
"Kamu bukan Arya? Apa maksudmu mengatakan bahwa kamu suami putriku?" tanya tuan Akbar yang sangat terkejut karena laki-laki yang berada dihadapannya ini adalah bukan Arya, kekasihnya Shofia.
Bahkan berani-beraninya laki-laki ini mengaku sebagai suami putrinya.
"Bukan, bapak. Panggil saja namaku Dika. Ini buktinya bahwa Shofia adalah istriku bahkan kami sudah mempunyai putra" jawab Dika percaya diri sambil mengambil hp dari sakunya.
Dika memperlihatkan foto-foto pernikahannya dan juga foto Zidan.
Tuan Akbar segera melihat hp Dika dan melihat foto-foto putrinya dengan lelaki yang mengaku suaminya serta foto Shofia sedang menggendong seorang bayi laki-laki yang sangat tampan.
Ada perasaan bahagia melihat putri dan cucunya itu.
"Lepaskan ikatannya" Perintah tuan Akbar kepada anak buahnya agar melepaskan ikatan tangan Dika.
"Kamu" panggil tuan Akbar kepada Dika
"Ya bapak?"jawab Dika sambil memegang tangannya yang agak sedikit nyeri bekas ikatan tali.
"Kamu harus membawa Shofia dan anaknya padaku secepatnya!" perintah tuan Akbar pada Dika.
"Buat apa bapak? Aku akan bilang ke Shofia kalo bapak mau bertemu." ucap Dika
"Jangan katakan apa-apa padanya. Kamu harus merahasiakannya. Bawa saja dia padaku atau kamu akan menanggung akibatnya." Tuan Akbar mengancam Dika.
"Tapi pak????" ucap Dika memelas.
"Tidak ada tapi-tapian. Kalo kamu ingin aku menerimamu, kamu harus membawa putriku padaku. Ini aku sudah menyimpan nomorku di hpmu. Hubungi aku jika ada informasi darimu!" jawab tuan Akbar.
__ADS_1
Dika hanya mengangguk.
Dia tau tidak ada manfaatnya kalo tetap bersikeras kepada bapaknya Shofia.
Bagaimanapun Dika tidak ingin memperkeruh suasana.
Tapi bagaimana yaa caranya membawa Shofia? guman Dika dalam hati.
Akhirnya Dika dilepaskan dan diantar ketempat dimana mobilnya dihentikan tadi.
***
Shofia sedang memberi anaknya makan di dapur.
Lalu mami datang dan melihat keberadaan Shofia membuat raut wajahnya berubah seperti melihat sesuatu yang sangat dibenci.
"Kenapa sekarang rumahku terlihat sangat kumuh hampir disemua tempat membuatku tidak bisa bernapas?" ucap mami bicara sendiri dengan suara keras.
Melihat reaksi Shofia yang cuek membuat mami tambah emosi dan mulai memanggil para pelayannya dengan suara ketus.
"Kalian kemari semua. Bersihkan rumah sesering mungkin karena aroma rumah ini sangat tidak enak!." kata mami sambil melirik Shofia.
Para pelayan hanya mengangguk dan setengah tertawa melihat kelakuan majikannya yang sengaja menyindir menantunya sendiri.
Shofia berdiri dan menggendong bayinya yang sudah selesai makan.
Lalu ia mendekati mami dan berbisik "Mungkin mami yang perlu ganti parfum baru, karena bau sekarang ini tidak enak"
__ADS_1
Selesai berbisik ke mami, Shofia langsung pergi
Mami yang mendengar bisikan Shofia langsung murka
"Dasar perempuan tidak tau diri. Berani-beraninya dia menghinaku" teriak mami sambil membuang barang yang ada didepannya.
"Dia membuatku gila. Emang dia pikir dia siapa hanya karena menikahi anakku" teriak mami lagi.
Lalu mami pergi meninggalkan dapur sambil terus menggerutu.
***
Shofia yang kembali ke kamarnya meletakkan bayinya di tempat tidur.
"Apa aku masih harus meneruskan sandiwara ini? Aku takut maminya Dika bisa jadi gila" ucap Shofia dalam hati.
"Tapi kasihan juga Dika kalo harus dihadapkan sama perempuan itu" Shofia mulai memikirkan Miranda.
Shofia sebenarnya tidak habis pikir mengapa Dika menolak untuk menikah dengan Miranda yang terlihat sangat cantik dan sexy walaupun dia bisa melihat kepribadian Miranda sedikit tidak baik.
"Ah itu bukan urusanku. Yang harus dipikirkan bagaimana caranya bertemu bapak dan memperkenalkan Zidan dan....Dika" pikir Shofia lagi.
Shofia lalu mengambil hpnya dan mulai mencari nama Tari dikontaknya.
Saat hendak menelpon Tari tiba-tiba Angelina masuk.
"Kakak ipar, kita jalan-jalan ke Mall yuk. Nenek mengajak kita ke mall" ucap Angelina sambil menggendong Zidan.
__ADS_1
"Baiklah aku ganti baju dulu. Bisa bawa zidan ke sus Nani untuk mengganti bajunya?" kata Shofia pada Angelina.
"Tentu saja. Ayooo ponakan ganteng. Kita ganti baju duli" ujar Angelina membawa Zidan pergi.