
Jangan Mengatakan Apa-apa
“Apa? Menikah?” Kata Nadia dan Fauzan secara bersamaan.
“Tidak ... Ayah, aku tidak mau! Apalagi sama dia!” Nadia menyahut dengan tegas, dia pikir kedua orang tuanya terlalu memaksakan kehendak. Hanya karena dia bersama seorang pria dalam satu kamar selama dia mendapatkan perawatan. Ini aneh dan menggelikan.
Tiba-tiba punggung Nadia terasa lebih sakit karena saat dia menolak tadi, secara refleks dia menggerakkan tangan terlalu keras sehingga tubuhnya terguncang-guncang.
Nadia kini fokus dengan sakitnya, mengabaikan kedua orang tuanya dan juga Fauzan yang masih berdiri saling melempar pandangan karena mencerna ucapan yang baru saja terlontar dari bibir mereka
Sementara Nadia kembali merebahkan diri secara tengkurap agar punggungnya menjadi rileks. Dia menunggu selama beberapa saat, tapi, rasa sakit semakin menjadi-jadi membuat dia meringis sebagai imbasnya. Melihat hal itu kemudian Fauzan dengan cepat memanggil seseorang dokter untuk melihat apa yang terjadi pada punggung Nadia kali ini.
Tidak berapa lama setelah panggilan itu seorang dokter wanita masuk dan memeriksa keadaan Nadia, termasuk membuka satu perban yang terlihat memerah karena mengeluarkan darah.
Ternyata ada satu jahitan yang terbuka hingga dokter itu memberi tindakan untuk menjahit ulang satu jahitan yang menyebabkan rasa sakit yang lebih sakit. Bayangkan saja sebuah luka di atas luka, seperti apa rasanya.
Oleh sebab itu rasa seperti ini yang sering dijadikan sebagai kiasan ketika hati seseorang dilukai berulang kali, mereka mengistilahkan dengan luka di atas luka karena memang rasa sakit ketika luka masih basah dan terdapat luka baru lagi maka, rasa sakit akan lebih parah.
Saat penanganan dilangsungkan baik Fauzan dan kedua orang tua Nadia menunggu di luar. Mereka bercakap-cakap dan ramah dan sopan. Saat itulah kedua orang tua Nadia itu memperhatikan Fauzan yang menutupi wajahnya dengan menggunakan kacamata serta masker membuat mereka heran.
Fauzan melihat ketulusan dari Salima dan Maulana, apalagi kedua orang tua itu lebih tua dari ayahnya hingga membuat Fauzan tersentuh hatinya. Dia mengatakan dengan jujur alasannya menutup wajah yaitu karena dia sudah lelah ... dia sengaja melakukannya untuk menyembunyikan identitas. Sudah terlalu banyak perempuan yang mendekati dan mengejarnya karena mengetahui identitas dirinya sebagai salah satu konglomerat di kota. Dia adalah anak dari pimpinan seorang pengusaha kaya raya.
Hanya Nadia yang tidak memandang dan melihatnya sebelah mata dan juga bukan karena harta. Gadis itu memperlakukannya dengan baik dan apa adanya sebagai manusia biasa. Tidak memilih teman hanya karena seorang atasan atau jabatan dan juga melihatnya sebagai orang yang memiliki derajat yang sama.
Dia kagum dengan pendirian Nadia yang menganggap bahwa semua manusia pada hakikatnya sama. Walaupun, mereka memiliki jabatan, kedudukan dan strata sosial kemasyarakatan yang berbeda. Bukankah memang begitu seharusnya manusia bersikap tanpa membedakan yang miskin dan yang kaya, pejabat atau orang biasa saja? Nah, Nadia benar-benar tidak membedakan semua itu.
“Jadi, Pak, Bu, saya mohon Bapak dan Ibu tidak mengatakan apa-apa pada Nadia tentang saya, dia selama ini tidak peduli siapa saya dia tetap memperlakukan saya dengan baik dan apa adanya. Dia akan menegurnya kalau saya salah tapi, kalau saya benar ya ... dia akan mendukung saya.”
__ADS_1
“Jadi, Nadia selama ini tidak tahu kalau Nak Fauzan anak pimpinan perusahaan dan anak orang kaya begitu maksudnya?” kata Salimah dengan polosnya
Fauzan tersenyum dan sekali lagi dia menegaskan bahwa Nadia tetap memperlakukannya dengan baik walaupun, dia menutupi wajah dengan maksud menutupi identitas. Sekarang Nadia sudah mengetahui semuanya dan sikapnya tidak berubah. Bahkan dia tidak memanfaatkannya sama sekali. Hal inilah, yang membuat Fauzan kagum pada kepribadiannya.
“Jadi, bagaimana pernikahan yang kami tawarkan? Kami tidak ingin kalian berdua terus-menerus berada dalam satu kamar padahal kalian tidak punya ikatan apa-apa,” kata Maulana menjelaskan kembali maksud dari istrinya.
“Justru itu maksud saya memanggil Bapak dan Ibu ke sini agar Bapak dan Ibu bisa menggantikan saya menjaga Nadia sampai dia sembuh.”
