
Jujur Soal Pacar
Begitu pintu terbuka, Jali tidak bisa bertindak gesit untuk bersembunyi hingga dia ketahuan dan seorang pria yang berdiri di sana pun terkejut, pasalnya dia tahu siapa Jali.
“Kamu?” kata Teo, dia lelaki gemulai yang menyukai Arfan, entah apa yang di pikirkan pria gagah itu hingga mudah terpengaruh oleh Teo yang kemudian sering di panggil Tia oleh teman-temannya.
“Kenapa kamu di sini?” Tanya Teo penuh curiga. Sebelumnya, belum ada keluarga Arfan atau siapa pun juga, yang tahu rumahnya itu.
Dia khawatir jika keluarga Arfan tahu masalah kelainannya itu, biar bagaimanapun juga, jangan sampai ketahuan karena akan jelas-jelas merusak reputasi keluarga dan perusahaan. Mengingat betapa pentingnya sebuah nama baik bagi semua anggota keluarga kaya.
Sementara Jali pun tidak kalah terkejutnya karena dia tidak tahu jika rumah itu adalah kediaman Teo, teman yang dikenal dekat dengan Arfan dan juga Dean. Mereka sama-sama tampak gagah di luar hingga Kali begitu heran melihat gayanya kali ini. Dia menyesal tadi, tidak begitu memperhatikan siapa orang yang masuk ke dalam mobil, yang di minta oleh Nadia untuk diikuti.
“Siapa, Dik?” tanya sebuah suara dari dalam yang berjalan mendekat dengan perlahan.
Teo menyadari sesuatu hingga dia segera mendorong Jali ke balik pintu lalu berkata, “Bukan siapa-siapa, orang salah alamat, tadi?”
Arfan yang hampir sampai ke pintu, tidak menaruh curiga dan mengangguk sambil berbalik hendak meneruskan aktivitas yang tertunda. Entah apa yang sedang dia mainkan di dalam sana hingga terdengar suara tawa keras, keluar dari mulut dua pria. Selain itu, ada suara musik lembut yang mengiringi suara tawa mereka.
Sementara itu, Nadia menggelengkan kepalanya dan mendekati Jali, lalu berkata setengah berbisik seorang diri, perasaannya kesal dan ingin sekali mengumpat, mengapa pria dewasa seperti Jali tampak tidak berdaya di matanya.
Jali heran, dengan tingkah dua wanita yang mengintai di dekatnya karena dia tidak tahu apa rencananya, sehingga dia hanya diam tanpa mengambil langkah apa pun untuk menyelesaikannya.
Nadia menarik tangan Jali ke mobil diikuti Ella. Dia ingin menjelaskan semua rencananya, yang belum dia jelaskan pada Jali dan Ella seluruhnya. Saat di mobil tadi, Nadia dan Ella hanya menjelaskan alasan mereka mengikuti mobil Arfan dan Teo saja.
“Jadi, Pak Jali. Kita hanya membutuhkan bukti, dan kalau bisa kita menangkap basah perbuatan mereka dengan rekaman video atau semacamnya. Gimana?” kata Nadia dan disetujui oleh Ella. Kelak, bukti itu akan mereka gunakan untuk mendapatkan penolakan perjodohan dan juga cara untuk menyembuhkan penyakit dari hawa keinginan yang salah.
“Pak, ini nggak boleh di biarkan, jadi Nanti Pak Jali masuk lagi, ya terus pakai alasan minta minum atau tanya alamat rumah orang aja?” kata Ella mencoba berinisiatif untuk mempercepat rencana.
“Nah, jangan lupa, sambil nyalakan kamera, oke?” kata Nadia lagi.
Jali masih terdiam, dia sering melakukan pekerjaan meneliti dan mengawasi pekerjaan orang, mengaudit keuangan para kepala cabang dan kegiatan mirip mata-mata lainnya, tapi dia tidak pernah berpura-pura. Pekerjaannya selalu serius dan penuh perencanaan secara matang.
__ADS_1
Kalau menyangkut harga diri keluarga, tentu kegiatan pura-pura yang diminta Nadia, jauh lebih penting dari pekerjaan kantor. Namun, dia memang belum pernah melakukan penyamaran atau semacamnya.
Dengan penuh keyakinan, Jali melangkah ke depan pintu dan mengetuknya. Setelah pintu terbuka, yang muncul di sana bukan sesuai rencana karena Arfanlah yang menyambutnya.
Tentu saja, Arfan dan Jali sama-sama terkejut dan Arfan tampak marah, pria itu keluar hanya mengenakan celana pendek saja seperti orang yang kegerahan dan berada di pantai hendak berenang.
“Jali? Kenapa kamu di sini?” tanya Arfan dengan raut wajah yang tidak bersahabat dan menatap pria kepercayaan adiknya itu dengan tajam.
