
Menjadi Mata-mata
Nadia memegangi pangkal lengan Arfan Setelah dia baru saja, selesai melakukan terapi pelemasan tulang sendi dan belajar berjalan sendiri. Dia sekarang sudah mulai bisa melakukannya tanpa bantuan seorang perawat.
Seorang perawat berjalan di sisinya untuk memegangi tiang kecil di mana botol infus tergantung di sana.
Ketika sudah mendekati pintu kamarnya pria itu dengan lemah lembut menepuk punggung tangan Nadia yang menempel di tangannya.
“Sudah, aku tidak usah dipegangi aku sekarang sudah bisa jalan sendiri, mungkin aku besok sudah bisa keluar dari sini ... ya, kan, Suster?” Arfan tersenyum saat berkata dan menoleh pada suster di sampingnya.
Perawat itu mengangguk seraya membalas senyuman manis Arfan yang selalu memabukkan, sebagai penerapan dan pasien, tentu saja perawat itu sering bertemu.
“Ya, Mas. Besok atau lusa kalau lulus menjalani tes selanjutnya, pasti Mas Arfan sudah boleh pulang.” Perawat itu berkata sambil menyimpan tiang penyangga infus di sisi tempat tidur dan membantu Arfan menaikkan kakinya.
“Aku pasti pulang besok!”
“Jangan terburu-buru, kalau memang belum pulih benar!” sahut Nadia.
“Wah, kalau Mas Arfan pulang, saya pasti kesepian.” Perawat itu memberikan sinyal tentang perasaan hatinya, entah apa maksudnya. Namun Arfan hanya membalasnya dengan senyum riang seolah memberi sebuah harapan.
Sedangkan Nadia tetap bersikap biasa saja bahkan cenderung cuek. Entah mengapa hatinya seolah beku.
Dalam pikirannya banyak berkecamuk kata-kata tentang beberapa laki-laki yang sekarang ini dekat dengannya. Awalnya adalah Antony yang dicintai dengan begitu dalam, tapi dia mengkhianati.
Lalu, Fauzan pun pria yang dekat dengannya, bahkan sudah menyatakan cinta secara terus terang, tapi ternyata laki-laki itu dicap sebagai seorang pemain wanita. Dan sekarang Arfan, pria di sampingnya itu di duga seorang yang berperilaku menyimpang.
“Ya Allah, kapan kiranya datang sebuah kebenaran tentang jodoh itu?” lirih Nadia dalam hati.
“Silakan, istirahat lagi, biar cepat sembuh.” Nadia berkata sambil menyelimuti separuh dari tubuh Arfan.
Mereka berdua bercakap-cakap dengan bahasa formil, mirip percakapan seorang atasan dan bawahan saja, itu karena kedua orang itu belum begitu dekat. Mereka baru saja saling kenal sekitar dua pekan yang lalu.
“Kamu tidak cemburu?” tanya Arfan tiba-tiba, membuat Nadia menghentikan aktivitasnya dan menatap Arfan datar.
“Apa maksudmu, cemburu pada perawat itu?”
“Ya.”
“Tidak ... Untuk apa cemburu?”
“Bukannya kamu bakal menikah denganku, lalu, aneh kalau kamu nggak cemburu!”
“Maaf, Tuan.”
“Jangan panggil aku Tuan, aku bukan tuanmu!”
“Baiklah, maafkan aku, Ar! Kita baru bertemu, mana mungkin bisa aku jatuh cinta secepat itu!”
__ADS_1
“Oh. Biasanya perempuan akan jatuh cinta padaku saat pandangan pertama. Apa kamu mencintai Fauzan, adikku?”
Mendengar ucapan itu, bibir Nadia seolah berkedut, entah dia harus menangis atau tertawa menanggapi Arfan yang menunjukkan perhatian besar padanya dan menunjukkan rasa percaya diri yang berlebihan! Kalau memang dia memiliki kepribadian seperti yang dikatakan Ella, maka perhatian seperti itu tidak seharusnya diberikan pada Nadia.
“Apakah ini sikap yang dia pakai hanya untuk menutupi kebohongannya selama ini atau dia hanya akan memanfaatkan diriku atau wanita mana pun, asal mau menjadi istri untuk menutupi keadaan yang sebenarnya?” pikir Nadia.
“Astagfirullah!” ujar Nadia sambil mengusap wajahnya dengan telapak tangannya.
“Apa jadi masalah kalau saya menyukai adik Anda dan bukannya jatuh cinta dengan Anda?”
“Jangan pakai bahasa formil!”
“Ya, Baik, baik! Aku nggak bisa jatuh cinta pada siapa pun saat ini, maaf.”
“Jadi, kamu menolak perjodohan denganku?”
“Ya!”
Ketegasan pada jawaban Nadia, membuat Arfan tersenyum miring di sudut bibirnya, pria itu memiringkan tubuh lalu memejamkan mata, entah dia tertidur atau hanya menghindari percakapan dengan Nadia untuk mengatur suasana hatinya.
“Tegaslah saat ini, sebab kalau tidak, justru akan membuat keadaan lebih sulit lagi di masa depan.” Gumam Nadia dalam hati.
Setelah melihat Arkan tenang, Nadia menyelimutinya dan membiarkannya sendiri.
