
Jeniffer yang masih di alam bawah sadarnya sayup-sayup mendengar suara Joseph yang berat namun amat menenangkan untuk jiwanya. Karena itu dia berusaha sekeras mungkin untuk mencari jalan keluar dari ruangan yang di penuhi dengan kegelapan dan hampa ini dengan mengikuti suara dari Joseph.
Di persimpangan jalan menuju arah cahaya, Jeniffer bertemu dengan Jessi yang menatapnya dengan tajam dan memancarkan aura kemarahan yang amat besar.
'Kenapa kamu kelihatannya marah Jessi?' tanya Jeniffer dengan bingung pada pribadi keduanya itu.
'Karena pria itu dapat membahayakan rencana kita!' hardik Jessi dengan nada tinggi.
'Maksud kamu apa?' tanya Jeniffer kembali. Dia sama sekali tidak mengerti mengapa Joseph dapat membahayakan rencana yang sudah mereka susun sejak lama.
"Jeniffer, kamu ga apa-apa?" suara Joseph yang terdengar mencemaskannya itu berhasil menarik Jeniffer dari kegelapan, sebelum gadis itu sempat mendengarkan apa lanjutan dari kalimat yang akan ucapkan oleh Jessi.
Dengan cepat gadis itu mendongak guna untuk menatap pria yang menjadi pujaan hatinya. Dia kira rasa suka terhadap kaum lelaki itu sudah sirna akibat perbuatan dari Verry. Membaca buku diary sang ibu berkali-kali menumbuhkan rasa antipati dirinya kepada kaum berjakun itu. Tapi saat bertemu dengan Joseph dan berbincang santai dengan calon adik ipar sang om, membuat rasa antipati itu seketika sirna dan tergantikan dengan rasa bahagia dan dadanya penuhi oleh perasaan bahagia.
"Aku mungkin cuma lapar saja om." jawab Jeniffer singkat.
"Kalau begitu mari kita masuk dan makan." ajak Joseph pada gadis belia yang sebentar lagi akan menjadi sanak saudaranya itu.
Seketika mata Jeniffer terbelalak saat melihat sebuah plang restoran Padang terpampang di depannya. Apa maksud dari Jessi membawanya ke restoran yang menyajikan makanan yang selama ini dihindarinya itu.
'Jessi apaan sih, kenapa kamu bawa aku makan di tempat ini. Kamu mau buat aku gemuk, ha!' omel Jeniffer, namun tidak ada jawaban karena Jessi sedang marah.
'Jessi, kemana kamu. Jangan diam saja.' kembali Jeniffer memanggil, namun seperti panggilannya yang pertama, tidak ada balasan dari pribadi yang itu.
__ADS_1
'Baiklah, Jessi kamu memang. Aku akan makan makanan bersantan dan berminyak ini sesekali.' ucapnya dalam hati.
"Ayo cepat pesan mau makan apa, biar saya yang bayarin. Biar bagaimanapun kamu ini bisa dibilang keponakan saya juga kan." panggilan Joseph menyadarkan Jeniffer akan lamunannya itu
Keponakan, sebuah kata menyebalkan itu rasanya seakan mengejek Jeniffer. Memangnya dia sekecil itu sampai Joseph memandangnya sebagai gadis kecil. Sunggutnya dalam hati. Tidak bisakah Joseph melihat bahwa bentuk tubuhnya sudah seperti gadis remaja kebanyakan. Memang sih tinggi tubuhnya dibandingkan tubuh Joseph itu sangat jauh bedanya. Bagaikan raksasa dan liliput dan jenny pun seketika membenci tubuh mungilnya itu.
"Baik om, aku nasinya setengah saja....terus lauknya ayam gulai oh pakai sayur dan sambel hijaunya." Jeniffer bergidik ngeri saat melihat porsi nasi di piring Joseph yang layaknya porsi makan kuli. Oleh karena itu dia dengan cepat menahan mas penjual untuk menyendokkan nasi ke piringnya.
Keduanya duduk lalu di sebuah meja kursi yang dekat dengan pintu masuk, angin semilir yang berhembus dari luar restoran seakan menjadi angin surga bagi Jeniffer akibat rasa panas yang tak tertahankan bagi dirinya. Bahkan segelas es teh tawar tidak mampu meredakan rasa panas membara yang terasa membakar ini.
