
Waktu berputar sangat cepat, hari hari El dan Nasya sebagai sepasang pengantin baru pun telah mereka laluli, kini El sudah bersiap akan berangkat ke kantor, sementara Nasya akan berangkat ke sekolah, untuk melihat hasil kelulusannya, setelah satu pekan mereka pergi ke jerman.
"Sayang, ini ATM untuk uang jajan kamu, PIN ny tanggal pernikahan kita nanti setiap bulannya akan ByBy transfer, kalau ini kartu kredit untuk kamu shopping ke Mall, ke salon, ke butik, atau apapun kepentingan kamu, sementara ini untuk kepentingan pribadi kamu, kalau untuk kuliah nanti akan ByBy kasih lagi." El menjelaskan panjang lebar kepada Nasya tentang dua buah kartu kredit dan satu ATM.
El memang belum sempat memberikan uang nafkah kepada Nasya, karena kemarin sedang di proses.
"By, apakah ini tidak terlalu berlebihan, dan sepertinya Nana hanya membutuhkan ATM nya saja" Ucap Nasya dengan polos nya.
"Sayang, simpan saja.! Mungkin sekarang belum bisa di gunakan, tapi suatu saat pasti akan terpakai" El membelai kepala Nasya yang tertutup kerudung, sedang Nasya menaruh semua pemberian El kedalam dompet nya.
"Ya sudah.! Lebih baik sekarang kita turun ke bawah untuk sarapan, supaya tidak terkena macet di jalan" El menggenggam tangan Nasya dan menuntunnya keluar kamar dan masuk ke dalam lift untuk turun ke bawah.
"Sayang, nanti pulang jam berapa?" Tanya El setelah menghabiskan satu porsi makanan nya.
"Sepertinya nanti Nana akan ada rapat untuk acara perpisahan sekolah By, sekalian menentukan tema nya seperti apa, mumpung sedang kumpul di sekolah seperti sekarang ini." Tutur Nasya menjabarkan kalau memang semalam dia dan teman-temannya yang lain akan rapat untuk acara perpisahan sekolah.
"Ya sudah, nanti kabari ByBy kalau memang sudah mau pulang, biar ByBy jemput," Tutur El bangun dari kursi dan di susul Nasya di sampingnya, mereka masuk ke dalam mobil dan bergabung dengan para pengendara lainnya di jalan raya.
"Semalam Mamah telpon, dan rencananya besok akan ada fitting baju untuk acara resepsi, di butik langganan Mamah, jadi untuk berangkat ke butiknya lebih baik sayang besok ikut saja dengan ByBy, lagipula jarak butiknya searah dengan kantor," El menjeda ucapannya, "Bagaimana, apa sayang setuju,?" El kembali bertanya, dengan menoleh kearah Nasya sekilas.
"Tapi apakah Nana tidak akan menggangu kerja ByBy di kantor?" Bukannya menjawab pertanyaan El, Nasya malah balik bertanya kepada sang suami.
"Justru ByBy akan tambah semangat, karena ada Bidadari ByBy yang menemani" El berbicara dengan mengerlingkan matanya dan menaik turunkan alisnya.
"Emm, baiklah By,!" Jawab Nasya sambil menundukkan kepalanya malu.
Mereka tiba di depan gerbang sekolah Nasya, yaa Nasya memang tidak ingin El masuk ke dalam area parkir sekolah, Karena dia belum siap menjawab berbagai pertanyaan dari teman temannya.
"Ingat, jangan genit genit di sekolah," Titah El dengan membuka seatbelt Nasya, dan menghadap ke arah Nasya.
"isshhh, mana ada Nana genit di sekolah," Nasya memutar bola matanya di hadapan El.
"Nana masuk ke sekolah yaa By," Nasya pamit setelah mencium punggung tangan kanan El, dan hendak turun dari mobil, namun El menahan tangan Nasya.
"Morning kiss nya," El tersenyum seraya menunjuk ke arah bibirnya dengan telunjuknya.
