Akhirnya Jatuh Cinta

Akhirnya Jatuh Cinta
49. Jajan Di Pinggir Jalan


__ADS_3

"By, pemandangan nya sangat indah dan udaranya pun masih sangat sejuk" Beo Nasya ketika melihat ke arah jendela mobil yang mereka tumpangi.


Yaa,! Saat ini mereka sedang menuju pasar tradisional untuk mencicipi jajanan serta makanan khas daerah setempat.


Sebelumnya mereka menaiki kapal boat pribadi untuk menuju perkampungan, dan di lanjutkan dengan menempuh perjalanan dengan mengendarai mobil selama 30 menit.


Setelah memarkirkan mobilnya di pasar, segera mereka turun dari dalam mobil, dengan di bantu El membuka seatbelt, Nasya segera keluar.


Dengan memperhatikan sekelilingnya, Nasya di buat tercengang, ternyata pasarnya benar benar sangat tradisional dan masih dengan sistem barter untuk pembayarannya.


"Sekarang kita akan langsung mencari makan atau ingin melihat lihat dulu di sini?" Tanya El saat memperhatikan istrinya yang sedang memperhatikan sekeliling pasar.


"Sepertinya Nana ingin melihat sekelilingnya dulu By" Jawab Nasya dengan menoleh ke arah sang suami.


"Oke.! Tapi kalau nanti lelah langsung bilang saja," Ujar El menyetujui keinginan istrinya.


Nasya memperhatikan semua pedagang yang berjualan di pasar tersebut, tidak lupa Nasya membeli setiap dagangan para penjual, walaupun itu hanya satu macam.


Di tangan El sudah penuh dengan belanjaan yang Nasya beli, baik itu sayur mayur, buah buahan, berbagai jenis ikan laut dan air tawar tidak luput dari perhatian nya, hingga bumbu dapur pun tidak lupa Nasya beli.


"Sayang, apa kamu tidak lelah?" Tanya El yang memperhatikan istrinya begitu semangat saat berbelanja.


"Sebentar lagi By,!" Nasya yang memang sejatinya sangat menyukai pasar tradisional, dia benar benar terhipnotis dengan keramahan serta kearifan daerah tersebut.


"By, nana ingin membeli es yang di depan tadi, dan mencicipi soto yang tadi dekat dengan pedagang buah" Keringat sudah bercucuran dari dahi El, dan kedua tangannya pun sudah penuh dengan kantung plastik belanjaan Nasya.


Namun El tetap menikmati nya, dan ini juga merupakan pengalaman pertama El menemani wanita berbelanja di pasar tradisional, tidak bukan dan tidak lain, agar El lebih bisa memahami istrinya yang memang sejatinya tidak pernah gengsi walau berbelanja di pasar tradisional yang panas.


"Nana seneng banget deh By, ternyata walaupun beda daerah dan suku, tapi mereka tetap memperlakukan orang luar dengan sangat ramah, bahkan banyak yang mendoakan Baby twins" Ujar Nasya saat mereka sudah sampai di kedai soto dan tidak lupa El juga memesan es campur.


El yang faham dengan pola makan sang istri, langsung memesan dua porsi soto dengan dua porsi nasi.

__ADS_1


"Kenapa ByBy tidak pesan makanan nya?" Nasya bertanya dan menoleh kearah El yang sedang memperhatikan dirinya makan.


"ByBy masih kenyang, lebih baik sekarang habiskan saja makanan nya, agar Baby twins sehat" Jawab El yang memang masih kenyang, karena tadi pagi sebelum berangkat mereka sarapan terlebih dahulu.


Setelah Nasya menghabiskan makanannya dan memakan Es campur, El memasukkan semua belanjanya di bagasi mobilnya, kemudian mereka melanjutkan kembali untuk segera pulang ke rumah singgah yang berada di dalam pulau.


Sepanjang perjalanan Nasya tertidur, dan mereka sampai menjelang waktu shalat Dzuhur.


Di daerah tersebut memang masih memegang teguh hukum adat dan sistem keagamaan yang sangat kental.


Segera El menyuruh mang rohman untuk merapikan serta memasukkan semua belanjaan yang tadi Nasya beli di pasar.


"Mang, tolong bawa masuk semua belanjaan yang ada di bagasi mobil," Titah El kepada mang rohman, begitu sampai di rumah singgah nya.


