
Mengabaikan Rasa
Nadia melihat sekilas pada radiograf yang berada di dekat tempat tidur itu, mengeluarkan bunyi dan gambar grafik yang bergerak secara berbeda. Akan tetapi, Cuma sebentar, tidak lama kemudian, suara dan grafik pada alat canggih yang tersambung langsung pada tubuh Arfan itu pun kembali menunjukkan hal yang sama sebelumnya.
“Kamu dengar nggak tadi, suara alat itu bunyinya aneh, ya? Kamu tahu nggak kenapa?”
Hening. Nadia menarik napas sejenak. Dia pernah membaca sebuah artikel tentang kesehatan yang menjelaskan jika orang yang dalam keadaan koma itu sebenarnya bisa mendengar dan merasakan, hanya saja raganya tidak bisa berbuat apa-apa.
Oleh karena itu, Nadia mencoba untuk melakukan hal yang bisa merangsang otak dan syaraf agar terstimulasi, melalui ucapan dan perbuatannya. Orang yang sakit, tidak bisa dijadikan alasan bagi orang lain untuk mengabaikan atau membuat mereka bisa berbuat sesuka hati. Apa lagi menganggap orang sakit tidak berarti apa-apa.
“Aku juga nggak tahu, artinya itu apa? Yang aku tahu, kita itu nggak boleh nyerah, kita nggak boleh mengecewakan orang lain, walau kita pernah kecewa.” Kata Nadia lagi, sambil memijit telapak tangan Arfan di mana beberapa ahli syaraf mengatakan jika di sela-sela jari manusia itu terdapat banyak sekali syaraf yang bisa memicu kenaikan daya tahan tubuh.
“Kamu tahu nggak sih, gimana rasanya dikhianati? Apa yang mau kamu bilang ke aku sekarang, kalau kamu tahu kekasihmu sudah berkhianat?”
Tiba-tiba air mata Nadia mengalir dengan sendirinya. Dia teringat dengan masa lalu yang begitu menyakitkan, menyisakan luka. Memang luka itu sudah sembuh, tapi bekasnya akan selalu ada.
Selama ini, beberapa usaha untuk menyembuhkan Arfan sudah banyak dilakukan, termasuk banyak mengajaknya berbicara seperti yang dilakukan Nadia. Akan tetapi, mungkin semua orang yang biasa melakukannya sudah bosan, kecuali Imma.
Kini, hanya Imma yang secara rutin mengajaknya bicara, tapi, hanya setiap pagi saja saat dia tidak punya kesibukan dan Cuma sebentar. Wanita itu bukannya tidak sayang, tapi, dia tidak bisa menahan kesedihannya lagi. Setiap kali dia mengajaknya bicara dan tidak ada perubahan, membuat ibu satu anak itu semakin sedih saja.
“Memang, dikhianati itu sakit! Tapi, setidaknya kita harus tetap hidup agar orang yang sudah berkhianat itu bisa melihat, kita baik-baik saja. Kita kuat. Kita tidak mudah hancur seperti yang mereka inginkan. Jadi, jangan menganggap semua sudah selesai karena tempat yang harus kita tuju masih jauh. Kita tidak akan pernah sampai di sana kalau kamu terus tidur seperti ini. Jadi, bangun, oke?” Setelah berkata demikian, Nadia menundukkan kepala di atas tempat tidur di sisi Arfan, dia ingin memejamkan mata dengan bertumpu pada tangannya sendiri.
“Kamu tahu, aku pernah mencoba untuk menyerah, tapi aku sadar, ada orang lain yang berharap besar padaku walaupun, hanya melihatku kembali tersenyum. Lalu, aku mencoba merelakan semua yang berkaitan dengan takdir. Mencoba melangkah, menemukan harapan baru dan menanamnya dengan baik di tanah asa yang basah.”
Nadia diam, dan suara berbeda pada alat di sebelah tempat tidur kembali mengeluarkan suara yang berbeda.
“Boleh nggak aku ngomong sama kamu kalau saat aku mencoba berlari, tapi, justru arahku sekarang tidak pasti. Aku terjebak di sini, terlibat dengan kebohongan Fauzan, adikmu sendiri. Kalau kamu bisa bantu aku, kamu harus bangun! Biar aku punya alasan kenapa aku harus bertahan di sini.”
__ADS_1
Nadia benar-benar memejamkan matanya, di saat itu pula, satu jari Arfan bergerak perlahan.
*****
Sementara itu, di halaman parkir rumah sakit.
Dua orang sedang berjalan beriringan, hampir tidak ada tempat, yang leluasa untuk bicara empat mata hingga Fauzan membawa Ella masuk ke mobil sport miliknya.
Di sanalah mereka beradu argumen dan berbicara dengan penuh emosi, setelah Fauzan melepas penutup wajahnya. Ini untuk pertama kalinya gadis itu menyatakan perasaan pada pria yang duduk di sebelahnya.
Mereka sama-sama keras kepala dan mengedepankan keinginan sendiri-sendiri. Tidak ada yang mau mengalah, sebab, mereka sama-sama merasa dirinya yang paling benar, dirinyalah yang paling layak untuk di mengerti sedangkan orang lain tidak.
