
Sebuah Bukti
“Kamu?” Tanya Nadia setelah mengatasi rasa terkejutnya. Dia menoleh pada Ella, wanita yang mengejutkan dari belakangnya tadi.
“Ya, ini aku! Sudah lama di sini?” Tanya Ella yang berpenampilan seperti pria, memakai topi dan kaca mata hitam, dengan pakaian gaya kekinian berupa jeans dan kemeja pendek yang memperlihatkan pusat di perutnya. Dia duduk di kursi seberang meja depan Nadia.
“Belum lama juga, sih?” Jawab Nadia yang heran melihat penampilannya sebab setiap kali mereka bertemu, Ella selalu memakai pakaian layaknya perempuan. Walaupun ketat membelit tubuhnya tapi, penampilannya selalu feminin dan juga anggun serta serasi, berbeda dengan yang dilihatnya saat ini tidak biasanya.
“Gimana, sudah melihat sesuatu, atau sudah punya bukti soal Arfan?” tanya Ella sambil memanggil pelayan untuk memesan makanan.
“Hmm ...” gumam Nadia sambil menggelengkan kepalanya. “Tqpi, mereka memang ada sih di dalam.”
Setelah memesan minuman, Ella menjelaskan jika Dean dan Arfan sering sekali mengunjungi tempat itu dan, mereka memiliki kartu akses khusus untuk pergi ke ruangan sebelah. Ruangan khusus Vip atau tempat yang bisa di pesan secara khusus. Biasanya tempat itu yang dipakai untuk mengadakan pesta atau perayaan lainnya.
Para pelanggan yang memiliki kartu atau tanda pengenal khusus untuk masuk ke sana, tentu bukan orang sembarangan dan keadaan di sana pun tidak bisa di lihat oleh sembarang orang pula.
Ella punya cara khusus untuk masuk dan merekam semua kegiatan dalam ruang itu yaitu dengan layar ponselnya. Dia akan menyamar sebagai wanita panggilan. Hal itu tentu saja tidak bisa dilakukan Nadia dan dengan tegas gadis itu menolak usulan Ella.
“Baik, kalau kamu gak mau, biar aku saja. Asal kamu yakin dua orang itu sudah masuk di sana!” kata Ella
“Ya. Aku lihat mereka tadi.” Sahut Nadia.
“Baik, kalau kamu mau bukti.” Ella berkata sambil berdiri dan dia sengaja berpakaian seperti itu karena punya rencana penyamaran yang akan dilakukannya.
“Tunggu.” Nadia berkata sambil menahan tangan Ella.
“Kenapa?”
“Aku mau tahu, kenapa kamu mau ngelakuin semua ini buat aku?”
Ella pun duduk kembali, sambil menyeruput minumannya yang baru saja tersedia.
“Siapa bilang buat kamu, tapi aku juga butuh, Nad! Aku gak mau dibilang wanita yang gak setia! Jadi aku butuh alasan kenapa aku menolak Arfan dan memilih Fauzan. Laki-laki itu ternyata baik banget, Nad. Dan dia lebih layak buat dicintai dari pada Arfan!”
“Tapi, gimana kalau dia nggak mau Nikah sama kamu?”
“Terus, dia maunya sama siapa? Sama kamu, Nad? Hah!” Ella berkata sambil memalingkan pandangan, mereka memang tidak akrab. “Oke! Kita bersaing dengan adil!” Ella berkata sambil mengulurkan tangannya.
__ADS_1
“Nggak perlu, biar dia milih sendiri siapa yang paling dia sukai di antara kita!”
“Oke, siapa takut?” Ella kembali beranjak dari duduknya, tapi, baru saja dia akan melangkah menuju meja resepsionis di dekat pintu masuk ruang sebelah, pintu ruangan itu terbuka lebar.
Arfan, Dean dan beberapa pria berjalan bersamaan secara saling bergandengan tangan.
Ella dengan cepat memalingkan pandangan dan memegang topinya agar semakin tidak terlihat. Nadia yang menyaksikan kejadian itu dari tempat duduknya, merasakan debaran jantung yang dahsyat.
Sementara itu, seorang lelaki yang dari tadi memegangi pinggang Arkan, berjalan ke sisi kasir sambil berbicara sesuatu, sang kasir berjalan ke belakang mengambil paper bag besar yang di titipkan pria itu. Dia tampak melirik Ella sekilas sambil berbisik pada Arfan dengan gaya kemayu dan cenderung mesra untuk ukuran seorang pria.
Bukan hanya itu, Nadia melihat dengan jelas bagaimana kedua tangan pria itu meremas pinggang Arfan dengan gerakan perlahan dan gemulai.
Nadia merasa jijik melihatnya, dan dia tidak bisa diam, ini harus diselesaikan secepatnya. Akan tetapi, dia harus bagaimana, sebab ini bukan hanya soal tak berperasaan, melainkan soal moral dan napsu yang seharusnya bisa dikendalikan. Hal baik seperti kepribadian dan postur tubuh yang bagus, alangkah baiknya jika tidak bercampur dengan hal buruk seperti itu.
