
Mamah dan Nasya saat ini sedang berbincang bersama tentang banyak hal seputar kehamilan Nasya.
Mamah juga bertanya untuk acara tujuh bulan nanti yang akan di lakukan di kediaman orang tua Nasya, dan persiapan keperluan calon anak anak Nasya.
"Bagaimana kabar Ayah dan Ibu?" Tanya Mamah di sela sela percakapan mereka.
"Nana belum ada main lagi ke rumah Ayah dan Ibu semenjak pulang dari Baby moon, Mah,!" Jawab Nasya yang memang belum main ke rumah orang tuanya, karena kesibukan mereka sedari pulang dari Baby moon.
"Tidak apa apa sayang, Mamah juga sering komunikasi lewat telpon saja dengan Ibu kamu, karena Mamah juga kan sering ada kunjungan dengan yayasan yang almarhum Papah tinggalkan, dan mereka semua masih sangat membutuhkan Mamah, kamu juga tahu sendiri kan, kalau sekarang El sudah sangat sibuk dengan bisnisnya, jadi biar Mamah saja yang menjalankan tugas untuk meneruskan yayasan peninggalan Papah" Dengan mata sedikit berkaca kaca menahan tangisnya, dan menggenggam jemari tangan Nasya, Mamah menceritakan panjang lebar tentang kesibukannya mengurus semua yayasan peninggalan almarhum suaminya, agar dirinya punya sedikit kesibukan dan aktivitas, mengingat El sudah sibuk dengan segudang aktivitas bisnisnya
"Maafkan Nana Mah, yang belum bisa membantu mengelola yayasan mendiang almarhum Papah," Dengan menundukkan kepalanya, Nasya menahan Isak tangisnya agar tidak pecah di hadapan Mamah mertuanya.
Dengan perlahan akhirnya Mamah memeluk Nasya mencoba saling menguatkan satu sama lain, terlihat bahu Nasya yang bergetar di dalam dekapan Mamah.
"Sudah, tidak usah menyalahkan diri sendiri, ini semua sudah takdir Mamah dan Mamah sekarang sangat beruntung mendapatkan menantu hebat seperti kamu, di tambah sebentar lagi Mamah akan mendapatkan cucu cucu yang lucu yang akan menghibur Mamah di sisa usia Mamah yang sekarang ini" Mamah mencoba menenangkan menantunya dengan mengalihkan pembicaraan agar Nasya tidak larut dalam kesedihan.
Perlahan Mamah mulai mengurai pelukannya terhadap Nasya, dan di lihatnya wajah cantik menantunya walau hanya memakai makeup yang tipis dan hanya memakai piyama hamil lengan panjang sederhana namun elegan, dan itu tidak mengurangi kadar kecantikan Nasya.
"Novi, apa sekarang makan siang sudah siap?' Mamah langsung bertanya kepada Novi yang melintas di hadapannya dan memang hendak memberitahukan kalau makan siang sudah siap.
"Sudah Nyonya besar, dan memang kebetulan saya ingin memberitahukan kalau makanan baru saja tersaji di meja makan" Dengan sedikit membungkukkan badannya, Novi menjawab pertanyaan majikannya.
"Baiklah, sekarang lebih baik kita makan bersama," Dengan menatap menantunya yang sedang membersihkan sisa air matanya, Mamah merapikan baju yang dia kenakan dan setelahnya membantu Nasya untuk bangun dari duduknya.
Berbagai menu makanan pun sudah tertata rapi dan tersaji di atas meja makan mengelilingi nasi yang berada di tengahnya.
"Mah, tidak mengapa kan kalau Nana mengajak Novi untuk makan bersama kita di sini?" Tanya Nasya saat sudah mendaratkan bokongnya di kursi dengan menatap sang Mamah lekat, berharap semoga Mamah tidak keberatan dengan keinginannya untuk mengajak Novi makan bersama mereka.
"Tentu saja sayang, justru Mamah akan sangat senang kalau kita makan bersama-sama, jadi teras lebih nikmat" Mamah langsung menoleh dan menatap Nasya, begitu mendengar keinginan menantunya yang sangat mulia itu.
"Novi, sekarang kamu ikutlah makan bersama kami," Langsung saja Mamah berbicara kepada Novi yang sedang menuangkan air minum kedalam gelas.
"Baik Nyonya besar," Dan langsung di angguki Novi, lalu setelahnya mengambil peralatan makan untuknya.
__ADS_1
Mereka makan dengan hening, tidak ada yang bersuara sepanjang mereka makan, sampai makanan yang mereka makan habis tidak tersisa.
"Alhamdulillah, akhirnya Mamah bisa makan bersama sama seperti ini lagi," Ucap Mamah saat makanan yang dia makan sudah habis di piringnya.
"Nana juga sangat rindu makan bersama sama seperti ini, Mah,!" Nasya pun langsung menyahuti ucapan dari sang Mamah mertuanya saat selesai makan nya.
