Aku Bukan Gadis Kecil, Om!

Aku Bukan Gadis Kecil, Om!
79. Gilda yang berulah kembali


__ADS_3

Jeniffer tidak sadar kalau ada beberapa pasang mata yang mengamatinya dengan raut wajah penuh kebencian dari luar kafetaria karena terlalu bahagia karena baru saja jadian dengan pria pujaan hatinya. Bahkan Jessi juga seakan 'tidur' sejak Joseph menjemput Jeniffer di apartemen Jorgie.


"Biarkan saja dulu anak sial itu menikmati hari-hari terakhirnya bersama dengan keluarga perempuan yang sudah mati itu. Kita harus cepat menentukan langkah yang tepat agar dia cepat tersingkir," ucap Gilda dengan nada sinis kepada Verry.


"Bagaimana caranya, Ma? Jujur saja aku sudah mulai tidak nyaman karena mukanya yang semakin lama mirip Meylani," kata Verry sambil memandang nanar sang putri.


"Kita suruh orang culik saja anak sial itu, kali ini kita harus pakai tenaga yang profesional bukan yang ecek-ecek," sahut Gilda setelah berpikir beberapa saat.


"Memang Mama punya kontak orang yang mau melakukan pekerjaan kotor?" tanya Verry dengan nada bingung.


"kamu jangan meragukan Mama yang sudah lebih lama hidup dari kamu, tentu saja Mama tahu kontak orang-orang seperti itu," kata Gilda yang langsung mengambil ponselnya yang dia letakkan di dalam tas berwarna hitam.


Verry menunggu dengan tenang sang ibu yang menghubungi seseorang dan mereka akan melakukan janji temu pada besok hari di restoran XXX pada jam 11:30 siang. Tadinya Verry tidak ingin ikut tapi tatapan mata Gilda mengisyaratkan jika dia tidak boleh menolak.


"Ayo kita pulang sekarang, Mama sudah capek." titah Gilda yang langsung dituruti oleh Verry


***


Joseph sebenarnya melihat dengan tidak ketara dua orang yang mengawasi Jeniffer dengan mata penuh kebencian dan setelah dia menajamkan penglihatan pemuda itu terkesiap saat mengenali bahwa kedua orang itu adalah Gilda dan Verry.


'Sepertinya aku harus meretas semua alat komunikasi milik keluarga Sukmajaya,' kata Joseph dalam hatinya.


"Om Joseph koq bengong aja sih, capek ya?" pertanyaan Jeniffer menghentak kesadaran Joseph dan membawanya keluar dari lamunannya.


"Aku enggak capek koq, tadi ngelamun karena lihat muka kamu yang cantik," ucap Joseph yang membuat Jeniffer tersipu.


Tidak, Joseph tidak menggombali Jeniffer. Dia mengatakan apa yang memang terlintas dalam pikirannya. Gadis yang duduk di depannya ini amat cantik sehingga membuat Joseph tidak dapat mengalihkan perhatiannya.


"Om sejak kapan jadi romantis gini?" tanya Jeniffer dengan wajah yang semakin merah seperti tomat matang.


"Masa aku ngomong kamu cantik dibilang romantis? Gimana kalau aku bilang kamu manis dan lucu?" ucap Joseph yang tidak tahan untuk menggoda sang pacar.


"Ah, Om Joseph!" pekik Jeniffer sambil memegang kedua pipinya yang rasanya menghangat.


Joseph yang gemas langsung menyingkirkan tangan kanan Jeniffer dan mencubit pipi sang kekasih yang membuat gadis itu melotot.

__ADS_1


"Kamu cantik banget, Jeni," ucap Joseph sambil menggenggam tangan kanan Jeniffer.


Deggghh


Jantung Jeniffer rasanya berlompatan saat mendengar perkataan Joseph, mungkin saja kalau pria lain yang mengatakan dia cantik, gadis itu akan marah besar. Tapi ini kan Joseph, jadi tidak masalah.


"Om, aku habisin dulu kue dan minumannya, enggak kenyang aku kalau makan gombalan Om," Joseph tertawa saat mendengar perkataan Jeniffer barusan dan bertekad akan melindungi gadis ini dari ancaman yang mungkin sebentar lagi akan terjadi.


"Iya habis ini aku mau ajak kamu ke tempat lain mumpung masih sore," ucap Joseph sambil mengusap lembut rambut Jeniffer.


***


Ternyata Joseph mengajak Jeniffer ke pantai, meskipun banyak sampah dan orang-orang yang mendatangi tempat ini tidak masalah. Karena niat Joseph hanya ingin melihat matahari yang tenggelam di lautan. Suasana ini pasti romantis dan aman bagi keduanya akibat banyaknya orang yang berlalu lalang. Biar bagaimanapun Joseph adalah pria dewasa yang belum tentu dapat mengendalikan has*atnya setiap saat.


"Om, langitnya cantik banget!" ucap Jeniffer setengah berteriak saat sang sury mulai tenggelam ditelan laut.


