
El sedang memakai kemeja yang telah Nasya siapkan untuk nya, namun tiba tiba saja Nasya menghampirinya dan mengambil alih untuk memakaikan kemeja suaminya.
Tidak lupa Nasya memakaikan dasi dan jas untuk suami tampan nya, walaupun dengan agak jinjit, karena tubuh El yang lebih tinggi dari Nasya.
"Selesai,! Lebih baik sekarang kita turun untuk sarapan, karena mereka sudah lapar" Ucap Nasya setelah selesai memakaikan pakaian untuk suaminya.
"Terimakasih sayang,! ByBy tidak bisa membayangkan kalau berjauhan dengan kalian walau hanya sehari" El berbicara dengan merangkul pinggang istrinya yang sudah terhalang dengan perut buncit Nasya.
"Jangan bicara seperti itu, lebih baik sekarang kita bersiap untuk mengadakan konferensi pers" Nasya menutup mulut suaminya dengan telunjuk nya yang dia arahkan tepat di bibir El.
El yang mendapat tatapan manis di pagi hari dari istrinya justru tertantang untuk menciumnya.
Tanpa menunggu persetujuan Nasya, El segera menahan tengkuk leher istrinya, yang awalnya hanya ciuman biasa, kini berubah dengan saling memagut dan menukar Saliva satu sama lain.
Krukuk....krukuk....
Terdengar suara bunyi dari perut Nasya, dan El segera melepas pagutan nya lalu segera mengusap bibir basah istrinya dengan Ibu jarinya, kemudian mengecupnya sekilas.
"Lebih baik sekarang kita segera turun Untuk sarapan, kasihan mereka sudah sangat lapar" Kini El langsung menggandeng tangan Nasya dan mereka segera sarapan.
Setelah mereka selesai sarapan, mereka masuk kedalam mobil menuju acara konferensi pers, tidak lupa mereka di kawal oleh para pengawalnya dari arah depan dan juga belakang.
Akhirnya mereka sampai juga di sebuah gedung setelah menempuh perjalanan Selama tiga puluh menit.
Dengan di bantu para pengawal, El dan juga Nasya masuk lewat pintu samping, untuk menghindari para media yang sudah standby berada di pintu utama.
"By, ternyata banyak sekali para awak media yang hadir" Lirih Nasya berucap setelah melihat di depan sudah banyak media yang hadir.
Saat ingin berangkat El memang tidak menggunakan mobil yang biasa dia pakai saat ke kantor, melainkan menggunakan mobil mahar Nasya.
Untuk mengurangi rasa curiga dari para awak media.
Alhasil mereka benar benar terbebas dari para wartawan yang sudah standby berada di depan pintu utama.
__ADS_1
"Alhamdulillah, akhirnya kita bisa masuk kedalam, ByBy harap kamu tetap rileks saat menghadapi banyaknya sorotan cahaya lampu dari kamera wartawan" Kini mereka sudah duduk di ruangan khusus yang sebelumnya sudah di persiapkan untuk mereka.
"Apa ingin minum, hmm?" Tanya El kemudian.
"Tidak By, Nana hanya ingin menetralkan diri Nana sebentar, agar nanti tidak nervous saat berhadapan dengan banyaknya orang yang menatap Nana" Jawab Nasya lembut selembut sutera dan senyum yang tulus dari dalam hati.
"Baiklah, lebih baik sekarang istirahat saja dulu, ByBy akan menemui Ilham sebentar di ruang sebelah, kalau butuh sesuatu panggil saja pengawal yang berjaga di depan pintu" Titah El berpamitan kepada istrinya yang ingin menemui Ilham untuk memastikan kelancaran acara dan keselamatan Nasya serta anak anaknya.
Selepas kepergian El, Nasya membuka ponselnya dan berusaha mencari di internet tentang cara untuk menghadapi sorotan banyaknya kamera dan lawan bicara.
"Bismillah.! Semoga saja aku nanti bisa" Lirih Nasya berucap, karena sangat lirih dan hanya Nasya yang mampu mendengarnya.
Ceklek
Pintu ruangan tiba tiba saja terbuka, nampaklah El dengan membawa paper bag di tangannya.
"Lebih baik sekarang kamu makan dahulu, agar kalian nanti kuat" El meletakkan paper bag bergambar makanan siap saji tepat di depan meja yang ada di hadapan Nasya.
Kemudian Nasya memasukan handphone nya kedalam tas yang dia bawa dan membuka paper bag yang ada di hadapannya.
"ByBy masih belum terasa lapar dan haus, itu semuanya hanya untuk kalian ByBy bawakan" Jawab El seraya membuka makanan ringan dan membuka minuman untuk istrinya.
Selang Nasya menghabiskan makanan dan minumannya, terdengar suara ketukan pintu dari luar.
