
Suasana langsung kacau ketika mendengar pengakuan dari Dika ditambah lagi Mami dan Miranda jatuh pingsan.
Para pelayan segera mengangkat kedua tubuh orang itu ke atas sofa.
Salah satu tamu yang merupakan dokter langsung maju memeriksa keadaan mami dan Miranda.
Ny Indira sangat terkejut mendengar pengakuan dari cucunya itu tapi ia masih lebih kuat dan hanya jatuh terduduk.
Di satu sisi Ia sangat marah akan tetapi di lain sisi ada kebahagiaan melihat kehadiran bayi yang merupakan anak dari cucunya tersebut.
Dika dan Shofia hanya bisa terdiam menghadapi situasi ini.
Lalu tiba-tiba bayi yang ada digendongan Shofia menangis.
Ny Indira menyuruh Dika dan Shofia agar masuk kekamar agar bisa menghentikan tangisan bayi itu sambil memperbaiki suasana yang sedang kisruh.
"Masuklah kau kekamar Dika, bawa istri dan anakmu. Kita bicarakan ini nanti."
"Istirahatlah..! Kalian pasti sudah sangat lelah." kata Ny Indira kepada Dika.
"Baiklah nek. Kami masuk dulu" jawab Dika seraya merangkul Shofia agar ikut dengannya.
Shofia hanya bisa mengikuti Dika.
Ia tidak berani berkata apa-apa setelah kekacauan yang mereka sebabkan tadi.
Dika mengajaknya masuk ke sebuah kamar dilantai 2.
Kamar yang ia masuki ini sangat luas dengan desain ruangan bernuansa maskulin.
Memang ini kamar Dika.
Ada foto Dika dengan berbagai pose digantung di dindingnya.
Ada satu tempat tidur yang berukuran besar. Sofa dan televisi raksasa disudut ruangan.
Lalu ada 2 pintu lagi didalam kamar itu.
Satu pintu merupakan ruangan tempat baju, sepatu dan assesoris Dika dan pintu satunya merupakan kamar mandi.
Shofia meletakkan bayinya ke tempat tidur dan bayi itu mulai terdiam.
Mungkin ia menangis karena melihat kekacauan diluar tadi.
Jadi saat sudah tenang ia pun berhenti menangis.
__ADS_1
Shofia menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
Saat ia masuk kedalam, ia pun sangat takjub melihat ukuran kamar mandi yang tiga kali luasnya dari flatnya di Inggris.
Didalam kamar mandi itu ada bathup besar, di sudut lain ada shower dengan berbagai bentuk kran serta 2 buah toilet berwarna emas.
Ia kemudian mencuci wajahnya di washtafel.
Sebenarnya ia sangat lelah tapi ia bingung juga menghadapi keadaan ini.
Apalagi ia sekarang berada satu ruangan bersama laki-laki yang baru dikenalnya beberapa jam lalu di pesawat dan menyebutnya sebagai suami.
Yaa Tuhan cobaan apalagi ini, jerit Shofia dalam hati.
Saat keluar dari kamar mandi, ia menemukan Dika sedang bermain dengan bayinya.
Lalu ia menghampiri Dika.
"Apa kita akan tidur satu ruangan?" tanya Shofia pada Dika.
"Ya harus, kalo kita tidur di ruangan berbeda nanti mereka akan curiga.
Lagi pula aku bisa tidur di Sofa." Jawab Dika.
"Kamu boleh istirahat atau mandi dulu.
Satu jam lagi waktunya makan malam.
Aku akan membawa bayimu keluar agar kau bisa mandi" kata Dika sambil meraih bayi itu kedalam gendongannya tanpa mengharap ijin dari Shofia lalu ia keluar dari ruangan.
Dika kembali menuju ruang keluarga.
Disana ia hanya menemukan Papi, mami, Angelina dan neneknya.
"Hai keponakan aunty yang ganteng. Kenalkan ini Aunty Angel" seru angelina mencium pipi bayi yang digendong oleh kakaknya.
Mami hanya membuang muka tidak senang melihat Dika menggendong bayi itu.
"Duduklah Dika" kata Papi.
"Kami butuh penjelasan. Mengapa kamu tidak pernah memberitahu kami bahwa kamu menikah dan bahkan punya anak saat di Inggris?" tanya papinya ketus.
"Maaf papi, aku bertemu dengan istriku tanpa sengaja di Inggris.
Kejadiannya begitu cepat.
__ADS_1
Ia membuatku jatuh cinta, kemudian kami menikah dan akhirnya punya anak" jawab Dika lirih.
"Aku tidak mungkin bilang ke kalian sebelumnya karena tau pasti kalian tidak akan mengijinkan aku menikah dengan wanita lain selain Miranda" kata Dika lagi.
Nenek dan papinya hanya menarik nafas panjang mendengar penjelasan Dika.
" Memang kami tidak akan pernah mengijinkanmu menikah dengan wanita lain. Siapa dia dan bagaimana keluarganya?
Apa kamu tidak pernah memikirkan Miranda?" teriak Mami kepada Dika sambil menatap tajam ke arah Dika.
Mami sangat marah sekali.
"Maafkan aku Mami. Tapi aku memang tidak pernah mencintai Miranda." ujar Dika lantang.
"Apa kamu bilang?????"teriak mami lagi.
"CUKUP!!!". Ny Indira memotong pembicaraan antara ibu dan anak itu.
"Kita memang tidak suka keadaan ini.
Tapi ini semua sudah terjadi.
Dika sudah menikah dan punya bayi.
Bayi ini adalah penerus keturunan keluarga Ajiwijoyo.
Kita harus menerimanya" kata Ny Indira.
"Tapi ibu...." mami Dika menjawab namun segera diam setelah melihat ibu mertuanya memberi kode bahwa ia tidak ingin mendengar ocehannya lagi.
"Ngomong-Ngomong siapa nama bayimu Dika?" tanya Ny Indira.
"eeehh..." jawab Dika bingung. Dia sendiri belum tau siapa nama bayi itu.
Tapi kebingungan itu terbantu ketika Shofia datang dan memanggil bayinya
"Zidan sayang, kamu ada disini toh. Mama mencarimu kemana-mana" ucap Shofia sambil mengambil bayi dari pangkuan Dika.
Mendengar nama bayi itu seluruh keluarga Dika termasuk Dika sendiri sangat terkejut.
"Oh Dika kau menamakan anakmu sama dengan nama Kakekmu, Zidan Kurnia Ajiwijoyo" kata Ny Indira sambil berdiri dan mengambil Zidan dari gendongan Shofia.
"Eh iya nek. Bayiku namanya Zidan" jawab Dika tersenyum.
Dalam hati ia sangat terkejut ternyata nama bayi Shofia sama dengan nama kakeknya.
__ADS_1