AIR MATA PENANTIAN

AIR MATA PENANTIAN
AMP Season 2 part 50 Menjadi Mata-mata Lagi


__ADS_3

Menjadi Mata-mata Lagi


Nadia menatap Fauzan dan Dean secara bergantian, dia melihat tingkah Fauzan yang wajar, tapi sedikit tidak biasa mengingat akhir-akhir ini, pria itu terasa menjaga jarak darinya. Saat menjemput atau mengantar Nadia pulang ke apartemen pribadinya, pria itu tidak cerewet dan usil padanya. Seolah kepribadian Zan di tempat kostnya dulu hilang tak tahu si mana rimbanya.


Sudah hampir sepekan ini bahkan pria itu tidak memberinya senyum sama sekali. Akan tetapi kali ini, dia tampak berbeda, tawanya lepas menertawakan pertanyaan Nadia.


“Aku nggak mau ikut mereka, aku nggak punya alasan buat pergi sekedar cari batu granit bermutu tinggi, cuma buat koleksi doang! Nggak ... aku nggak suka, buat apa coba?” sahut Fauzan lagi.


Nadia mengernyit saat mendengar jika Arkan penyuka bebatuan seperti itu, apa dia memiliki batu mulia seperti berlian dan Jamrud misalnya? Gadis itu menggeleng kecil lalu tersenyum.


“Oh, aku kira kamu juga suka ikut-ikutan mereka,” kata Nadia.


“Kalau begitu, biasanya ada kan tempat perkumpulan buat para penyuka atau pengoleksi batu seperti itu?” Tanya Nadia lagi, berusaha memancing sesuatu.


“Ya, ada di club’ Stonesteart!” sahut Dean semangat, kamu boleh mengunjunginya. Itu clubku!” Kata Dean penuh semangat.


Sekali lagi, Nadia mengernyitkan dahi karena mengingat tempat yang disebut oleh Ella waktu itu, jelas-jelas bukan club’ Stonesteart itu. Akan tetapi Ella menyebutkan nama Bombin Start Cafe.


“Baiklah, aku akan datang dengan Arfan nanti kapan-kapan.”


Dean tampak cemberut mendengar ucapan Nadia.


“Eh, kenapa kalian di sini pacaran, apa Arfan sendiri?” tanya Dean.


“Ya, dia tadi tidur, makanya aku ke sini, aku nggak tahu dia sudah bangun, makanya, dia manggil kamu, mungkin dia butuh kawan,” kata Nadia sambil tersenyum manis pada Dean.


Dean menganggukkan kepalanya lalu, dia mengagajak Fauzan masuk ke dalam bangsal perawatan setelah pria berkulit putih itu memarkirkan mobilnya. Sementara Nadia tetap tinggal di taman itu, setelah disetujui oleh Fauzan.


Nadia memandang kolam ikan yang ada air mancur di hadapannya memikirkan sesuatu, dia berinisiatif untuk mengintip apa yang terjadi di dalam kamar perawatan secara diam-diam. Merasa menjadi mata-mata dadakan.


Nadia melangkah dengan pasti, menuju ke depan pintu kamar Arfan, dia sudah menyiapkan banyak sekali alasan jika seseorang bertemu dengannya dan atau menanyakan sikap dan tingkah lakunya. Dia hanya mau kejelasan dan tidak hanya menerima informasi secara mentah-mentah.


Sesampainya di dekat kamar, dia mengeluarkan gaya seolah-olah sedang mencari sesuatu dan berjalan mondar-mandir ke sana ke mari padahal telinganya mencoba mencuri dengar apa yang sedang dibicarakan ketiga orang itu.


Di dalam sana, Dean menunjukkan perhatian yang besar pada Arfan seolah dua sejoli yang saling membutuhkan, mereka dua pria berpostur tubuh tinggi dan tampan, tapi terkadang salah satu dari kedua orang itu memakai gaya kemayu seperti seorang bencong. Tentu saja Fauzan menganggap mereka bercanda dan tertawa terbahak-bahak dengan tingkah mereka.


Dari semua yang dilihatnya hari ini, Nadia pun menyimpulkan jika kedua orang itu hanya bersahabat dekat tapi, kedua orang itu memiliki satu rahasia besar yang hanya mereka yang tahu. Mereka saling membutuhkan dan saling mengisi, tapi bukan karena mereka mereka, Arfan dan Dean adalah pasangan penyuka sesama jenis.


Lalu, bagaimana dengan Fauzan? Di mata Nadia, dia adalah pria yang apa adanya, tidak berpikir terlalu jauh dan curiga macam-macam pada kakak dan sahabatnya.  Dia sangat menghargai privasi orang lain, dan laki-laki yang paling tahu diri di mana posisinya berada saat ini.


Adapun sikap Fauzan yang terlihat cuek dan seenaknya pada dasarnya adalah karakter asli dirinya yang memang ramah dan humoris, dia tidak mementingkan penampilan atau kedudukan akan tetapi lebih pada gaya seadanya saja hingga kadang terkesan tidak berperasaan.

__ADS_1


Menjadi anak yang dibesarkan oleh orang yang bukan ibu kandung, sebenarnya memiliki tekanan psikis yang berbeda, tapi, dia cenderung tidak perduli dengan penilaian orang. Baginya yang penting dia tidak melakukan kesalahan, itu saja.


“Nadia, kenapa kamu di luar saja? Ayo! Masuk!” kata Imam yang tiba-tiba saja datang, dia melihat Nadia yang hanya berdiri dan melihat kebawah.


Nadia sedikit kaget, tapi dia segera mengatasi keterkejutannya dengan cepat, lalu, tersenyum ramah.


