AIR MATA PENANTIAN

AIR MATA PENANTIAN
SMP Season 2 Part 32 Apa Istimewanya Dia


__ADS_3

Apa Istimewanya Dia


 


 


“Zan?” Tanya wanita itu, dengan geram. Dia terlihat marah, tapi, tetap menahannya.


Pembawaan pribadi wanita itu sangat tenang dan elegan, dia wanita paruh baya berwajah ayu, berkulit kuning langsat dan rambutnya lurus, digelung dengan rapi dihias tusuk konde berwarna emas.


“Kenapa kamu lama sekali? Mama sudah menunggu kamu dari tadi!” Kata Rahima, wanita yang biasa dipanggil Ima. Dia adalah istri dari Hadian dan ibu kandung Arfan.


Arfan adalah adik tiri Fauzan, laki-laki yang tengah tergolek lemah di atas pembaringan bangsal Rumah sakit VIP, dengan alat bantu penopang kehidupan yang menempel di tubuhnya. Berbulan-bulan sudah laki-laki itu dalam keadaan koma dan selama ini Fauzan yang sering menjaga dan bertanggung jawab padanya.


Kecelakaan itu terjadi di kolam renang saat mereka sedang bercanda dan menjadi penyebab dari keadaan Arfan yang koma. Fauzan sama sekali tidak tahu bagaimana adiknya bisa terjatuh tetapi, dia tidak segera melakukan tindakan pertolongan. Pria itu, justru panik dan gugup ketika melihat darah di mana-mana sehingga dia merasa bersalah sampai sekarang.


“Maaf, Ma.” Hanya itu kata yang keluar dari mulut Fauzan.


“Maaf, enak saja. Mama jadi telat, kan? Kamu malah keluyuran! Memangnya kamu ke mana?”


Saat berada di mobil dalam perjalanan pulang mengantar Nadia, Fauzan menerima telepon dari ibu sambungnya bila, ada perkembangan yang bagus dari Arfan karena suara radiograf yang tersambung dengan detak jantung menunjukkan nada yang berbeda.


Sementara wanita itu akan pergi ke tempat perkumpulan sosialita seperti biasa, karena itulah dia membutuhkan Fauzan untuk menunggu adiknya karena berharap sewaktu-waktu dia akan segera sadar, itulah fungsinya Fauzan sebagai seorang penjaga.


Saat ini Fauzan dan juga Nadia berada tengah berada di ruangan di mana Arfan di rawat.


“Zan! Kenapa kamu diam saja?” tanya Ima lagi dengan kesal, sesekali dia melirik Nadia yang tetap berdiri tenang di samping Fauzan.


“Aku pikir tadi ada Pak Jali atau Ella!” sahut Fauzan sambil duduk di sofa yang ada di sana. Tangannya melambai ke arah Nadia agar ikut duduk di sampingnya dan wanita itu duduk, setelah mengangguk hormat pada Ima.


Ima meliriknya sekilas, lalu melanjutkan bicara, “Tadi ada Pak Jali tapi, Mama usir dia dari sini soalnya, Mama nggak percaya sama dia. Kalo Ella, dia nggak bilang atau telepon kalau mau ke sini. Ah, paling juga dia mau ketemu sama kamu, bukan jagain adikmu!”


Ella yang mereka sebutkan adalah kekasih Arfan sebelum dia mengalami kecelakaan. Mereka adalah sepasang kekasih yang sangat serasi, Fauzan pun mendukung hubungan mereka. Akan tetapi, sejak adik tiri Fauza  mengalami kecelakaan dan koma, lambat laun sikapnya mulai berubah. Dia menjadi wanita yang mencoba menarik perhatian dan menggoda Fauzan.


Oleh karena itulah Ima begitu membencinya. Akan tetapi, kedua orang tua dari Ella adalah temannya juga sehingga dia tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan Gadis itu terlalu keras kepala, walaupun, Ima sudah menunjukkan sikap ketus dan acuh, Ela tetap saja berusaha menarik perhatian Fauzan. Walaupun mereka berdua sedang berada di bangsal tempat Arfan dirawat.

__ADS_1


“Tadi, dia chatting aku, Ma ....” kata Fauzan saat Ima sudah duduk di hadapannya.


“Terus?”


“Nah, Dia bilang kalau mau nengok Arfan, kebetulan aku masih isi bensin makanya lama, soalnya aku pikir dia sudah ada di sini gantiin Mama.” Fauzan menyahut sambil menunjukkan pada Ima, isi chattingnya dengan Ella di ponselnya.


Wanita paruh baya itu hanya melihatnya sekilas lalu, mendengus pelan. Dia menyandarkan punggung sambil menumpuk kaki secara  perlahan dan, melipat kedua tangannya di depan dada.


