AIR MATA PENANTIAN

AIR MATA PENANTIAN
AMP Season 2 Part 69 Masalah Kamar


__ADS_3

Masalah Kamar


“Sudah, nggak usah tapi-tapian, nanti malam saja kita bicarakan sama Tuan dan Nyonya Hadian di rumah, kalau sekarang, kita tidak bisa memutuskannya!” Kata Imma sambil berdiri dan menumpuk piring kotor milik diri dan suaminya.


“Pak, Bu, kalau menurut saya Mam memberikan hadiah itu bukan karena melihat siapa yang akan menjadi suami Nadia nanti. Sebenarnya itu hanya sebagai ucapan terima kasih saja!” Kata Fauzan mencoba meluruskan dan mencegah agar kedua orang tua Nadia, tidak mengembalikan hadiah yang sudah diberikan mamanya kepada mereka.


“Ya, kan, kamu bukan MamamuMamamu, kamu tidak bisa memutuskan seperti itu ... soalnya Nyonya bicaranya berbeda waktu itu, karena dia senang dan berharap, Nadia mau jadi jodohkan dengan Arfan, ternyata Nadia menolak! Jadi, kami harus mengembalikannya!” kata Maulana sambil beranjak dari meja makan dan beralih duduk ke ruang tengah sambil menyalakan televisi.


Fauzan terdiam karena percuma saja mendebat orang tua itu, mereka bersikukuh untuk memutuskannya bersama kedua orang tuanya nanti malam. Pria itu menyusul Maulana dan duduk di sampingnya.


Sementara Salimah dan Nadia membereskan meja makan bersama asisten rumah tangga sampai selesai. Setelah itu mereka berbincang berdua di dalam kamar. Membiarkan  Maulana dan Fauzan tetap berada di ruang tengah, sambil menonton tayangan televisi. Di sela-sela iklan, mereka berbincang hal-hal ringan yang tentunya khas para pria dewasa.


“Ini kamar kamu, Nad?” tanya Salima saat mereka sudah ada di dalam ruangan berukuran sedang itu, sambil menatap sekeliling.


“Ya, untuk sementara Nadia tidur di sini, Bu. Ini bukan kamarku, Nadia Cuma numpang di sini!”


“Ah sama aja, yuk sini pijitin Ibu!” kata Salima sambil duduk disisi ranjang. Dan, dia menepuk pundaknya sendiri dengan sebelah tangan.


“Ibu, bilang sama Ayah jangan  sampai keceplosan bicara soal yang tadi, ya?” kata Nadia sambil memijit di punggung ibunya mereka duduk dengan posisi Salina membelakangi Nadia.


“Soal yang mana?” kata Salimah tanpa menoleh kepada anak perempuannya.


“Ya, yang tadi Bapak bilang, Nadia sama Fauzan mau sekalian dinikahkan aja kalau nanti pergi makan malam di rumah Tuan Hadian!”


“Oh, itu emangnya kenapa?”


“Ya, Nadia belum mau, Bu, belum siap!”


“Terus, kamu siapnya kapan?”


Nadia diam karena berpikir jika dia sendiri tidak pernah bisa mengukur kesiapan pribadinya sebagai seorang wanita untuk menjadi istri bagi laki-laki yang akan meminangnya suatu hari nanti.


Bukankah seseorang tidak akan pernah tahu kapan dirinya siap, untuk segala sesuatu yang ada di masa depannya, termasuk untuk sebuah kesuksesan sekalipun. Terkadang seorang manusia yang mendapatkan keberhasilan, maka, dia akan selalu berkomentar jika dirinya tidak pernah menyangka, akan mendapatkan hal yang demikian.


Apalagi tentang masalah pernikahan di mana seorang wanita, yang biasanya sudah cukup umur apabila ada seorang laki-laki yang datang melamarnya, mau tidak mau siapa ataupun tidak siap, dia harus menerima, apabila seluruh keluarganya setuju dan, laki-laki yang meminangnya pun orang yang baik serta mampu bertanggung jawab.


Nadia ingat kata bijak yang mengatakan jika seorang wanita, lebih baik menikah dengan laki-laki yang mencintai dirinya, daripada dia menikah dengan pria yang dicintainya.

__ADS_1


“Ya, nggak tahu, Bu! Nadia juga kan belum lama dekat sama Fauzan, Bu ... aku nggak suka kalau Bapak maksa kayak gitu!”


Mendengar ucapan anak perempuannya, Salimah berbalik ia menatap Nadia lekat-lekat lalu, meraih tangannya, berusaha memberikan kekuatan dan keyakinan, sebagai seorang ibu yang menyayangi anaknya sepenuh hati.