"Iya makanya aku ajak kamu ke mari, ntar setelah mataharinya benar-benar terbenam kita makan malam terus pulang. Sudah terlalu lama aku ngajak kamu keluar," ucap Joseph yang sedang menggenggam erat tangan Jeniffer.


Sebenarnya dia ingin merangkul tubuh mungil Jeniffer, tapi Joseph belum berani untuk melakukannya. Meskipun dia yakin jika sang pacar tidak akan keberatan jika dia melakukan hal itu. Tetap saja dia harus menjaga gadis itu bukan?


"Om, mataharinya udah bener-bener tenggelam, kita makan malam dulu yuk. Aku udah ngerasa capek mau pulang dan tidur," Joseph baru menyadari mata kantuk Jeniffer saaumt gadis itu merengek.


***


Jorgie dan Aster yang melihat ada pancaran cinta dari kedua orang itu hanya tersenyum saja. Akhirnya usaha Jeniffer membuahkan hasil dengan terbalaskan perasaannya.


"Om, sana pulang, aku ngantuk mau tidur habis mandi," bahkan Aster tidak dapat menahan senyumnya saat mendengar rengekan manja yang keluar dari bibir Jeniffer dan Joseph yang terus membelai lembut rambut panjang gadis muda itu.


Setelah Jeniffer masuk ke kamarnya, Joseph mengatakan apa yang dilihatnya saat berada di kafetaria tadi siang.


"Dasar keluarga gila, kayak enggak ada puasnya cari masalah buat nyingkirin Jeniffer," mata Jorgie dengan geram.


"Terus kita mesti ngapain? Mereka seakan enggak mau lepasin Jeniffer begitu saja," tanya Aster dengan nada khawatir.


"Kita mesti perketat pengawasan kepada Jeniffer, alat GPS yang terpasang di tubuhnya harus lebih banyak. Kalau perlu di anting-antingnya juga ada alat pelacak itu," jawab Joseph setelah berpikir sejenak.

__ADS_1


"Oke, ntar aku pesan anting-anting itu secepatnya," ucap Jorgie.


"Ya sudah aku cuma mau bilang itu aja, Ko, Kak aku pulang dulu ya," pamit Joseph kepada sang kakak dan kakak iparnya.


***


Gilda dan Verry yang sedang menunggu beberapa orang di restoran XXX hanya dapat memandang bosan pemandangan dari restoran yang menurut mereka ini biasa saja. Dengan geram Verry mengetuk jarinya di meja dan bertanya kepada sang ibu.


"Kapan mereka datang, ini sudah lewat 15 menit dari waktu yang dijanjikan," kata Verry dengan nada kesal.


"Sabar, barusan mereka kabarin kalau ada sedikit urusan mendadak jadi sedang dalam perjalanan," ucap Gilda sambil meminum teh hangatnya.


"Enggak profesional banget sih jadi orang," gerutu Verry kembali.


10 menit dilewati Verry dengan menahan kesal tapi saat melihat penampilan beberapa orang pria berbadan besar dan tegap membuat nyalinya menciut dan hanya dapat terdiam.


"Jadi apa tugas yang harus kami lakukan?" tanya salah satu pria yang sepertinya adalah ketua mereka.


"Kalian harus menculik anak perempuan ini," ucap Gilda sambil menyerahkan selembar foto Jeniffer yang diperolehnya dari sosial media gadis itu.


"Anak ini sangat cantik sekali, siapa namanya?" tanya sang ketua itu lagi dengan raut wajah menyeringai licik dan Verry menyadari arti tatapan mata itu.


"Jeniffer Sukmajaya," jawab Gilda yang membuat sang ketua mengernyit heran.


"Sukmajaya? Bukannya itu nama keluarga kalian?" tanyanya lagi.


"Iya dia memang keluarga Sukmajaya, tapi semenjak kelahirannya keluarga kami selalu berada dalam masalah.


"Berarti kalian mau menyingkirkannya setelah kami berhasil menculiknya?" tanya sang ketua memastikan.


Verry semakin resah saat melihat raut wajah beberapa pria yang menatap bir*hi terhadap Jeniffer. Meskipun dia tidak menyukainya tapi membayangkan sang putri akan menjadi objek pelampiasan na*su be*at beberapa pria ini membuat egonya sebagai ayah tersentil.


Mungkin kali ini Verry akan bertentangan dengan keluarganya untuk menyelamatkan peninggalan satu-satunya dari Meylani. Tekadnya dalam hati.


"Verry, kamu setuju enggak kalau anak sial itu kita culik saat sepulang sekolah?" pertanyaan Gilda membuat Verry terkesiap.

__ADS_1


"Terserah Mama saja," akhirnya itulah kalimat yang diucapkan oleh Verry agar tidak menimbulkan kecurigaan Gilda.


Gilda langsung tersenyum licik saat membayangkan Jeniffer yang selama ini dibencinya akan segera lenyap dari alam ini. Sepertinya perpecahan antara keluarga Sukmajaya akan segera dimulai.


__ADS_2