
Beri Dia Kesempatan
“Mama!” teriak Fauzan dan Hadian kali ini mereka kompak.
Tidak ada menyangka dengan gerakan kasar Imma sebab selama ini wanita itu selalu lemah lembut dan penurut. Baru kali ini dia menampar pipi buah hatinya sendiri. Setelah itu dia kembali duduk sambil menangis dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Setelah Imma diam, Hadian bangkit dan melangkah dengan cepat langsung melayangkan tingjunya pada Arfan yang diam, dia sepertinya pasrah.
“Papa!” Fauzan refleks menahan badan ayahnya, mereka tampak sama-sama kuat karena tinggi tubuh mereka sama hanya saja Hadian berbadan lebih gemuk dari kedua anaknya.
Kedua tangan Fauzan menahan dengan kuat dada Hadian agar tidak melayangkan tinjunya lebih keras. Sementara Arfan mengusap pipinya yang memar dan sudut bibirnya yang berdarah.
“Kau mengecewakan, Ar! Kau memalukan keluargamu sendiri!”
“Papa! cerita Ella belum selesai!” kata Arfan menatap ayahnya dengan tatapan penuh permohonan.
“Kau Meu membela diri, hah?” Hadian kembali akan melancarkan serangan tapi, Fauzan menahannya sekuat tenaga.
“Apa kamu tahu, dan kamu masih mencintainya?” tanya Imma pada Ella.
Ella belum sempat menjawab pertanyaan Imma, tapi Arfan sudah berlutut di hadapan kedua orang tuanya yang masih meradang.
“Maafkan aku Pa, Ma Kalau aku Tidak bisa membahagiakan, aku memang mengecewakan kalian.”Ucap afran dengan penuh permohonan
Arfan sudah tersudut dan dia tidak bisa mengatakan apa-apa selain mengakuinya. Dia yang awalnya hanya ikut-ikutan, lalu merasakan kesenangan yang berbeda. Namun, akhirnya dia pun terjerumus, tapi dia baru sampai di permukaan saja, dia tidak pernah melakukan langsung dengan obyek hidup.
Apalagi setelah sadar ada seorang lelaki yang menyukainya, ternyata Fitrohnya masih ada dan dia merasa geli dengan keadaan ini. Lalu, dia justru mengajak Teo, teman lelaki yang menyukainya itu untuk kembali pada jalan yang benar.
Lalu, kejadian kecelakaan di kolam renang yang mengakibatkan dirinya koma, semakin membuat dirinya sadar akan kesalahannya dan sekarang dia akan memulai segalanya dari awal. Memulai semuanya dengan benar.
“Aku juga kecewa dengan kamu Ella, kenapa kamu justru tidak bilang sama Tante, tapi, kamu justru bilang sama Nadia!”
“Maaf, Tante, saya tidak enak soalnya Arfan, kan anak Tante, kalau saya bilang sama Nadia itu karena saya pikir Nadia perlu tahu soal Arfan, sebelum mereka menikah!”
“Cuma itu?”
“Iya, Tente!”
“Aku pikir kamu keki karena Nadia mau menikah dengan Arfan dan kamu nggak Rela.” Kata Imma.
“Nyonya, saya pikir Ella tidak bohong, dia memang masih mencintai Arfan dengan tulus. Kalau tidak, mungkin dia tidak mau lagi mengurus Arfan!” kata Nadia. Saat dia bicara, Fauzan meliriknya.
__ADS_1
Fauzan mendudukkan ayahnya di kursi kembali, lalu meminta pelayan untuk membuat beberapa gelas kopi ginseng manis untuk mencairkan suasana. Di saat yang bersamaan pria itu melihat Jali yang duduk di dekat meja makan.
Jali tetap berada di sana, demi menjaga keadaan dan mendengar sendiri bagaimana reaksi dan pernyataan semua orang setelah mendengar sendiri perbuatan Arfan selama ini.
Fauzan melihat ayah dan ibunya lebih tenang dan duduk sambil mendengar cerita Ella serta Nadia dengan sabar, meski begitu perasaan mereka pasti sedih. Menyadari anaknya memilih untuk melakukan perbuatan menyimpang, padahal banyak sekali wanita yang menyukainya karena memiliki wajah dan tubuh yang sempurna.
