
Lamaran
Nadia terbangun begitu mendengar suara azan berkumandang menandakan waktu ashar tiba, dia segera bangkit sambil menggeliatkan badannya. Rasanya begitu nikmat bisa tidur siang walaupun singkat, karena selama bekerja, dia jarang sekali melakukannya.
Gadis itu segera mengambil air wudhu dan pergi ke kamarnya sendiri untuk membangunkan Salima serta Maulana. Ternyata Nadia melihat bahwa Ayah dan Ibunya sudah bangun dan tengah bersiap, hendak melakukan kewajibannya juga. Lalu, mereka pun melakukan ibadah itu secara bergantian.
Nadia memasrahkan diri sepenuhnya lebih pasrah dari sebelumnya dan, berharap dengan harapan lebih dalam dari sebelumnya. Sadar jika nasib, umur dan jodoh ada di tangan Sang Maha Kuasa. Buktinya, dulu, sekian tahun lamanya dia menjalin cinta, sekian lamanya dia menanti, tapi berujung pada sakit hati dan air mata.
Kin penantiannya berawal dari hari ini, apakah penantiannya pada pernikahan, menjadi muara cintanya yang terakhir kali ini? Cintanya memang pernah karam, mangkinkah kembali muncul di permukaan dalam wujud yang lain?
Saat ini dia hanya menantikan kebahagiaan yang sebenarnya dan, bukan air mata. Kebahagiaan yang diharapkan seorang wanita seutuhnya, menjadi pendamping bagi pria yang dicintainya.
“Berdo’a apa kamu, Nad? Lama banget!” ucap Salima saat Nadia sudah selesai berdoa.
“Ibu, ini ... berdoa kok, dikomentari!” sahut Maulana.
“Ibu nggak komentar, Cuma nanya, Nadia doa apa aja?”
“Bu, doa itu urusan pribadi antara manusia sama Allah, kok ditanya-tanya!”
“Iya, iya!” Akhirnya Salimah diam, dia selalu kalah kalau bicara soal agama dengan suaminya.
Nadia hanya tersenyum melihat tingkah kedua orang tuanya, sambil melipat mukena.
Setelah selesai melaksanakan kewajiban, masing-masing mereka membersihkan diri, lalu, mereka pergi ke halaman parkir, untuk memeriksa semua bingkisan yang mereka bawa dari rumah. Sopir mobil sewaan itu ikut memeriksa dan memastikan jika semua dalam keadaan baik-baik saja.
Tiba malam harinya, mereka pun berangkat dengan perasaan yang campur aduk. Mungkin tidak sama antara apa yang dipikirkan dan dirasakan Maulana, juga istrinya. Berbeda pula dengan Nadia yang tidak hentinya berharap jika nanti, hanya berlangsung lamaran saja seperti kesepakatan mereka sebelumnya.
"Ya, ini hanya makan malam biasa saja!" batin Nadia.
__ADS_1
Sesampainya di rumah keluarga Hadian, mereka di sambut dengan sangat ramah, bahkan sejak dari pintu gerbang. Para penjaga yang membukakan pintu besi besar itu pun mengangguk hormat pada tamu istimewa majikan mereka.
Sopir mobil travel itu di arahkan oleh penjaga untuk parkir di dekat teras atau di depan pintu utama rumah besar. Rumah keluarga Hadian cukup mewah bercat putih, dengan nuansa campuran antara klasik dan modern serta terkesan hangat dan asri.
Ada air mancur besar di tengah halaman dan taman bunga cantik di samping kiri dan kanan. Bisa dilihat dari beberapa sisi jendela juga balkon yang ada di lantai dua.
Salima dan Maulana turun setelah para penjaga membukakan pintu mobil untuk mereka, sepertinya semua sudah direncanakan dengan baik. Ada Jali di antara mereka, yang memberikan beberapa instruksi. Pria itu bahkan berharap jika majikannya akan menikah malam ini juga.
Semua tamu dan tuan rumah duduk saling berpasangan di sofa besar ruang tamu, setelah Fauzan memperkenalkan mereka satu persatu.
Nadia tidak menyangka bila ada Ella dan Arfan yang ikut bergabung bersama mereka duduk di ruangan yang mampu menampung hingga sepuluh orang itu.
“Terima kasih Tuan Hadian dan Nyonya, sudah menerima kami dengan sangat baik di sini, padahal kami hanya orang kampung biasa!” kata Maulana memulai obrolan mereka, setelah berbasa-basi menanyakan kabar dan juga perjalanan mereka.
