Akhirnya Jatuh Cinta

Akhirnya Jatuh Cinta
Kasih Sayang Nenek


__ADS_3

Waktunya makan malam.


Dika mengajak Shofia menuju ke ruang makan.


Disana sudah duduk Ny Indira, papi, mami dan Angelina.


Dika mempersilahkan Shofia duduk disampingnya.


"Apakah Zidan sudah tidur?" tanya Ny Indira ke Shofia.


"Iya Nyonya.


Sehabis mandi Zidan langsung tidur setelah minum susu.


Dia pasti sangat lelah" jawab Shofia.


"Jangan panggil aku Nyonya, panggil nenek saja. Kau kan istri cucuku" kata nenek sambil tersenyum ke arah Sofia.


Mami dika langsung memonyongkan bibirnya melihat ibu mertuanya sangat ramah kepada wanita yang dibawa oleh Dika.


"Iya nek" jawab Shofia.


Ia melihat berbagai hidangan di depan matanya. Perutnya memang sangat lapar.


Ia tidak sempat makan di pesawat karena Zidan menangis tadi.


Ia mengambil potongan buah didepannya.


Tapi ketika hendak memasukannya ke mulut, Ia mendengar mami Dika Mendehem.


"Hmmmm dasar tidak sopan santun. Kami baru boleh makan setelah Nenek mempersilahkan" kata mami Dika ketus


"Oh maaf". jawab Shofia sambil meletakkan kembali buah ke piring didepannya.


"Tidak apa-apa. Shofia kan belum tahu. Silahkan makan" kata nenek sambil memasukkan makanan kemulutnya.


Shofia makan makan sangat lahap.


Tidak pernah ia makan makanan yang sangat enak dan banyak sekali seperti sekarang.


Mungkin karena ia memang sangat lapar ditambah lagi ia adalah ibu menyusui.


Di meja disediakan berbagai makanan western dan Indonesia.


Tentu saja Shofia lebih memilih makanan Indonesia karena ia sudah lama sekali di Inggris.


Disana jarang sekali ia makan makanan Indonesia.


Dika melihat Shofia makan dengan lahap membuatnya tersenyum.


Ntah mengapa ia merasa sangat senang melihat cara Shofia makan.


Setelah selesai makan, Ny Indira berkata "Istirahatlah kalian. Besok aku ingin mengenalkan Shofia pada seseorang". sambil berdiri dari kursi makannya.


"Baiklah Nek, Selamat malam semua" jawab Dika.


Ia menggandeng tangan Shofia menuju ke arah kamar.

__ADS_1


Di dalam kamar, Dika duduk di sofa.


Shofia jadi ikut duduk di sampingnya tapi dengan jarak yang agak jauh.


"Apalagi yang harus kita lakukan setelah ini? tanya Shofia kepada Dika yang sedari tadi hanya diam.


"Kita hanya mengikuti alur saja dulu. Semua orang sudah percaya bahwa kamu adalah istriku dan zidan adalah anakku." ucap Dika tersenyum kepada Shofia.


"Baiklah. Aku mau tidur dulu karena sudah sangat lelah karena perjalanan tadi. Apa kamu benar-benar tidak keberatan tidur di Sofa?" tanya Shofia lagi.


"Tidurlah. Aku tidak apa-apa tidur disofa. atau kamu mau kita tidur bersama di tampat tidur?" tanya Dika tersenyum nakal.


"Ih enak aja" jawab Shofia sambil melempar bantal ke arah Dika. Dika pun tertawa.


Tidak butuh waktu lama buat Shofia untuk tertidur karena ia memang sangat lelah walaupun ia sedikit merasakan tidak enak karena harus tidur satu ruangan dengan laki-laki asing yang menjadi suami mainannya ini.


Dika yang melihat Shofia sudah tertidur hanya bisa tersenyum.


Ia memandangi wajah wanita yang menjadi Istri pura-puranya itu.


Wanita ini cukup cantik kata Dika dalam hati. Rambutnya yang keriting, bola mata besar dan hidung mancung ditambah bentuk bibir yang imut menambah kecantikannya.


Shofia memang berwajah baby face.


Wajahnya sangat mirip dengan Zidan.


Dika lalu mencium pipi bayi yang sedang tidur lelap.


Ntah mengapa Ia menjadi sangat sayang pada bayi ini seperti anaknya sendiri.


Akhirnya Dika menuju ke sofa dan tak lama ia pun tertidur.


"Zidan sayang kenapa badanmu panas nak? apanya yang sakit?" teriak Shofia panik.


"Ada apa Shofia?" tanya Dika sambil mengucek matanya karena baru saja terbangun.


"Badan Zidan panas dan dia juga tidak mau nyusu" jawab Shofia masih dalam keadaan panik.


Mendengar jawaban Shofia, Dika langsung loncat mendekati Zidan.


"Anakku kenapa sayang? aku akan panggil dokter" kata Dika yang tak kalah panik juga.


"Bagaimana ini? aduh aku takut sekali Dika. aku ngga tau apa yang akan terjadi padaku kalo aku kehilangan Zidan." isak Shofia


"Tenanglah Shofia. Tidak akan terjadi apa-apa pada Zidan. Aku akan segera memanggil dokter keluarga." kata Dika sambil memegang tangan Shofia yang masih menangis.


