Akhirnya Jatuh Cinta

Akhirnya Jatuh Cinta
50. Maternity Shoot


__ADS_3

Tiga hari sudah mereka berada di pulau mahar untuk menikmati bulan madu mereka yang tertunda.


Dan El benar benar tidak memikirkan tentang pekerjaannya, hanya sesekali dia melihat email yang masuk dari Ilham.


Kini mereka sedang menikmati udara malam di pinggir pantai, di bawah cahaya rembulan dan di temani dengan suara ombak serta angin malam.


El merangkul pundak sang istri dengan sebelah tangannya, sedang tangan satunya dia gunakan untuk menggenggam tangan Nasya.


"By, besok jam berapa kita mulai melakukan Poto shoot nya?" Tanya Nasya yang sedang bergelayut manja di pundak suaminya.


"Sepertinya kita melakukannya dari pagi, dan di lanjutkan kembali sore bertepatan dengan matahari terbenam" Jawab El dengan tatapan lurus ke depan melihat lautan lepas.


"Apakah gaunnya sudah di coba?" Tanya El kemudian.


"Belum,! Nana hanya melihatnya sekilas, dan sepertinya warnanya sangat bagus, tidak terlalu mencolok" Ujar Nasya dengan mendongakkan wajahnya di hadapan El.


"Itu semua Mamah yang pilihkan, dan usul ini pun atas ke inginan Mamah yang ingin mengabadikan moment kita saat berada di pulau ini" Ucap El dengan membalas menatap sang istri.


"Ternyata Mamah lebih mengerti, aku saja tidak terpikirkan untuk melakukan Poto shoot di sini" Kini Nasya benar benar telah menghadap El.


"Mamah itu lebih faham dan lebih mengerti kalau mengenai hal hal yang seperti ini, karena dia juga kan pernah mengalami masa muda" Dengan senyum yang tidak pernah luntur dari wajahnya, El menatap sang istri.


"Terimakasih yaa By,! Nana benar benar sangat bahagia, Nana tidak tahu bagaimana membalasnya" Kini Nasya menundukkan kepalanya, dia benar-benar di buat seperti ratu oleh suaminya.


"Jangan bilang seperti itu,semua yang ByBy lakukan tidak seberapa dengan pengorbanan yang kamu berikan untuk ByBy, apalagi mereka yang ada di sini, mereka adalah hadiah yang tidak ternilai untuk ByBy" Dengan mengangkat dagu sang istri dengan ibu jarinya, agar melihat ke arahnya, dan mengusap perut Nasya, El berusaha menenangkan istrinya.


"Semakin malam angin laut akan semakin kencang, lebih baik sekarang kita masuk kedalam untuk mempersiapkan esok hari agar tampil dengan baik dan nanti hasilnya pun bagus" Perlahan El bangkit kemudian merentangkan tangannya ke arah Nasya agar Nasya mudah untuk berdiri.




Setelah sholat subuh, El melakukan joging di sekitar pulau, sedang Nasya tertidur kembali setelah melaksanakan sholat subuh.



Keringat bercucuran di badan El, dengan duduk bertumpu pada lututnya di tepi pantai, El sedang memikirkan langkah apa selanjutnya yang harus El ambil untuk menghadapi Laura.



Mengingat liciknya otak Laura dan orang yang berada di belakang Laura.



'kenapa aku bisa sampai terjebak oleh wanita ular seperti Laura, apa ini adalah hukuman untukku karena dulu aku sempat menolak untuk di jodohkan dengan Nasya yang justru sekarang menjadi pendamping hidupku,' batin El berucap dengan menatap lautan lepas yang ada di hadapannya.



Matahari mulai menampakkan sinarnya, keringat di badannya pun berkurang dan rasa lelah setelah berolahraga hilang, El segera masuk ke dalam untuk membersihkan badannya.



Ceklek



El membuka pintu kamarnya dan melihat kearah kasur, ternyata istrinya masih betah berada di bawah selimut.



Segera El masuk kedalam kamar mandi dan membersihkan badannya.

__ADS_1



Nasya yang sedang tertidur pulas, mendengar suara gemericik dari dalam kamar mandi, segera dia bangun dan dengan perlahan membuka tirai gorden di kamarnya.



Terlihat matahari sudah terang dari luar, dan segera Nasya menuju lemari untuk menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya dan menaruhnya di atas kasur.



Tanpa menunggu El keluar dari dalam kamar mandi, Nasya langsung keluar kamar untuk ke dapur, karena anak anak dalam perutnya sudah meronta minta makan.



"Sedang membuat sarapan apa bi?" Tanya Nasya begitu sampai di dapur dan menghampiri pelayanan yang sedang berkutat di dapur untuk membuat sarapan majikannya.



"Ini Nyonya, hanya membuat nasi goreng seafood dan ayam goreng krispi" Jawab sang pelayan menunjukkan kepada Nasya dan menaruhnya di atas meja makan



"Sini bi, biar saya bantu menata di meja makan" Tawar Nasya segera mengambil peralatan makan dari rak piring.