Setelah mereka selesai dengan acara makan, Mamah dan Nasya berbincang di ruang keluarga, sementara Novi membereskan meja makan.
Tidak berselang lama, El pulang dan betapa terkejutnya dia saat melihat Mamahnya tengah duduk dan posisinya membelakangi El yang sedang terdiam dan tidak melanjutkan langkahnya begitu melihat sosok wanita yang begitu istimewa di hatinya setelah Nasya sang istri.
"Mamah" Lirih El berucap dan perlahan mulai mendekati kedua wanita yang sangat dia cintai.
"Assalamu'alaikum" Sapa El saat berada tepat di hadapannya.
"Wa'alaikumsalam" Jawab serempak Mamah dan Nasya.
Kemudian El mencium punggung tangan Mamah dan di lanjutkan dengan Nasya mencium punggung tangan El sang suami.
"Sekitar pukul 9 tadi Mamah sampai" Jawab Mamah tanpa mengalihkan pandangannya dari melihat sedikitpun kearah El.
"Apa ByBy sudah makan siang?" Kini giliran Nasya yang bertanya kepada sang suami, untuk mencairkan suasana agar tidak terlalu kaku.
"Sudah, tadi setelah meeting selesai di lanjutkan dengan makan siang bersama" El menoleh ke arah sang istri dan menjawab dengan tersenyum.
"Kalau begitu sekarang Nana siap siap saja dulu, aku akan menunggu di sini" El melanjutkan kembali ucapannya seraya melihat arloji yang ada di pergelangan tangannya.
"Baik By, Nana akan masuk kedalam kamar dahulu" Jawab Nasya kemudian bangun dari duduknya.
"Kalau begitu Mamah bantu yaa,!" Akhirnya Mamah memutuskan untuk menemani Nasya.
"Iya Mah, kalau memang Mamah tidak keberatan" Ucap Nasya menoleh kearah Mamah.
Setelah berganti pakaian dengan di temani Mamah, El dan juga Nasya berangkat menuju rumah sakit.
__ADS_1
Tibalah mereka di depan lobi rumah sakit, karena jarak antara rumah sakit dan apartemen tidak terlalu jauh dan hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit sampai.
El langsung bertanya ke resepsionis rumah sakit tersebut dan menjelaskan kalau dirinya telah membuat janji dengan dokter spesialis kandungan.
Tok....tok....tok...
El mengetuk pintu ruangan praktek dokter tersebut.
Ceklek
Pintu terbuka dan seorang suster mempersilahkan mereka untuk masuk kedalam.
"Hai bro, bagaimana kabarnya sekarang?" Tanya Frans saat tatapan mereka bertemu dan di lanjutkan dengan bersalaman, sedang Nasya hanya mengatupkan tangannya di dada.
"Seperti yang kamu lihat sekarang, tadinya aku tidak percaya kalau kamu bekerja di rumah sakit ini" Jawab El setelah mereka duduk di kursi yang ada tepat di depan Frans, dengan menyilangkan tangannya di dada.
"Baiklah, maaf kemarin saat acara pernikahanmu aku tidak bisa hadir, karena sedang ada seminar di Amerika" Tutur Frans meminta maaf kepada El karena tidak bisa datang di acara resepsi pernikahannya.
"Tidak masalah Frans, aku bisa mengerti dengan kesibukan kamu, jadi bagaimana, apa sekarang istriku bisa di periksa?" El mencoba mengalihkan pembicaraan dengan Frans, karena temannya yang ada di hadapannya saat ini sering melirik kearah istrinya dan itu tidak luput dari penglihatan El.
"Oke, sekarang silahkan berbaring ke atas ranjang, biar aku periksa anak kalian" Dengan sedikit terkejut karena sedang melirik Nasya, Frans berbicara sedikit agak gugup.
Dengan di bantu El dan seorang suster yang berjaga menemani Frans, akhirnya Nasya berbaring dan dengan menaikkan selimut ke atas, gamis yang Nasya kenakan pun di buka.
Langsung saja perut Nasya di olesi jel yang terasa dingin untuk melakukan USG.
Mata El pun langsung beralih kearah layar monitor yang memperlihatkan gambar kedua anaknya.
"Lihatlah El, anak anak kalian sangat aktif dan perkembangan mereka pun sangat bagus, apa sekarang kalian ingin melihat jenis kelaminnya?" Tanya Frans saat memutarkan alat USG di atas perut Nasya.
"Apa sekarang sudah bisa terlihat dengan jelas jenis kelaminnya?" Bukannya menjawab, El justru balik bertanya, walaupun sebenarnya dia juga sangat penasaran dengan jenis kelamin kedua anaknya.
"Sebentar, akan aku lihat dahulu, dan sepertinya mereka juga saat ini posisinya sedang bagus, jadi kemungkinan bisa terlihat dengan jelas" Jelas Frans yang sebenarnya sudah bisa melihat jenis kelaminnya.
__ADS_1