"Ada apa ini ? kenapa kalian ribut sekali sampai terdengar dari luar?" tanya Ny Indira yang baru saja masuk ke dalam kamar Dika dan Shofia


"eh Nenek, ini anakku sakit, Zidan badannya panas." jawab Dika.


"Segera panggil dokter Helmi. Sini sayang Zidanku" kata Ny Indira seraya menggendong Zidan dan membawanya ke dalam kamar mandi.


" Nenek...nenek...apa yang akan kau lakukan pada anakku? kenapa dibawa ke kamar mandi?" teriak Shofia kaget melihat bayinya diambil oleh Ny Indira.


Tapi Ny Indira tidak menghiraukan teriakan Shofia malah ia mengunci pintu kamar mandi.


"Nenek...nenek.. buka pintunya !! apa yang kau lakukan? mau diapakan anakku? Dika apa yang nenek lakukan? " teriak Shofia sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi.

__ADS_1


Dika hanya terdiam melihat Shofia.


Kemudian ia teringat untuk menelpon dokter.


Dika keluar kamar untuk menelpon dan meninggalkan Shofia yang masih menggedo-gedor pintu kamar mandi.


Tak lama kemudian, Ny Indira keluar mengendong Zidan yang sudah dibalut handuk.


"Kenapa kau teriak-teriak begitu Shofia? aku hanya merendamnya kedalam air hangat agar panasnya turun." kata Ny Indira seraya menyerahkan Zidan kepada Shofia.


"Maafkan aku nek, aku hanya panik melihat Zidan sakit. oh iya panasnya mulai turun" kata Shofia setelah memegang badan Zidan.


"Sekarang kamu bisa membalurkan minyak telon keseluruh badan zidan agar tidak masuk angin". kata Ny Indira seraya mencium jidat bayi Zidan.


"Baik nek" jawab Shofia sambil mengambil minyak telon dan membalurkannya ke badan anaknya, lalu memakaikannya baju.


Tak lama kemudian dr Helmi datang bersama Dika.


Lalu ia memeriksa Zidan dan menuliskan resep dan memberikannya kepada Dika.


"Bayinya tidak apa-apa, berikan obat ini 3x sehari. Perbanyak ASI dan makanan pendamping ASI. Kalo panas lagi hubungi saya kembali tuan Dika, saya permisi dulu tuan dan Nyonya". kata Dr Helmi sambil menjabat tangan Dika dan pergi.


"Tuh kan tidak usah terlalu khawatir. Cicitku adalah anak yang kuat" ujar Ny Indira seraya mencium pipi Zidan.


Shofia dan Dika hanya tersenyum melihatnya.


"Oh ya Dika dan Shofia. Nenek ingin memperkenalkan kalian pada seseorang dan aku ingin mempelihatkan kalian dikamar sebelah, ayo ikutlah" kata Ny Indira sambil keluar kamar.


Dika menggendong Zidan dan menggandeng tangan Shofia mengikuti Ny Indira.


Mereka menuju satu ruangan yang tak jauh dari kamar mereka.


Setelah masuk, mereka terkejut bahwa ruangan itu sudah dirubah menjadi kamar bayi.


Kamar itu dihias dengan nuansa biru. Terdapat keranjang tidur bayi dengan hiasan tergantung diatasnya.


Lalu ada meja untuk membersihkan tubuh bayi serta ada kursi malas untuk tempat menyusui.


"Kapan nenek mempersiapkan ini semua?" tanya Dika seraya meletakkan Zidan ke keranjang bayi dan memberikannya mainan.


"Pagi ini." jawab Ny Indira.


"Nenek menyuruh bibi Ani untuk mempersiapkannya sejak semalam. Tadi pagi barang-barangnya udah tiba dan mereka sudah menatanya seperti yang nenek suka" jawab nenek sambil bermain dengan Zidan.


Tak lama kemudian ada seorang wanita paruh baya memasuki ruangan tersebut.


"Selamat pagi Ny Indira dan tuan Dika" kata wanita itu seraya mengangguk hormat kala melihat Shofia.


"Selamat pagi sus Nani. Masih ingatkah kau Dika dengan sus Nani? Sus Nani ini yang mengurusmu dan adikmu sejak bayi dan sekarang aku memintanya untuk mengurus Zidan" kata Ny Indira


"Tapi Nek, aku bisa mengasuh bayiku sendiri" ucap Shofia tidak setuju dengan keputusan Ny Indira.


"Aku tahu. Sus Nani hanya akan membantumu sehingga kau masih bisa mengurus suamimu dan dirimu sendiri" jawab Ny Indira sambil memegang tangan Shofia.


"Terima kasih Nek" kata Shofia sambil tersenyum.


"Ayolah, mari kita sarapan. Biar Zidan dijaga dulu sama sus nani" kata Ny Indira sambil berlalu.

__ADS_1


Dika dan Shofia mengikuti ke ruang makan.


Sampai disana mereka menemukan ada Miranda sedang duduk di meja makan bersama papi dan maminya.


__ADS_2