
Nadia menoleh dengan kesal pada Zan, baginya pria ini sedikit rese dan menyebalkan. Apa ini ujian, dia sedang berusaha menghindarj rasa malu di kampung halaman ternyata bertemu dengan orang yang demikian membuatnya kesal di tempat pelarian. Sepertinya memang ujian hidup seseorang tidak akan berakhir sebelum nyawanya melayang.
Sungguh ujian hidup yang sangat berat, Gagal menikah, Lari dari kampung untuk menghindari rasa malu, Sampai di sini bertemu dengan pria menyebalkan seperti Zan, Sungguh telah berada di paket komplit hidupnya nadia.
“Apa urusanmu?” tanya Nadia.
“Pasti itu Bang Rudi, mau ngasih kunci, kos kamar kamu, kan?” Zan menebak dengan tepat membuat Nadia mengganggu dengan terpaksa.
Pria itu kembali berkata, “Ya, udah kalau gitu masak dulu yuk, ke tempatku ... kita, kan, tetangga jadi, kamu nggak boleh marah-marah kayak Bu Neni.”
Nadia merutukin nasibnya dalam hati mengapa dia bertemu dengan pria seperti ini sebagai tetangganya. Mereka belum resmi bertetangga tapi laki-laki itu justru sudah mendiktikan keinginannya.
“Gak usah, terima kasih,” tolak Nadia dengan halus.
Rumah sewa tempat Nadia dan Zan berada, adalah rumah yang berbentuk sederhana berjajar rapi secara berhadap-hadapan dengan beberapa rumah lainnya yang terdiri dari masing-masing lima rumah depan dan belakang. Dalam setiap rumah, ada satu kamar dan ruangan lain serta kamar mandi juga dapur termasuk teras yang berukuran standar rumah kost pada umumnya. Letak rumah itu adalah yang terdekat menuju kantor di mana Nadia akan bekerja.
“Kamu, sudah lama tinggal di sini?” tanya Nadia, dia masih menunggu orang yang akan datang sesuai perjanjian di telepon dengan duduk di kursi yang ada di terasnya.
“Belum, baru hampir tiga bulan,” jawab Zan sambil duduk di lantai teras sementara Nadia ada di belakangnya.
“Oh.”
“Oh, doang? Ngomong apa lagi, kek, gitu. Kamu ini kayaknya memang jarang ngomong ya, atau kamu memang cerewet tapi, karena masih baru jadi kamu gak mau ngomong sama aku, atau kamu takut?”
“Kamu, bener gak punya pekerjaan?”
Ditanya seperti itu, wajah Zan yang terlihat begitu manis dengan wajah khas pria blasteran antar suku itu, tiba-tiba berubah. Dia menoleh pada Nadia dan tersenyum tipis, lalu, mengangguk.
“Apa jadi pengangguran itu menjijikkan?”
“Tidak juga.”
“Tapi orang di sini melihatku seperti melihat hantu.”
__ADS_1
“Mungkin kamu memang mirip hantu.”
Zan kembali menoleh dan menatap Nadia kesal.
“Kamu berhenti kerja, atau ....?” tanya Nadia ragu, padahal dia hanya ingin menanyakan apakah dipecat atau memang dia tidak memiliki pekerjaan.
“Aku memang pengangguran.” Zan menjawab sambil menghela napas berat.
Tiba-tiba suara klakson motor membuyarkan keasikan obrolan Zan dan Nadia.
Seorang pria bertubuh tambun berjalan mendekat setelah memarkirkan motor Vespanya. Dia tersenyum ramah pada Zan dan Nadia.
Pria itu memperkenalkan diri, bahwa dialah yang bernama Rudi, selaku pemilik tempat Kost. Dia memberi sedikit penjelasan tentang seluk beluk rumah dan alamatnya, menjelaskan beberapa kebiasaan di sana, serta bagaimana sistem pembayaran yang harus Nadia lakukan setiap bulannya.
“Neng! Abang pergi dulu, ya, hati-hati di sini sama orang seperti dia!” kata Rudi setelah selesai memberikan kunci dan mempersilahkan Nadia masuk.