“Sama-sama, Pak. Dan, jangan panggil saya Tuan, saya jadi nggak enak. Saya lebih muda dari Pak Maulana!” sahut Hadian tenang, dengan gaya khasnya, menumpangkan kedua kaki sambil bersandar.
“Oh, tidak masalah,” kata Maulana sambil tersenyum.
Untuk sementara yang bercakap di antara mereka hanya Maulana dan Hadian saja.
“Anak saya tidak pernah mengeluh, saya rasa itu tidak jadi beban bagi Nadia. Iya, kan, Nad?”
Nadia mengangguk, dia duduk di samping Fauzan dengan menunduk malu. Dia masih merasa kurang percaya diri walaupun, sudah memilih dan memakai pakaian terbaiknya di lemari, untuk datang ke acara malam itu. Begitu pula, Maulana dan Salima yang juga memakai pakaian terbaik mereka dari kampung.
“Jadi, maksud kedatangan kami kemari malam ini adalah, yang pertama ... untuk memenuhi undangan Ibu dan Bapak Hadian makan malam, sekaligus bersilaturahmi, yang kedua adalah untuk mengembalikan semua hadiah yang pernah diberikan oleh Nyonya Ima kepada kami di kampung waktu itu,” kata Maulana terkesan hati-hati.
“Apa maksud Bapak dan Ibu mau mengembalikan semua pemberian saya?” Suara Imma cukup keras menyela ucapan Maulana.
Pria tua itu mengangguk, dan berkata, “Iya, Bu, kan, semua pemberian itu awalnya buat Nadia yang mau menikah dengan Nak Arfan, bukan?”
“Ya!” kata Imma tapi kembali diam untuk menarik napas dalam, dia terlihat gugup, lalu, kembali berkata, “Tapi, tidak usah, Pak, Bu ... anggap saja sekarang sebagai ucapan terima kasih atas kebaikan Nadia sudah membantu saya dan keluarga saya waktu menunggu Arfan di rumah sakit!”
__ADS_1
Salima dan Maulana saling berpandangan, mereka berdua seperti mencari sebuah kesepakatan. Lalu, melemparkan pandangan ke arah Nadia.
“Jadi, gimana Nadia, apa kamu mau menerima semua hadiah itu?” tanya Salima sambil menatap Nadia yang duduk di hadapannya dengan serius, malu rasanya kalau diterima begitu saja.
“Ya, sudah kalau masih keberatan menerima, gimana kalau hadiah itu sebagai tanda lamaran saya pada Nadia, apa bisa?” kata Fauzan untuk mengimbangi kecanggungan karena Nadia diam.
“Oh, kalau itu ya, bisa, bisa!” kata Maulana sambil kembali menoleh pada istrinya. Salima pun mengangguk setuju.
“Gimana, Nad?” tanya Salima, menatap anaknya dengan penuh harap. Lalu, saat dia melihat Nadia mengangguk dalam diam, semua orang pun mengucapkan syukur.
“Wah, aku kalah, dong, kalau begitu.” Kata Arfan tiba-tiba. Semua orang yang ada di sana beralih menatap Arfan, sambil tersenyum.
“Kalau begitu, cepat dong, Sayang, Lamar aku, sekarang!” kata Ella.
Beberapa di antara mereka tertawa kecil, membuat Imma menjelaskan masalah yang dulu menjadi salah paham hingga dia bisa menjodohkan Arfan dengan Nadia. Wanita itu yakin bahwa Nadia tidak akan gegabah dan tidak menceritakan kejadian sebenarnya tentang Arfan, pada kedua orang tuanya.
Maulana dan Salima pun kini paham jika sebelumnya Imma mengira Arfan tidak memiliki kekasih, hingga dijodohkannya dengan Nadia karena dianggap sudah berjasa, tapi, setelah mengetahui jika Ella mencintainya, oleh karena itu, Nadia menolaknya. Sepasang suami istri yang berusia lanjut itu pun mengangguk.
“Iya, Sayang, aku akan lamar kamu kalau Mama Papamu sudah pulang dari luar negeri, oke?” Kata Arfan sambil menepuk lembut kepala Ella.
“Oke!” sahut Ella.
“Terus, kalau sekarang lamarannya, kapan nikahnya, Zan!” tanya Arfan lagi.
Bersambung
__ADS_1