
Tatapan Mata Yang Berbeda
Semua kursi yang ada di ruangan itu kini sudah terisi penuh, Fauzan duduk di sofa tunggal di samping Hadian dan Imma, yang duduk berdampingan di sofa panjang. Di sebelah Imma ada Arfan yang masih bersandar dengan mata terpejam. Sedangkan di seberang meja Nadia dan Ella duduk bersisian.
Fauzan bersikap tenang, wajah semringah dengan tatapan mata penuh kerinduan, tidak teralihkan dari Nadia. Dia duduk dengan punggung tetap tegak dan sekali-kali mengambil camilan yang ada di atas meja. Dalam hatinya pun penasaran mengapa gadis itu bisa ke rumah itu bersama Arfan dan Ella.
Hadian menatap Nadia dengan tatapan yang berbeda, dia seperti mengawasi dan waspada, seolah-olah sedang berada dalam keadaan antara hidup dan mati.
Kedua pria itu sama-sama menatap Nadia tapi, dengan tetapan mata yang berbeda. Tantu saja hal ini dirasakan oleh gadis itu membuat merasa risi di hatinya. Namun, dia tidak berdaya karena di dalam keluarga itu dirinya bukanlah apa-apa. Keberadaan dirinya di sana adalah karena dia harus memberikan kesaksian, sekaligus memberikan jawaban kepada Ima atas tawarannya, yang ingin menjodohkan dirinya dengan Arfan.
Sebenarnya Nadia merasa tidak enak karena keluarga Arfan sudah memberikan banyak hadiah, yang diberikan secara tidak langsung kepada orang tuanya di kampung. Namun, gadis itu menganggap bahwa, tolak ukur kebaikan dalam sebuah hubungan, bukanlah didasarkan atas hadiah ataupun cinderamata, yang diberikan oleh seseorang kepada orang lainnya. Walaupun memang, dalam agama menganjurkan umatnya, untuk saling memberi karena akan menimbulkan rasa kasih sayang.
“Jadi, apa yang mau kalian bicarakan?” kata Imma lagi sambil menatap Ella, dia berharap gadis itu tidak membuat masalah.
“Iznkan saya yang bicara, Nyonya.” Nadia berkata tanpa memberi isyarat kepada Arfan dan juga Ella karena memang ia merasa bahwa dirinya lah yang seharusnya memulai pembicaraan itu.
“Kamu? Ya, memangnya kenapa kamu balik lagi?” tanya Imma.
“Maaf sebelumnya, Nyonya. Saya memutuskan untuk tidak jadi pulang karena saya harus menyampaikan jawaban sekarang, bahwa ... sekali lagi saya minta maaf pada, Nyonya. Kalau saya tidak bisa menerima tawaran untuk menikah dengan Arfan.” Nadia berkata sambil melirik pada Fauzan sekilas kemudian dia menundukkan wajahnya kembali.
“Benarkah, Nad?” Fauzan bertanya sambil berdiri wajahnya yang ceria kini tambah ceria, dengan senyum manis yang lebar menunjukkan bahwa hatinya sedang gembira saat ini.
Nadia mengangguk.
“Memangnya kenapa? Apa masih kurang semua hadiah yang aku kasih ke orang tuamu, hadiah perhiasan juga? Kalau kurang, ngomong!” kata Imma.
“Mama! Nadia bukan orang yang seperti itu!” Fauzan membela orang yang dicintainya.
__ADS_1
“Zan! Duduk!” bentak Hadian lagi.
Nadia melirik Fauzan sekilas kemudian melanjutkan ucapannya setelah menghela nafas, “Bukan soal hadiah atau soal harta, saya sudah berniat untuk mengembalikan semua pemberian Nyonya.”
“Eh, yang bener? Gila kamu, Nad, kamu mau pulangin semua, itu ada mutiara juga loh!” kata Ella.
