
Tepat menjelang waktu subuh, mereka tiba di rumah.
Nasya yang puas tertidur selama dalam perjalanan, kini tidak merasakan kantuk.
Sedang El segera bersiap untuk berangkat ke kantor, karena pekerjaannya sudah pasti menumpuk setelah dia tinggal.
"Sayang, tidak mengapa kan kalau ByBy tinggal pergi ke kantor dulu?" El segera menghampiri istrinya yang sedang duduk di atas kasur dengan memainkan ponselnya.
"Tidak mengapa By? Jangan risaukan Nana, tapi saat nanti pekerjaannya sudah selesai segera pulang" Jawab Nasya merapikan dasi dan mengusap kedua pundak suaminya.
"Jangan terlalu capek, kalau ingin apa apa panggil Mbok Lastri saja" El berucap seraya mengusap perut Nasya lembut.
"ByBy tenang saja, disini kan Nana tidak sendiri, kalau nanti Nana jenuh Nana bisa ke lantai atas melihat taman" Sungguh jawaban yang membuat El merasa tenang untuk bekerja dan meninggalkan istrinya di rumah.
"Oke.! Kalau begitu sekarang kita turun ke bawah untuk sarapan, pasti mereka sudah lapar" Senyum El pun langsung terlihat dikala melihat senyum terbit dari wajah cantik Nasya.
Dengan menggandeng jemari tangan Nasya, El segera menuntun istrinya turun untuk sarapan.
Seperti biasanya, El selalu mengambilkan nasi dan lauk di piring untuk Nasya.
"Terimakasih By.!" Ucap Nasya saat makanan sudah ada di hadapannya, tidak lupa El pun mengambil makanan untuk dirinya.
Kini mereka sudah berada di depan teras rumah.
Cup
"Sekarang ByBy berangkat dulu" El berpamitan kepada sang istri setelah Nasya mencium punggung tangan kanan El, dan di balas El dengan mencium kening Nasya.
"Papih berangkat kerja dulu, kalian jangan nakal yaa.!" Kini El berjongkok dan berbicara di depan perut buncit Nasya.
"Iya Papih, Dede tidak akan nakal" Ujar Nasya menirukan suara anak kecil.
Tiiinnn
El membunyikan klakson mobilnya, pertanda dia akan segera pergi, kemudian Nasya melambaikan tangannya sampai mobil suaminya benar benar keluar dari depan gerbang.
"Mang, tolong ambilkan koper yang ada di kamar depan" Nasya memanggil pelayan yang kebetulan melintas di hadapannya.
"Baik Nyonya, segera akan saya ambilkan" Jawab sang pelayan dan segera melaksanakan perintah dari majikannya.
Kemudian Nasya duduk di ruang keluarga yang tidak jauh dari dapur.
"Mbok, tolong buka kopernya, dan ambil oleh oleh yang di kantong plastik putih, kemudian bagikan semuanya kepada para pekerja, jangan sampai ada yang tertinggal" Tunjuk Nasya saat koper oleh olehnya sudah ada di hadapannya.
"Wahh, ini bajunya bagus sekali Nyonya," Ucap Mbok Lastri setelah membuka kantong plastik yang berisi oleh oleh baju batik.
"Pastikan semua para pekerja dapat Mbok, jangan ada yang tertinggal" Nasya berucap dengan memakan cemilan keripik kentang yang sudah tersaji di atas meja.
"Baik Nyonya, kalau begitu Mbok permisi dulu, ingin membagikan oleh oleh ini" Pamit Mbok Lastri kepada Nasya.
"Iya Mbok, dan kalau sudah selesai tolong buatkan jus jeruk yaa.!" Pinta Nasya pada Mbok Lastri yang memang ingin meminum jus jeruk setelah menghabiskan satu toples cemilannya.
__ADS_1
"Baik Nyonya, nanti akan Mbok buatkan" Setelahnya Mbok Lastri pergi meninggalkan majikannya yang sedang asyik menonton drama dari laptopnya.
Lalu Mbok Lastri membagikan baju batik oleh oleh majikannya kesemua pekerja yang bertugas di rumah, tidak terkecuali kepada para pekerja yang bertugas hanya sesekali dan pulang pergi di rumahnya.
Setelahnya Mbok Lastri membuat jus jeruk untuk majikannya dan membawanya keruang keluarga, dimana Nasya sedang menunggunya.