Bukankah hubungan penyuka sesama jenis sangat di larang dalam agama mana pun di dunia, serta tidak baik pula dalam hal kesehatan. Ini tidak bisa dibiarkan.
Seandainya Nadia mengungkapkan hal ini sekarang, bisa jadi mereka akan menyangkal dan mengatakan jika mereka hanya teman, dia memang harus mendapatkan bukti!
Nadia berjalan keluar dari cafe itu dan masuk kembali ke dalam mobil Fauzan. Jali masih menunggu dengan sabar. Pria itu sebenarnya heran dengan kepergian Nadia ke sana, sebab bila dia lapar atau haus, Jali akan dengan senang hati membelikannya makanan enak dan minuman dingin yang disukai Nadia.
“Pak Jali, bisa kan membantu saya sekali lagi?” tanya Nadia, dia antara kebimbangan apakah akan bicara terus terang padanya atau tidak.
Hai ini sama meragukan saat Fauzan menanyakan perasaannya, apakah harus dijawab jujur atau tidak?
“Bukan belanja, Pak ...!”
“Terus apa, dong?”
Di saat yang bersamaan, Arfan dan seorang pria yang sejak tadi menempel padanya seperti lem itu pun keluar dengan menjinjing tas besar di tangannya, entah berisi apa.
Nadia bersyukur aksi Ella tidak ketahuan. Arfan tidak sempat menoleh padanya karena sang kasir tadi sudah memberikan tas titipan, tepat di saat dia akan menoleh pada Ella yang berdiri tak jauh dari dirinya.
“Ikuti mobil itu, Pak!” kata Nadia membuat Jali segera melihat ke arah mobil yang di tunjuk Nadia.
Betapa Jali terkejut setelah melihat Arfan baru saja masuk ke dalam mobil itu, bersama seorang pria, setelah melakukan cipika cipiki dengan Dean dan dua orang lainnya yang hanya melambai serta tersenyum seraya menatap mobil itu pergi.
Rombongan Dean memasuki mobil lainnya dan mereka pergi ke arah yang berlawanan.
Sementara Nadia baru saja selesai memakai sabuk pengaman ketika dia dikejutkan oleh Ella yang masuk mobil dengan tiba-tiba.
__ADS_1
“Ella! Kamu ngagetin aja!” teriak Nadia.
Saat Ella masuk, Jali sudah melajukan kendaraannya mengikuti mobil itu dalam jarak aman.
“Pak Jali, ayo jalan! Sebelum kehilangan jejak!”
“Apa maksud kamu, Ella?” tanya Nadia lagi yang duduk di sampingnya sambil memasang sabuk pengaman juga seraya melirik dan tersenyum licik pada Nadia.
“Jangan bilang kamu mau cari bukti sendian, kamu curang, Nadia!”
Ck!
Nadia berdecak kesal, dia tidak bermaksud seperti yang diucapkan Ella barusan. Dia hanya menunggu waktu yang tepat.
Dia mengatakan pada Ella jika niat untuk mengikuti mobil Arfan terbetik begitu saja. Jadi, dia tidak berniat melupakan Ella dan juga usaha mencari kebenaran pada Arfan.
Setelah melalui berbagai rintangan di jalanan bahkan mereka hampir saja kehilangan jejak, akhirnya Jali berhasil mengikuti mobil Farari merah itu berhenti di sebuah rumah yang tidak terlalu mewah, tapi cukup besar dan dicat dengan warna warni pelangi yang menyilaukan.
Kedua pria itu turun dari mobil yang sudah masuk dalam garasi, dan mereka berjalan ke dalam dengan saling bergandengan tangan, tanpa mengunci pagar besinya. Entah lupa atau karena biasa, hingga Nadia dan Ella berjalan secara perlahan untuk mendekati rumah itu.
“Nona-nona!” Tiba-tiba Jali mendekati dua wanita yang sudah ada di dekat pintu masuk rumah. Saat Nadia dan Ella masuk pintu gerbang tadi, Jali masih mencari tempat parkir yang aman agar mobilnya tidak ketahuan.
“Jangan ikut campur!” kata Ella sambil menekan suaranya setengah berbisik.
“Aku harus ikut campur!” sahut Jali dengan nada suara yang sama.
Jali sudah mendengar semua informasi tentang Arfan dari Ella yang akhirnya menceritakan juga tentang kecurigaannya. Oleh karena itu dia ingin ikut andil, bahkan dia turut merasa bersalah karena hal sebesar ini bisa luput dari perhatiannya.
“Ah, Sial!” gerutu Jali berulang kali selama perjalanan tadi. Dia menyesal sudah begitu percaya pada Arfan dengan segala sifat baik dan rendah hati yang dia miliki. Apalagi penampilan macho yang benar-benar sempurna, siapa yang menduga jika kenyataan seperti ini adanya?
“Sayang! Apa kamu dengar suara orang di luar?” teriak sebuah suara seorang pria yang terdengar dekat dengan pintu masuk.
Lalu, ceklek! Suara knop pintu dibuka.
“Ah! Habislah kita!” pekik Ella.
__ADS_1
Bersambung