
Saat ini El sedang di sibukkan dengan agenda meeting dengan Paman Roy, mengingat ada penyelewengan dana dari pihak investor terhadap proyek yang sedang berjalan, dan El harus menutup sementara proyek yang sedang berjalan hampir 50% itu
"El bagaimana langkah selanjutnya?Apakah kita akan meneruskan proyek ini?, sedangkan dana yang masuk tidak sesuai dengan perjanjian kontrak kerja, kalaupun di teruskan kita bisa rugi banyak, mengingat proyek sudah berjalan hampir 50%" Ucap Ilham setelah meneliti kerugian yang mungkin tidak sedikit jumlahnya
El berfikir sejenak dan dia sepakat dengan apa yang Paman Roy sampaikan dan juga penjelasan Ilham, setelah kurang lebih 3 jam meeting selesai, semua divisi membubarkan diri, kini hanya tinggal Paman Roy, Ilham dan juga El yang berada di ruang meeting
"El, sebelumnya Paman minta maaf, karena tidak bisa hadir saat acara pernikahan kamu, karena Paman sedang standby disini, dan Paman ucapkan selamat untuk pernikahannya, kalau ada waktu ajak main istrimu kerumah Paman" Ucap Paman Roy memberikan selamat seraya bangun dan bersalaman kepada El
"Sama sama Paman, nanti akan El atur jadwalnya agar tidak menggangu kerja El selama disini" Jawab El seraya menyambut tangan Paman Roy untuk bersalaman
"Kalau begitu titip salam saja kepada istrimu, insyaallah bulan depan akan Paman usahakan untuk bisa hadir di acara resepsi pernikahannya" Lanjut Paman Roy berucap.
"Nanti akan El sampaikan, kalau begitu El akan lanjut untuk melihat, sudah sejauh mana pembangunan resort yang ada di dekat danau" Pamit El kepada Paman Roy, yang memang ingin melihat perkembangan resort nya yang ada di tepi danau
"Apa tidak ingin masuk dulu ke ruanganmu, memangnya tidak kangen dengan suasana ruang kerja yang ada disini?" Paman Roy berusaha untuk membujuk El agar berlama lama di perusahaan yang kakak nya bangun, dan belum sempat untuk mengembangkan usaha bisnisnya di Jerman, namun Tuhan berkehendak lain
El menoleh ke arah Ilham, dan di angguki oleh Ilham, "Baiklah, hari ini aku akan standby di perusahaan, dan mengecek beberapa berkas" Jawab El langsung menuju ruang kerjanya yang tidak jauh dari ruang meeting
"Apa ada laporan dari mansion Ham?" Tanya El setelah duduk di kursi kebesarannya
"Sepertinya tidak ada El," Jawab Ilham membuka laptop dan mengerjakan tugasnya
Drrrttt.....Drrrtttt.....
Ponsel El bergetar, dan segera El merogoh saku celananya dan meraih ponselnya, di lihatnya ada notifikasi pesan dari Nasya, senyum El mengembang dan segera El membukanya
My Wife
[ Assalamu'alaikum By...
Nanti siang Nana boleh ke kantor yaa untuk membawakan bekal makan siang, sekarang Nana sedang memasak untuk makan siang, Nana bosan kalau di kamar terus ]
El
[ Iya sayang, tapi jangan terlalu cape dan jangan jalan sendirian, harus ajak beberapa pengawal karena sayang belum hafal kota ini, ByBy tidak ingin terjadi sesuatu terhadap sayang tanpa sepengetahuan ByBy ]
My Wife
[ Siap By, lagi pula Nana juga kan baru menginjakkan kaki di negeri orang, jadi Nana juga masih takut kalau keluar sendiri ]
El
[ Oke ...nanti telpon ByBy saat sayang sudah sampai depan lobi, biar ByBy jemput ]
__ADS_1
My Wife
[ Siap ByBy, pasti nanti Nana telpon Assalamu'alaikum...]
