Aku Bukan Gadis Kecil, Om!

Aku Bukan Gadis Kecil, Om!
08. 6 tahun kemudian!


__ADS_3

"Jeniffer, bangun sayang udah jam setengah 6 pagi, ntar kamu telat sayang." kata Camelia sambil menepuk pelan pipi sang cucu. Namun alih-alih gadis itu bangun yang ada malahan dia kembali menggeliat dan melanjutkan tidurnya.


"Jeni, cepat bangun." pada percobaan keduanya, Camelia mengguncang keras tubuh Jeniffer yang hanya di tanggapi oleh dengkuran halus dari bibir gadis yang setengah terbuka itu. Wajah cantik yang sayangnya saat tidur tidak ada anggun-anggunnya.


Camelia mulai meradang, dengan cara apa lagi kah dia harus membawa Jeniffer keluar dari alam mimpinya untuk ini. Wanita tua itu memijit pangkal kepala yang terasa pusing akibat kelakuan sang cucu.


Wanita yang tahun ini genap berusia 52 tahun itu pun akhirnya menyerah membangunkan sang cucu, lebih baik dia meminum jus timun dulu untuk mengurangi rasa tegang yang mulai terasa di kepala.


Jorgie yang sedang duduk memandangi layar tabletnya pun sampai terkejut saat Camelia meletakkan dengan kasar gelas jus yang yang baru selesai di tandaskan olehnya.


"Mama, ada apaan sih. Buat Jorgie kaget aja." Jorgie pun melayangkan protes kepada sang ibu yang hanya menatapnya tajam.


"Mama bangunin Jeniffer ga bangun-bangun itu anak. Padahal ini hari pertamanya masuk kelas 2 SMP, mama takut dia telat dan ga sempet sarapan." keluh Camelia yang hanya di tanggapi oleh anggukkan oleh sang putra.


"Mama ga canggih nih bangunin Jeniffer. Sini biar Jorgie yang bangunin itu anak. Oh iya ngomong-ngomong papa mana koq belum keluar dari kamar?" tanya Jorgie sambil celangak celinguk mencari keberadaan Stanley.


"Papamu di kamar. Lagi sedih karena sekertaris kesayangannya resign."


"Aster, maksud mama?" tanya Jorgie.


"Memangnya sekertaris papa mu ada berapa? Cuma satu kan." sindir Camelia yang hanya di balas senyuman canggung oleh Jorgie


"Aster lagi hamil koq jadi makin galak ya ma? Masa hampir semua orang kantor di marahin. Ada yang karena lipstik nya warna Oren gonjreng, ada yang karena nada dering telepon lagu sinetron ikan terbang dan masih banyak lagi. Jorgie jadi pusing ngadepin itu anak. Kaga hamil aja galak ini galaknya kuadrat." tanya Jorgie heran.


"Ya namanya hormon hamil gitu. Jadi mesti ngertiin." ucap Camelia memberi pengertian.


"Jorgie ngerti koq ma, sampai-sampai Aster minta Jorgie buatin teh hangat manis juga Jorgie buatin." Camelia hanya dapat tertawa saat mendengar keluhan dari sang putra.


"Tapi memang Aster itu sekertaris papa mu yang ga paling neko-neko. Ga kegenitan, pinter dan pastinya pawang kalian berdua di kantor kalau lagi kumat ego masing-masingnya."

__ADS_1


"Ekh iya, tadi mau bangunin Jeniffer kenapa malah ngobrol. Cepat bangunin Jeniffer, mama mau bujuk papa biar ga sedih lagi." Jorgie pun langsung menuruti sang ibu untuk membangunkan keponakannyanya.


Jorgie hanya menggeleng saat melihat sang keponakan yang seperti belatung nangka posisinya saat tidur. Wajah Jeniffer sudah berada di bawah lantai dengan kedua kaki yang masih menempel di tempat tidur.


"Jeniffer Sukmajaya, cepat bangun atau om sita semua gadget kamu biar kamu ga bisa live live di akun medsos kamu." Jeniffer langsung membuka matanya saat mendengar semua gadgetnya akan di sita, gadis itu berusaha bangkit dari tempat tidurnya.


Gedubrak


Alhasil, tubuh Jeniffer kini sepenuhnya mencium lantai membuat sang om tertawa kencang melihat sang keponakan yang mengaduh.


"Aqiu Jorgie. Jangan di sita ya gadget Jeni. Ini Jeni udah bangun koq." ucap Jeni sambil ndusel-ndusel di lehernya Jorgie layaknya seekor kucing.


"Makanya cepetan bangun. Biar ga aqiu sita gadget kamu. Lagian followers kamu ini ga ketipu apa dengan aslinya kamu ya. Kamu sering endorse produk untuk cewe, padahal kelakuan kayak cowo." ucap Jorgie dengan wajah yang di buat-buat seakan marah.


