
Tidak berselang lama Nasya menaruh ponselnya, El langsung menghampiri dan duduk di samping sang istri.
"Habis menelpon siap sih?" Tanya El begitu mendaratkan bokongnya di sofa.
"Tadi bang Raffa yang menelpon, dia sekarang sudah punya usaha sendiri, dan besok akan melakukan grand opening untuk cafe dan restoran nya," Nasya menjeda Ucapan nya sejenak.
"Bang Raffa juga meminta maaf, karena kemarin tidak bisa hadir di acara syukuran empat bulanan" Lanjut Nasya menjelaskan kepada sang suami.
"Alhamdulillah, akhirnya Bang Raffa sudah punya usaha sendiri" Ujar El.
"Dia juga menitipkan salam untuk ByBy, dia janji nanti akan hadir saat acara syukuran tujuh bulanan" Tutur Nasya dengan menatap sang suami.
"Wa'alaikumsalam,! lebih baik sekarang kita masuk kedalam kamar, bukankah besok kita akan pergi ke pasar,? Supaya besok tidak terlalu siang kita sampai, karena perjalanan nya lumayan lama dan jauh" EL segera mengajak Nasya untuk istirahat, karena waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam.
Seperti sudah menjadi kebiasaan El, setiap kali sebelum tidur El selalu mengajak anak anak nya untuk berbicara dengan mengusap perut buncit Nasya.
Dan kedua anak mereka pun langsung meresponnya dengan gerakan hingga membuat Nasya meringis dengan gerakan anak anak nya.
"Sayang, jangan nakal di dalam perut Mamih, kasihan Mamih kalian, nanti merasakan kesakitan" Dan benar saja, mereka langsung menghentikan gerakannya, hanya gerakan gerakan kecil secara bergantian dari kedua anaknya.
"By, sepertinya mereka sudah mulai bisa merespon Ucapan Papih nya, buktinya mereka langsung berhenti bergerak kencang" Ujar Nasya yang merasakan berkurang gerakan dari dalam perutnya.
"Alhamdulillah, kalian memang anak anak yang hebat, Papih sudah sangat tidak sabar ingin segera melihat kalian launching" Dengan lembut El mengusap perut Nasya.
Dengan posisi memeluk Nasya dari arah belakang, mereka tertidur dan siap menyongsong esok hari dengan penuh bahagia.
Pukul 02 dini hari Nasya merasakan ingin buang air kecil, dengan susah payah akhirnya Nasya bisa bangun dari tempat tidur dan sampai di kamar mandi, kemudian segera berbalik ingin tidur.
Namun Nasya melihat handphone El yang ada di atas nakas bergetar, dan getarannya sangat lama seperti sebuah panggilan masuk.
Segera Nasya melihat, siapa tau itu panggilan penting atau masalah pekerjaan.
Namun begitu Nasya melihat siapa yang menelponnya tengah malam seperti ini, Nasya di buat terkejut, karena di layar ponsel tertera nama Laura.
Itu artinya mereka masih menjalin komunikasi sampai saat ini, air mata Nasya pun langsung mengalir deras begitu dia melihat siapa yang menelpon suaminya.
"Hiks...hiks....hiks.....! Ternyata kalian masih melakukan komunikasi selama ini" Rasa sedih serta kecewa yang Nasya rasakan saat ini benar benar memporak porandakan hati serta pikirannya.
Bagaimana tidak, ternyata suaminya masih menjalin hubungannya dengan Laura tanpa sepengetahuan Nasya.
"Ternyata kamu benar benar jahat By, kenapa selama ini tidak pernah bilang kalau memang kamu masih ada rasa dengan Laura, hiks....hiks....hiks..." Dengan rasa kesal, Nasya mematikan ponsel El agar tidak terdengar lagi suara getaran nya.
Sayup sayup El mendengar ada suara orang menangis, saat meraba samping, ternyata Nasya tidak ada, perlahan El membuka matanya.
