
"Lihatlah El, ternyata kalian akan mempunyai sepasang bayi kembar, dan lihatlah dengan jelas, ini adalah jenis kelamin mereka" Jawab Frans dengan memperlihatkan gambar USG di layar monitor dan memberikan titik tepat di daerah alat sensitif kedua anak El dan juga Nasya.
"Alhamdulillah,! Sayang, kita akan mempunyai sepasang bayi kembar," Kini El beralih mencium kening Nasya sembari menggenggam erat jemari sang istri, dan itu tidak luput dari penglihatan Frans dan juga seorang suster asisten Frans.
"Mereka juga sangat aktif dan pertumbuhan anggota badannya hampir sempurna, tinggal menambah berat badannya saja agar saat lahir kelak mempunyai berat badan yang sempurna" Frans juga menjelaskan kalau bayi El dan Nasya saat ini tumbuh dengan sehat.
"Memangnya berat badan bayi saat lahir yang normal berapa Frans?" El langsung bertanya kepada Frans dengan menatap kearah nya untuk mendengar penjelasan nya langsung dari Frans.
Maklum, ini adalah kali pertama pengalaman El dalam hidupnya, menyaksikan sendiri tumbuh kembang bayi yang ada dalam perut sang istri.
"Kalau untuk kasus bayi kembar seperti kalian ini, tidak di tuntut harus mempunyai berat badan yang ideal pada bayi umumnya, cukup dengan memberikan asupan makanan yang bergizi, susu, dan tidak lupa vitamin, agar pertumbuhannya bagus" Jelas Frans yang memang pertumbuhan bayi kembar sangat berbeda, begitupun saat mereka lahir kelak.
Kini Nasya telah selesai di periksa, dan perut Nasya pun segera di bersihkan dari sisa jel yang menempel, oleh suster dengan tisu basah.
Dengan di bantu sang suami dan juga suster, akhirnya Nasya bangun dengan perlahan dan mereka segera menyusul Frans yang lebih dulu duduk di kursi kerjanya, dengan El dan juga Nasya yang tepat berada di hadapannya.
"Ini ada resep yang harus kalian ambil di apotik, dan usahakan kondisi sang Ibu tidak terlalu lelah dan juga stres, ini berlaku untuk semua Ibu yang sedang mengandung, kondisi sang Ibu sangat berpengaruh terhadap perkembangan bayinya" Frans juga menjelaskan seraya menulis resep, kalau bukan hanya perkembangan sang bayi yang di perhatikan, tapi juga kesehatan Ibu juga harus di perhatikan.
El hanya mendengarkan penjelasan dari Frans dengan ekspresi wajah yang tidak suka kala Frans menatap sang istri.
Namun tetap terlihat sangat berwibawa dan elegan, yang biasa dia tunjukkan di hadapan semua orang saat berada di kantor.
Nasya yang mengerti akan ekspresi sang suami, langsung menggenggam erat tangan El yang ada di balik meja kerja Frans, dan menautkan jemarinya dengan jemari sang suami.
Karena El merasa ada yang menyentuh tangannya, El menoleh kearah Nasya dan langsung mendapatkan kedipan mata dari sang istri yang menandakan kalau saat ini mereka sedang ada di rumah sakit.
__ADS_1
"Huffhh" El menghembuskan nafasnya pelan, dan kini beralih merangkul pinggang sang istri.
"Apa di usia kehamilan istriku yang sekarang ini, kami masih bisa melakukan hubungan intim?" El yang memang belum terlalu faham dengan masalah kandungan, mencoba bertanya kepada Frans.
"Khem,! Tentu saja Tuan muda El, bahkan saat trimester akhir dari kehamilan itu sangat di anjurkan, karena itu membantu proses jalan lahir sang bayi" Jelas Frans seraya menyerahkan resep dan sedikit agak tersenyum.
"By" Nasya kemudian berucap lirih, karena merasa malu dengan pertanyaan suaminya itu.
"Tidak ada larangan El dalam berhubungan intim, yang terpenting kondisi sang Ibu merasa rileks dan senyaman mungkin" Lanjut Frans menjelaskan dan sedikit mencuri pandang kearah Nasya.
