
Rumah kost
“Nadia, kamu sudah berpikir baik-baik dengan keputusanmu, Nak?” Tanya Salima, Ibunda Nadia, sambil menepuk lembut bahu anaknya. Saat itu Nadia tengah berkemas membereskan semua perbekalan dan barang-barang pribadi sebelum keberangkatannya ke Surabaya, sebuah kota yang akan menjadi tempat tinggal selanjutnya.
“Sudah, Bu ... Ibu jangan kuatir, ya. Nadia akan rajin telepon kalau nanti sudah mulai bekerja.” Kata Nadia seraya menghentikan sejenak aktivitas memasukkan pakaian ke dalam koper besarnya.
“Tapi, Ibu nggak biasa kamu tinggalin, Nad. Kayak apa kangennya Ibu nanti sama kamu, Nak.”
“Bu, kan ada hp? Kita bisa video call, Bu.”
“Oh, itu ....”
Salima merasa berat ditinggalkan anak kesayangannya, selama ini hanya Nadia yang selalu bisa dia andalkan untuk membantu. Apalagi setelah kegagalan pernikahannya satu bulan yang lalu, membuat anak gadisnya itu selalu fokus membahagiakan dirinya.
Nadia memang bersedih, dia tampak selalu murung dalam setiap aktivitas yang dilakukan sehari-hari. Akan tetapi, Wanita itu selalu bisa mengatasi bahkan menutupi perasaannya. Rasanya tidak ada orang yang sekuat Nadia saat ini, di mana dia dipermalukan oleh kekasihnya sendiri, merasa dikhianati dan juga dihempas dalam kesengsaraan hati tak berujung secara bertubi-tubi.
Rasa malu yang dia alami sekarang karena kegagalan itu hampir meluluhkan tulang belulang di tubuhnya. Dia mungkin terlihat tegar saat terpaksa keluar rumah memenuhi tuntutan tugas mengajar di sekolah. Sebenarnya, jauh di lubuk hati rasa malu itu seakan menjadi pakaiannya sehari-hari.
Oleh karena itu, dia mencoba melamar pekerjaan lain baik di instansi pemerintah, pendidikan dan juga ke berbagai perusahaan. Semua itu dia lakukan sebagai alasan untuk bisa pergi dari tempat tinggalnya saat ini.
Dia ingin pergi dari kampung halamannya bukan karena tidak menyayangi kedua orang tua, atau juga saudara dan teman. Akan tetapi dia ingin menghindar dari rasa malunya setiap kali bertemu dengan semua yang tahu siapa dirinya.
Dia adalah seorang gadis yang gagal menikah karena calon suami di datangi oleh istri sahnya saat ijab Qabul! Sangat menyedihkan, bukan?
Terlebih saat ini dia mendengar jika Antoni tetap bersama istrinya, yang secara perlahan mulai dicintainya. Nadia mengetahui berita itu secara tidak sengaja, membuat hatinya lebih sakit. Dia bukan wanita yang naif dan enggan mendengar apa pun berita tentang mantan kekasihnya, tapi ada saja informasi yang datang dari beberapa orang tanpa dia minta.
Nadia begitu menyesali kebodohannya sendiri yang dibutakan oleh cinta, tidak tahu sifat Antoni yang sebenarnya. Dia sudah menyerahkan seluruh hati untuk mencintainya, tapi ternyata dia hanyalah sebagai pelarian semata.
Meskipun, Antoni mengatakan bila dialah satu-satunya wanita yang ada dalam hatinya, lalu, bagaimana dengan istrinya? Tidak memungkiri pernikahan karena perjodohan pun akhirnya, akan tumbuh juga cinta tulis di antara mereka. Lalu, bagaimana bila dia dan Antoni tetap menikah juga atas nama cinta? Sungguh, membatalkan pernikahan itu adalah keputusan yang tepat.
__ADS_1
Nadia akan membangun cintanya sendiri, membina rumah tangganya sendiri tanpa melibatkan atau tanpa ada pihak lain dalam hubungannya kelak.
Nadia dan Salima berpelukan setelah gadis itu selesai berkemas dengan kopernya. Akhirnya dua wanita itu berpisah juga, tapi mereka harus saling merelakan demi masa depan yang jauh lebih baik. Seorang Ibu harus rela melepaskan anaknya yang akan bekerja di kota besar dan melanjutkan hidupnya setelah kehancuran yang memalukan.
Nadia berangkat menggunakan jasa taksi untuk menuju ke terminal, setelah sampai di tempat parkir berbagai macam bis kota dan provinsi itu, dia pun naik bis sesuai dengan jurusan yang akan membawanya pergi menuju kota harapannya.