“Gak masalah, sebab harta bukanlah nyawa. Kalau harta bisa dikembalikan tidak seperti kalau orang berhutang nyawa,” kata Nadia.
“Kamu pikir, kamu nggak berhutang nyawa waktu kamu kecelakaan dulu, ingat nggak kamu dirawat sama Fauzan di rumah sakit!” kata Imma.
“Bukannya saya dulu juga sudah membantu menjaga Arfan waktu di rumah sakit? Jadi, kalau begitu kita sama Nyonya?” kata Nadia. Sebenarnya dia tidak ingin mengungkit kebaikannya tetapi, karena Ima pun mengungkit kebaikannya, bahkan sampai mengatasnamakan nyawa maka dia pun mengungkit kebaikannya pula.
“Jadi, kamu sudah tidak mau berhubungan lagi dengan keluarga kami?” kata Imma, sepertinya perempuan itu sedikit terluka.
“Bukan begitu, maaf kalau saya tadi mengungkit kebaikan saya tetapi karena memang tidak ada yang namanya hutang nyawa, Nyonya, adanya hanya kebaikan.”
“Kalau memang ada yang namanya hutang nyawa, bagaimana membayarnya, apakah berarti orang yang berhutang harus tiada? Dan kalau memang nyawanya bisa dibayar pun tidak bisa dipakai bukan?”
Semua terdiam saat Nadia bicara dan Fauzan masih saling menatap dalam diam. Gadis itu bisa mengartikan tatapan Fauzan yang penuh kerinduan padanya, tapi, dia tetap tidak bisa mengartikan tatapan Hadian. Namun, bila suatu saat dipertanyakan tentang amanah maka dia akan selalu siap untuk menjawabnya.
“Jadi, alasan saya menolak, bukan karena Tuan dan Nyonya kurang baik ... Bukan juga karena Arfan tidak tampan, atau juga bukan saya mengabaikan pemberian Nyonya....”
“Terus....?” tanya Imma. “Kalau kamu pikir Arfan masih kurang tampan, apa kamu artinya menyukai Zan! Kamu sama saja wanita ganjen kayak Ella!” kata Imma.
“Mama! Nadia bukan perempuan seperti itu!” kata Fauzan.
“Diam kamu Fauzan!” kata Imma.
__ADS_1
“Nadia dan keluarganya bukan orang miskin, aku tahu sendiri, rumahnya juga bagus!” kata Fauzan masih membela Nadia.
Sikap Fauzan itu mendapat sorotan tajam dari tatapan mata Imma dan Hadian.
“Maaf sekali lagi, Nyonya ...semua karena sebenarnya, Ella masih mencintai Arfan!” jawab Nadia.
“Apa kamu bilang? Ella masih mencintainya? Aku nggak percaya!”
“Bukannya kalian sudah putus ya, waktu itu?” tanya Fauzan.
“Ya, semua itu benar ... Aku memilih untuk mengalihkan rasaku pada Fauzan karena aku sudah betah di keluarga ini, Om, Tante!”
“ Bohong kamu, dasar matre!” kata Imma lagi.
“Nyonya, sebaiknya dengar dulu penjelasan dari Ella, dia punya alasan kuat dan saya saksinya!” kata Nadia lagi.
“Memangnya, apa alasannya, kalau bukan karena Arfan yang koma, terus dia lihat Fauzan sukses dengan kantor cabangnya?”
“Bukan!” kata Nadia dan Ella secara bersamaan.
Akhirnya tanpa diminta, Ella mengutarakan alasannya, bahwa awalnya memang dia sedikit putus asa karena Arfan seorang pria yang memiliki kepribadian menyimpang dan di tambah lagi dengan keadaannya yang koma, hingga akhirnya dia mencoba merayu Fauzan.
“Apa?” Imma seketika berdiri, kemudian.
Plak!
Satu tamparan keras Imma mendarat di pipi anaknya itu sambil menangis.
__ADS_1
Bersambung