Akhirnya Jatuh Cinta

Akhirnya Jatuh Cinta
Menemukan Shofia


__ADS_3

Nino melajukan mobilnya.


Ia tahu bahwa ia sudah hampir terlambat menjemput Shofia dari bandara.


Padahal Tari sudah mengingatkannya agar jangan sampai terlambat untuk menjemput Shofia yang akan balik dari Inggris.


Nino adalah sepupu Shofia anak dari tante Dina adik bapaknya Shofia, Tuan Akbar.


Sedangkan Tari adalah sahabat Shofia dari kecil.


Cuma Tari lah selama ini yang masih terus berhubungan dengan Shofia.


Makanya Tari meminta Nino untuk menjemput Shofia di bandara setelah Shofia mengabarkan bahwa ia akan kembali ke Indonesia pada hari itu.


Aaaah ini gara-gara om Akbar sih makanya aku kesiangan.


Ini semua karena aku harus menjalankan perintahnya menagih rumah-rumah kontrakan milik omnya itu sampai larut malam, ucap Nino dalam hati.


Ini sudah jam 14:30 padahal pesawat Shofia mendarat jam 14:00. Aku pasti terlambat, pikir Nino lagi.


Saat ia sudah memasuki bandara Soekarno Hatta. Ia menuju terminal kedatangan dari luar negeri.


Saat hendak menghentikan mobilnya.


Nini melihat di terminal kedatangan, sepupunya itu sedang berjalan digandeng seorang pria dan Shofia juga sedang menggendong bayi.


Nino juga menyaksikan Shofia masuk ke dalam mobil mewah bersama laki-laki itu.


Diam-diam Nino mengikuti mobil itu pergi.


Nino melihat mobil yang dinaiki Shofia memasuki sebuah gerbang mansion di daerah pondok Indah.


Wah apa tidak salah nih. Mengapa Shofia mendatangi mansion mewah itu. Rumah siapakah itu? tanya Nino dalah hati.


"Ahhh aku harus menceritakan ini kepada Tari" kata Nino sambil membawa mobilnya pergi kembali kerumahnya.


***


Melihat mobil berhenti di depan rumahnya, Tari segera keluar.


Ia sudah tidak sabar bertemu dengan sahabatnya itu.


Tapi seketika Tari bingung melihat Nino hanya turun seorang diri.


"Loh Nin, Shofia mana? Kenapa kamu cuma datang sendiri? Apa kamu terlambat ya? Aku kan sudah bilang berkali-kali agar kamu tidak boleh terlambat menjemput Shofia. Kenapa sih kamu kalo dikasih tahu ngga mau dengar", celoteh Tari tidak mau berhenti bicara.

__ADS_1


Nino yang mendengar Tari nyerocos terus hanya garuk- garuk kepala dan duduk di kursi teras rumah Tari.


"Nin, kamu kok diam aja sih? Aku jangan dicuekin dong" teriak Tari kesal melihat Nino hanya bengong.


"Aku tuh kalo udah dengar kamu ngomong udah ngga tau mau ngomong apa, Tari". jawab Nino sambil menjulurkan lidahnya.


"Apaan sih kamu, Nin? Orang lagi serius kamu malah bercanda mulu", ucap Tari kesal mendengar jawaban Nino.


Nino hanya tersenyum sambil garuk-garuk kepala.


"Aku memang terlambat sedikit sih. Tapi pas aku sampai ke Bandara, aku liat Shofia keluar dengan seorang pria, Tar", ucap Nino dengan nada serius sambil menatap tajam ke Tari.


"Ahh masa sih? Mungkin kamu salah liat kali Nin? Mana mungkin Shofia pulang bersama Arya", jawab Tari bingung.


"Mana mungkin aku salah lihat. Emangnya aku ngga kenal sama sepupuku sendiri." tutur Nino lagi.


"Dan lebih aneh lagi, Shofia menggendong seorang bayi." ucap Nino dengan wajah kebingungan.


Ya itu emang bayinya Shofia, ucap Tari dalam hati.