"Baiklah, terima kasih Frans,!" El langsung berjabat tangan dengan Frans dan bangun, kemudian membantu sang istri yang sudah mulai merasa berat dengan bertambahnya usia kehamilannya.
"Kalau memang nanti ada masalah atau butuh sesuatu, jangan sungkan untuk menghubungiku El, aku siap kapanpun kamu membutuhkannya" Frans pun langsung bangun dari kursi kerjanya untuk membantu membukakan pintu untuk kedua calon orangtua muda tersebut.
"Hati hati di jalan El" Frans memberikan ultimatum kepada El saat mereka berbalik badan dan sudah melangkah.
Sedangkan El hanya mengangkat jempolnya di atas udara kepada Frans.
Sepanjang jalan menyusuri lorong rumah sakit, baik El ataupun Nasya mereka tidak ada yang bersuara.
"Kenapa Ilham malah membuat janji dengan dokter kandungan seperti Frans? Memangnya di rumah sakit ini tidak ada dokter lain apa?" Gerutu El saat mereka sudah ada di dalam mobil.
"Sabar By, jangan hanya melihat orang dari sisi luarnya saja" Nasya yang mendengar sang suami berbicara, langsung menoleh dan menatap El dengan senyum terbaiknya.
"Bukan seperti itu sayang,! ByBy hanya tidak suka saja saat kamu di sentuh oleh laki laki lain, walaupun itu dokter, apalagi sepanjang pemeriksaan, Frans selalu mencuri pandang terhadap kamu" Sifat posesif El mulai keluar, saat tadi Frans sering mencuri pandang terhadap sang istri.
__ADS_1
"Mungkin dia hanya bersikap profesional saja dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang dokter By," Nasya yang mengerti kalau saat ini suami tampannya sedang cemburu, mencoba memberikan sedikit pengertian kepada El.
"Tapi ByBy tidak suka saat Frans terlalu lama menatap kamu, walaupun itu hanya sebatas profesional kerja" El yang masih di Landa rasa cemburu, tetap tidak bisa di ajak kompromi.
"Mungkin, dia juga ngin menjelaskannya kepada Nana" Kini Nasya menggenggam tangan El yang sedang merajuk, berharap emosi sang suami bisa sedikit agak mereda.
Karena jarak rumah sakit dan apartemen tidak terlalu jauh dan hanya membutuhkan waktu 15 menit, kini mobil yang El kendarai sampai di depan apartemen.
"Pelan pelan saja sayang turunnya, jangan terburu buru," Saat ini El sedang membantu sang istri untuk turun dari dalam mobil.
""Pak, tolong taruh mobilku di tempat yang biasa" Titah El kepada petugas apartemen seraya memberikan kunci mobilnya.
"Baik Tuan" Jawab sang petugas apartemen tempat mereka tinggal saat ini.
Tinngg
Lift yang mereka naiki telah terbuka, dengan penuh rasa kasih sayang dan juga lemah lembut, El menuntun sang istri masuk kedalam apartemen.
"Assalamu'alaikum" Ucap mereka saat masuk kedalam apartemen dan melihat Mamah sedang duduk di ruang tamu sambil memainkan ponselnya.
"Wa'alaikumsalam, akhirnya kalian sudah sampai, bagaimana kondisi kedua cucu Mamah?" Mamah yang sedang duduk sambil memainkan ponselnya langsung menoleh kearah sumber suara yang sangat dia tunggu, lalu menaruh ponselnya di atas meja sofa, tidak lupa Mamah bertanya kepada menantunya tentang perkembangan calon kedua cucunya seraya mengusap perut Nasya.
"Nanti saja Mah kalau memang ingin bertanya, karena kami baru saja sampai" El yang masih di Landa rasa cemburu, langsung saja ikut mendaratkan bokongnya di sofa tepat di depan kedua wanitanya.
"Kamu kenapa El?, Apa sepanjang kalian pergi ada yang membuat anak Mamah yang satu ini kesal, hmm?" Mamah yang memang sudah sangat hafal dengan ekspresi sang anak langsung saja bertanya, karena pasti telah terjadi sesuatu sehingga membuat mimik wajah sang anak muram.
__ADS_1