Aku Bukan Gadis Kecil, Om!

Aku Bukan Gadis Kecil, Om!
53. Jessi kabur!


__ADS_3

'Jeniffer, kamu tidak boleh jatuh cinta sampai misi balas dendam kita terlaksana kedua pria itu berbahaya untuk kita,' Jeniffer terkejut saat mendengar suara Jessi yang tiba-tiba bergema di kepalanya.


'Jessi! Bahaya dari mananya sih mereka berdua selama ini gua sama Om Joseph baik-baik aja dan untuk Leo, lo tahu sendiri gua nggak suka sama dia," sahut Jeniffer geram, kenapa sih pribadi kedua nangis sering muncul tiba-tiba bagaikan jelangkung yang datang tidak diundang dan pulang tidak diantar.


'Itu karena lo udah bego karena bucin makanya nggak bisa melihat betapa bahayanya kedua pria itu!" balas Jessi dengan dengan berteriak membuat Jeniffer merasakan sakit di kepalanya.


"Diammm, dasar penganggu!" bentak Jeniffer yang merasakan semakin sakit saja di bagian kepalanya.


"Jeniffer! Lo enggak apa-apa?" tanya sebuah suara dengan nada panik.


"Mata lo masih berfungsi dengan baik kan masa lo enggak bisa ngelihat kalau gua lagi kesakitan seperti ini kepala," ucap Jeniffer dengan ketus.


"Sori, habisnya lo terlihat pucat dan mengeluarkan keringat dingin," ujarnya dengan nada masih terdengar panik.


"Minggir gua mau pergi sekarang jadi jangan pegangin gua!" jeritan Jeniffer tak lama pun melengking membuat mata semua orang yang berada di sekitarnya mengarah kepada keduanya.


"Leo, sudah biar saya yang mengurus Jeniffer. Kamu cepat balik ke kelas sebentar lagi bel masuk berbunyi." terdengar suara berat pria yang belum Jeniffer kenali siapa pemiliknya, makin merasakan berdenyut di kepala.


"Jeniffer, kamu bisa dengar suara saya?"


"Pusing pusing pusing!" itulah kata yang diulangi Jeniffer karena tidak tahu harus berbuat apa sepertinya Jessi berniat untuk mengambil alih pikirannya.


'Jessi, jangan usik pikiranku tidur saja kamu!' bentak Jeniffer dalam hati berharap Jessi tidak semakin melakukan aksi.


'Tidak akan Jeniffer! Aku sudah terkurung lama di dalam sini, jadi sekarang giliranku untuk keluar dan kamu sebaiknya mengalah saja!" balas puisi dengan nada yang tidak kalah tingginya.


Sementara itu di luar tubuhnya, Jeniffer sudah tidak bereaksi saat berikan pertanyaan membuat merasa khawatir dengan keadaan anak didiknya. Guru BK itu melihat Jennifer yang tolong kesakitan dan memegangi kedua kepalanya kalau saja pria berusia 30an itu tidak menopang tubuhnya. Jeniffer pasti akan tumbang karena tidak kuat menahan sakit yang dialami oleh tubuhnya.


"Jeniffer! Ya Tuhan, semoga dokter Milly ada di ruangan UKS," pekiknya lalu menggendong tubuh Jeniffer yang terkulai.


Dengan cepat Mr Alvin berlari sembari membawa tubuh Jeniffer dan dia menghela nafas luka karena melihat orang yang dicari berada di ruangan UKS tersebut.

__ADS_1


"Dokter Milly, Jeniffer pingsan lagi!" teriak Mister Alvin yang membuat dokter wanita itu menolehkan wajahnya.


"Segera baringkan Jennifer di ranjang biar saya cepat periksa dia," ucapnya sembari mempersiapkan peralatan dokternya.


"Jadi bagaimana Dokter Milly, apa yang terjadi dengan Jeniffer?" tanya Mister Alvin dengan cemas.


"Dia terlihat stress dan kurang tidur," membuat Mister Alvin tercenung saat mendengarnya, bukankah dua hari kemarin wali dari Jeniffer mengajukan izin sakit untuk gadis ini.


"Tapi kenapa walinya Jennifer mengantarkan surat sakit kepada pihak sekolah kalau kenyataanya dia terlihat stress dan kurang tidur. Bahkan Leo bilang saat kemarin dia menjenguk Jeniffer,gadis ini masih tidur," ucap Mister Alvin dengan bingung.


"Kita kan tidak tahu apakah Jeniffer memang beneran tidur ataukah dalam tidurnya itu alam pikirannya yang berkerja," sahut dokter Milly yang membuat Mr Alvin semakin terkejut.


"Jadi maksud Dokter bisa saja Jeniffer mengalami mimpi buruk atau sejenisnya?" tanya Mr Alvin kembali.


