
Leo tidak menyangka jika akan bertemu dengan Jeniffer di restoran khas Jepang ini. Tapi yang membuatnya kesal adalah kenapa Joseph bisa ada juga bersama gadis itu. Apakah mereka berdua sedang kencan. Berarti dia harus mengacaukan acara mereka hari ini dan tidak akan meninggalkan Jeniffer dengan Joseph.
"Hey, boleh duduk di sini?" tanya Leo yang pura-pura tidak tahu akan keadaan.
Jeniffer mendengkus sesaat, untungnya di sebelahnya sudah dia taruh tas jadi tempat yang tersisa adalah di sebelah Joseph.
"Lo udah duduk ya, ngapain tanya lagi?" ucap Jennifer menyindir. Gagal sudah bayangannya untuk berduaan dengan Joseph bila pemuda ini merecoki mereka berdua.
"Kenapa gua mesti duduk di tempat lain kalau ada yang gua kenal di sini?" tanya Leo dengan nada menyebalkan menurut Jeniffer.
"Ckckck, ya udah duduk aja, Om udah belum makannya?" tanya Jeniffer dengan nada ketus.
"Sudah, ayo kita pergi," ucap Joseph yang menangkap kekesalan Jeniffer.
Leo terkesiap saat keduanya meninggalkan restoran ini, namun segera pergi dan meninggalkan makanan yang masih bersisa juga tidak mungkin dilakukan.
"Ah, bioskop, pasti mereka di sana sekarang," gumam Leo yang baru menyadari arah langkah Jeniffer yang masih terlihat di luar restoran.
Dengan cepat Leo menghabiskan makannya dan menuju ke bioskop yang terletak di lantai paling atas pusat perbelanjaan ini. Dalam hatinya dia memikirkan film apakah yang keduanya nonton sebentar lagi.
Leo memindai keadaan bioskop dan menemukan Joseph yang sedang membeli popcorn serta minuman untuknya dan Jeniffer. Tanpa suara pemuda itu mengamati tingkah laku keduanya, terlihat sekali jika Joseph memiliki perasaan terhadap Jeniffer dan gadis itu memperlakukan pria berkemeja biru navy itu sebagai seorang Om saja.
Dalam hatinya, Leo bersorak gembira karena merasa masih memiliki kesempatan untuk merebut hati Jeniffer dan menyakinkan jika berpacaran dengan yang seusia akan lebih menyenangkan dari pada yang lebih tua dari Jeniffer.
Suara pengumuman dari teater 2 menyadarkan Leo jika film romantisnya yang dipilih oleh keduanya. Leo segera menuju kasir dan membeli 1 tiket yang hanya ditanggapi oleh nada prihatin oleh mbak kasir yang menganggapnya baru patah hati dan melampiaskan dengan menonton film bergenre ini.
"Di mana ya mereka nonton?" ucap Leo saat memasuki studio itu. Namun sampai lampu dimatikan pemuda itu tidak menemukan tempat duduk Jeniffer.
"Ya sudah nonton aja deh dan gitu mau abis langsung keluar biar tahu kapan mereka keluar," gumam Leo berbisik karena film sudah dimulai setelah beberapa iklan ditayangkan.
__ADS_1
***
Joseph yang melihat Jeniffer mulai hanyut didalam film tidak berkomentar apapun. Dalam pikirannya, Joseph merencanakan hal lain selepas film ini berakhir. Apakah akan tetap di mall ini ataukah pergi ke tempat lain? Jatah jam pulang Jeniffer masih cukup panjang yaitu jam 9 malam tapi dia tidak akan menghabiskan jatah itu. Mungkin jam 7 malam dia harus memulangkan gadis itu ke rumah kakak iparnya.
"Om, lihat deh ceweknya sedih banget pas cowoknya tinggalin dia ke luar negeri. Mana lagi hamil pula," ucapan Jeniffer menghentak kesadaran Joseph dan memusatkan perhatiannya ke layar lebar itu.
Perasaan Joseph film baru dimulai, mengapa langsung ada adegan seorang wanita yang berderai air mata karena ditinggalkan pria yang dicintainya. Dan Jeniffer benar wanita itu sedang hamil, apakah dia melamun dan melewatkan banyak adegan? Tanyanya dalam hati.
Barulah pada menit-menit berikutnya, Joseph sadar jika pertengahan film ini memakai alur masa lalu yang menceritakan awal pertemuan antara kedua tokoh utama kemudian saling jatuh cinta.
'S*it! Ini film rate-nya 21+++ rupanya, salah ajak Jeniffer nonton,' umpatnya dalam hati.