El
[ Wa'alaikumsalam ]
El menaruh kembali ponselnya, dan dia mengecek semua berkas yang ada di hadapannya, namun tidak berselang lama pintu ruangan El terbuka, dan nampaklah Laura dengan tidak tau malunya menerobos ruangan El
"Maaf kan saya Tuan, saya sudah mencoba mencegahnya masuk, namun Nona Laura tetap bersikeras untuk masuk ke ruangan anda" Ucap sekretaris yang memang ada di depan ruangan El
"Tidak mengapa, sekarang lanjutkan saja pekerjaamu dan masalah ini biar nanti aku yang akan menyelesaikannya sendiri" Ucap El ramah kepada sekretaris nya dan menyuruhnya untuk kembali ke ruangannya
"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi" Pamit sang sekretaris sambil menunduk dan keluar dari ruangan El
"Hmm" Jawab El singkat, sedang Laura langsung saja menghampiri El dan duduk di depan pangkuan El, sambil memainkan dasi yang El pakai, Ilham yang melihat pemandangan yang ada di hadapannya, langsung bangun dan pamit kepada El "Aku keruang sebelah, kalau butuh sesuatu panggil saja" Pamit Ilham yang memang langsung hilang moodnya saat melihat Laura masuk kedalam ruangan
"Honey, kenapa tidak menjawab teleponku? dan kenapa tidak memberikan kabar kalau sudah sampai disini?" Ucap Laura dengan meraba dada bidang El dengan tangan kirinya, sedang tangan kanan nya dia gunakan untuk memainkan dasi yang El kenakan
"Bukankah sudah aku katakan kepadamu, kalau kita sudah tidak ada hubungan lagi, dan sebagai gantinya aku sudah memberimu satu unit apartment, dan satu buah kartu kredit, jadi mulai sekarang jangan pernah lagi kamu menghubungiku apalagi mencariku, apa kamu faham.!" Ucap El penuh dengan penekanan terhadap Laura
"Tapi aku tidak ingin putus denganmu, dan alasanmu memutuskan hubungan ini juga tidak masuk akal, karena aku belum merasa puas dengan semua yang ada pada darimu," Tolak Laura seraya menggesek gesekkan bokongnya di pangkuan El serta meraba area sensitif El, dan membuka jas yang El kenakan, sontak saja El bangun, sehingga membuat Laura hilang kendali dan dengan sigap El menahan tubuh Laura yang hampir terjatuh ke lantai
Praaanngg
"Sayang....! Semuanya tidak seperti yang kamu pikirkan, biarkan ByBy menjelaskan nya" El yang tidak tau Nasya masuk, dan tanpa fikir panjang, El langsung melepas pegangan nya terhadap Laura, karena melihat Nasya menjatuhkan rantang bekal makan nya
"Awww, honey sakit kenapa kamu menjatuhkanku.!" Teriak Laura sambil memegangi bokongnya yang jatuh ke lantai
'apa....???? Honey.....????' batin Nasya tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat dan dia dengar. Nasya yang melihat pemandangan di hadapannya yang membuat sesak di dadanya, langsung berlari keluar
"Nasyaaaa," Teriak El namun Nasya menulikan pendengarannya, dia terus berlari, "Tolong jaga istriku di depan, aku akan menyusulnya" El memerintahkan pengawal yang mengantarkan Nasya agar Nasya tidak tersesat
"Siapa dia El? Apa dia begitu spesial?" Tanya Laura yang memang belum mengetahui kalau El sudah menikah
"Dia adalah istriku, dan mulai saat ini kamu jangan lagi muncul di hadapanku. Sekarang juga kamu keluar dari ruanganku, kalau tidak nanti akan aku panggil satpam untuk menyeretmu keluar dari ruanganku," Ucap El dengan nada ancaman kepada Laura sambil mengacak rambutnya dan mengusap wajahnya kasar. "Arrrrgghhhh,"
"Aku butuh penjelasan darimu El, dan aku tunggu di apartemen, kalau kamu sampai ingkar janji, lihat saja nanti apa Yang akan aku lakukan" Ancam Laura tidak kalah sengit, sambil merapikan pakaiannya dan rambutnya serta mengambil tas selempang yang tergeletak di lantai
"Kamu di mana sekarang? Cepat ke ruanganku sekarang juga,!" El berbicara dengan Ilham lewat sambungan telepon, saat ini otaknya sedang kacau, setelah kedatangan Laura dan Nasya secara bersamaan
Nasya yang merasakan dadanya sangat sesak, dia segera masuk kedalam mobil yang tadi mengantarkan dirinya dari mansion El, "Cepat jalan Pak" Pinta Nasya pada pengawal El, "Baik Nyonya" Jawab sang pengawal yang memang sebelumnya sudah di perintahkan El lewat earphone yang dia pakai
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Nasya tidak bisa menahan air matanya untuk tidak keluar, sesekali dia mengusapnya dengan tangan, sang supir yang mengerti akhirnya memberhentikan mobilnya di tepi jalan dan memberi sapu tangan yang dia ambil dari saku celananya