“Maaf, Tuan Arfan, saya juga heran, kenapa Anda ada di sini?”
“Bukan urusanmu!”
“Tuan, Anda baru saja pulih, kenapa tidak istirahat saja di rumah?”
“Diam! Katakan, kenapa kamu bisa ada di sini, Jali?” tanya Arfan keras dan gusar dia mengusap rambutnya kasar.
“Saya mau ke rumah Pak Anton, katanya tinggal di rumah nomor 29. Ya, kan ini rumah nomor 29, kan?” Kali ini jawaban Jali tidak menimbulkan kecurigaan.
“Dasar aku apes!” bentak Arfan dengan kesal. “Mungikn bukan 29, tapi nomor 92!”
Arfan terdiam sejenak dan tampak berpikir, lalu memutar bola matanya malas, dia pun mengangguk.
“Bentar aku ambilkan, tunggu saja di sini!”
“Baik, Tuan.”
Arfan masuk dan Jali mengikutinya nyaris tanpa suara hingga pria itu tidak tahu jika Jali mengikutinya. Sementara itu, telepon genggam milik lelaki paruh baya yang tersimpan di saku bagian depan jasnya, masih menyala.
Secara diam-diam kamera ponsel itu merekam kejadian di mana Arfan melewati Teo dan bercakap-cakap sebentar tentang siapa tamu mereka, dan Arfan menjawab jika bukan siapa-siapa melainkan hanya seorang pengemis yang minta makan dan minum.
Dalam rekaman itu terlihat Teo yang tengah bermain dengan boneka mirip manusia yang hanya setengah badan. Hal yang sangat menggelikan dan sungguh ini aib yang sangat buruk jika terbongkar. Dikarenakan, negara kita bukanlah negara maju yang jadi tetangga dan menjadikan permainan dengan boneka sebagai perbuatan yang biasa saja.
Harga diri dan kehormatan sangat di junjung tinggi di sini, di mana hal-hal kotor dan menjijikkan seperti itu sangat dilarang. Kita tinggal di negara beradab yang melarang perilaku menyimpang karena akan merusak genarasi bangsa dan moral mereka.
__ADS_1
Setelah Arfan selesai mengambil minum, Jali sudah berada di tempatnya kembali. Dia menerima pemberian Arfan dengan tidak semangat dan hanya minum sedikit lalu menyimpan gelasnya di meja dekat jendela luar.
“Terima kasih, Tuan Arfan!” Jali berkata sambil berbalik, lalu dia kembali menoleh karena Arfan memanggilnya.
“Kau harus berjanji, jangan ada yang tahu tentang keberadaanku di sini, anggap kamu tidak melihat dan bertemu denganku di sini. Apa kamu mengerti?”
“Baik, Tuan.”
“Ingat, Jali! Kalau kamu sampai membocorkan sesuatu pada orang lain, aku tidak akan segan membunuhmu?”
“Mamangnya, apa yang Tuan lakukan di sini, sih? Ini rumah siapa? Teman Tuan atau pacar dan jangan sampai Nona Nadia atau orang tua Anda tahu? Kenapa Anda tidak jujur saja kalau Anda punya pacar, Tuan?”
Arfan mengerutkan alisnya, dia tidak bisa jujur soal inj. Sebab kalau dia mengatakan jika dia punya pacar seorang pria, maka dia akan lebih sengsara. Terkadang kehidupan manusia yang sudah berat ini akan jauh lebih berat karena perbuatan manusia itu sendiri.
“Aku tidak bisa jujur, Jali!”
“Kenapa, Tuan?”
“Mama bilang Nadia yang sudah berjasa membuatku siuman, jadi Mama pasti kecewa. Aku Cuma mau kaga perasaan Mama saja!”
“Dengan menyakiti Nona Nadia padahal, dia sudah menyelamatkan Anda, begitu?”
“Jali, aku ulangi sekali lagi, ini urusanku!”
“Tapi, Tuan lupa kalau saya juga banyak mengurus urusan keluarga Anda!”
“Tutup mulutmu, sialan!”
Arfan mulai marah dan dia mencengkeram kerah jas Jali dengan kasar, dia mengepalkan tinju ke hadapan Jali. Pria itu tetap tenang seolah-olah perbuatan Arfan bukanlah apa-apa.
“Memangnya apa yang akan tuan lakukan kalau saya bicara Anda punya pacar seorang laki-laki?”
“Kurang ajar!” teriak Arfan sambil melayangkan pukulan ke rahang Jali hingga bibir pria paruh baya itu berdarah.
__ADS_1
“Hentikan!” teriak sebuah suara keras di dekat dua orang yang berkelahi, tepat sebelum Arfan akan melayangkan tinjunya yang kedua kali.
“Ella?”