"Baik Tuan," Jawab mang rohman, segera dia menuju mobil dan mengambil serta membawa belanjaan yang ternyata sangat banyak.


Tidak berselang lama El menidurkan Nasya di ranjang, ponsel El bergetar.


Tidak ingin mengganggu tidur sang istri, El menerima telpon dari Ilham di ruang kerjanya.


Perlahan Nasya membuka matanya, dia mencari keberadaan El yang tidak terlihat di dalam kamarnya.


"ByBy kemana yaa? Kenapa tidak terlihat disini? Apa mungkin sedang di ruang kerjanya?" Berbagai pertanyaan pun muncul dari benak pikiran Nasya, begitu membuka matanya.


"Oiya, apa semua belanjaan sudah di taruh di dapur yaa?" Segera Nasya bangkit dari tempat tidur dan menuju dapur untuk menanyakan kepada mang rohman.


"Mang, apakah semua belanjaan yang tadi aku beli di pasar sudah di bawa dan rapihkan?" Tanya Nasya begitu melihat mang rohman sedang melintas di hadapannya.


"Sudah Nyonya, tadi sudah saya ambil dari dalam garasi mobil dan sudah saya rapihkan di lemari pendingin" Jawab Mang rohman yang memang sudah mengambil serta merapikan semua belanjaan tadi.


"Apa mang rohman ada melihat suami aku?" Tanya Nasya kemudian.

__ADS_1


"Tuan sedang di ruang kerja Nyonya, saya baru saja mengantarkan minuman untuk Tuan" Jawab Mang rohman yang memang baru saja mengantarkan kopi untuk El di ruang kerjanya.


"Terimakasih mang, saya akan segera menemui nya sekarang " Tutur Nasya dan segera menuju ruang kerja suaminya.


Sebelum Nasya masuk, ia melihat ruang kerja El sedikit agak terbuka, Nasya menghentikan langkahnya tepat di depan pintu.


Dia mendengar suara El berteriak dan menyuruh Ilham segera mencari tahu se detail mungkin info yang sebenarnya.


Saat El membalikkan badannya dia di kejutkan dengan kehadiran Nasya yang sedang berdiri tepat di depan pintu.


"Sayang, sejak kapan kamu berada di situ?" Tanya El menghampiri sang istri untuk menuntunnya duduk di sofa.


"By, apa yang baru saja Nana dengar benar adanya?" Bukannya menjawab, Nasya malah balik bertanya kepada El.


"Semuanya belum terbukti sempurna, ByBy yakin, ini pasti ada orang lain yang bersembunyi di balik kasus ini," Jelas El dengan mengusap wajahnya kasar.


"Maksudnya By?" Tanya Nasya kembali.


"Jadi ada orang lain atau saingan bisnis ByBy yang secara tidak langsung ingin menghancurkan bisnis ByBy di kancah internasional " Jelas El yang menduga kalau ini adalah sebuah fitnah dari saingan bisnis El yang tidak suka dengan sepak terjang El di dunia bisnis.


"Lalu apa yang ByBy lakukan sekarang?" Lanjut Nasya bertanya kepada suaminya.


"Untuk saat ini kita ikuti saja alur permainan dari mereka," Jawab El dengan wajah tenang menatap ke arah jendela melihat ombak yang bergulung gulung.


"Bagaimana dengan Laura? Apakah ByBy akan mengakuinya kalau anak yang sedang dia kandung adalah anak ByBy?" El segera berbalik lalu menghampiri Nasya dan duduk di samping istrinya.


"Dalam waktu dekat, ByBy akan mengadakan konferensi pers, semuanya sedang di atur Ilham, kemungkinan setelah kita pulang dari sini baru kita akan mengadakan konferensi pers," El menjeda Ucapan nya sejenak.


"Apapun yang terjadi nanti, tetaplah berada di samping ByBy, karena mereka yang tidak senang dengan kita pasti akan tertawa melihat kita hancur" Dengan menggenggam tangan Nasya dan menatap istrinya lekat El mengutarakan kekhawatirannya terhadap Nasya.


"Selama ByBy jujur dan tidak ada rahasia diantara kita, Nana akan selalu setia mendampingi ByBy apapun yang terjadi" Entah dari mana Nasya mendapatkan kata kata itu, yang pasti itu adalah ungkapan isi hati Nasya yang terucap begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2