
"Kenapa kami harus menikah lagi bapak?", tanya Shofia sedikit panik.
"Shofia tinggal dirumah saya pak", jawab Dika menambahi.
"Bapak mau kalian menikah ulang karena bapak mau menyaksikan sendiri pernikahan kalian dan bapak mau menjadi wali nikahnya", jawab tuan Akbar tegas
"Dan tentu saja Shofia dan kalian harus tinggal bersamaku. Shofia sudah terlalu lama meninggalkan bapak dan bapak mau bersama kalian", jawab tuan Akbar agar keras.
Lalu Shofia memandang Dika minta pertolongan. Tapi Dika juga hanya terdiam tak bisa membantah tuan Akbar.
"Bapak tidak berubah. Bapak selalu ingin memaksakan kehendak bapak.", jawab Shofia terisak.
" Shofia, kamu itu anak bapak satu-satunya. Harusnya kamu mengerti perasaan bapak. Kamu tidak tau sakitnya bapak ketika kamu meninggalkan bapak 4 tahun yang lalu.", ucap tuan Akbar sambil memandang wajah Shofia.
Shofia menangis mendengar perkataan bapaknya.
Shofia tau walaupun bapaknya sangat keras kepadanya tapi bapaknya sangat mencintainya.
"Maafkan Shofia, bapak", ucap Shofia sambil memeluk bapaknya.
Tuan Akbar memeluk Shofia sangat erat.
Kepergian anaknya selama 4 tahun cukup membuat hatinya sangat hancur.
Amarah yang terpendam hilang begitu saja setelah bertemu dengan anaknya.
Apalagi sekarang anaknya sudah menikah dan mempunyai anak.
__ADS_1
Walaupun belum mengenal menantunya itu, minimal tuan Akbar yakin bahwa menantunya itu dapat dipercaya.
"Untuk tinggal dengan bapak sepertinya tidak bisa pak. Mungkin kami bisa menginap sesekali di rumah bapak.", kata Dika sedikit takut membantah perkataan tuan Akbar.
"Nanti kita bicarakan itu lagi. Sekarang mari kita ke rumah Shofia. Bibimu sudah memasak makanan kesukaanmu dirumah.", kata tuan Akbar sambil merangkul anaknya.
Mereka menaiki mobil masing-masing menuju ke rumah tuan Akbar yang terletak di kawasan Mampang.
Sesampai disana bibi dan keponakannya yang lain sudah menyambutnya begitu juga Tari sahabat Shofia.
"Shofia sayang.......", panggil bibinya saat Shofia turun dari mobil.
"Bibi......", Shofia langsung berlari ke arah bibinya.
"Shofia, bibi kangen banget sama kamu. Akhirnya kamu pulang nak", bibi segera memeluk Shofia.
Kemudian bergantian melepas rindu dengan sepupu-sepupunya yang lain termasuk Nino yang sebenarnya tadi sudah bertemu di cafe.
Tapi belum ada kesempatan untuk berbincang dengan Shofia.
Tari yang sudah tidak sabar ingin ngobrol dengan Shofia pun belum ada kesempatan untuk berbincang dengan Sahabatnya itu karena masih banyak orang.
"Kenalkan ini Dika, suami Shofia dan ini Angelina adiknya Dika. Serta yang paling ganteng ini Zidan", Shofia memperkenalkan Dika, Angie dan bayinya kepada bibi dan keponakan-keponakannya.
Mereka sangat terpukau dengan kegantengan Dika dan kecantikan Angelina apalagi yang paling menggemaskan adalah Zidan.
Kemudian mereka masuk ke dalam rumah dan menyantap makanan yang sudah disiapkan oleh bibinya. Ada sayur asam, ikan goreng nila, tahu tempe goreng, ayam goreng lengkuas, lalapan, dan sambel terasi yang merupakan makanan favorite dari Shofia.
__ADS_1
Setelah makan, mereka berkumpul diruang tengah untuk ngobrol.
"Hi namaku Nino, sepupu Shofia", ucap Nino saat ada kesempatan mendekati Angelina.
"Angelina panggil aja Anggie", balas Angelina sedikit malu-malu.
"Kamu masih kuliah?" tanya Nino.
" Iya masih" jawab Angelina lagi.
"Oh sama dong. Tapi...." belum selesai Nino bicara ibunya memanggil untuk meminta bantuan.
"iyaa buuuu...Maaf yaa nanti kita sambung lagi." ucap Nino sedikit kecewa karena kesempatan untuk mendekati Angelina hilang.
Angelina hanya mengangguk.
Dika duduk di sofa bersebelahan dengan tuan Akbar.
"Inilah rumahku istanaku. walaupun tidak terlalu besar tapi sangat nyaman tinggal disini." ucap tuan Akbar memamerkan rumahnya yang sebenarnya tidak besar tapi tidak kecil juga.
Dengan dengan 5 kamar tidur itu cukup asri dan luas. Walaupun mungkin cuma 1/5 luas rumah Dika tapi terlihat sangan nyaman dan bersih.
"Bapak masih berharap kalian mau tinggal bersini bersama bapak". ucap tuan Akbar lagi.
"Tapi pak, Saya rasa belum saatnya karena kami juga baru datang dari inggris dan keluarga saya tentu saja tidak akan mengijinkan kami untuk pindah dari rumah." jawab Dika berusaha meyakinkan tuan Akbar.
" Baiklah bapak akan bersabar. Tapi bapak ingin kalian menikah ulang secepatnya. bagaimana kalo minggu depan?" tanya tuan Akbar.
__ADS_1