"Jorgie, Jeniffer! Cepat turun, jangan ngobrol terus, ntar Jeni telat kesekolahnya." teriakan Camelia yang menggelegar membuat keduanya seketika ciut. Jorgie langsung melangkah keluar dari kamar sang keponakan sementara Jeniffer langka ke arah kamar mandi yang memang ada di dalam kamar gadis itu.


10 menit waktu yang dibutuhkan gadis itu untuk mandi dan berganti seragam sekolah itu Jeniffer melangkah keluar untuk sarapan. Stanley pun sudah duduk manis sambil menyantap nasi gorengnya.


"Maaf, pho. Kemarin jenny live IG sampai jam 02.00 pagi sekalian iklan produk yang endorse."


"Memang uang jajannya kamu kurang apa sampai ngambil kerjaan jadi selebgram. Pokoknya phopho ga mau dengan laporan dari sekolah kamu berbuat ulah. Kelas 1 kemarin sampai ada teman kamu yang pingsan anak kamu masukin kodok dalam tasnya. Heran anak gadis kenapa kelakuannya kayak laki begini sih." Camelia masih melanjutkan ocehannya.


"Nah, tadi Jorgie juga bilang sama Jeni, memangnya follower dia nggak ketipu kelakuan kayak laki tapi iklanin produk buat cewek banget." cibir Jorgie.


"Sudah, jangan bertengkar di meja makan. Cepat kamu sarapan dan pergi sekolah." Stanley menghentikan perdebatan ketiganya dengan memerintahkan Jeniffer untuk sarapan.


***


"Ingat jangan berbuat ulah. Phopho udah senewen ngadapin kelakuan kamu. Tahun kemarin phopho sampai 20 kali dipanggil sekolah karena kamu bandel." Jorgie memberi nasehat saat menghentikan mobil di depan sekolah keponakannya.

__ADS_1


"Aku nggak bandel kok aku cuman membela diri. Lagian siapa suruh julid duluan." ucap Jeniffer dengan rasa penuh kekesalan.


"Julid gimana maksud kamu?" tanya Jorgie.


"Ya pakai ngatain Jeni ini ga punya orang tua." Jorgie hanya terdiam saat Jeniffer mengatakan itu , dia tidak tahu harus mengatakan apa.


"Ya, tapi ga perlu sampai ngerjain temen kamu kan?" tanyanya lagi.


"Ya tergantung, kalau mereka ga duluan iseng dan cari gara-gara ya ga akan Jeni balas."


Kring


"Buruan itu bel sekolahnya udah bunyi. Oh iya, ini uang jajan kamu." ucap Jorgie sambil mengulurkan selembar uang seratus ribuan yang di terima gadis itu dengan mata berbinar.


"Makasih aqiu." teriaknya sembari lari ke dalam gedung sekolah.


***


Jeniffer menatap malas 4 orang geng gadis manja yang ternyata sekelas lagi dengannya di kelas 2 ini. Sepertinya setahun ke depan akan ada hal menarik yang Jessi pertunjukan kepadanya untuk membalas semua orang yang mengganggu dirinya.


Jessi adalah pribadi kedua yang tercipta saat kebakaran di villa Sukmajaya terjadi. Jeniffer yang waktu itu berusia 7 tahun sangat syock mengetahui yang menculik nya adalah Verry yang adalah ayah kandungnya bahkan pria itu mencoba untuk menyingkirkan dirinya.


Karena tekanan yang begitu hebatnya diterima oleh gadis sekecil itu membuat mentalnya tidak kuat dan melahirkan pribadi yang bernama Jessi yang jahat dan tidak kenal ampun dalam membereskan segala hal yang tidak mampu di lakukan oleh Jeniffer.


Selama 6 tahun terakhir, gadis kecil itu menyembunyikan apa terjadi pada dirinya dan berhasil mengelabui para dokter yang memeriksa kondisi luka gadis itu saat di temukan pingsan dalam kebakaran.


'Jessi, gua serahkan keempat orang itu sama lo. Beri pelajaran kalau mereka mulai mengganggu gua.' ucap Jeniffer dalam hatinya seakan Jessi dapat mendengarnya.


"Eh, dengar-dengar tahun ini ada murid kelas 1 yang nama belakangnya sama loh sama Jeniffer."ceplos salah satu dari keempat gadis itu membuat Jeniffer menajamkan pendengarannya.

__ADS_1


"Iya namanya Edward Sukmajaya."


Jeniffer dalam hatinya itu adalah nama adik tirinya. Sepertinya rencana untuk membalas dendam akan di mulai dari sekarang.


__ADS_2