"Jeniffer, tutup mata kamu, Adegan ini belum pantas kamu lihat," tegur Joseph dengan dingin saat ada adegan intimate di area privat seperti kamar tidur.
Meskipun bingung, Jeniffer mengikuti juga apa yang diperintahkan Joseph tapi suara-suara aneh yang diciptakan antara kedua tokoh utama mau tak mau menimbulkan rasa ingin tahu dan dia membuka sedikit mata lalu terbelah karena kedua adegan yang secara nyata terlihat.
"Argggghhh!" tanpa sadar Jeniffer berteriak yang langsung disambut oleh suara penonton lain yang kesal akan keributan yang ditimbulkan oleh gadis itu.
"Om, masih adegan nganu enggak?" tanya Jeniffer berbisik dan mata terpejam.
"Masih, kamu lihat popcorn aja sambil makanin juga," ucap Joseph yang menyodorkan kemasan popcorn itu ke arah Jeniffer.
"Enak juga popcornnya, asin pedas," komen Jeniffer saat selesai mengunyah.
"Saya juga mau, minta ya," ucap Joseph kembali.
"Om aneh tanyanya, ya kan popcorn ini Om yang beli dan lagi banyak loh Om ini," ujar Jeniffer sambil tertawa.
"Memang bener kamu bilang, popcornnya enak," ucap Joseph yang malah asyik memandang wajah Jeniffer.
__ADS_1
"Ntar boleh beli lagi, enggak Om yang rasa ini pas kita pulang?" tanya Jeniffer penuh harap.
"Boleh," ucap Joseph yang langsung mencomot popcorn yang ada dipangkuan Jeniffer.
Namun seperti adegan klise yang muncul dalam drama romantis, kedua tangan mereka bersentuhan dan menimbulkan efek tersengat pada keduanya. Alih-alih Joseph menarik tangannya malahan pria itu menggenggam erat tangan mungil Jeniffer dan membawanya ke bibirnya.
Jeniffer terkesiap sekaligus merasa dadanya berdegup dengan kencang saat kumis tipis Joseph menyentuh punggung tangannya. Pikiran liar pun seketika muncul dalam benak gadis remaja itu. Bagaimana jika kumis tipis itu yang menyentuh bibirnya. Apakah dadanya juga akan bereaksi sama?
"Kamu kenapa?" tanya Joseph yang masih menggenggam erat tangan mungil Jeniffer yang mulai terasa dingin bagi Joseph.
"Ih, harusnya aku yang tanya kenapa Om pegang tanganku terus. Memangnya aku bakal hilang apaan?" tanya Jeniffer kesal.
"Iya, aku takut kamu bakal hilang dan dia yang akan menguasai pikiran kamu. Maka dari itu aku tidak mau melepaskan tangan ini," ucapan Joseph menciptakan getar-getar didalam hati Jeniffer.
"Om, apa Om tidak jijik sama aku karena memiliki kepribadian yang menyimpang?" tanya Jeniffer lirih.
"Tidak ada asap jika tidak ada api, kamu seperti ini juga bukan kesalahan kamu semata. Aku tidak masalah kamu punya berapa kepribadian asalkan tetap menjadi Jeniffer saat bersamaku," kata Joseph dengan nada tegas.
"Jadi artinya apa ini, Om?" tanya Jeniffer yang mempertanyakan hubungan mereka pada Joseph.
"Artinya aku suka kamu, aku mau tunggu kamu dewasa dan mencapai usia ideal untuk menikah. Tidak masalah mau 10 tahun pun," Jeniffer langsung menangis saat mendengar pernyataan cinta dari Joseph yang jauh dari kata romantis.
"Jadi sekarang kita pacaran," ucap Joseph sambil mengusap air mata Jeniffer dengan kedua ibu jarinya.
Para penonton yang berada di sekitar mereka akhirnya malah salfok dengan adegan romantisme yang disuguhkan secara nyata dan melupakan film yang sedang ditayangkan di layar lebar itu.
"Om, koq jahat banget sih?" tanya Jeniffer yang masih menangis..
"Aku jahat dari mananya?" tanya Joseph yang masih merangkum wajah Jeniffer dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Om koq keren banget sekarang, kelihatan makin ganteng pula," Joseph hanya tertawa lalu membawa gadis itu ke dalam dekapannya.
Mungkin benar kata Karina, selama ini dia terlalu fokus dengan pekerjaannya sehingga mungkin sudah melewatkan beberapa gadis yang seharusnya datang dan mewarnai hari-harinya. Andai saja Jeniffer tidak berani untuk mendekati dirinya, mungkin Joseph akan melajang selamanya.