Segera El mempersilahkan masuk dan nampaklah salah satu pengawal El.
Dengan sedikit berbisik di telinga El dia memberitahukan kalau sepuluh menit lagi mereka akan keluar dan bersiap.
"Hmm" Dengan menganggukkan kepala dan berdehem kecil El menyahutinya, lalu sang pengawal kembali keluar.
"Kenapa By?" Tanya Nasya selepas kepergian sang pengawal yang berjaga di luar.
"Sebentar lagi kita akan bersiap dan keluar menyelesaikan masalah ini, karena ByBy juga sudah ingin cepat selesai, agar besok kita bersiap untuk keberangkatan ke Singapura" Jelas El dengan menggenggam jemari istrinya untuk menguatkan Nasya agar kuat menghadapinya.
__ADS_1
Dengan perlahan El memeluk Nasya lembut untuk memberikan support terhadap istrinya, karena ini adalah pengalaman pertama Nasya dan El membawa Nasya kedalam masalahnya.
"khemm!!" Tiba tiba saja Ilham masuk dan menghampiri mereka di saat mereka sedang menguatkan satu sama lain.
Mendengar suara deheman dari Ilham, dengan segera Nasya melepaskan pelukannya dari El dan merapikan kerudung dan pakaiannya.
Lain halnya dengan El, dia justru memicingkan matanya ke arah Ilham.
Perlahan Nasya bangun lalu meraih lengan El dan segera mengajak suaminya untuk keluar karena sudah bisa di pastikan akan berbuntut panjang urusannya.
"Huffhh, untuk saat ini aku bisa selamat karena ternyata El sudah punya pawang" Lirih Ilham berucap dengan menghembuskan nafasnya pelan dan segera menyusul El dan Nasya keluar.
Dengan mengenakan gamis berwarna violet yang di padukan dengan kerudung berwarna pink, Nasya terlihat sangat anggun, apalagi El mengenakan jas dengan warna senada.
Berbanding terbalik dengan Laura, dia mengenakan pakaian berwarna maroon yang sangat **** dan ketat, bahkan menunjukkan lekuk tubuhnya yang memang sedang berbadan dua, dengan di dampingi salah satu pengacaranya.
"Baiklah, karena sekarang sudah hadir di antara kita dari kedua belah pihak, lebih baik sekarang kita mulai saja acaranya," Ucap salah satu tim pengacara dari pihak El.
Di mulai dari mendengarkan pengaduan dari pihak Laura yang di wakilkan pengacaranya, berhubung Laura masih belum terlalu fasih berbahasa Indonesia.
Terlihat El sedang menahan amarahnya, namun di bawah meja Nasya selalu menggenggam dan menautkan jemari tangannya untuk memberikan semangat dan agar El tidak terpancing emosi.
'ini benar benar pengalaman terburuk dan rasanya ingin segera cepat selesai, muak mendengarkan karangan cerita dari wanita ular itu, maafkan ByBy yang terpaksa membawa kalian dalam masalah masa laluku' batin El berucap dengan pandangan lurus kedepan dan sesekali melirik istrinya memastikan dia baik baik saja.
"Bagaimana Pak El? Apakah Pak El bersedia untuk mengakui kalau ternyata bayi yang ada di dalam perut Nyonya Laura adalah anak Bapak?" Tanya salah satu wartawan kepada El dan ternyata bukan El yang menjawab, melainkan pengacaranya yang berbicara.
"Pak El akan bertanggung jawab sampai anak ini lahir, namun hanya sebatas rasa kemanusiaan saja, karena kami juga punya bukti tentang ini" Jawab salah satu pengacara El dengan membuka map coklat hasil tes DNA Laura yang menyatakan kalau El bukanlah ayah biologis dari anak yang di kandung Laura.
Sontak saja Laura membulatkan matanya dan menatap horor El bahkan hampir bangkit dari duduknya, namun di cegah pengawal El yang berjaga tepat di belakang Laura.
Melihat ekspresi Laura yang terkejut, Nasya segera bangun, namun El menahannya dengan gelengan kepala yang menandakan jangan.
Namun Nasya menepuk pundak suaminya dan mengedipkan matanya, kalau semua akan baik baik saja.
__ADS_1
"Nona, sekali lagi selamat atas kehamilannya, dan tolong jaga bayi anda supaya selamat sampai lahir agar tidak kekurangan suatu apapun, dan kalau memang sudah tidak ada yang di bicarakan lagi, sekarang juga kamu pamit" Dengan menjabat tangan Laura, Nasya yang memang fasih berbahasa Inggris dengan lantang berucap di hadapan para pengacaranya dan memberikan doa kepada Laura serta bayi yang sedang di kandungnya.
Para wartawan yang sudah standby pun tidak lupa mengabadikan moment ini dan menanyakan kejelasan nya kepada pengacara dari kedua belah pihak.