
Pagi itu, saat sedang sarapan. Semua anggota keluarga sudah duduk di meja makan dan menyantap sarapannya.
" Nek, papi dan mami. Dalam beberapa hari Dika dan Shofia akan melangsungkan pernikahan ulang" ucap Dika datar.
Mami yang sedang asyik makan mendengar ucapan anaknya itu tiba-tiba terbatuk.
"Uhuk uhuk....apa-apaan sih kalian ini? Kurang kerjaan banget. Emangnya kalian mau mengumumkan pernikahan kalian kepada seluruh dunia apalagi menikahi wanita kumuh ini" ucap mami geram.
"Mami, Shofia itu istriku dan aku tidak suka mami menghina istriku" kata Dika marah mendengar ucapan maminya.
Begitu juga Ny Indira, papi dan Angelina.
Mereka menatap tajam ke arah mami Dika.
Shofia kaget mendengar kata-kata Dika yang memarahi maminya karena membelanya.
"Dika kenapa sih kok gitu aja sampe marah begitu. Aku aja udah biasa aja kalo dengar mami ngomong" batin Shofia.
Mami tidak kalah kaget mendengar suara putranya yang berani membentaknya.
"Jadi kamu lebih memilih membela perempuan itu daripada ibumu sendiri?" ucap mami sedikit memelas.
"Shofia itu istriku mami, kalau pun mami tidak suka padanya tapi jangan menghinanya. Bapaknya Shofia meminta pernikahan ulang karena Shofia anak tunggalnya dan bapaknya ingin menjadi wali pernikahan anaknya", kata Dika sambil memegang tangan Shofia.
__ADS_1
Hal itu membuat Jantung Shofia berdetak cepat. Ntah mengapa Shofia merasa senang mendengar kata-kata Dika.
"Sampai kapanpun mami tidak akan menyetujui pernikahan kalian", teriak mami lalu mami bangkit dari tempat duduknya dan pergi dari ruangan itu.
"Sudahlah ngga usah terlalu perdulikan omongan mamimu, Dika", Papi memberi semangat kepada Dika.
"Kita harus menyiapkan pernikahan kalian", ujar ny Indira.
"Biar Anggie bantu yaa kak. Anggie punya teman WO kok. Nanti Angie kenalkan ke kakak dan kakak ipar", ucap Angelina semangat sekali.
"Baiklah dek, kamu urus aja sama Shofia. Kakak masih harus ke kantor" ujar Dika lalu ia menyelesaikan sarapannya.
"Aku pergi dulu yaa " ucap Dika sambil mencium kepala Shofia dan pergi keluar untuk berangkat ke kantor.
Di lain tempat, Nino uring-uringan sejak bertemu dengan Angelina.
"Kenapa sih aku ngga bisa hilangin dia dari pikiranku", batin Nino.
Nino terus memikirkan wajah Angelina.
"Akhhh bisa gila kalo begini. Aku telpon Shofia aja deh" pikir Nino lagi
Nino mulai menekan nomor hp sepupunya itu. Kemudian terdengar suara panggil.
__ADS_1
"Assalamualaikum Shof. Ini Nino. Lagi ngapain?" ucap Nino saat mendengar jawaban dari sepupunya.
"Waalaykum salam. Iya No. Aku lagi sama Anggie nih mau bahas konsep pernikahanku. Tumben nih kamu telp Aku, No", Jawab Shofia.
"Kan aku baru dapat no telpon kamu Shof, Dulu kan emang aku sering telpon. Ada yang bisa ku bantu kah Shof. Om Akbar suruh aku bantu kamu kalo ada yang dibutuhkan", kata Nino sedikit berbohong menjual nama omnya.
"Oh bagus dong kalo gitu. Kamu ke sini aja kalo begitu. Biar enak ngobrolnya. Eh kalo Tari ngga sibuk ajak aja yaa", jawab Shofia.
Shofia memang selama ini belum ada waktu buat ngobrol dengan sahabatnya itu.
"Ok deh kalo gitu. Aku telpon Tari dulu abis itu siap-siap ke rumah kamu", ujar Nino senang karena bakalan bertemu dangan Anggie.
"Ya udah, ditunggu. Titi Dj yaa" ucap Shofia lagi.
Kemudian Shofia melanjutkan pembicaraannya bersama Angelina.
"Pokoknya aku itu pengennya yang sederhana aja sih. Lebih ke out door party gitu deh", ucap Shofia.
"Kalo konsep outdoor gitu bisa ada beberapa opsi tempat misalnya di area kolam renang disini, di hotel milik keluarga kita atau villa kita di daerah ancol. Kalo saran aku sih kak bagusnya villa di ancol aja keren tuh view pantai dan kolam renang sekaligus." Angelina memberikan masukan tempat acara pada kakak iparnya.
"Terserah kamu aja deh Anggie. Oh ya ntar Nino dan Tari bisa bantu Kita. Kita tunggu mereka datang dulu yaa baru kita bicarakan lagi. Kakak mau liat Zidan dulu. Perlu nyusu nih udah bengkak" ucap Shofia memegang dadanya yang sudah terasa nyeri.
Lalu Shofia pergi ke kamar anaknya dan menyusui bayinya.
__ADS_1