
Dengan di bantu para pengawal, akhirnya El dan juga Nasya bisa keluar dan segera pergi dari tempat mereka mengadakan konferensi pers.
Selanjutnya El menyerahkan semuanya kepada tim pengacaranya.
"Huffhh, akhirnya aku bisa terbebas dari wanita ular itu" Terlihat El menghembuskan nafasnya kasar setelah masuk kedalam mobil dan hendak tancap gas untuk keluar dan berniat membawa sang istri ke apartemennya.
Karena jarak apartemen lebih dekat dan satu arah, jadi El memutuskan untuk mengajak istrinya menginap di apartemen.
"Astagfirullah,! Tidak boleh berbicara seperti itu By,! Ingat, Nana sedang hamil, hiks...hiks... hiks...!" Tiba tiba saja Nasya terisak dan air mata pun jatuh di wajah mulus Nasya tanpa permisi.
Yaa, semenjak Nasya hamil, memang dia mudah sekali menangis.
El yang melihat sang istri menangis sontak menoleh kearah Nasya dan menepikan mobilnya.
Segera di raih bahu istrinya dan memeluknya erat mencoba menenangkannya.
"Maafkan ByBy yang terpaksa membawa kalian kedalam masalah ini, dan semoga saja Laura tidak lagi mengancam ByBy di lain waktu" El benar benar menyesali akan tindakan bodohnya di masa lalu tanpa memikirkan akibatnya.
Tangis Nasya pun mereda dan tubuhnya pun lemas bahkan hampir tidak ada pergerakan dari istrinya.
El segera melerai pelukannya saat pundak istrinya sudah tidak bergetar lagi, dan ternyata Nasya tertidur dalam dekapan suaminya.
"Sayang, kenapa akhir akhir ini sering membuat ByBy cemas, setelah tadi menangis terisak sekarang malah tertidur pulas" Dengan sangat hati hati El menggeser kursi yang Nasya pakai, supaya Nasya nyaman tertidur di dalam mobil.
Tidak berselang lama mereka sampai di basemen apartemen.
Dengan di bantu penjaga yang bertugas El berusaha menggendong sang istri dan membawa ke dalam apartemennya.
"Tolong bawa mobil ini ke area parkir biasa pak, karena istri saya sedang tertidur" El memberikan perintah kepada petugas apartemen yang biasa berjaga.
"Baik Tuan," Jawab sang petugas yang biasa bertugas.
Tiinngg
Pintu lift terbuka, segera El berjalan lalu menghadapkan wajahnya di depan pintu masuk dan secara otomatis pintu apartemen pun terbuka.
El mendorong pintu apartemennya dengan kakinya.
Segera El membaringkan perlahan istrinya di atas kasur, kemudian membuka kerudung Nasya dan menaruhnya di atas nakas.
Tidak lupa membuka sepatu flatshoes Nasya lalu menutupi tubuh Nasya dengan selimut sampai dada.
El memilih duduk di sofa dan memainkan ponselnya, ternyata kasusnya dengan Laura sudah naik ke media bisnis.
__ADS_1
Rekan bisnis El pun sudah banyak yang menanyakan tentang kebenaran masalahnya.
Namun El mendapat angin segar dari Ilham, karena ternyata selepas kepergian El, Ilham membuat sebuah pernyataan kalau El memang disini tidak bersalah.
Dan Ilham pun menyatakan kalau El tidak akan menuntut Laura atas dasar kemanusiaan.
"Terimakasih bro,! Bonus segera akan di transfer" Ucap El langsung menghubungi Ilham.
"Sama sama kawan, dan sekarang kamu sedang dimana?" Langsung saja Ilham bertanya kepada El, karena memang El tidak menghubunginya sejak mereka keluar.
"Sekarang kami sedang ada di apartemen, karena terlalu jauh kalau harus kembali ke rumah," Jawab El menjeda ucapannya sejenak.
Lalu melanjutkannya kembali "Dan tolong bawakan pakaian ganti untuk istriku lengkap serta makanan dan minumannya untuk kami" El segera mematikan sambungan telponnya sepihak, tanpa persetujuan Ilham terlebih dahulu.
"Dasar bucin, pulang tanpa pamit dan mematikan telpon seenaknya.!" Gerutu Ilham saat sambungan telponnya terputus begitu saja.
'apa masih ada yaa stok seperti Nasya? maa, aku juga ingin segera menikah dan memiliki anak, supaya aku tidak bermain solo terus' batin Ilham berucap dengan membayangkan dirinya sendiri.
Nasya membuka matanya perlahan, dilihatnya sekeliling ruangan dan Nasya melihat suaminya sedang duduk di sofa dengan laptop di pangkuannya.
"By, kita sedang dimana? Sepertinya Nana belum pernah kesini?" Tanya Nasya kepada suaminya dengan suara khas orang bangun tidur.