"Bagaimana rasanya?" tanya Joseph saat Jeniffer mulai mengunyah makanannya.
"Rasanya gurih dan berminyak." jawab Jeniffer singkat, lidahnya butuh adaptasi dari makanan yang sudah tidak menyapa kerongkongannya selama 4 tahun itu.
"Kalau gurih sudah pasti enak lah om, apalagi ini makanan favorit kebanyakan orang. Santan dan ayam." ucap Jeniffer singkat.
Meskipun dia menyukai Joseph, namun memasukkan tubuhnya makanan yang mengundang penyakit untuk organ bagian dalam seperti kolesterol dan darah tinggi jelas membuat Jeniffer murka kepada Jessi. Namun dia tidak boleh menimbulkan kecurigaan orang lain jika dia memiliki kepribadian ganda.
"Kenapa jawabnya seperti itu, seakan kamu ke sini bukan atas kemauan kamu." ucap Joseph sambil menyobek daging ikan lalu mengunyahnya.
"Eh,eh maksudnya ya gurih itu kan identik dengan enak om. Ya sesekali makan seperti ini boleh juga soalnya followers aku minta kapan-kapan story aku lagi makan di restoran Padang." ucap Jeniffer berkelit.
"Terus kenapa dari tadi ga di nyalain kamera video hapenya?" membuat Jeniffer mengurai senyum canggung.
__ADS_1
"Mungkin untuk kunjungan lain kali, sekarang mau lihat situasi dulu." lagi gadis itu memberikan jawaban yang terlintas dalam benaknya.
"Oh, kalau begitu nikmati saja dulu makanannya baru lain kali kamu story. Bukankah makanan baru dapat terasa nikmatnya jika kita memakannya dengan hati yang penuh sukacita?" ucapan Joseph tak ayal sedikit menyent hati Jeniffer.
Selama ini gadis itu selalu membuat story di IGnya saat akan makan di luar rumah. Mungkin sebaiknya dia harus mengurangi membuka smartphone-nya jika itu bukan benar-benar produk endorse saat di luar rumah.
"Iya om, ayam gulainya enak juga ternyata." ucap Jeniffer setelah indahnya terbiasa untuk mengecap rasa gurih dari makanan yang bersantan itu.
"Sesekali makan makanan seperti ini tidak akan membuat kamu gemuk, kecuali kalau kamu makannya setiap hari yang ada selain gemuk ntar kolesterol sama darah tinggi." nah kalau yang ini jelas Joseph paham dengan dirinya akan bahaya makanan bersantan dan memiliki lemak tinggi itu bagi kesehatan tubuh. J
Jeniffer makin menyukai pria berkulit putih dengan rahang yang tegas itu. Bahkan kacamata tidak dapat menyembunyikan ketampanan pria yang hidup di hadapannya ini, Joseph terlihat lebih berkharisma dengan semua melekat pada tubuhnya.
"Kalau ga mau makan nasi banyak-banyak, dagingnya aja yang dibanyakin selain kenyang kamu dapat protein yang lebih banyak juga." ucap Joseph kembali dengan penuh perhatian.
"Eh bagaimana maksudnya om?" tanya Jeniffer dengan terkesiap.
"Ya ga ada maksud apa-apa sih. Biar kamu nyaman aja makannya ga perlu mikirin berapa banyak aku dan lemak yang masuk ke dalam tubuh kamu." ucapan Joseph membuat Jeniffer merona seakan pria itu memberikan perhatian khusus kepada dirinya.
Kalau sudah begini boleh tidak ya, pra ini Jeniffer bungkus dan karungin lalu bawa pulang ke rumah karena gemas dengan Joseph. Tiba-tiba rasa panas membakar tubuhnya yang begitu hebatnya sedari tadi langsung padam tergantikan oleh rasa semilir angin surga yang membawa kesejukan bagi hati Jeniffer.
Tampaknya cinta dapat membuat semua yang tak mungkin menjadi mungkin. Contohnya Jeniffer yang tidak mau memakan santan menjadi suka, dan meskipun suasana di dalam restoran Padang ini amat panas dan dapat membakar tubuh seseorang, menjadi sejuk di tubuh gadis itu karena mendapatkan sedikit perhatian dari calon adik ipar sang om.
Suasana pun serasa menjadi di restoran bintang 5 bagi hati Jeniffer yang sedang di landa kasmaran itu.
__ADS_1