“Siapa, dia? Kok, dari tadi nggak kamu kenalin sama Mama?” kata Ima sambil memajukan dagunya ke arah Nadia.


“Oh, iya ... kenalin, Ma, dia Nadia.” kata Fauzan sambil menegakkan punggungnya lalu menoleh pada Nadia dan tersenyum. “Ma, ini Nadia, dia bakal jadi kandidat menantu Mama deh.”


Nadia menyebutkan namanya seraya tersenyum, sambil menjabat erat tangan Rahimma yang terulur dengan hangat.


“Kenapa, pundak kamu?” tanya Imma saat memperhatikan alat penyanggah pundaknya yang masih belum sembuh benar.


“Saya habis kecelakaan, Bu.”


“Oh, anakku juga habis  kecelakaan,” kata Ima sambil menunjuk ke arah tempat tidur Arfan, dengan dagunya. “Tapi, kamu masih beruntung tidak seperti dia.”


“Ya. Aamiin,” kata Imma.


“Banar, kan, Ma. Dia baik.” Fauzan menyela.


“Apa tadi kamu bilang, dia bakal jadi calon mantuku? Mmangnya sudah sesuai sama kriteria kamu?” tanya Ima lagi.


“Sudah, selama ini dia belum pernah melihat wajahku belum kenal sama aku tapi, dia tetap baik. Pernah loh, Ma, dia ngasih makan aku sampai kenyang padahal aku nggak ngasih dia apa-apa.”


“Jangan bohong kamu sama Mama ... mana ada wanita seperti itu,” Imma berkata dengan senyum menyeringai di bibirnya.


“Ada, nih buktinya, Nadia!”


Setelah Nadia mendengarkan percakapan dua orang antara ibu dan anak itu, dia terus berpikir bahwa hubungan Fauzan dengan wanita yang menjadi ibu tirinya, ternyata baik-baik saja tidak seperti isu-isu yang pernah dia dengar.


Sebelumnya, dia mendengar bahwa ibu tiri Fauzan itu begitu membenci, mengekang, diasingkan, bahkan melarangnya memperkenalkan diri atau membuka identitas yang sebenarnya. Agar anak itu tidak dikenal dan hidup sengsara sebagai hukuman karena kesalahan sudah membuat adiknya celaka.

__ADS_1


Akan tetapi, justru sekarang Nadia menangkap kebohongan Fauzan. Membuat gadis itu kesal sebab, jelas-jelas mereka sudah saling mengenal, bahkan mengetahui wajahnya. Bagaimana mungkin dia mengatakan kebohongan pada wanita yang berstatus sebagai ibu tirinya.


Seketika Ima menoleh pada Nadia dan menatapnya tajam, kemudian dia bertanya penuh selidik.


“Benar kamu kenal Zan, anak bandel ini di tempat kost yang sempit?”


“Ya,” kata Nadia jujur.


“Kamu kenal sama dia sebagai pengangguran?”


“Ya.” Nadia menjawab dengan penuh keheranan berarti selama ini memang Ima mengetahui keberadaan anak sambungnya itu, tapi, apa maksud dari semua itu? Pikir Nadia.


Jadi, tidak benar sama sekali jika Fauzan ini dibuang dan diasingkan sebagai hukuman? Kata Nadia dalam hati.


“Terus kamu gak benci gitu sama orang seperti dia, nyebelin, pengangguran, nggak punya duit, kan?”


“Maaf, Bu. Saya bukannya benci tetapi, saya tahu kalau manusia itu harus saling menghargai satu sama lain. Saya menduga mungkin, Pak Zan ini punya alasan sendiri kenapa dia memilih jadi pengangguran dan benalu.” Nadia menjawab dengan hati-hati agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.


“Apa, kamu panggil dia, Pak?” tanya Ima sambil terkekeh kecil.


“Ya,” jawab Nadia


“Terus?” tanya Imma setelah berhenti tertawa.


“Saya kasihan juga beliau dibenci oleh orang-orang di sekitar terutama ibu-ibu karena saya pikir, nggak ada salahnya berbuat baik pada sesama manusia iya, kan?”


“Jadi, benar kamu belum pernah lihat wajahnya, tapi kamu sudah jatuh cinta sama dia?” tanya Imma membuat Nadia tersudut karena dia sama sekali tidak jatuh cinta pada Fauzan, bahkan dia sudah melihat wajahnya berkali-kali.


“Aw!” tiba-tiba Nadia menjerit lirih sambil meringis menahan sakit di kakinya.


 


Bersambung


 

__ADS_1


__ADS_2