"Sekarang kita sedang berada di apartemen, karena kebetulan jalan nya searah" Jawab El menutup laptopnya saat mendengar suara Nasya bertanya dan segera menghampiri istrinya duduk di tepi kasur.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar apartemen,sontak El dan Nasya menoleh ke arah sumber suara.
Tanpa menunggu lama, El segera membuka pintu apartemennya.
Ternyata seorang kurir membawakan pakaian dan makanan siap saji, itu terlihat dari tulisan dan gambar paper bag yang tertera.
"Ini Pak pesanan yang anda inginkan" Ucap sang kurir seraya menyerahkan paper bag yang dia bawa kepada El.
"Terimakasih" Jawab El dingin menerima paper bag tersebut.
"Kalau begitu saya permisi dulu Pak" Ucap sang kurir lagi, saat El sudah menerima paper bag yang dia bawa.
"Hmm" Hanya deheman yang El berikan dan El segera menutup pintu apartemennya kembali
El kemudian berbalik badan menghampiri istrinya yang sedang duduk di tepi kasur sambil memainkan ponselnya.
"Sayang, ini ada pakaian ganti untuk kamu, untuk malam ini kita menginap di sini saja, tidak mengapa kan?" Ujar El dengan hati hati dan sangat lembut seraya menyodorkan paper bag yang dia bawa ke hadapan Nasya.
"Tidak apa By, bukan kah jarak kantor juga lebih dekat dari sini? Jadi besok ByBy sekalian saja berangkat kerjanya dari sini?" Jawab Nasya tidak kalah lembut dengan menatap sang suami dan menaruh ponselnya yang dia pegang di atas nakas.
__ADS_1
Kemudian Nasya membuka isi paper bag nya, untuk melihat isi di dalamnya.
"Ini pakaian ganti untuk Nana semua? Apa ByBy ada punya pakaian ganti juga?" Tanya Nasya kepada El saat melihat isi dari paper bag nya.
"ByBy ada beberapa potong stel pakaian ganti di sini," Jawab El menatap istrinya.
"Ohh.!" Hanya kata itu yang keluar dari mulut Nasya.
"Oiya, ini ada makanan, minuman serta beberapa cemilan, apa ingin makan siang sekarang?" Lanjut El berucap menaruh semua makanan nya di atas nakas.
"Nanti saja By, Nana hanya ingin meminum jus jeruk saja" Jawab Nasya saat melihat El menaruh semua makanan dan minuman di atas nakas.
"Kalau begitu ByBy ingin mengecek email sebentar," Ujar El memberikan jus jeruk kepada Nasya dan setelahnya duduk di sofa dengan membuka laptopnya.
"Terimakasih By" Tutur Nasya setelah menerima jus jeruk yang El berikan.
"Sama sama, sayang" Jawab El seraya tersenyum.
Nasya memperhatikan suaminya yang sedang duduk di sofa dengan menatap layar laptop di hadapannya.
Sesekali El melirik ke arah istrinya yang terlihat sedang menatapnya.
"Jangan terlalu lama menatapnya, habiskan dahulu makan cemilan dan minuman nya, ByBy tidak akan kemana mana" Goda El saat melihat Nasya melamun dengan pandangan kosong ke arah depan.
'Aish, kenapa ByBy tahu kalau aku sedang melamun? apa dari tadi dia memperhatikan ku?' batin Nasya berucap dan mencoba menetralkan perasaannya lalu menoleh ke arah samping karena malu ketahuan sedang menatap sang suami.
Sudah bisa di pastikan bagaimana wajah Nasya saat ini, karena di goda suaminya.
Perlahan El mendekat dan tersenyum lalu mengangkat dagu istrinya yang menundukkan wajahnya malu dengan jari jempolnya.
Tanpa menunggu persetujuan Nasya, El segera menahan tengkuk leher istrinya.
Entah siapa yang memulainya dahulu, yang awalnya hanya saling mengecap satu sama lain, kini berubah dengan saling menukar saliva.dan tidak lupa El mengabsen setiap inci rongga mulut Nasya.
"Sekarang ByBy ingin menjenguk mereka, bukan kah kita belum pernah melakukannya disini?" Suara serak El tepat di depan wajah Nasya yang menahan hasratnya, dan hanya di angguki Nasya tanda setuju sambil menundukkan wajahnya malu.
Pakaian mereka pun sudah berserakan di atas lantai, dengan sangat pelan dan penuh kehati hatian, El berusaha menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami.
Keringat sudah bercucuran mengalir deras dari keduanya, berkali kali El mengecup perut buncit istrinya dan mainkan dua benda kenyal kesukaannya yang sudah sangat membesar seiring dengan bertambahnya usia kehamilan Nasya.
Dengan sekali hentakan, akhirnya El tumbang dengan nafas yang masih memburu.
"Terimakasih" Ucap El seraya mengecup kening Nasya dan berbaring di samping istrinya.
__ADS_1