“Jadi, kamu menolak untuk menikahi Nadia padahal, kamu bilang dia punya kepribadian yang bagus, kan?”
Bagi Fauzan masalahnya bukanlah tentang mau dan tidak mau, juga bukan suka atau tidak suka melainkan, tentang siap dan tidak siapnya seseorang melakukan hubungan ke jenjang yang lebih serius. Apalagi dia melihat Nadia tidak mungkin melakukan kewajibannya bila mereka jadi menikah, selama berbulan-bulan ke depan.
Pernikahan adalah sebuah perjanjian suci dan kuat di hadapan Allah sang pencipta dan orang yang menjalankan, tidak bisa mengabaikan aturan dan hukum yang ada di dalamnya. Menikah bukanlah sebuah tindakan yang setelah sah maka sudah cukup sah saja, tidak ... tidak bisa seperti itu karena banyak sekali tanggung jawab dan kewajiban yang menyertainya.
Sementara Fauzan apabila sudah memiliki pasangan hidup, tentu dia menginginkan seorang istri yang bisa melakukan kewajiban dan tanggung jawabnya sebaik mungkin. Hal itu tidak bisa dilakukan Nadia kecuali dia dalam keadaan yang sehat dan sudah pulih dari cederanya.
Mendengar pertimbangan dari Fauzan akhirnya kedua orang tua Nadia itu pun mengerti sehingga mereka menyanggupi untuk tetap tinggal di sana. Mereka menghindarkan Fauzan serta Nadia dalam keadaan yang terus-menerus memaksa untuk bersama dan bisa menjerumuskan mereka ke dalam dosa.
Dokter Itu menjelaskan bahwa Nadia baik-baik saja tapi, kali ini dia memerlukan lebih banyak lagi ketenangan dan tidak bisa diberi sebuah gerakan ataupun perkataan yang bisa membuat dia terkejut. Biasanya ketika orang terkejut itulah, secara refleks menggerakkan beberapa anggota tubuhnya dan apabila hal ini terjadi lagi maka, akan memerlukan waktu pengobatan yang lebih lama.
Mendengar penjelasan dari dokter, kedua orang tua Nadia mengangguk-angguk, mereka bertiga menyepakati untuk tidak lagi mengungkit masalah pernikahan. Kemungkinan masalah itu bisa membuat Nadia panik dan juga tidak bahagia sehingga perasaannya tidak tenang dan, berakibat buruk pada kesehatan serta pemulihan luka di tubuhnya.
*****
“Apa kamu baik-baik saja hari ini, Nak?” tanya Salima kepada Nadia saat tiba gilirannya menjaga anaknya itu sementara Maulana Kembali ke rumah sewa untuk beristirahat.
__ADS_1
“Baik, Bu. Alhamdulillah sekarang sudah banyak luka yang kering.” Nadia menjawab sambil menunjukkan luka bagian punggung tangan kirinya yang sudah tidak diperban. Akan tetapi, luka di bagian dagu, leher, pundak dan yang lainnya entah kapan akan dilepas, padahal, sudah seminggu dia ada di sana.
“Mudah-mudahan hari ini kita bisa pulang,” Kata Salima sambil duduk di sisi tempat tidur.
“Pulang ke mana, Bu? pulang ke kosan atau pulang ke kampung?”
“Maunya Ibu mau pulang saja ke kampung, kamu nggak usah kerja lagi ... Biar Ibu urus, di sana juga banyak dokter yang bagus.”
“Pak Dokter siapa Pak Tomo langganan bapak yang udah tua itu? Aku nggak mau, di sini mah banyak dokter yang muda-muda, ahli lagi, Bu!”
“Heleh! Bilang saja kamu nggak mau jauh-jauh dari Fauzan, iya, kan?”
“Eh, siapa yang bilang begitu?”
“Ya, Ibu.”
“Maaf ya, Bu, ngerepotin, harus bolak-balik ke sini sama ke tempat kost.”
“Nggak apa ... sudah kewajiban, daripada kamu berduaan terus sama laki-laki itu.”
Salima dan Maulana menjaga Nadia secara bergantian selama masih membutuhkan perawatan di rumah sakit. Dokter belum mengizinkannya pulang sehingga Fauzan menyewa sebuah penginapan sederhana yang terletak tidak begitu jauh dari sana, tempat untuk beristirahat kedua orang tua itu saat bergantian jaga.
Mengetahui hal itu baik Nadia maupun kedua orang tuanya, menjadi sangat berhutang Budi kepada Fauzan. Maulana dan Salimah kemudian berniat memberikan sebidang tanah dan juga hasil kebunnya yang ada di kampung, kepada pria itu.
Menurut mereka apa yang akan diberikan itu sebagai imbalan atau balas jasa yang sesuai ndari semua yang sudah Fauzan lakukan. Lihat saja perawatan yang diterima Nadia selama ini, juga kamar yang ditempati begitu eksklusif. Ditambah dengan rumah sewa yang diperuntukkan bagi mereka berdua sehingga apabila dinilai dalam bentuk uang menjadi jumlah yang sangat besar.
Bersambung
__ADS_1