Nasya hendak mengecup bibir El sekilas, namun ternyata El menahan tengkuk Nasya, dan terjadilah mereka saling mengecap satu sama lain.
"Nanti ByBy terlambat ke kantor," Nasya melepas pagutan nya, dan El segera mencium kening Nasya.
Nasya merapikan kerudungnya di kaca spion depan El, dan El segera memakai seatbelt nya kembali.
"Assalamu'alaikum By," Nasya membuka pintu mobil.
"Wa'alaikumsalam sayang" Jawab El sambil melambaikan tangannya dan memutar kemudi stir mobilnya.
Nasya langsung berjalan masuk kedalam sekolah, setelah mobil El sudah melesat jauh.
'apa seperti ini yaa rasanya punya suami' batin Nasya berucap sambil menggeleng gelengkan kepalanya, dan menyusuri lorong sekolah.
"Nana.!" Panggil Feby yang sedikit berlari mengejar Nasya.
Nasya yang merasa ada yang memanggil namanya langsung memutar badannya kearah sumber suara, dan ternyata Feby sedang berlari ke arahnya.
"Sepertinya teman aku yang satu ini udah lain gaya jalan nya" Goda Feby yang memang memperhatikan Nasya yang berbeda gaya jalan nya, tidak seperti sebelum dia menikah.
__ADS_1
"Maksud kamu,?" Tanya Nasya yang memang tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan Feby.
"Apakah kamu sudah me~?" Nasya langsung menutup mulut Feby dengan telapak tangannya, dia takut ada temannya yang tau kalau dia sudah menikah.
"Jangan bicara disini feb, kamu mau nanti aku jadi bahan perbincangan seluruh sekolah?" Tutur Nasya dengan berbisik ke arah Feby, dan menarik tangan Feby agar mereka tidak jadi bahan tontonan anak anak yang lain.
"Maaf Na, aku keceplosan bicara," Feby menyesal karena tidak bisa menjaga mulutnya.
"Oiya, bagaimana liburan nya kemarin di Jerman? Apa ada oleh oleh untukku?" Tanya Feby setelah mereka duduk di kantin.
"Yang jelas menyenangkan, dan ini ada sedikit oleh oleh buat kamu, kemarin tidak lama di sana, jadi aku tidak sempat jalan-jalan." Tutur Nasya dengan membuka tasnya dan memberikan kotak berisi parfum ke arah Feby.
"Wahh, terimakasih Na, ternyata kamu masih ingat dengan aku," Ujar Feby setelah membuka kotak parfum dan mencium nya sekilas, lalu memasukkan nya ke dalam tas.
"Sama sama feb, kalau begitu mari kita lihat hasil pengumumannya, mungkin sudah di tempel di Mading,!" Ucap Nasya dan di angguki Feby, mereka berjalan ke arah lorong sekolah dan ternyata sudah banyak yang datang dan melihat hasilnya, itu terdengar dari riuhnya suara teman temannya yang berteriak histeris setelah melihat mereka lulus.
"Na, ternyata kita lulus, dan kamu ada di urutan pertama, sedangkan aku di urutan kedua," Ucap Feby setelah melihat dan mereka saling berpelukan.
"Nasya, selamat yaa kamu lulus dengan nilai terbaik," Tyo langsung memberikan ucapan selamatnya kepada Nasya.
"Terimakasih Tyo, kamu juga masuk dalam 10 besar, dengan nilai terbaik." Tutur Nasya dan memang Tyo berada di nomor empat setelah Ryan.
"Nasya, selamat juga yaa kamu memang yang terbaik," Sambung Ryan.
"Terimakasih Ryan, kamu juga yang terbaik, kita hanya beda di nomor urut saja," Jawab Nasya dengan gaya merendah.
"Ayang, selamat, ternyata kamu ada di urutan ke dua" Ucap Ryan kepada Feby.
"Terimakasih honey," Jawab Feby malu malu.
"Na, aku pengen ngomong empat mata dengan kamu," Kini giliran Tyo yang buka suara, dan Nasya mengangkat alisnya tanda dia bertanya kepada Tyo.