Sekilas, pandangan Rudi menelisik begitu dalam pada Nadia yang memang berwajah cantik, pipinya putih halus dan tubuhnya lumayan berisi. Walau dia mengenakan pakaian yang menutupi aurat tapi, busana muslimah modern yang melekat padanya tidak bisa memungkiri bila gadis itu seksi dan menarik.
Semua yang dilakukan Rudi itu, membuat Zan melengos menunjukkan rasa tidak suka. Dia sebagai pria, tentu saja tidak suka bila ada pria lain yang punya tatapan mesum pada lawan jenisnya. Sedangkan dia tidak, Zan menghargai Nadia. Apalagi mereka akan menjadi tetangga yang harus pandai menjaga nama baik masing-masing tentunya.
“Sudah selesai, Bang?” tanya Zan saat Rudi sudah berada di atas motor Vespa antiknya. Rudi mengangguk penuh waspada.
“Iya, selesai. Awas kalo kamu nunggak bayar, ya?”
“Aku belum pernah nunggak bayar, kan?”
Rudi hanya khawatir bila bayaran kost Zan menunggak. Dia berpikir begitu bukan tanpa alasan, melainkan karena issue yang beredar bahwa Zan seorang pengangguran, sudah dipastikan dia tidak punya uang.
“Bang Rudi kuatir aku nggak bayar karena aku gak punya, uang?”
“Ya.”
“Bang. Belum tentu pengangguran itu gak punya uang, kan?”
__ADS_1
“Terserah.”
Sambil berkata demikian Rudi pergi dan Zan kembali ke dalam rumahnya sendiri, sementara dia melihat Nadia tidak ada di teras dan pintu kamarnya sudah tertutup.
Tidak lama setelah Zan masuk ke rumahnya, pria itu keluar lagi sambil membawa beberapa makanan di piring dan membawanya ke depan pintu rumah Nadia.
“Assalamualaikum permisi apa ada orang .... Halo ....!” tanya Zan dengan suara tertahan tak lupa mengetuk pintu kamar Nadia.
Suara ketukan pintu terdengar menggema karena tempat kost saat ini tergolong sepi. Di jam seperti itu tidak banyak orang yang ada di dalam rumah, karena kebanyakan mereka masih bekerja sebagai buruh pabrik dan pegawai lainnya. Tempat kost hanya akan ramai saat pagi atau malam dan hari-hari libur saja.
Setelah menunggu lumayan lama, akhirnya pintu kamar Nadia pun terbuka dan Gadis itu terlihat baru saja membersihkan diri dan melaksanakan ibadah, tampak wajahnya begitu segar karena air wudhu.
Saat itu sejenak tatapan mereka beradu, baik Nadia maupun, Zan menyapu saling wajah dengan pandangan mata.
“Ada apa?” tanya Nadia tanpa berbasa-basi, sambil mengerjakan matanya.
“Ini ... Aku punya sedikit makanan, kamu pasti lapar kan, kamu baru datang pasti kamu belum makan ....” kata Zan sambil menyodorkan sebuah piring yang berisi beberapa . Saat menyodorkan piring itu, di pergelangan tangannya memperlihatkan sebuah jam tangan bermerk dan, terlihat jelas oleh Nadia membuat wanita itu mengerutkan alisnya.
Jam yang dikenakan oleh Zan adalah merek yang harganya cukup fantastis, biasanya tidak sembarang orang bisa memilikinya tapi, bagaimana mungkin Zan, yang pengangguran dan tinggal di tempat kost sederhana, memakai benda mahal itu di tangannya?
Gadis itu segera tersenyum miring lalu menerima makanan dari tangan Zan tanpa banyak berkata-kata, dia menepis pikirannya bahwa, kemungkinan jam tangan yang dipakai oleh Zan hanyalah pemberian semata, atau benda palsu dan ilegal yang dijual di pasar gelap.
Sementara Zan seperti salah tingkah, ketika piring itu sudah berpindah tangan, dengan buru-buru dia menyembunyikan tangannya di saku celana dengan gugup. Dia segera berbalik dan kembali masuk tempatnya, tanpa menoleh lagi pada Nadia.
“Hei tunggu, ini piringmu!”
Bersambung
__ADS_1