Ciiiittt
Mobil pun berhenti di tepi jalan dan tepat di depan taman, "Ini Nyonya, pakailah mungkin ini bisa menghapus sisa air mata" Ucap sang pengawal sambil menoleh ke arah kursi belakang yang Nasya tempati
"Terimakasih" Ucap Nasya, dan setelah dia mengusap sisa air matanya, Nasya pamit keluar dan ingin turun ke taman, "Apa boleh aku ke taman sebentar? Aku ingin menenangkan pikiranku sejenak" Pinta Nasya kepada sang pengawal
"Silahkan Nyonya, saya akan mengawasi anda dari jauh" Jawab sang pengawal
Nasya melepas seatbelt dan keluar dari dalam mobil, di susul dengan sang pengawal yang mengikuti langkah Nasya dari jarak jauh
Begitu melihat Taman bunga, Nasya jadi teringat akan sosok Ibunya, dia duduk di kursi yang memang di sediakan di taman itu, sekarang memang sedang musim semi jadi banyak bunga yang berguguran, Nasya memperhatikan sekelilingnya, ternyata banyak orang yang mengabadikan momen ini dengan ponselnya
Banyak sepasang kekasih yang berdatangan, bahkan ada juga yang dengan keluarganya, melihat itu semua membuat Nasya melupakan sejenak rasa sesak yang ada di hatinya
Tanpa Nasya sadari ternyata El sudah berada di sampingnya, dia mendapat kabar dari pengawalnya kalau Nasya sedang ada di taman tidak jauh dari perusahaan
Perlahan El duduk mendekat ke arah Nasya, dan menggenggam erat jemari tangan Nasya, walau awalnya Nasya menolak, namun karena El langsung menariknya dan akhirnya mereka saling berpelukan
"Dengarkan penjelasanku dulu sayang, aku tidak bermaksud membohongi atau membuatmu sakit hati dengan apa yang baru saja kamu lihat, semua itu tidak seperti yang kamu bayangkan, dan aku juga tidak tau kalau Laura tiba tiba saja datang" Ucap El sambil memeluk erat Nasya, dan berbicara tepat di telinga Nasya, perlahan El melepas pelukannya dan mengatupkan kedua tangannya pada wajah Nasya, serta mengangkat dagu Nasya agar melihatnya, dan menghapus air mata yang mengalir dengan kedua ibu jari El
"Mulai saat ini, aku yang akan menghapus air mata yang mengalir di wajah istriku, dan aku janji setelah ini tidak akan ada lagi air mata kesedihan yang keluar dari mata indah ini, yang ada hanya air mata kebahagiaan" Ucap El setelahnya dia mengecup kening Nasya, kedua mata, hidung, kedua pipi, dan terakhir di bibir Nasya, karena tidak ada penolakan dari Nasya El memperdalam ciumannya, namun Nasya tidak membalasnya, dia masih kesal dengan El
El mengusap bibir Nasya yang basah dengan ibu jarinya, dan berkata "Apakah sekarang sudah lebih baik? Kalau begitu, ByBy akan menjelaskan semuanya, karena ByBy tidak ingin ada rahasia di antara kita, dan bagaimana kalau sekarang kita cari restoran saja, sayang juga pasti lapar kann?" El mencoba mencairkan suasana agar tidak berlarut larut dan Nasya mau berdamai dengannya
Tanpa pikir panjang, El langsung menuntun Nasya masuk ke dalam mobil, dan menyuruh pengawal El untuk mengikutinya dari belakang, berjaga jaga takut ada serangan mendadak
Di dalam mobil, Nasya hanya menoleh ke arah jendela, sedang El mengendarai mobilnya dengan satu tangan, karena tangan yang satunya dia gunakan untuk menggenggam jemari tangan Nasya, dan sesekali menciumnya
Mobil berhenti tepat di depan restoran khas Jepang, El segera berlari mengitari mobilnya dan membukakan pintu mobil untuk Nasya
"Terimakasih" Hanya itu yang keluar dari mulut Nasya tapi bagi El, itu juga sudah merupakan kode, kalau permintaan maafnya sudah di terima
El menggenggam tangan Nasya, mereka masuk ke dalam dan memesan makanan, "Sayang, kamu ingin pesan apa?" Tanya El yang memang Nasya hanya membolak balikan daftar menu, setelahnya dia taruh lagi di atas meja, "Terserah, samakan saja" Jawab Nasya cuek sambil memainkan ponselnya
Setelah El memesan makanan dan juga minuman, El meraih tangan Nasya untuk dia genggam dan memandang mata Nasya yang bengkak karena habis menangis, untung saja di dashboard mobil ada kaca mata hitam, jadi El langsung memberikannya kepada Nasya
Tidak berselang lama, pelayan restoran datang dengan membawa makanan dan minuman yang El pesan, mereka makan dengan hening, tidak ada yang bersuara
TBC
Dukung terus Author
__ADS_1
Supaya bisa update lagi
See you