
Nasya yang merasakan ada yang membelai pipinya, perlahan membuka matanya.
Ternyata sang suami yang sedang menatapnya lekat.
"By, kapan sampai? Kenapa tidak memberitahu Nana akan pulang? Apa ByBy sudah makan siang?" Sontak Nasya bertanya kepada sang suami dengan sederet pertanyaan saat tatapan mereka berdua bertemu.
"Sekitar 15 menit yang lalu ByBy sampai, tadi ByBy sudah menelpon berkali kali tapi tidak ada jawaban, jadi ByBy putusan untuk pulang untuk melihatnya, ByBy belum makan siang, entah kenapa ByBy kepikiran kalian terus dari pagi" El menjawab pertanyaan Nasya dan menjelaskan kalau dirinya hampir tidak fokus saat bekerja saat telponnya tidak ada jawaban dari sang istri.
"Astagfirullah, Nana dari pagi belum ada melihat handphone, dan Nana juga tertidur setelah melakukan yoga," Dengan susah payah Nasya mengambil benda pipih yang tergeletak di atas nakas dan ternyata handphone nya dalam posisi off karena lowbat.
"Maafkan Nana By, ternyata baterai handphone nya habis dan Nana lupa untuk charger" Segera Nasya meminta maaf kepada El karena baterai handphone nya habis.
"Sudah, jangan di pikirkan, yang terpenting tidak terjadi apa-apa terhadap kalian,! Kenapa tidak bilang sama ByBy kalau memang ingin senam? Jadi ByBy bisa panggilkan dokter spesialis kandungan untuk datang kesini" El yang memang sangat mengkhawatirkan kesehatan Nasya dan bayi yang sedang di dalam kandungan istrinya langsung saja bertanya.
"Tadi Nana sebenarnya hanya penasaran saja dengan ruang olahraga yang ada di samping ruang keluarga, dan setelah disana ternyata Nana ingin melakukan yoga," Jawab Nasya menjelaskan kepada sang suami.
"Baiklah, lebih baik sekarang kita makan saja, pasti mereka sudah lapar karena lelah mengikuti yoga dengan Mamih nya" Kini El mengalihkan topik dan mengajak sang istri untuk makan siang yang sudah sedikit terlewatkan.
Dengan menuntun sang istri keluar kamar menuju meja makan, akhirnya mereka makan siang bersama.
Tidak lupa Nasya mengajak serta Novi untuk makan bersama, saat melihat Novi sedang membersihkan peralatan masak di wastafel.
Setelah mereka selesai makan, El pamit kembali ke kantor, sedang Nasya mengajak Novi untuk membuat cake untuk cemilan.
Semenjak Nasya menikah dengan El dia sudah sangat jarang berada di dapur hanya untuk menyiapkan makanan, itu karena El sangat melarang istrinya untuk berada di dapur dengan alasan tidak ingin melihat Nasya merasa lelah saat El pulang dari kantor.
"Setelah sekian lama tidak berada di dapur untuk memasak, akhirnya aku bisa juga membuat cake" Ucap Nasya sambil memegang mixer dan spatula di atas meja.
"Apa Nyonya merasa lelah? Biar saya saja yang mengerjakan" Tanya Novi yang melihat majikannya berbicara.
"Tidak Novi, sebenarnya selama ini aku hanya rindu berada di dapur, seperti memasak, menyiapkan makanan atau membuat kue seperti ini, kamu tahu sendiri kan, kalau suamiku melarang aku berada di dapur, padahal aku kan hanya hamil saja bukannya sedang sakit" Jelas Nasya mengutarakan keluhannya kepada Novi tentang dirinya yang di larang El berada di dapur.
__ADS_1
"Mungkin Tuan tidak ingin Nyonya merasakan lelah dan kepanasan di dapur, apalagi saat ini Nyonya sedang hamil bayi kembar, jadi Tuan tidak ingin terjadi sesuatu terhadap mereka" Ujar Novi yang merasakan kekhawatiran Tuan nya terhadap kehamilan Nasya.
"Tapi aku kan sedang hamil, bukan sedang sakit Novi" Ucap Nasya kemudian.
Novi yang mendengar keluhan majikannya hanya bisa mendengarkan tanpa bisa menjawab kembali ucapan Nasya.
Satu jam mereka berkutat di dapur, akhirnya mereka selesai juga membuat cake dan cemilan yang lain.
"Novi, aku masuk ke kamar dahulu untuk mandi, dan kamu juga istirahat saja dulu, karena sepertinya nanti malam kita akan makan di luar" Nasya segera bangun dan masuk ke kamar untuk mandi, karena merasakan lengket badannya setelah berada di dapur.