"Tidak usah Nyonya, ini memang sudah menjadi tugas saya, lagu pula semuanya sudah siap, tinggal menaruh saja di meja makan" Cegah sang pelayan kepada Nasya yang hendak menaruh peralatan makan di meja makan.



"Kalau begitu aku akan buat minuman untuk suamiku, serta susu hamil untuk ku," Belum sempat Nasya mengambil gelas serta susu hamil untuk nya, namun sang pelayan sudah membawakan minuman untuk suaminya dan susu hamil untuk dirinya di dalam nampan dan segera menaruh nya di atas meja.




"Sayang, kenapa hanya berdiri di situ? Kalau memang sudah lapar makan saja duluan, jangan menunggu ByBy" Ucap El dari balik pintu dapur dan segera menghampiri sang istri.



Sontak Nasya membalikkan badannya begitu mendengar suara familiar dari sang suami tercinta, senyum Nasya pun langsung terbit dari wajah cantiknya.



"By, Nana bosan kalau hanya berdiam diri dan tidak melakukan apa apa, Nana sedang hamil, bukan sedang sakit" Adu Nasya saat El memeluknya dan mencium keningnya.



"Memangnya siapa yang bilang kalau kamu sakit? Hmm?" Tanya El yang memang tidak mengerti dengan pertanyaan istrinya itu, seraya mengangkat alisnya.



"Tapi Nana juga ingin memasak untuk makan kita" Nasya berucap dengan menundukkan kepalanya.



"Bukannya tidak boleh, hanya saja ByBy merasa sangat bersalah jika sampai terjadi sesuatu hal yang buruk terhadap kamu dan juga mereka" Ucap El dengan lembut, dan segera menundukkan badannya untuk mencium perut buncit Nasya.



"Bagaimana kabar kalian pagi ini?, Pati kalian sudah sangat lapar? Kalau begitu kita sarapan yaa,! karena setelah ini kita akan melakukan aktivitas yang lumayan lama dan menguras tenaga, tolong bantu Mamih supaya nanti kuat saat melakukan maternity shoot." El mengajak bicara anak anak nya dan benar saja, El mendapat respon dengan tendangan dari anak anaknya dari dalam perut Nasya.

__ADS_1



Dengan menggeser kursi dan menuntun sang istri untuk duduk, akhirnya drama pagi hari ini pun terselesaikan.



Mereka makan dengan lahap dan tanpa ada suara, hingga makanan yang mereka makan pun habis tidak tersisa dan tanpa ada sisa satu butir nasi di piring bekas makan mereka.



Kini Nasya sudah di rias dan sudah menggunakan gaun berwarna blue denim dan kerudung berwarna violet sangat kontras dengan warna kulit putih Nasya.



Sedang El mengenakan kemeja senada dengan celana warna putih sambil memeluk perut Nasya.



Serangkaian acara maternity shoot mereka pun berjalan dengan lancar, dengan di bantu seorang photographer yang handal dan sudah terbiasa menangani rangkaian Poto seperti ini.



"Alhamdulillah, akhirnya sesi pemotretan pertama telah selesai, tinggal menunggu satu lagi, saat sore tiba" Ujar Nasya yang merasakan lelah karena banyak gambar yang harus di ambil saat sendiri ataupun berdua dengan El.



"Lebih baik sekarang istirahat dulu, nanti akan ByBy bangunkan saat season yang kedua" Kini mereka sudah berada di dalam kamar, setelah tadi istirahat untuk sholat Dzuhur dan makan siang bersama dengan perias dan seorang photographer.



"Memangnya ByBy mau kemana?" Tanya Nasya begitu melihat El hendak keluar kamar.



"ByBy ingin mengecek pekerjaan dulu, siapa tau ada email yang penting dari Ilham" El menjelaskan kalau dirinya ingin ke ruang kerjanya sebentar dan mengecek email yang masuk dari Ilham.



"Tapi temani Nana sampai tidur dulu" Sifat manja Nasya mulai keluar dengan menahan pergelangan tangan suaminya.



"Baiklah, jangan kan menemani, ingin yang lebih dari itu juga ByBy sangat siap" Goda El yang sukses membuat Nasya membulatkan matanya sempurna.



"Jangan menggoda ByBy dengan menatapnya seperti itu," Bukannya takut dengan tatapan horor istrinya, El justru terus menggoda Nasya.



"Awwssshhh," El segera mengusap pinggangnya yang di cubit Nasya.



Dengan berbantalkan lengan El, Nasya tertidur pulas, perlahan El menidurkan sang istri dan menutup badannya dengan selimut.



Cup


__ADS_1


Tidak lupa El mengecup kening sang istri dan berlalu meninggalkan Nasya yang sudah tertidur dan berada di alam mimpi.


__ADS_2