"Bagaimana kalau kita ngobrol nya di cafe sebrang saja," Usul Ryan yang mengerti dengan perasaan Tyo.
"Lalu, bagaimana dengan rapat perpisahannya? bukan nya kita akan rapat?" Tanya Nasya dengan ekspresi bingung.
"Coba kamu buka group sekolah, di situ sudah ada informasi nya, dan semuanya sudah di kelola oleh pihak sekolah, jadi kita tinggal mengisi acara nya saja," Feby menjelaskan kepada Nasya.
Nasya langsung membuka ponselnya yang belum dia sentuh sejak tadi pagi, setelah dia selesai mempersiapkan pakaian kerja untuk El.
"Jadi kita akan mengadakan pertunjukan apa?" Tanya Nasya tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel yang dia pegang, dan membaca dengan seksama chatting an di grupnya.
"Nanti kita rapat di grup saja, biar lebih santai dan siapa tau ada masukan dari kelas lain, jadi nanti kita bisa kolaborasi kan" Ryan memberikan ide nya, karena dia malas kalau harus rapat langsung dengan kelas lain, yang ada mereka malah melimpahkan semua keputusannya kepada Ryan dan Tyo.
"Ohh,! Oiya, Tyo tadi kamu mau ngomong apa sama aku?" Kini Nasya ingat dengan ucapan Tyo yang ingin bicara empat mata dengannya.
"Lebih baik kita ke cafe sebrang saja Na, sekalian kita merayakan kelulusan kita, bagaimana? Apa kamu setuju?" Tanya Feby yang mengerti dengan perasaan Tyo.
"Boleh, biar nanti aku yang traktir, kalian bebas mau pesan apa saja, dan sebanyak apa pun," Ucap Nasya dan langsung tersenyum manis, semanis gula, sehingga membuat siapa pun yang melihatnya langsung terpesona, tidak terkecuali Tyo.
"Bener Na,? Kita bebas pilih apa saja?" Tanya Feby dan di angguki Nasya.
"Gass lah, let's go.!" Ujar Feby yang langsung menggandeng tangan Nasya dan mereka menuju cafe yang ada tepat di seberang sekolah.
Nasya memberitahukan El lewat pesan singkat dari aplikasi handphone nya, kalau dia lulus dengan nilai terbaik di sekolah nya, dan meminta izin kepada El kalau dia akan mmpir sebentar ke cafe depan sekolah untuk merayakan kelulusannya, namun El belum membalasnya.
__ADS_1
"Na, aku duduk di meja sebelah yaa.!" Feby yang mengerti dengan Tyo, karena sebelumnya Ryan memberi pesan kepada Feby kalau Tyo hanya ingin berbicara empat mata dengan Nasya, walaupun Feby tau, kalau Nasya pasti menolak dan Feby juga memang belum berbicara kepada Ryan kalau ternyata Nasya sudah menikah.
"Tapi feb, aku tidak mau~.!" Nasya menggantung ucapannya, dia hampir saja keceplosan berbicara.
"Aku ada di sebelah sana Na, jadi masih bisa mengawasi kalian, dan kalau Tyo macam macam aku yang akan maju duluan membela kamu, oke.!" Bela Feby dengan menunjuk ke arah meja di sebelahnya dan mengepalkan tangannya, tanda dia siap jika nanti Tyo berbuat macam macam.
"Khem," Tyo menetralkan dirinya dengan berdehem sebentar, "Nasya, nanti setelah ini kamu akan melanjutkan kuliah di mana? Masih di sini atau di luar negeri seperti Feby?" Tanya Tyo basa basi.
"Entahlah Tyo, aku belum menentukan akan kuliah di mana," Jawab Nasya yang memang belum menentukan akan kuliah di mana, yang Nasya pikirkan saat ini adalah tentang acara resepsi pernikahan nya yang tinggal dua pekan lagi.
"Ohh,! Na, sebenarnya sudah lama aku ingin mengutarakan ini kepadamu, namun belum ada waktu yang pas." Jujur Tyo mengungkapkan sedikit perasaannya.
