
Setelah semalam Nasya terbangun dan minta di buatkan nasi goreng, akhirnya El menuruti keinginan sang istri yang ikut menunggu El di dapur sambil memakan buah.
Kini El di sibukkan kembali dengan pekerjaannya yang sudah menumpuk untuk segera di selesaikan, karena beberapa hari yang lalu di sibukkan dengan acara resepsi pernikahan.
"Ham, setelah ini kosongkan semua jadwalku, karena aku akan mengantar Nasya ke rumah sakit" Ucap EL setelah mereka keluar dari ruang meeting.
"Memangnya siapa yang sakit El?"Ilham yang memang belum mengetahui bukannya menjawab perintah El, malah dia bertanya kepada El dengan mengangkat wajahnya yang sedang fokus terhadap iPad di tangannya.
"Tidak ada yang sakit, hanya untuk memastikan saja, karena akhir akhir ini sikap Nasya sungguh aneh dan hampir frustasi aku di buatnya" El menjawab pertanyaan Ilham hingga membuat Ilham sedikit bingung di buatnya.
"Maksudnya El?" Karena penasaran Ilham bertanya kembali.
"Kemarin Rey sudah datang ke rumah ku, dan memeriksa kondisi Nasya, dia berpesan agar kami ke rumah sakit untuk memeriksakan lebih lanjut kondisinya ke dokter spesialis kandungan," Ujar El menjelaskan kepada Ilham tentang kondisi yang sebenarnya.
"Alhamdulillah, itu artinya aku akan mempunyai keponakan?" Puji syukur Ilham lalu segera menghampiri El yang sedang duduk di kursinya dan memainkan ponselnya.
"Hmm," Hanya itu jawaban yang El berikan, dan segera mengambil kunci mobilnya dan keluar dari ruangan nya untuk menjemput Nasya di rumah.
"Jangan ngebut El dalam berkendara, karena ada calon keponakan ku di dalam perut Nasya" El segera berbalik badan saat mendengar Ilham sedikit berteriak dan menatap horor dengan menunjukan mata elangnya.
Sedang Ilham langsung masuk kedalam ruangan nya dan segera menutup pintunya.
Setelah El berpamitan kepada Ilham, dia segera meninggalkan kantor untuk menjemput Nasya yang sudah menunggunya di rumah dan memberitahukan Rey kalau dia akan ke rumah sakit setelah jam makan siang.
Nasya yang sedang menata makanan di atas meja begitu terkejut, pasalnya El langsung memeluk nya dari arah belakang.
"By, kenapa Nana tidak mendengar suara ByBy masuk?" Nasya langsung bertanya kepada sang suami yang tengah melingkarkan tangannya di perut sambil sesekali mengusap pelan perut rata Nasya.
"Karena kamu sedang fokus dengan pekerjaan mu, makanya sampai kamu tidak mendengar suara ByBy masuk,! Memang nya sedang masak apa sih?" Ucap El dengan terus memeluk Nasya dari belakang sambil sesekali mencuri kecupan di leher sang istri.
"Sudah selesai sih, ini Nana hanya tinggal menatanya saja di meja" Nasya memutar badannya agar menghadap sang suami dan langsung memeluknya.
"Sayang, ByBy masih bau keringat ini," El berucap karena Nasya langsung menyembunyikan wajahnya di dada sang suami.
"Tapi Nana suka dengan bau keringat ByBy yang baru pulang sehabis bekerja" Bukan nya melepaskan Nasya malah mempererat pelukannya terhadap El.
"Nanti setelah kita pulang dari rumah sakit, bagaimana kalau kita menjenguk Ayah dan Ibu, Nana kangen ingin mengobrol dengan Ibu," Pinta Nasya setelah melepas pelukannya dan menatap El dengan penuh pengharapan yang terpancar dari sorot matanya.
__ADS_1
"Baiklah,! sekalian saja besok kita berangkat ke acara perpisahan sekolahnya dari sana, bukankah jaraknya lebih dekat" El langsung mencubit gemas hidung mancung sang istri dan mencium keningnya.
"Ish, sakit tauk By," Nasya mengusap hidungnya yang terasa agak panas karena ulah El.
"Apakah makanannya sudah siap? Sepertinya ByBy sudah lapar, dan sekarang juga sudah waktunya makan siang" Tanya El dengan melirik ke arah meja makan yang memang sudah tersaji dengan berbagai menu lauk pauk dan melihat arloji yang ada di pergelangan tangannya.
