
Penampilan Berbeda
Nadia dan Salima berjalan keluar dengan perlahan, kebetulan mereka sudah selesai berhias diri. Dua wanita itu terlihat berbeda walaupun, dengan dandanan yang sederhana untuk pergi ke pesta pernikahan sepupu Naina.
Betapa terkejutnya mereka saat melihat ke luar rumah, sudah ada dua mobil sport satu pintu, Toyota Bought warna hitam yang terparkir di halaman.
“Pak Fauzan?” kata Nadia setelah berhasil mengatasi rasa terkejutnya.
“Halo, assalamualaikum!” Kata pria yang bersandar di samping mobil sport itu sambil menyelipkan kedua tangannya di saku celana.
Nadia dan Salima menjawab salam secara bersamaan. Saat itu Maulana sedang istirahat di kamarnya.
Terakhir Nadia bertemu Fauzan adalah saat pulang dari rumah sakit, Fauzan singgah ke rumah, mereka berbincang cukup lama. Kemudian bertemu Naina lalu, terjadilah insiden yang tidak mengenakkan antara mereka. Oleh karena itu, dia langsung masuk ke kamar tanpa mengetahui obrolan yang terjadi antara kedua orang tuanya dan juga Fauzan. Dia sama sekali tidak tahu jika pria itu akan datang di saat dia akan pergi ke pesta.
‘Apakah ini kebetulan, atau memang Allah menjawab doaku?’
“Eh, Nak Fauzan, ayo masuk dulu!” kata Salima kemudian sambil beranjak masuk kembali ke dalam rumahnya. Wanita itu tidak menyangka jika ucapan Fauzan waktu itu, benar-benar serius hingga saat ini pria itu berada di hadapannya, untuk menghadiri undangan pernikahan dari teman Nadia
“Tidak, perlu, Bu. Nanti saja.” Saat berkata, Fauzan berjalan mendekati Nadia sambil tersenyum.
Melihat reaksi Fauzan yang tidak berminat untuk masuk rumah, akhirnya Salima menghampiri suaminya ke kamar untuk pamit jika dia akan pergi ke luar.
Di teras, Nadia masih berdiri di hadapan Fauzan. Keduanya pun mulai berbincang.
“Kamu sudah siap?” tanya Fauzan.
“Siap ke mana memangnya?” sahut Nadia sedikit ketus.
“Loh, bukannya kamu mau ke pesta temanmu itu?”
“Sok tahu.”
“Aku memang tahu, kok. Waktu itu aku baca undangannya, terus aku nggak tega kamu di lecehkan sama temanmu yang kurang ajar itu! Makanya aku ke sini ... nanti, kamu kenalin, aku ini calon suamimu.”
Nadia tercengang mendengar ucapan Fauzan yang terkesan cerewet. Baru kali ini dia bertemu laki-laki yang begitu banyak bicara. Dia menggelengkan kepala tanda tidak setuju dengan permintaan pria itu.
Sebagai wanita sederhana yang dikenal pendiam dan pemalu, tentu tidak ingin terlihat mencolok. Apalagi dalam suasana pesta, di mana banyak orang berkumpul. Nadia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Akan tetapi berbeda dengan pria satu ini. Dia melihat penampilan kalangan pria kelas atas dan mobil yang dikendarai oleh Fauzan pun menunjukkan dia bukan orang sembarangan.
__ADS_1
Semula memang dia berharap jika Fauzan akan datang, tapi, melihat keadaan pria ini yang terlihat begitu borju dan elegan, tentu akan jadi pusat perhatian. Bagaimana mungkin dia akan berjalan dengan tenang bersamanya di pesta?
“Gak perlu ...lagipula kamu nggak cocok datang ke pesta orang kampung pakai pakaian kayak gitu.”
Mendengar ucapan Nadia, Fauzan melihat pada dirinya sendiri lalu, kembali menatap Nadia dengan heran.
Dahi Fauzan berkerut dan dia berkata, “Memangnya apa yang salah dengan penampilanku?” Dia heran.
Saat itu Fauzan memakai setelan jas dan kemeja warna abu tua Nadia, lengkap dengan dasi kupu-kupu dan sepatu pantofel mengilat. Bagi orang kalangan Fauzan mung yang dipakainya adalah pakaian biasa saja untuk menghadiri acara resmi atau sebuah undangan pernikahan.
Akan tetapi, bagi Nadia yang tidak biasa dengan pakaian pria seperti ini di kampungnya, menjadi khawatir jika dirinya dan Fauzan justru akan menjadi pusat perhatian.
Tidak hanya itu, Nadia kembali dibuat heran dengan datangnya empat orang berpakaian serba hitam dan berkaca mata hitam datang tidak lama setelah Nadia menolak Fauzan.