"Maksudnya.?" Nasya yang memang tidak mengerti dari kata kata Tyo akhirnya bertanya.
"Na, Aku sudah ada rasa sejak lama terhadapmu, namun aku baru bisa mengucapkannya sekarang, sebenarnya aku CINTA sama kamu, dan apakah kamu mau jadi pacarku?" Tanya Tyo dengan menatap Nasya lekat, dan penuh harap dan kejujuran.
Jeddaaaarrrr
Bagai petir di siang bolong, Nasya menutup mulutnya tidak percaya, bagaimana mungkin Tyo yang dia anggap sebagai saudara nya, kini malah mengutarakan rasa cinta, apalagi sekarang dia bukanlah seorang gadis yang seperti mereka pikirkan, melainkan seorang istri.
"Tidak Tyo,! Maksudku, aku tidak bisa menerima apa yang baru saja kamu ungkapan, walau bagaimanapun dan sampai kapanpun aku tidak bisa menerimanya, karena aku bukan seperti yang kamu pikirkan, dan kalau memang sudah tidak ada yang di bicarakan lagi, aku pulang duluan, mohon maaf Tyo." Tolak Nasya dengan sangat sopan di hadapan Tyo, dan segera Nasya berjalan menuju ke kasir untuk membayar meja yang dia tempati bersama Tyo, dan meja yang di tempati Feby dan Ryan.
Sedang Tyo hanya menunduk dan merasa kecewa, pasalnya Nasya benar benar menolaknya, dengan alasan yang tidak jelas.
Feby yang melihat Nasya berjalan ke arah kasir langsung saja menghampirinya, dan betapa terkejutnya Feby saat tau ternyata Nasya mengeluarkan kartu kredit black gold, dan itu berarti kartu limited edition, dan tanpa batas.
"Oh my God,! Na, itu serius punya kamu?" Tanya Feby setelah pelayan kasir memberikan kartu kreditnya kepada Nasya.
"Hmm. Feb, maaf yaa aku pulang duluan, sampaikan saja permintaan maaf ku sama Ryan," Ujar Nasya setelah memasukkan kartu kredit kedalam dompetnya dan menaruhnya di dalam tas, Feby yang masih bingung dengan kepergian Nasya, hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Setelah Nasya keluar dari cafe, secara kebetulan El baru saja keluar dari dalam mobil, dan segera El memangil Nasya.
"Sayang, apakah sudah selesai?" Tanya El dan hanya di angguki Nasya.
Tanpa pikir panjang, Nasya langsung masuk ke dalam mobil El dan mereka segera meninggalkan cafe.
Di dalam mobil, El menggenggam tangan Nasya, dan berucap "Sayang, maaf tadi ByBy tidak sempat balas pesan, karena masih ada meeting" Ucap El dengan menggenggam tangan Nasya dan mengecupnya.
"Selamat yaa, lulus dengan nilai terbaik, dan sebagai hadiahnya, sayang harus ikut ke kantor ByBy sekarang" El berbicara dengan penuh semangat begitu mendengar Nasya lulus dengan nilai yang terbaik.
"Tapi Nana masih pakai seragam sekolah By" Tolak Nasya yang memang belum sempat berganti pakaian.
"Sudah ikut saja, di lemari, sudah ByBy siapkan beberapa stel pakaian ganti, nanti sayang lihat saja sendiri" El memang sudah mempersiapkan beberapa potong pakaian untuk Nasya, jaga jaga kalau mereka akan datang mendadak seperti sekarang ini.
Mobil yang mereka tumpangi akhirnya tiba di depan gedung perusahaan El.
Segera El menuntun Nasya untuk masuk ke dalam, di depan lobi banyak karyawan El yang menyapanya, namun El hanya cuek dan melenggang pergi.
Banyak bisik bisik yang membicarakan tentang El yang membawa gadis remaja yang masih memakai seragam sekolah.
Dukung terus Author yaa
supaya Author Semangat
see you
__ADS_1