“Jali! Aku butuh penjelasan kamu nanti!” kata Fauzan saat menghampiri Jali yang sibuk dengan ponselnya.
“Baik, Tuan!” kata pria paruh baya itu sambil mengangguk.
Fauzan kembali duduk di tempatnya semula sambil menatap Nadia, lalu tatapannya beralih pada Ella yang terus bercerita bagaimana awalnya dia mencurigai Arfan. Yaitu saat dia melihat kekasihnya itu bersama dengan orang-orang yang dikenal sebagai seorang penyuka sesama jenis dalam sebuah club.
Fauzan sebenarnya sangat terkejut dan miris, tapi dia bisa menguasai perasaannya dengan baik. Dia tidak menyangka sama sekali jika Arfan memiliki pergaulan yang, dia pikir baik-baik saja. Apalagi berteman akrab dengan Dean, seorang pengusaha sukses yang luar biasa tampan. Bagaimana bisa?
“Benarkah sekarang kamu mau menjauh dari orang-orng itu?” kata Imma masih dengan berurai air mata.
Arfan mengangguk.
“Berjanjilah! Kamu nggak akan buat Mama nangis lagi!”
Arfan kembali mengangguk.
“Jadi, kamu harus segera menikah, biar perhatian dan juga napsumu bisa terkendali!” kata Hadian dengan suara keras.
“Ella, maafkan aku, kembali ya, kita menikah secepatnya, gimana?”
Ella mengangguk.
“Terus, gimana kalau kamu, Nad?” Tiba-tiba Fauzan bertanya, karena rasa penasarannya yang sudah menggantung cukup lama.
“Oh, iya, Tuan Haadian, apakah tawaran Anda masih berlaku?” tanya Nadia sambil melihat ke arah Hadian dengan malu-malu.
Pria tua itu mengangguk.
“Tawaran apa? Kamu nawarin apa sama Nadia, Mas!” tanya Imma pada Hadian.
“Maaf, Nyonya, Tuan pernah menawarkan saya untuk membentu Fauzan di kantor cabangnya, dari pada saya pulang kampung.”
“Bagus!” kata Fauzan penuh semangat dan dia langsung menjabat tangan Nadia.
“Selamat! Kamu di terima!”
__ADS_1
Sikap Fauzan itu seketika mengundang tanya, kenapa pria itu begitu antusias.
“Fauzan, kamu waras, kan? Memangnya siapa yang seharusnya menerima Nadia, kan, Papa?” kata Hadian yang membuat Fauzan termenung lalu tersenyum tipis.
“Ayo! Bantu Mama berdiri!” kata Imma sesaat setelah obrolan antara Fauzan dan Hadian berakhir. Wanita itu tampak lemas dan wajahnya pucat dia seperti yidak bertenaga sama sekali karena energinya habis untuk menangis.
Fauzan dan Arfan menuntun dan menemani Imma sampai ke kamarnya dan membiarkan wanita itu berbaring di tempat tidur. Sebelum terlelap, dia terus saja berkata-kata.
“Awas kalau kamu bohong, Arfan! Jangan anggap aku Mamamu lagi!” wanita itu benar-benar kecewa jika anak lelakinya itu bisa terjerumus dalam keadaan menjijikkan seperti itu, padahal dia menaruh harapan yang besar padanya.
Arfan mengangguk.
“Aku baru sadar, ternyata kebahagiaan seseorang, tidak bisa dipikul oleh orang lain, kecuali oleh dirinya sendiri. Pada akhirnya, kalian sebagai laki-laki tidak bisa membebankan kebahagiaan pada orang yang kalian anggap mampu membahagiakan. Sebab pada akhirnya, kita tidak bisa mengandalkan orang lain selain diri kita sendiri.”
Kata Imma lagi sebelum akhirnya wanita itu tertidur.
Setelah mengantarkan ibunya tidur, Fauzan menghampiri Nadia yang masih duduk di sofa sendirian. Arfan sudah duduk berdua di sofa ruang tamu, sedang Hadian berada di kamar kerja.
“Nadia!” panggil Fauzan.
“Iya, Pak!”
“Sini!” Fauzan menggamit tangan Nadia begitu saja, dan mengikuti langkah Fauzan ke kamarnya.
“Eh, Pak! Tunggu, saya mau di bawa ke mana?”
“Ke kamarku, lah!”
“Apa?”
Bersambung
__ADS_1