__ADS_1
El merasakan hawa dingin dari angin laut yang masuk, dia juga melihat tirai penghubung antar kamar dan balkon nya terbuka.
Segera El menghampiri arah balkon, dan benar saja Nasya sedang tertidur di kursi dengan posisi duduk menghadap laut.
"Astagfirullah, ternyata kamu sedang di sini," Segera El menghampiri istrinya, dibelainya pipi chubby Nasya, serta menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik Nasya karena terpaan angin laut.
Tanpa banyak bicara dan pikir panjang, segera El menggendong Nasya dan meletakkannya ke atas kasur.
Namun El melihat masih ada sisa sisa air mata di pelupuk mata Nasya, segera El menciumnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi Apakah kamu habis menangis?" Dengan suara lirih El berucap, bahkan hanya dirinya saja yang bisa mendengarkan suaranya.
Cup
El mengecup kening Nasya dalam, setelah nya menyelimuti tubuh Nasya sampai dada, tidak lupa El mengusap perut Nasya lembut.
Perlahan El keluar dari dalam kamar menuju ruang kerjanya, berusaha mencari tau perihal Nasya bisa sampai ada di luar kamar.
Dengan mengusap wajahnya kasar, El Segera duduk di sofa ruang kerjanya.
"Semoga saja Nasya tidak mengetahuinya, kalau ternyata Laura sedang mengandung," Ucap El lirih dengan menutup matanya.
"Dan semoga saja Ilham cepat menemukan bukti nya, karena aku sama sekali tidak pernah menyentuhnya, itu hanyalah tipu daya Laura saja, dan kenapa aku sampai bisa terjebak dengan wanita ular seperti dia!" El benar benar di buat pusing dengan masa lalunya, di saat dia sedang menikmati indahnya masa bulan madu bersama dengan Nasya, ternyata muncul masalah dari masa lalu nya yang meminta pertanggung jawaban El.
Ternyata dugaan Nasya benar, El masih menjalin komunikasi dengan Laura.
Segera Nasya masuk kembali kedalam kamar, dan menumpahkan rasa kesalnya dengan menangis di dalam kamar mandi.
"Kenapa tidak jujur By, kenapaaa?? Kalau memang ternyata yang baru saja aku dengar itu benar adanya, bagaimana aku harus menjelaskan kepada Ayah, Ibu, Mamah serta bang Raffa, mereka pasti tidak bisa terima begitu saja hiks...hiks...hiks...Aku harus bertanya yang sebenarnya, agar tidak ada salah faham" Nasya menghapus air matanya dan mencuci mukanya di wastafel, segera Nasya membuka pintu kamar mandi dan mencari sang suami untuk meminta penjelasan yang sebenarnya.
Ceklek
Nasya membuka pintu kamar mandi, dan secara bersamaan El pun membuka pintu kamar ingin segera beristirahat.
"Sayang, kenapa tidak bilang sama ByBy kalau ingin ke kamar mandi,!" Ucap El begitu melihat Nasya keluar dari dalam kamar mandi.
Namun Nasya tidak menanggapi ucapan El, Nasya langsung berbaring ke tempat tidur dan di susul dengan El yang memeluknya dari belakang.
"Memangnya ada apa, hmm?" Tanya El dengan berbisik tepat di telinga Nasya.
"ByBy pikir saja sendiri,? Apa yang sedang ByBy sembunyikan dari Nana?" Karena pengaruh hormon kehamilan nya, bukannya menjawab pertanyaan El, Nasya malah balik bertanya kepada sang suami.
"Baiklah,! ByBy akan ceritakan semuanya kepada kamu, tapi janji setelah ini ByBy tidak ingin melihat ada air mata yang keluar." Pasrah sudah El berucap dengan membalikkan badan sang istri agar menghadap nya.
__ADS_1
Dia juga tidak ingin lama lama menyimpan rahasia dari Nasya, karena dia tidak ingin menyakiti hati wanita yang sangat dia cintai terluka terlalu dalam.
