
Sepulangnya dari rumah bapaknya, Shofia masih bingung memikirkan bagaimana dia dan Dika akan dinikahkan ulang oleh bapaknya.
Sedangkan Shofia dan Dika memang belum pernah menikah, hanya pura-pura saja.
"Apakah artinya aku dan Dika benar-benar akan menjadi suami istri?", pikir Shofia lagi.
Shofia tidak tau apakah dia siap menjadi seorang istri apalagi Dika belum terlalu dia kenal walaupun sudah 1 bulan mereka tinggal bersama dan dalam satu kamar pula.
Apakah harus menolak permintaan bapaknya? Kemungkinan rahasia mereka akan terbongkar.
"Aaaaah aku bingung. Ngga tau mau buat apa", pikir Shofia lagi sambil mengacak rambutnya sendiri.
Dika melihat Shofia yang sedang menggerutu sendiri langsung mendekati.
"Kamu kenapa sih kok dari tadi uring-uringan mulu? Lagi mikirin apa?", tanya Dika mengambil tempat duduk disamping Shofia.
"Aku bingung nih dengan permintaan bapak yang menyuruh kita menikah ulang. Kita kan memang belum pernah menikah, kalo menikah ulang artinya kita nikah benaran dong", tanya Shofia menatap tajam wajah Dika.
__ADS_1
"Ya bagus aja dong, artinya kita ngga usah pusing dan berbohong terus kalo kita suami istri.", jawab Dika sambil tersenyum.
"Tapi emang kamu yakin akan menikahiku. Kamu kan tidak mengenalku. Apalagi aku punya anak. Kamu tidak akan menyesal?", Tanya Shofia lagi.
"Aku memang belum terlalu mengenalmu tapi kan ini lebih baik buat mengurangi beban sandiwara kita. Minimal kita tidak usah berbohong lagi akan status kita dan lagi pula masalah anak, aku malah sudah menganggap Zidan adalah anakku walaupun aku bukan ayah biologisnya." jawab Dika.
"Aku belum bisa mengakui kalo kita hanya berpura-pura menikah dan Zidan bukan anakku. Apalagi sekarang bukan hanya keluargaku yang diberitahu bahwa zidan adalah anakku tapi juga keluargamu.", ucap Dika lagi mengambil napas panjang.
"Begini saja. Kita akan menikah dan menjalani kisah yg kita buat ini. Kalo misalnya nanti ada masalah dan kita harus mengakui kisah kita, ya kita bisa akhiri aja pernikahan kita", jawab Dika sedikit sedih.
" Ya udah terserah kamu aja. Aku udah capek banget mau tidur", kata Shofia lalu masuk ke kamar mandi.
***
Keesokan harinya, Shofia dan Dika ditelepon oleh ny Indira dan diminta untuk datang ke kantor pengacara keluarga Ajiwijoyo di kawasan Kelapa Gading.
Sesampainya disana, Shofia dan Dika masuk ke dalam kantor tersebut dan disana sudah ada Ny Indira dan pengacara.
__ADS_1
"Ada apa nenek meminta kami datang kesini?" tanya Dika sambil mencium tangan neneknya diikuti oleh Shofia.
"Duduklah disamping nenek, Dika dan Shofia", ujar Nenek.
"Ini pengacara nenek, pak Bima. Nenek sudah merubah surat warisan nenek. Semua saham perusahaan milik nenek akan nenek berikan kepada Zidan dan beberapa properti milik nenek juga akan nenek pindah nama menjadi milik Zidan", ucao nenek lagi dengan mimik serius.
" Tapi nek. Apa nenek sudah berpikir matang-matang dan sudah membicarakan hal ini pada papi dan mami?" tanya Dika kebingungan.
Begitu juga Shofia. Bagaimana mungkin nenek memberikan semua hartanya untuk Zidan. Zidan bukan darah dagingnya, pikir Shofia. Tapi Nenek kan tidak tau tentang hal itu.
"Ini adalah milik nenek dan terserah nenek mau bikin apa. Papi dan Mamimu, kamu dan Angelina sudah mendapatkan bagian masing-masing. Jadi nenek tidak perlu memberitahukan kepada mereka", Jawab ny Indira.
" Kalian tinggal menandatanganinya", ucap ny Indira lagi.
Drrt...drrt..drrt
" Sebentar nek, Dika jawab telepon dulu.", Kata Dika keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, Dika masuk dan berkata, " Maaf nek, Dika harus balik ke kantor ada meeting mendadak."
" Ya sudah, Kita postpone dulu urusan ini", ujar ny Indira sedikit kecewa.