“Kita sebagai perempuan itu, tidak boleh menolak kebaikan apalagi soal pernikahan, Ibu Cuma kuatir kalau nanti terjadi sesuatu yang tidak baik bagimu, juga bagi Fauzan kalau lama-lama ditunda!”


Salima berhenti sejenak untuk menjeda ucapannya, “Apalagi kalian sering bersama kerja dalam satu kantor, jangan sampai timbul fitnah lagi. Coba dipikir lagi ... Semua yang dikatakan Bapakmu itu, sesuai dengan pikirannya untuk kebaikanmu.”


“Tapi, Bu ....!”


“Udah, lihat saja nanti. Pokoknya Ibu nggak mau mempengaruhi keputusan Bapakmu. Oh, iya. Buang jauh-jauh rasa khawatirmu pada laki-laki seperti Antoni. Ingat tidak semua laki-laki itu sama lupakan dia, Nad!”


Setelah berkata demikian Salimah pergi meninggalkan anak perempuannya, yang termenung sendiri duduk di atas tempat tidur. Wanita itu pergi ke kamar mandi, untuk menuntaskan keperluannya, sampai selesai. Lalu, dia merebahkan diri.


Sementara Nadia masih duduk di tempatnya semula hingga ibunya membuatnya sadar dengan menepuk kakinya sambil berkata, “Nad, suruh Bapakmu ke sini biar istirahat, kasihan dia.”


“Ya, baik, Bu!"


Nadia keluar dari kamar dan menemui Bapak serta Fauzan yang masih mengobrol di luar tengah sambil sesekali bercanda.


“Pak!” kata Nadia setelah mendekat, “diajak Ibu tuh, suruh istirahat katanya kasihan Bapak capek!”


“Oh tidak masalah Pak silakan saja!” sahut Fauzan ramah.


“Nad, Bapak tadi sudah bilang sama Nak, Fauzan. Kalau mumpung Bapak di sini, mau sekalian lamaran kamu.”


“Ya, tapi, jangan langsung nikah ya, Pak?”


“Kalau soal itu, lihat saja nanti.”


“Bapak!”


Maulana tidak menghiraukan anak perempuannya dan pergi ke kamar yang sudah di sediakan anak dan calon menantunya.


Nadia duduk bersanding dengan Fauzan setelah ayah dan ibunya, beristirahat di dalam kamar yang biasa dipakai oleh dirinya selama ini.


“Jadi, nanti malam Kamu tidur di mana, Nad?”

__ADS_1


“Tidur sama Bapak, Ibu juga nggak masalah, kok!”


“Tidur di kamar aku, aja!”


“Dih, nggak mau, nanti kamu tidur di mana?”


“Ya, tidur di kamarku sendiri, lah!”


Nadia hampir protes dan salah sangka, tapi, Fauzan dengan cepat mengeluarkan sebuah kunci dari saku celananya. Lalu, memberikannya pada Nadia.


“Nih, kunci kamar yang itu!” kata Fauzan sambil menunjuk pintu kamar yang tidak pernah dia gunakan, dengan menggerakkan dagunya. Kamar itu kosong selama ada Nadia tinggal di apartemen pribadinya.


Nadia menerima dengan perasaan malu, dia hampir saja salah duga dan menganggap Fauzan berpikir terlalu jauh tentang hubungan mereka.


Walaupun, Fauzan sebenarnya senang kalau Nadia salah sangka seperti itu, bahkan dia suka kalau Nadia menyambut ucapan Bapaknya tadi, dengan sambutan yang positif. Biar bagaimanapun juga dia memang berharap Nadia segera menikah dengannya.


Namun, dia tahu, sejauh mana Nadia selama ini menjaga jarak, untuk menjaga hatinya sendiri agar tidak kembali patah sebab hatinya masih terluka karena patahannya.


“Ya, sudah ... aku pulang dulu, ya, calon istri, sekarang sudah sore, nanti malam kita ketemu lagi!”


Nadia mengangguk tanpa ekspresi dan, hanya melihat kepergian Fauzan menghilang di balik pintu dengan perasaan yang campur aduk.


Dia pergi ke kamar Fauzan yang mungkin, suatu saat nanti akan menjadi kamarnya juga. Dia melihat perabotan di dalamnya terkesan manly, polos, minim sekali hiasan atau pernak-pernik yang aneh. Hampir mirip kamar yang di tempatinya selama ini, hanya saja lebih luas dan ada sofa tunggal juga dekat jendela, yang mengarah langsung ke pemandangan kota.


Tidak lama Nadia merebahkan diri di sana, sambil menghirup aroma khas pria, dia pun mulai mengantuk. Mungkin karena nyaman atau karena dia memang lelah hingga cepat sekali dia tertidur.


 


 


 


Bersambung


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2