Dia sudah mendapatkan surat panggilan untuk bekerja di sebuah perusahaan baru di sana. Perusahaan yang merupakan salah satu cabang dan berpusat di Jakarta. Gadis itu sudah siap dengan pekerjaan apa pun yang akan menjadi kesibukannya kelak. Walaupun hanya sebagai buruh kasar pun dia rela, asalkan bisa pergi untuk menghilangkan rasa malunya.
Sebenarnya dia berharap bisa kembali mengajar di sekolah seperti sebelumnya, tapi ternyata hanya surat lamaran ini yang mendapat jawaban hingga mau tidak mau, dia harus memanfaatkan kesempatan ini dengan baik.
Hari sudah sampai sore saat bis kota yang dinaiki Nadia sampai di daerah tempatnya akan bekerja. Gadis itu memesan tempat kos secara online, begitu juga dengan kendaraan yang akan membawanya dari terminal ke rumah sewa.
Dia menemukan tempat itu dari situs online yang menyediakan layanan rumah kost, karena di kota barunya sangat padat penduduk yang bila memiliki bisnis rumah kost akan pasti laris.
“Dasar, kamu pengangguran! Pergi sana!” teriak seorang ibu muda, bersama dengan suara tangisnya seorang anak balita, saat Nadia melintas di salah satu rumah kos, dia menarik koper besar menuju alamat yang tertera di layar ponselnya. Dia hampir saja bertabrakan dengan seorang lelaki berpakaian kusam dan didorong keluar dari rumah itu secara kasar.
“Memang, apa salahnya jadi pengangguran?” gumam pria itu kesal, melirik pada ibu muda yang mengusirnya, lalu melirik Nadia juga, yang berjarak sangat dekat dengannya.
Nadia dengan cepat menggelengkan kepalanya lalu ...
“Permisi ... saya mau lewat, di depan itu tempat kost saya.” Sahut Nadia.
Pria itu menaikkan satu alis lalu menarik salah satu sudut bibirnya.
“Kamu tetangga baruku? Aku tinggal di sana juga. Kenalkan, namaku Zan. Panggil saja begitu.” Zan pria itu, berkata sambil mengulurkan tangannya.
Nadia menatap pria itu tanpa ekspresi keningnya berkerut hingga kemudian menerima uluran tangannya tanpa berkata apa-apa.
“Heh! Siapa namamu?” tanya Zan.
__ADS_1
Nadia heran kenapa ada pria yang cerewet sekali seperti Zan ini. Dia baru pertama kali menemukan seorang laki-laki tipe ini dan rasanya aneh sekali, geli tapi sekaligus menyebalkan.
“Nadia,” sahut Nadia datar.
“Oh.”
“Cuma oh doang Ya udah minggir sana, aku mau lewat,” kata Nadia sambil berjalan melewati Zan dan menyeret kopernya, tanpa disangka Zan mengambil koper itu dari tangan Nadia secara paksa lalu membawanya dan mereka berjalan beriringan.
“Sini, biar aku yang bawain,” kata Zan tanpa melihat ke arah Nadia. “ Aku ini baik, kok. Orang-orang di sini saja yang senewen, jijik sama aku hanya karena aku pengangguran. CK! Emangnya pengangguran itu najis apa?”
Zan mengoceh sambil terus berjalan. Sementara Nadia tidak menggubris dan berjalan di sisinya.
“Tadi itu ya, anak Bu Neni jatuh, nah, aku tolongin, terus aku anterin, eh ... dia kok malah dia malah marah, dikirain aku yang jatuhin anaknya, terus pakai ngumpat-ngumpat segala bilang aku . Memangnya apa salahku? Harusnya dia bersyukur dong aku tolongin anaknya yang jatuh, kan? Lah Bu Neni, bilang terima kasih aja nggak!” Zan kembali mengoceh kesal sendiri pada nasibnya sendiri, membuat Nadia menggeleng-gelengkan kepalanya.
Setelah sampai di salah satu rumah sewa bernomor delapan, Nadia dan Zan berhenti. Di sanalah Nadia akan tinggal, untuk sementara sampai masa depan lain akan menjemputnya suatu saat nanti, dia hanya berharap nasib baik yang menyusulnya kelak.
Tidak lama setelah itu, Nadia menerima sebuah telepon. Gadis itu mengangkatnya dan menerima panggilan setelah menempelkan benda pipih itu ke telinga.
“Halo,” sapa Nadia. “Iya, benar, saya Nadia.”
Selang beberapa saat lamanya terdiam karena mendengar orang dari balik ponsel itu bicara, Nadia kembali berkata, “baik, akan saya tunggu, kalau begitu. Saya ingin segera istirahat.”
Setelah itu Nadia menutup ponsel dan kembali memasukkan ke dalam tasnya.
“Kamu telepon siapa, barusan?”
Bersambung
__ADS_1