Akhirnya Jatuh Cinta

Akhirnya Jatuh Cinta
74. Makan Bersama


__ADS_3

"Raffa, kenapa kamu tidak menginap saja disini, disini juga kan ada kamar kamu Nak, setiap hari bibi selalu membersihkannya, dan barang barang kamu juga masih tetap utuh berada di tempatnya," Kini Ibu mulai membuka suaranya dengan masih menahan tangisnya agar tidak pecah.


"Kasihan Ibumu Raffa, setiap kali dia melintas di depan pintu kamarmu, pasti dia selalu akan teringat dengan kamu, Ayah juga sudah semakin tua, kalau bukan kamu yang meneruskan usaha Ayah, siapa lagi Nak" Kini giliran Ayah yang berbicara mengeluarkan isi hatinya.


Sedang El dan Nasya hanya mendengarkan saja saat kedua orangtuanya berbicara dan memohon kepada Abang nya untuk tetap tinggal disini dan mengelola perusahaan Ayah.


"Maafkan Raffa Ayah, Ibu,! Untuk saat ini Raffa belum bisa menerima dan mewujudkan niat baik kalian, karena Raffa juga baru saja merintis usaha yang Raffa bangun sendiri dari nol, Raffa sangat menghargai niat baik kalian terhadap Raffa, karena Raffa juga tidak punya keluarga lain selain kalian yang sudah menganggap Raffa seperti anak kalian sendiri, jadi, izinkan Raffa untuk bisa berusaha sendiri, kalau memang usaha yang Raffa bangun sudah bisa Raffa lepas, pasti Raffa akan kembali berkumpul lagi dengan kalian disini, Raffa janji.!" Ujar Raffa panjang lebar menjelaskan tentang niatnya yang memang untuk sementara waktu ingin berusaha mandiri terlebih dahulu.


"Baiklah Nak,! Ayah tidak akan memaksa kamu, kapan pun kamu datang dan meminta bantuan Ayah, pasti akan Ayah kabulkan, selagi Ayah masih sanggup untuk membantunya, dan kalau ada waktu luang, tengoklah kami yang sudah renta ini" Ayah memang selalu bijak dalam mengambil keputusan, walaupun Raffa bukanlah darah dagingnya akan tetapi kasih sayang Ayah terhadap Raffa layaknya anak kandungnya.

__ADS_1


Sementara Ibu hanya bisa meneteskan air matanya haru, karena sudah tidak bisa berkata apa apa lagi, bagi Ibu Raffa tetaplah kakak kandung dari Nasya sampai kapanpun.


Nasya yang faham dengan kesedihan Ibunya, segera memeluk Ibunya dari samping, berusaha menenangkan sang Ibu agar tidak terlalu larut dalam kesedihan.


"Nyonya besar, makanan sudah tersedia di atas meja," Sebenarnya bibi ingin memberitahukan sejak tadi, hanya saja dia melihat kondisinya belum benar benar pas untuk memberitahukan kepada majikannya kalau hidangan makanan sudah tersaji.


"Bagaimana kalau sekarang kita makan bersama,?" Ayah segera mengajak anggota keluarganya untuk makan bersama, karena momen seperti ini jarang jarang terjadi.


Walaupun usia Raffa lebih muda dari El, namun El tetap menghormati Raffa.

__ADS_1


"Ibu sengaja membuat menu kesukaan kalian semua, karena Ibu sangat rindu makan bersama seperti ini lagi, bagi Ibu kalian tetaplah anak kecil Ibu, yang selalu berebut lauk saat waktunya makan" Ibu masih teringat akan masa masa kecil Raffa dan Nasya, di saat waktunya makan pasti akan selalu berebut lauk, karena selalu ingin lauk yang sama saat makan.


"Abang, sekarang pimpin doa makan nya" Ayah memang selalu menyuruh Raffa memimpin doa sebelum makan, karena Ayah mengajarkan kelak anak laki laki akan menjadi pemimpin dalam segala hal.


Saat memimpin doa makan, Raffa tidak bisa menahan air matanya, dia teringat akan semua perlakuan baik dari Ayah, Ibu, dan adiknya Nasya.


"Makan yang banyak Nak,!" Lalu Ibu menaruh perkedel di piring Raffa, karena itu adalah makanan kesukaan Raffa.


"By, Nana ingin perkedel juga" Nasya berbisik di telinga El, lalu El segera mengambilkan juga perkedel untuk sang istri.

__ADS_1


Mereka makan dengan hening, tidak ada yang bersuara sepanjang mereka makan, karena Ayah selalu berpesan untuk tidak berbicara saat makan, yang terdengar hanyalah suara dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring.


__ADS_2