"Sekarang dengarkan penjelasan ByBy, dan tolong percaya sama ByBy, setelah tau semuanya tolong jangan tinggalkan ByBy, dan tetaplah berada di samping ByBy, karena ByBy juga tidak ingin ada rahasia antara kita berdua" Kini mereka sedang sama sama duduk di kepala ranjang dan El menatap sang istri seraya menggenggam tangan Nasya.
Flashback on
Saat El membuka laptop di ruang kerjanya untuk mengecek email yang masuk, tiba tiba saja handphone El bergetar dan menandakan kalau ada panggilan masuk, ternyata Ilham yang menelponnya, segera El mengangkatnya.
"Iya ham, kenapa? Kalau masalah kerjaan lebih baik lewat email saja, bukan kah kamu tau kalau aku saat ini sedang tidak ingin di ganggu" El langsung bersuara dan menjelaskan kalau saat ini dia tidak ingin di ganggu oleh siapapun.
"El, ternyata kamu jahat yaa, setelah kamu mendapatkan apa yang kamu mau, sekarang kamu malah sedang pergi honey moon dengan wanita lain" Ucap Laura dari balik telpon.
El yang mendengar suara Laura, spontan terperanjat tidak percaya, pasalnya dia sudah tidak ingin tau lagi bagaimana kehidupan Laura.
"Apa yang kamu inginkan?" Ucap El langsung to the poin.
"Aku ingin kamu bertanggung jawab atas bayi yang sedang aku kandung El," Ucap manja Laura dan sedikit seksi, hingga membuat El mengeraskan rahangnya.
"Aku tidak pernah menyentuhmu, dan kamu harus ingat satu hal, kita sudah berpisah cukup lama, jadi tidak mungkin kalau sekarang kamu mengandung anak ku" Elak El dengan suara keras.
"Apa kamu masih ingat El, saat kamu pulang dalam keadaan mabuk dari sebuah cafe, dan pada saat malam itu kita pernah melakukannya, bahkan kamu begitu sangat menikmati tubuhku" Laura benar benar membuka semua masa lalu mereka saat di Jerman.
"Stop,! Aku tidak ingin mendengar nya lagi, karena masa laluku sudah hilang dan terkubur saat kamu sudah mulai menghianatiku, dan mendekati pengusaha asal Canada itu" Ternyata El benar benar marah dan langsung membanting handphone nya ke sofa.
Dia segera mengirim email kepada Ilham agar segera menyelidiki semuanya.
Moodnya hilang saat mendengar suara Laura dari balik telpon, dan itu adalah telpon Ilham, bisa di pastikan kalau saat ini Laura sedang ada di sini.
Flashback off
"Jadi seperti itu sayang, semuanya belum terbukti, semoga saja Ilham cepat mendapatkan hasilnya, ByBy bisa jamin kalau itu hanya akal liciknya Laura saja" Ucap El dengan menatap sang istri dan menjeda Ucapan nya.
"Tunggu,! Dari mana kamu tau kalau~" El tidak melanjutkan ucapannya.
"Tadi saat Nana terbangun dan ingin ke kamar mandi, ternyata handphone ByBy bergetar, saat Nana lihat ternyata, nahhmmmpppp" El segera menutup mulut Nasya dengan bibirnya, berharap sang istri tidak melanjutkan ucapannya.
Dan benda kenyal serta dingin pun langsung menempel dan menjelajahi setiap inci rongga mulut Nasya.
El memperdalam ciumannya dengan menahan tengkuk leher sang istri, karena tidak ada penolakan dari Nasya.
"Nafas sayang, nanti kamu kehilangan oksigen," Ucap El setelah melepaskan pagutan nya, seraya mengusap bibir basah Nasya dengan ibu jarinya.
Entah siapa yang memulainya, satu persatu pakaian yang mereka pakai sudah berserakan di lantai, mereka pun melakukan penyatuannya hingga sayup sayup terdengar suara adzan subuh.
__ADS_1
Segera Nasya membersihkan badannya dan mengambil pakaiannya yang berserakan di atas lantai.