"Iya kurang lebih seperti itu, mau dia tidur berapa lama pun kalau malam pikirannya masih bekerja di bawah sadarnya Jenifer akan kelelahan dan dampaknya sudah Mr Alvinlihat bukan? Gadis ini sering pingsan dalam masa-masa mendatang," penjabaran dokter Milly membuat Mister Alvin diam.


"Apakah sekarang kita harus memberitahukan kepada wali Jennifer atau tidak?" tanya Mister Alvin dengan lesu.


"Baiklah, saya akan segera mencari waktu dan berbicara dengan keluarga Jennifer mengenai masalah ini," ucap Mister Alvin setelah menghembuskan nafas berkali-kali.


"Yes and you must do it,' sahut dokter Milly kembali.


Percakapan uangnya harus terhenti karena mereka merasakan pergerakan dari ranjang Jeniffer, Mister Alvin yang masih terbaring itu dan bertanya. " Jeniffer? Apa kamu bisa mendengar suara saya?"


"Jangan cerewet, cepat katakan di mana gua!" kedua mendengar Nanda suara Jeniffer yang lebih dingin daripada biasanya.


"Kamu siapa?" tanya dokter Milly berharap agar dugaannya meleset.


"Gua Jessi, memangnya lo pikir siapa? Gadis yang bernama Jeniffer itu?" sahut Jessi ketus.


Saat itulah tenggorokan dokter Milly terasa tercekat, dugaannya jika Jeniffer memiliki dua kepribadian yang bertolak belakang benar.

__ADS_1


"Oke Jessi sekarang bisa kamu katakan di mana Jennifer berada?" tanya dokter Milly dengan nada setenang mungkin. Memancing emosi dari pribadi yang bernama Jessi akan membahayakan nyawa Jeniffer.


Mister Alvin yang tak mengerti maksud dari dokter Milly hanya bisa terdiam sembari mengamati saja. Namun dalam hatinya dia sudah menyimpan rasa khawatir jika yang terjadi dengan Jeniffer adalah sesuatu hal yang serius.


"Kenapa Jeniffer harus tidur?" tanya dokter Milly kembali.


"Karena dia itu tidak berguna dan bodoh karena sedang jatuh cinta!" teriakan Jessi yang menggema tak ayal membuat kedua orang itu mengatupkan kedua tangannya ke telinga.


"Oke sabar Jessi, jadi apa mau kamu sekarang?" tanya Mister Alvin yang mulai sedikit memahami situasi yang terjadi di depan matanya.


"Gua mau mengambil alih pikiran Jeniffer sepenuhnya, kelihatannya itu menyenangkan sekali," ucap Jessi dengan tawanya yang kencang.


"Mengapa kamu mau menguasai pikiran Jeniffer?" tanya dokter Milly yang sudah kepalang tanggung, sekalian saja dia menyelidiki motif dari pribadi kedua Jeniffer.


"Karena aku sudah bosan terkurung di ruangan sempit dan gelap itu, waktunya aku yang merasakan kebebasan gantian gadis manja itu yang akan berada di sana," ucapan Jessi kan rasa takut orang dewasa itu.


"Oh iya, sebaiknya gua mengucapkan selamat tinggal dulu kepada kalian berdua, karena setelah ini gua akan membawa tubuh Jennifer pergi sejauh mungkin sambil menjalankan rencana balas dendam gua," ucap Jessi semakin terdengar mengerikan bagi kedua orang itu.


"Memangnya apa yang bisa kamu lakukan? Kamu kan hanya seorang gadis remaja sementara kami adalah orang dewasa," ngucap Mister Alvin yang sudah mulai akan situasi yang terjadi.


"Jangan bilang seperti itu, Mister. Karena aku bukan anak kecil!" pekik Jessi yang langsung menyambar gunting yang terletak di atas meja dan mengarahkannya kepada lehernya sendiri.


"Jessi! Stop jangan lakukan itu! Turunkan gunting itu dari leher kamu," teriak dokter Milly yang sudah diliputi akan ketakutan. Dia menyangka akan dapat melihat sendiri orang dengan kepribadian ganda seperti Jeniffer.


"Kalau begitu, biarkan gua pergi dari sini!' perintah Jessi yang awalnya tidak disetujui oleh Mister Alvin. Namun melihat Jessi yang tidak main-main akhirnya terpaksa sang guru BK mengizinkannya.


"Mister Alvin kita harus menyetujui syarat dari Jessi, agar nyawa gadis itu selamat," ucap dokter Milly.


"Jangan ikutin gua atau gua tidak segan-segan akan melempar badan Jeniffer ke jalan raya biar dia mampus sekalian,"


Dengan tatapan nanar Mister Alvin menatap punggung gadis yang menghilang dari pandangan matanya setelah membuka pintu UKS itu.

__ADS_1


__ADS_2