Fauzan tidak memiliki perasaan apa-apa pada Ella, walaupun gadis itu memang sangat cantik, seksi, kaya dan pintar, dengan segala kelebihan ada padanya, jadi wajar jika Arfan menyukainya. Akan tetapi, bagi Fauzan, Ella bukanlah tipe-nya, apalagi wanita itu adalah kekasih adik tirinya.
Mereka menjadi akrab karena seringnya bertemu saat mengunjungi Arfan, lalu, lama kelamaan Ella menyukai Fauzan, meskipun dia tahu pria itu tidak menyukainya sama sekali. Dia pikir akan mudah, tapi nyatanya sampai saat ini Fauzan tetap tidak mau menjadi penghianat bagi adiknya sendiri.
Sudah bertahun-tahun ibu dari Arfan membesarkannya penuh kasih sayang. Bahkan saat Arfan jatuh dan dirinya tidak melakukan apa-apa pun, Imma tetap bersikap baik. Wanita itu sempat kecewa berat dan sedikit marah. Akan tetapi, setelah melihat rekaman cctv rumah dan dengan jelas terlihat jika Fauzan memang tidak bersalah, Imma tidak lagi marah dan kecewa padanya.
Oleh karena itu Fauzan tidak ingin menyakiti Arfan sekaligus ibunya juga. Imma sudah menganggap Ella adalah calon menantunya. Fauzan tidak ingin mengikuti keinginan gadis itu yang bisa merusak segalanya.
“Aku tahu, kamu memang orang yang paling ngerti siapa aku, Ella, tapi ak—“
Fauzan belum sempat menyelesaikan bicara saat Ella menyela ucapannya.
“Nah, makanya kamu tidak salah milih aku, Zan!”
__ADS_1
“Ella, sudah berulang kali aku bilang aku nggak suka sama kamu dan kamu itu calon istri Arfan, aku nggak mau menjadi penghianat bagi Arfan dan Ibuku!”
“Tapi, Zan ... Perasaanku nggak salah, kan? Semua orang maklum kok, kalau jatuh cinta karena mereka sudah terbiasa. Apalagi yang bisa diharapkan dari Arfan, sudah hampir setahun dia koma, terus aku harus apa?”
“Jangan menyalahkan keadaan. Kenapa tidak terus berusaha dan berdo buat Arfan?”
Akhirnya Ella mengucapkan semua keluh kesahnya selama ini bila dirinya sudah mulai bosan. Dia tidak peduli jika suatu saat nanti Arfan akan sadar dan marah padanya karena sudah jatuh cinta pada Fauzan. Dia merasa bahwa pria itu harus memaklumi semua hal yang terjadi di saat dirinya sedang tidak sadarkan diri.
Alam begitu besar kepala menyatakan perasaannya karena dia tahu alasan sebenarnya mengapa Fauzan melakukan penyamaran di luar sana bahkan Imma serta Hadian mendukung rencananya.
Semua berawal dari kejadian di mana seorang wanita yang sudah salah mengira orang, dia adalah kolega bisnis Hadian. Ternyata, wanita itu menyukai Arfan, lalu, tiba-tiba memeluk Fauzan dari belakang sambil memanggil nama kakaknya.
Selama ini baik Arfan dan juga Fauzan mengenalnya sebagai wanita singel. Lalu, siapa yang menyangka kemudian bila tiba-tiba suaminya datang, di saat Fauzan ingin melepaskan diri dari pelukannya hingga salah paham pun terjadi. Suaminya sangat marah ketika melihat mereka seolah-olah tengah saling berpelukan.
Arfan dan juga Fauzan dahulu sama-sama bekerja di kantor perusahaan ayahnya. Hal itu membuat banyak wanita dari kalangan pegawai, relasi bisnis yang mengenalnya hingga mereka menjadi buah bibir karena kemiripan wajah mereka walaupun, terlahir dari ibu yang berbeda.
Kejadian salah mengira orang seperti ini tidak hanya sekali terjadi hingga membuat Fauzan mengambil keputusan untuk melakukan penyamaran dan mengasingkan diri.
Selain karena menghindari kesalahpahaman seperti itu terjadi lagi, dia juga ingin mencari seseorang yang benar-benar tulus mencintai, bukan karena ketampanan dan harta yang dimilikinya.
Sebelumnya, Fauzan adalah laki-laki yang memanfaatkan ketampanan dan kekayaan dari orang tuanya sehingga dia menjadi playboy serta banyak mempermainkan wanita.
Imma sebagai ibu yang menginginkan kebaikan untuk anaknya pun, mendukung keinginan dan niat Fauzan. Akan tetapi niat itu dilakukan bersamaan dengan kejadian Arfan terjatuh dari tangga kolam renang.
Hal inilah yang membuat isu tentang hukuman yang diterima oleh Fauzan karena mencelakai kakak tirinya beredar dengan cepat baik di lingkungan rumah maupun di perusahaan.
“Zan, kalau kamu mau jadi pacar aku, nggak usah repot-repot melakukan penjajakan karena kita sudah saling mengenal lama, kan?”
__ADS_1
Bersambung