"Sebentar By, biar Nana siapkan peralatan makanya" Belum sempat Nasya bangun dari duduknya, El segera menahan tangan Nasya.
"Biar ByBy saja yang mengambilkannya, lebih baik kamu duduk saja yang manis disini" Cegah El dan langsung bangun untuk mengambilkan peralatan makan untuk mereka.
Segera El meletakkan piring dan mengambilkan nasi serta bertanya kepada sang istri "Ingin lauk yang mana? Biar ByBy ambilkan,!" Tunjuk El dengan ekor matanya melirik ke arah lauk pauk yang sudah tersedia.
"Seharusnya Nana yang bertanya kepada ByBy, dan Nana juga yang melayani ByBy," Lirih Nasya berucap dengan sedikit menundukkan kepalanya.
"Sayang, ByBy juga kan ingin melayani bidadari yang sekarang ada di hadapan ByBy dan sebentar lagi calon Mamah dari anak anak ByBy kelak" El segera mengelus telapak tangan Nasya dan menciumnya serta memeluk Nasya yang matanya sudah mengembun, dengan sekali kedip saja sudah di pastikan akan keluar air mata nya.
"Mulai sekarang, biarkan ByBy melakukan dan melayani kamu semampu ByBy, karena ByBy tidak ingin kamu kelelahan, apalagi sekarang ada nyawa di dalam sini," El mengucapkan kalau dia memang benar benar ingin menjaga dan melindungi Nasya serta anak anaknya kelak seraya mengusap air mata Nasya dan mengelus perut rata Nasya.
Setelah acara drama di meja makan terselesaikan, kini mereka langsung menuju rumah sakit dan menemui dokter spesialis kandungan yang sebelumnya mereka telah membuat janji lewat Rey, karena Rey adalah dokter spesialis bedah dan jantung di rumah sakit itu.
Walaupun El ada saham di rumah sakit tersebut, namun dia tetep mengikuti prosedur dan peraturan yang ada dan berlaku di sana.
"Mungkin dokter Rey sudah menjelaskan tentang kami, jadi kami kesini ingin memastikan lebih lanjut mengenai kondisi yang sebenarnya dokter" Ucap El dengan antusias kepada dokter Arum kalau dia sudah sangat penasaran.
"Baiklah, untuk memastikannya lebih baik sekarang Nyonya naik ke atas dan saya akan memeriksa," Jawab dokter Arum dan segera bangkit dari kursi menuju Nasya yang sudah berbaring di bantu dengan asisten dokter Arum.
Dokter Arum memberi gel dingin di area perut Nasya dan segera berucap "Apakah Nyonya ingat, Kapan terakhir kali Nyonya datang bulan? Dan tanggal berapa Nyonya?" Tanya dokter Arum dengan menggeser alat USG yang terhubung dengan layar monitor.
"Untuk tanggal nya saya lupa dokter, yang pasti bulan ini saya belum mendapatkan menstruasi" Jawab Nasya yang memang belum mengingat kapan terakhir kali dia menstruasi.
"Baiklah, coba Tuan dan Nyonya liat di layar monitor, di sini sudah terlihat dengan jelas kantung janin nya, dan Masya Allah, ternyata bukan hanya satu, melainkan ada dua, lihatlah titik putih di sana, itu adalah kantung janinnya dan detak jantungnya pun bagus, dua duanya dalam kondisi sehat," Ujar dokter Arum menjelaskan kalau ternyata saat ini Nasya memang tengah mengandung bayi kembar.
"Maksud dokter, istri saya mengandung bayi kembar?" Tanya El memastikan setelah dia melihat ada dua buah titik putih di layar monitor, dengan tetap tangannya menggenggam telapak tangan sang istri, sedang Nasya langsung terharu mendengar nya.
"Iya tuan, istri anda mengandung bayi kembar, dan di perkirakan saat ini usia kandungannya sudah memasuki tujuh Minggu," Jelas dokter Arum dan segera dia mencuci tangannya di wastafel dan asistennya membersihkan sisa gel di perut Nasya dengan tisu basah.
"Sayang, kita akan mempunyai Baby twins," Ucap El dengan mencium kening dan tangan Nasya, lalu menuntunnya untuk turun dan duduk kembali di kursi tepat di depan meja dokter Arum.