“Oh, nggak kenapa-napa, kok, Bu. Saya masih cari kancing baju saya lepas!” Nadia berkata sambil menunjukkan sebuah kancing di bajunya yang tidak terpasang.


“Oh, sini-sini, ayo kita masuk dulu,” Imma berjalan masuk sambil menuntun Nadia dan dia begitu terkejut jika ada Dean di dalam kamar anaknya.


Naluri keibuannya sangat tidak menyukai Pria sahabat anaknya itu, sebab jika Arfan sudah pergi dengan  Dean, maka anaknya itu sering pulang hingga lewat tengah malam.


Semua yang ada di dalam kamar itu saling menyapa dan berbasa-basi lalu saling mengobrol tentang segala sesuatu yang ringan seputar penyakit Arfan. Dean menunjukkan rasa hormat dan juga ramah pada Imma, dengan tulus. Akan tetapi karena tidak suka, ya tentu saja Imma tidak bisa bersikap ramah pula padanya.


Imma memberikan Nadia salah satu pakaian baru yang dia beli sepulang arisan tadi, dia sengaja membelikan pakaian baru lagi untuk Nadia.


Imma memaksa gadis itu untuk mengganti pakaian yang kancingnya lepas tadi. Sementara Fauzan heran, sebab pakaian yang di pakai Nadia adalah pakaian yang dia pesan pada seorang perancang yang sesuai ukuran serta selera Nadia. Mana mungkin kancingnya mudah lepas kecuali dilepaskan secara sengaja.


Nadia memakai pakaian pembelian Imma dengan terpaksa, lalu memasuki kamar mandi untuk berhganti pakaian di sana. Setelah gadis itu keluar, Nadia sibuk memasukkan pakaian lamanya ke dalam tas, tanpa melihat orang yang ada di sekitarnya, mengakui kecantikannya.


“Nadia! Kamu cantik sekali. Kamu memang pantas jadi istri anakku!” kata Imma.


“Ah, Ibu ... bisa saja!”


Belum juga menemukan bukti kebenaran tentang pribadi Arfan, Nadia sudah mual melihat pemandangan di hadapannya.


“Dean, maafkan aku, ya, nggak bisa puasin kamu, datang tapi aku anggurin aja!” kata Arfan dengan suara tenang tapi semua yang diucapkannya terdengar ambigu di telinga Nadia. Ya, hanya telinga dan perasaan Nadia saja tapi kata-kata Arfan itu tidak masalah bagi orang lain.


Arfan mengucapkan kata-kata itu sambil meremas jemari tangan Dean dan pria itu membalasnya. Baik Imma dan Fauzan tidak melihat secara jelas gerakan tangan itu, tapi hanya Nadia yang melihatnya.


Imma masih sibuk memilih beberapa koleksi pakaian yang baru saja dibelinya. Sementara Fauzan, tidak bisa melepaskan tatapannya dari Nadia.


Setelah Dean pergi, Arfan kembali merebahkan diri lagi di tempat tidunya, menarik selimut dan tidur.


Sementara Imma sudah selesai mengemasi barang, lalu menyerahkan dua paper bag ke pada Nadia.


“Nih, buat kamu. Bawa pulang dan besok kamu pakai ya, buat ke sini!”


“Bu, maaf ... Bukannya saya nggak suka, tapi, saya bosen dikasih baju terus sama Ibu. Pakaian saya di lemari sudah menuju, Bu,” kata Nadia menolak halus.


Imma mengerucutkan bibirnya dan berkata, “Kamu kan calon mantuku, kalau lemarimu penuh, suruh Zan beli lemari lagi!”

__ADS_1


“Ya, nanti aku beli lagi, gampang!”


“Buat apa, baju saya sudah banyak!”


“Ya, sudah, sekarang bawa saja ini pulang, istirahat sana, besok kamu ke sini lagi. Makasih ya buat hari ini,” kata Imma merasa bersalah karena dia baru bisa datang di sore hari ini. Itu artinya, Nadia sudah menjaga anaknya seharian penuh seorang diri.


Setelah berpamitan dan membereskan tasnya, Nadia berjalan beriringan dengan Fauzan untuk pulang.


Mereka menyusun koridor hingga sampai di halaman rumah sakit dan menuju ke tempat parkir.


“Kamu kenal dekat sama Dean?” tanya Nadia setelah mobil mulai melaju kencang membelah jalanan.


“Ah, nggak juga. Dia sahabat baik Arfan. Kenapa gitu?” Fauzan balik bertanya.


“Ah, nggak. Aku Cuma ngerasa ada yang aneh antar mereka.”


“Jangan berprasangka buruk, jangan suuzhon!”


“Eh, iya juga sih, nggak baik berprasangka buruk, karena katanya keburukan berawal dari sebuah prasangka.”


“Nah, itu tahu!”


“Mereka sudah lama berteman seperti itu?”


“Kalau nggak salah, sih sudah tiga tahun lalu, mereka ketemu di Bali, jadi akrab sampe sekarang.”


“Oh.”


“Kata Arfan, dia berhutang Budi sama Dean. Dia yang udah nolong waktu Kakakku itu hampir mati karena kecelakaan.”


“Oh, pantas!”


“Nah, benar, kan ... kamu cemburu!”


“Memangnya kamu nggak cemburu, bukannya kamu bilang kamu cinta sama aku, kan?”


Tiba-tiba Fauzan menghentikan mobilnya secara mendadak dan menatap wajah cantik Nadia lekat-lekat.


 


Bersambung

__ADS_1


 


__ADS_2