Shofia memang hanya cerita ke Tari kalau Shofia hamil.


"Terus Shofia ngapain?" tanya Tari tidak mau membahas masalah bayi.


"Mereka kemana Nin? Kamu tidak kehilangan mereka kan?", tanya Tari penasaran.


"Mereka turun di sebuah mansion mewah di kawasan Pondok Indah." jawab Nino dengan nada yakin.


"Ah yang benar kamu Nin?" tanya Tari lagi tidak percaya mendengar ucapan Nino.


"Benaran..aku melihat mobil itu masuk gerbang disebuah mansion mewah. Tapi aku tidak bisa lihat Shofia lagi karena Pagar Mansion itu langsung tertutup dan tinggi sekali", ucap Nino tinggi karena kesal Tari seolah tidak mempercayainya.


"Siapa ya pria itu dan apa yang Shofia lakukan disana?" tanya Tari dengan nada bingung.


Nino hanya mengangkat pundaknya.


"Ya sudah, kita tunggu saja Shofia menghubungiku. Tapi Nin, jangan sekali-kali kau kasih tau om Akbar tentang ini!!!, ucap Tari tegas.


"Pastilah....Emang aku berani membahas masalah Shofia ke om ku. Menyebut namanya saja di depan Om Akbar saja, aku tidak berani". jawab Nino sambil bergidik ngeri mengingat sifat omnya.


Tuan Akbar memang terkenal sangat keras dan tegas sikapnya. Mungkin karena tuan Akbar merupakan mantan preman di Jakarta yang sangat ditakuti oleh orang-orang bahkan dikalangan preman sendiri.


Tapi setelah pensiun dari preman, tuan Akbar beralih profesi menjadi pelatih bela diri yang mempunyai banyak rumah kontrakan dan studio gym dan bela diri di Jakarta.


Tuan Akbar membesarkan Shofia seorang diri.

__ADS_1


Ibu Shofia pergi meninggalkan mereka pada saat Shofia masih kecil.


Oleh karena itu tuan Akbar memberi tahu kepada Shofia bahwa ibunya sudah meninggal.


Tuan Akbar sendiri tinggal bersama adik perempuannya, tante Dina dan 3 orang keponakannya Nino, Nini dan Nina.


Dibesarkan tanpa ibu membuat tuan Akbar bersikap sangat tegas kepada Shofia.


Tuan Akbar takut kalo terjadi apa-apa pada Shofia dan membuat Shofia meninggalkan tuan Akbar.


Itulah yang membuat Shofia capek mendapat perlakuan keras dari bapaknya apalagi saat Shofia dilarang berpacaran dengan Arya.


Tidak tahan dengan perlakuan bapaknya, Shofia memutuskan untuk mengikuti Arya ke Inggris.


Shofia hanya meninggalkan sepucuk surat buat tuan Akbar saat diam-diam pergi ke bandara untuk terbang bersama Arya ke Inggris.


Isi Suratnya


Buat Bapak,


Bapak, maafkan Shofia.


Shofia harus pergi karena Shofia ingin mencari kebahagiaan Shofia sendiri.


Bapak tidak usah mencari Shofia kalo bapak ingin Shofia hidup bahagia.


Jaga kesehatan Bapak.


Shofia sayang bapak


Shofia


Shofia tidak tahu apa yang terjadi saat tuan Akbar tau bahwa Shofia pergi.


Tuan Akbar sangat terpukul ditinggalkan putri satu-satunya itu.


Tuan Akbar sudah menyuruh anak buahnya mencari Shofia kemana-mana di penjuru jabodetabek bahkan diberbagai daerah di pulau jawa melalui kenalan-kenalannya.


Tapi hasilnya nihil.


Tentu saja karena Shofia tidak ada di Indonesia.


Tuan Akbar menjadi pendiam tapi tetap keras.


Ntah apa yang terjadi apabila tuan Akbar tau bahwa Shofia sudah kembali ke Indonesia, bahkan punya anak dan.......suami.

__ADS_1


__ADS_2