__ADS_1
"Karena usia kandungannya masih di awal trimester pertama dan Nyonya juga mengandung di usia yang masih sangat muda, jadi saya sarankan untuk selalu menjaga pola makan dan usahakan jangan terlalu lelah, karena mengandung bayi kembar sangat berbeda dengan yang hanya mengandung bayi tunggal," Dokter Arum menjelaskan kepada mereka berdua tentang bagaimana menjaga kehamilannya.
"Apakah ada yang ingin di tanyakan?" Tanya dokter Arum dengan mencatat resep obat.
"Maaf dokter, apakah saya masih boleh untuk melakukan~" El tidak melanjutkan ucapannya, dia hanya memandang sang istri dengan memainkan jari jari tangannya di atas meja.
Namun dokter Arum langsung tersenyum dan faham dengan arah pembicaraan yang El maksud.
"Boleh saja Tuan, asalkan buat Nyonya dalam kondisi yang senyaman mungkin, dan untuk menghindari hal hal yang buruk terjadi, alangkah baiknya Tuan berpuasa dan menunggu di trimester kedua" Jawab dokter Arum dengan senyum dan tutur kata yang ramah dan juga sopan.
"Kira kira berapa lama ya dok?" Tanya El kemudian.
"Mungkin sekitar tiga sampai empat bulan Tuan" Jawab dokter Arum dengan menyerahkan resep obat yang harus mereka tebus di apotik.
"Ini ada resep vitamin untuk Nyonya, dan kalau ada masalah mengenai kehamilan nya jangan sungkan untuk datang kesini" Lanjut dokter Arum berpesan kepada mereka berdua.
"Apakah ada yang ingin di tanyakan lagi?" Dokter Arum memandang kepada kedua sepasang calon orang tua yang ada di hadapannya.
"Sepertinya sudah cukup dok, kalau begitu kami permisi" Kali ini Nasya yang berucap, karena melihat mimik muka sedih yang El tampilan setelah mendengar penjelasan dari dokter Arum, kalau dia harus berpuasa selam empat bulan lamanya.
"Selamat untuk kehamilannya Nyonya, dan jaga baby twins nya agar tetap sehat" Ucapan selamat pun keluar dari mulut dokter Arum sambil bersalaman dengan Nasya dan di susul dengan El.
Saat mengambil resep vitamin, El melarang Nasya untuk ikut, Nasya di suruh menunggu di dalam mobil saja, dengan alasan Nasya tidak boleh terlalu lelah.
"Sayang, Mamih tidak menyangka, ternyata kamu secepat ini hadir di dalam perut Mamih. Pasti Mamah, Ayah, Ibu, sangat senang mendengarnya, akhirnya keinginan mereka di ijabah Allah," Lirih Nasya berucap dengan mengusap perutnya yang masih terlihat rata.
Tidak berselang lama El segera menghampiri sang istri yang sedang menunggunya di dalam mobil dengan satu kantung plastik di tangannya berisi vitamin dari dokter Arum.
"Maaf sayang, karena menunggu lama" El langsung berucap setelah membuka pintu mobil, dan segera masuk lalu duduk di depan kemudi.
"Tidak kok By,! Lagi pula Nana juga sambil berbalas pesan dengan Feby, menanyakan untuk acara besok," Ujar Nasya menaruh ponselnya di dasboard mobil.
"Sayang, apa sebaiknya besok kamu tidak usah datang saja ke acara perpisahan sekolah?" Ucap El sambil mengemudikan mobilnya, setelah mereka keluar dari rumah sakit, dan langsung saja Nasya menoleh ke arah sang suami.
"Memangnya kenapa By?, itukan acara penting di sekolah, dan Nana ingin ByBy, Mamah, Ayah serta Ibu hadir di sana," Nasya mulai merasakan kalau sekarang El sudah mulai posesif terhadap nya.
"ByBy hanya tidak ingin kamu dan juga Baby twins kita lelah, karena duduk yang terlalu lama" El menjelaskan kalau dia tidak ingin Nasya capek.
__ADS_1
"ByBy jangan khawatir, kalau nanti Nana lelah, pasti Nana akan bilang." Ucap Nasya menoleh kearah sang suami yang sedang fokus dengan jalan yang ada di depannya.