"Iya Nyonya, lagi pula ini juga sudah selesai" Jawab Novi yang memang sedang membersihkan peralatan masaknya.
Tidak berselang lama Nasya masuk ke kamar El pulang dari kantor.
"Selamat sore Tuan, Nyonya baru saja masuk ke kamar untuk mandi," Sapa Novi saat melihat majikannya pulang dan terlihat masuk kedalam apartemen.
"Hmm," Hanya deheman yang El berikan terhadap Novi yang menyapanya.
Ceklek
Begitu El masuk kedalam kamar, terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.
Lalu El menaruh tas kerjanya di atas sofa, dengan mendaratkan bokongnya di sofa, El membuka jas serta dasinya.
"Huffhh" Dengan menatap langit langit kamarnya, El menghembuskan nafasnya pelan.
Drrtt...drrtt...
Terdengar suara getaran dari ponsel El yang ada di dalam saku celananya, lalu El segera meraih benda pipih tersebut dan melihatnya.
Dengan membulatkan matanya, seolah El tidak percaya dengan siapa yang menelponnya.
__ADS_1
"Mamah" Lirih El berucap, karena begitu lirih bahkan hanya dia yang dapat mendengarnya.
"Assalamu'alaikum" Sapa El dari balik layar ponselnya.
"Wa'alaikumsalam, sekarang kamu sedang ada dimana? Kenapa pergi ke Singapura tidak memberitahukan Mamah? Bagaimana kabar menantu Mamah dan kedua cucu cucu Mamah?" Sederet pertanyaan pun langsung saja di lontarkan Mamah saat sambungan telponnya di Jawab El.
"Mah, bisa tidak kalau bertanya itu satu satu, El baru saja sampai dari kantor," El yang memang merasakan lelah setelah seharian berada di kantor, langsung saja berkomentar terhadap sang Mamah yang mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.
Helaan nafas Mamah pun terdengar dari balik telpon.
"Sudah El, jangan terlalu berbelit Belit, jawab saja pertanyaan Mamah dengan jujur, karena sekarang Mamah sedang ada di rumah kalian, dan kata Mbok Lastri kalian sedang tidak ada di rumah dalam beberapa hari kedepan" Mamah yang memang tidak senang berbasa basi langsung saja mendesak El untuk menjelaskan sendiri alasannya pergi ke Singapura.
"Oke,! El akan jelaskan Mah, saat ini El dan Nasya sedang ada di Singapura, karena perusahaan yang ada disini sedang ada sedikit masalah, dan harus El sendiri yang turun tangan menghadapinya, kepergian kami ke Singapura sangat mendadak Mah, dan rencananya besok juga El akan memeriksa kandungan Nasya disini, agar El juga dapat melihat dengan jelas jenis kelamin anak anak El, dan kabar menantu serta cucu cucu Mamah Alhamdulillah baik semua, Mamah tenang saja, El juga ada membawa anak Mbok Lastri untuk menemani Nasya di apartemen, jadi saat El sedang di kantor, Nasya tidak kesepian Mah, apa penjelasan dari El sudah membuat Mamah puas?" Jelas El panjang lebar kepada Mamahnya dari balik telpon, berharap semoga Mamahnya tidak lagi mencecar dirinya dengan berbagai pertanyaan lagi.
"Kapan kamu akan kembali?" Tanya Mamah kemudian.
"Sampai semuanya bisa El lepas lagi Mah, mungkin sekitar empat sampai lima hari, El juga tidak bisa lama lama berada disini, kasihan Ilham disana" Jawab El yang memang ingin segera masalah yang ada disini cepat selesai, agar dia bisa cepat kembali.
"Mana Nasya? Mamah ingin berbicara dengan nya," Ucap Mamah yang sekarang malah mengalihkan telponnya menjadi Vidio call.
"Nasya sedang di kamar mandi Mah, nanti El suruh telpon balik Mamah saat Nasya sudah selesai" Dengan sedikit kecewa, akhirnya Mamah bisa mengerti.
"Ya sudah, sekarang Mamah tutup dulu telponnya, nanti jangan lupa untuk menghubungi Mamah kembali" Pasrah sudah Mamah berucap dan segera menutup sambungan telponnya.
"Baik Mah, assalamu'alaikum" Ucap El memberikan salam penutup untuk Mamah tercinta.
"Wa'alaikumsalam" Jawab Mamah dan sambungan telpon pun terputus.
BIP
"Ternyata sekarang aku sudah benar benar di lupakan Mamah, bahkan Mamah tidak menanyakan bagaimana kabar aku, nasib, nasib," Lirih El berucap seraya membolak balikan ponselnya tersenyum.
__ADS_1