bertanya, maka orang yang di tanya harus menjelaskan dengan benar.
“Ibu, ayo kita pergi dari sini!” ajak Nadia pada ibunya. Sementara Salima hanya menuruti anaknya berjalan, sejenak setelah dia berhasil mengatasi keterkejutannya.
“Kamu nggak mau tahu kenapa aku di sini?” tanya pria itu menjajari langkah kaki Nadia dan Salima, membuat dua wanita itu mengernyitkan dahi karena pria itu meninggalkan mobilnya begitu saja.
“Nggak!” jawab Nadia singkat, “udah, pergi sana. Ngapain juga kamu di sini.”
“Aku? Di sini?” Fauzan mengulang pertanyaan Nadia sambil menunjuk pada dirinya sendiri. Nadia pun mengangguk sambil menoleh.
“Mau menurut perintah orang tua. Iya, kan, Bu?”
Seketika Salima menoleh pada Fauzan, dia heran kenapa pria itu berkata demikian sebab, dia merasa tidak pernah memintanya melakukan sesuatu.
“Perintah yang mana ya?”
__ADS_1
Bersambung