Dan membawa jus jeruk pesanan Nasya.
"Ini Nyonya jus jeruknya, apa masih ada yang di butuhkan lagi?" Tanya Mbok Lastri setelah menaruh jus jeruk di hadapan Nasya.
"Tidak ada Mbok,! Terimakasih yaa Mbok,!" Ucap Nasya menoleh dari laptop yang sedang ada di hadapannya.
"Kalau begitu Mbok permisi ke dapur dulu" Kemudian Mbok Lastri pergi meninggalkan Nasya.
Selama dua jam Nasya melihat drama yang ada di laptop, setelah itu Nasya menuju ke lantai atas dimana ada taman.
Sementara di kantor, El sedang di sibukkan dengan tumpukan berkas yang ada di hadapannya.
Karena selama satu Minggu dia tinggal, alhasil kerjaannya menumpuk
Pintu ruangan El di ketuk dari luar, dan nampaklah Ilham yang masuk kedalam dengan membawa berkas yang ada di tangannya.
"El, ini ada berkas kontrak kerja sama dari perusahaan yang ada di Singapura, dan sepertinya Minggu depan kita harus mengadakan meeting disana, karena ini menyangkut para pemegang saham" Jelas Ilham dengan menaruh berkas di hadapan El.
"Baiklah, nanti setelah makan siang kita harus mengadakan meeting dengan para direksi," El mendongakkan wajahnya dan mengalihkan matanya dari berkas yang ada di hadapannya dan juga laptop.
"El, sepertinya Om Roy sudah mengetahui tentang kasus kamu dengan Laura, karena dua hari yang lalu dia menghubungiku dan menanyakannya" Ucap Ilham kemudian.
Sontak saja El menaruh bulpoin yang ada di tangannya dan menopang dagunya dengan kedua telapak tangannya dan bertumpu pada kedua siku di atas meja kerjanya.
"Untuk besok, pastikan perketat keamanan untuk Nasya, karena yang aku khawatirkan adalah keselamatan Nasya dan calon anak anak kami" El berbicara dengan menatap Ilham lekat.
__ADS_1
"Kalau masalah itu, kamu jangan khawatirkan, karena semua sudah terencana, yang aku khawatirkan adalah mental Nasya yang sedang mengandung saat berhadapan dengan wanita ular itu" Kekhawatiran Ilham justru terhadap Nasya yang berhadapan dengan Laura besok.
"Kamu jangan menganggap remeh Nasya, walaupun dia masih sangat muda, tapi dia tau bagaimana memposisikan dirinya" El menjelaskan tentang istrinya yang begitu dewasa dan sangat mengerti dengan posisi El yang sedang menghadapi masalah seperti sekarang ini.
"Semoga saja besok berjalan lancar dan calon keponakan aku tidak kenapa kenapa" Ucap Ilham yang langsung mendapat tatapan mata elang dari El.
"Saat kamu ke Singapura Minggu depan, lebih baik kamu mengajak serta Nasya, karena kita tidak tahu disana berapa hari El" Ilham melanjutkan ucapannya dan memberikan usul kepada El untuk mengalihkan topik pembicaraan agar El tidak menyerangnya.
"Nanti akan aku bicarakan dengan istriku apakah dia akan ikut denganku" Kini El menghampiri Ilham dan duduk di sofa ruang kerjanya.
"Sekarang sudah waktunya makan siang, apakah kamu akan keluar?" Kemudian Ilham melihat arlojinya yang sudah menunjukkan waktu makan siang.
"Pesan kan saja untukku, aku malas keluar," Jawab El dengan menyandarkan badannya di sofa dan menutup matanya.
"Baiklah, kalau begitu aku akan keluar untuk makan siang" Pamit Ilham bangkit dari duduknya dan keluar dari ruangan El.
Selepas Ilham keluar El segera merogoh saku celananya dan mengambil benda pipih.
Tuuut...tuuut...
El menghubungi ponsel Nasya, namun tidak ada sahutan dari Nasya di balik telpon.
Hingga panggilan berikutnya Nasya tidak juga mengangkat telponnya.
Akhirnya El menelpon rumah nya, dan menurut Mbok Lastri Nasya sedang tidur setelah melihat taman dan menyiram tanaman bunga yang ada di lantai atas.
__ADS_1