Keempat pria bertubuh kekar itu kemudian mengangguk pada Fauzan dengan hormat lalu, salah satu di antara mereka berkata sambil menyerahkan sebuah kotak kecil.
“Maaf, Tuan. Ini kado Anda. Oh, ya. Kami sudah memastikan keadaan di pesta itu dan semua dalam keadaan aman terkendali.”
‘’Ini memangnya apaan, sih? Siapa mereka itu?’ batin Nadia seraya melihat keempat pria dalam keadaan waspada.
“Siapa mereka?” tanya Nadia sambil menggerakkan dagunya.
“Oh, jadi mereka pengawalmu? Suruh pergi saja, aku nggak butuh pengawalan mereka!”
Melihat tingkah Nadia yang sangat keras kepala membuat Fauzan menertawakan dirinya sendiri. Dia yang semula berharap bisa meluluhkan hati Nadia, merasa sia-sia. Semua usahanya untuk bergabung dalam sebuah pesta bersama wanita yang disukai, ternyata dianggap rendah.
Sejak kemarin Fauzan sudah berusaha memperbaiki penampilannya dengan merapikan rambut, serta memilih pakaian yang spesial senada warnanya dengan pakaian, yang dia pilih untuk Nadia. Akan tetapi yang terlihat ketika dia datang, Nadia sudah rapi dengan pakaiannya sendiri.
“Baiklah, kalau kamu tidak mau, berikan ini untuk pengantinnya.” Fauzan berkata sambil memberikan kotak kado kepada Nadia.
“Apa ini isinya?” tanya Nadia dengan penasaran karena kotak itu cukup kecil untuk dijadikan sebuah kado.
“Bukan apa-apa, kamu bisa lihat isinya.”
Setelah mendengar perkataan itu dari Fauzan, Nadia pun membuka kotak kado yang baru saja dia terima dan membuatnya tercengang.
“Ini ....” gumamnya lirih dia tidak menyangka jika isinya adalah sepasang jam tangan istimewa dengan desain yang menarik. Itu hadiah yang jarang diberikan sebagai kado pernikahan oleh tamu undangan seperti dirinya, yang biasanya hanya memberikan sebuah amplop berisi uang dalam jumlah yang disesuaikan.
“Apa itu pantas?” tanya Fauzan.
__ADS_1
“Hmm ....” gumam Nadia, tiba-tiba dia tersenyum, dia merasa bangga sudah bisa memberikan hadiah istimewa untuk temannya. Sambil tersenyum dia memasukkan kotak kado itu ke dalam tas kecil yang di bawahnya.
Salima yang sudah dari tadi hanya melihat dari depan kamarnya dengan apa yang terjadi pada Nadia dan Fauzan, akhirnya mendekat lalu, dia mengusap punggung anaknya dengan lembut.
“Ya, sudah kamu pergi saja ke pesta, sama Nak Fauzan, kalau ada dia, Ibu nggak harus menemanin dan jaga kamu, kan?”
“Ibu ... tapi aku maunya sama ibu, gimana sih?” Nadia menggerutu sambil cemberut. Hal yang tidak diinginkan adalah pergi bersama Fauzan tapi, justru ibunya memberikan restu agar mereka pergi berdua.
“Ayo!” semangat sekali Fauzan menyambut permintaan Salima. Dia segera berbalik badan dan membukakan pintu mobil untuk Nadia.
Nadia terlihat kesal tapi dia tetap mengikuti langkah Fauzan dan memasuki mobil sport itu dengan perlahan. Setelah menutup pintu di sisi badan Nadia, pria itu berjalan mengitari mobil lalu, duduk di kursi kemudi sambil menyalakan mesin.
Dia memasangkan sabuk pengaman untuk dirinya juga Nadia, membuat gadis itu salah tingkah. Setelah itu dia memberikan kotak pakaian yang dia bawa dari rumah mode rancangan khusus seorang desainer kepada Nadia.
“Apa lagi ini?”
“Bajumu.”
“Bajuku?”
“Ya.”
Fauzan pun menceritakan bagaimana dia bisa memesan pakaian itu, secara khusus untuk dirinya karena dia pikir akan membuat Nadia senang tapi, terlambat karena saat dia datang, Nadia sudah siap-siap untuk pergi ke undangan pernikahan.
“Mamangnya ini sesuai ukuranku?” tanya Nadia sambil meletakkan kotak itu di atas pangkuannya.
Sementara mobil yang dikemudikan Fauzan terus melaju, mengikuti mobil Toyota Aiyrs yang di naiki para pengawal dan, sudah berjalan terlebih dahulu.
“Ya, coba saja sekarang kalau nggak percaya!”
“Aku nggak mau!”
Fauzan tergelak melihat tingkah Nadia yang menurutnya lucu, apalagi saat diliriknya wajah Nadia yang bersemu merah.
“Nad, aku gemes sama kamu!”
Bersambung
__ADS_1