“Maaf aku tinggal sebentar, aku mau cari udara segar di luar.” Nadia berkata lirih dekat di kepala Arkan, sambil berharap pria itu mendengarnya.
Nadia melangkah keluar bersamaan dengan Fauzan yang berjalan ke arah bangsal di mana kakaknya di rawat. Nadia meliriknya sekilas, lalu, melewati pria itu begitu saja seolah mereka tidak saling mengenal. Tentu saja Fauzan menatapnya heran dan langsung mencekal tangannya.
“Keluar sebentar, cari udara segar. Tumben kamu sudah pulang?”
“Ayo! Aku temani.”
Nadia membiarkan Fauzan berjalan di sisinya, menuju halaman samping dekat tempat parkir kendaraan, ada taman kecil yang cukup asri. Taman yang sengaja dibuat untuk menyegarkan mata. Ada beberapa orang yang duduk-duduk juga di sana melakukan hal yang sama seperti Nadia.
“Apa kamu capek, atau bosan?” tanya Fauzan sambil menatap profil Nadia dari samping.
“Ya, sedikit.” Nadia menjawab singkat.
“Apa ada masalah dengan sikap Arfan, apa dia menyusahkanmu?”
“Nggak juga.”
“Terus?”
Nadia diam, dia hanya ingin menenangkan diri dan malas sekali sebenarnya dia menjawab semua pertanyaan Fauzan.
“Nad? Apa kamu baik-baik saja.”
__ADS_1
Nadia menoleh sebentar, lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi dan menghela napas dalam seraya berkata, “Ya. Aku Cuma mau sendiri.”
“Kalau begitu, anggap aku nggak ada di sini.”
Setelah itu keheningan yang aneh dan canggung tercipta di antara mereka, kalau saja bukan karena di tempat umum, mungkin Fauzan sudah memeluknya. Pria itu melihat betapa rapuhnya Nadia dengan tetasan air mata yang membasahi pipi halusnya.
Tak lama Nadia seperti tersadar dari lamunan, karena ada sebuah mobil yang memasuki tempat parkir, lalu berhenti di depan dirinya dan Fauzan, sambil membunyikan klason.
Nadia segera menghapus air matanya dan melihat ke arah mobil yang berhenti dan kaca jendela terbuka secara perlahan. Menyembul dari sana wajah seorang pria berwajah mirip bule atau pria keturunan yang tergolong tampan, dagunya bercambang tipis menyuguhkan pemandangan menggoda dan menarik hati siapa pun yang melihatnya dia pria yang sempurna secara fisik.
“Hai, Zan? Ngapain kamu di sini?” tanya pria itu sambil melirik Nadia, dengan senyum lucu.
“Hai, Dean, apa kabar?” tanya Fauzan sambil menyalami pria itu yang masih duduk di balik kemudi mobilnya.
“Aku baik! Kamu sendiri gimana? Hai ... siapa dia, gebetan barumu, ya?” kata Dean dengan senyum menggoda Fauzan.
“Sembarangan, dia ini perempuan yang dijodohin sama Arfan!”
“Apa?” pria itu terdengar tidak suka dari nada suaranya, membuat Nadia dan Fauzan heran.
“Memangnya kenapa? Eh, ngomong-ngomong kamu tahu ya, kalau Arfan sudah sehat sekarang?” tanya Fauzan lagi.
“Ya,” sahut Dean.
“Siapa yang ngasih tahu?” tanya Fauzan heran.
“Dia tadi telepon, tapi pakai nomor lain, dia bilang dia pakai nomor Nadia. Apa kamu yang namanya Nadia?” tanya Dean penasaran, sambil melirik Nadia penuh selidik.
“Ya.” Jawab Nadia singkat.
“Oh ya, Nad. Kenalin, ini Dean, sahabat karib Arfan. Kamu harus kenal, kamu harus tahu dia sebagai calon istri, Kak Arfan itu bisa lupa waktu kalau sudah pergi sama pria macho satu ini!” kata Fauzan menjelaskan panjang lebar sambil tertawa kecil setengah meledek Dean.
Nadia menelisik wajah Dean lebih dalam sambil mengamati reaksi pria ini dengan apa yang diucapkan Fauzan. Dia memang meninggalkan ponselnya di atas meja dekat tas kecilnya. Dia pikir tidak masalah menyimpan benda itu di sana karena Arfan pun tengah tertidur. Siapa yang menduga jika ternyata pria itu cukup lancang, menggunakan barang miliknya tanpa izin. Atau apakah karena pria itu sudah tidak sabar ingin bertemu dengan temannya itu.
“Oh, ya? Kenalkan, saya Nadia!” kata Nadia sambil mengulurkan tangan, sedangkan Dean menyambutnya malas disertai senyum tipis yang mengambang.
“Nad, kalau kamu jadi nikah sama Arfan, dia saingan bertamu, loh!” Fauzan berkata sambil tertawa.
“Masa, sih?” tanya Nadia.
“Ya!” jawab Fauzan.
“Kalau begitu, kenapa kamu nggak ikut sama mereka buat ngabisin waktu bersama, Zan?” tanya Nadia.
“Apanya, pergi sama mereka?” tanya Fauzan
“Ya.”
__ADS_1
Bersambung