
Romantisme keduanya terus berlanjut hingga film usai dan melupakan fakta jika mereka tidak berdua di dalam mall ini. Joseph terus mengandeng mesra tangan Jeniffer dan baru akan melepaskannya saat gadis itu meminta izin ke toilet.
Leo terbelalak saat menunggu keduanya di pintu keluar dan mendapatkan Joseph mengusap lembut rambut Jeniffer. Namun pemuda itu masih menyangkal akan kenyataan yang ada. Dia bertekad akan mengacaukan acara dari dua JJ ini.
"Jeniffer," gadis itu hanya berdecih saat melihat Leo yang gencar mendekati dirinya.
Apakah pemuda itu buta sehingga tidak dapat melihat adegan romantis yang disuguhkan di depan matanya? Tanya Jennifer dalam hatinya.
"Gua kirain udah pulang ternyata masih ada di sini toh," sahut Jeniffer dengan sinis yang hanya ditanggapi tawa oleh Leo.
Joseph sebenarnya ingin memakai bocah SMA yang menurutnya mengganggu ini. Tapi setelah dipikir-pikir itu adalah tindakan kekanakan yang tidak sepatutnya dilakukan oleh orang dewasa. Maka dari itu Joseph membiarkan sang pacar yang akan membereskan Leo.
"Oh, gua nggak akan pulang sebelum lo juga pulang," ujar Leo dengan kepercayaan diri yang tinggi.
"Ckckck, ganggu aja gua lagi mau ngedate. Udah sana pulang!" ucap Jeniffer dengan gerakan menghalau.
"Kalau gua nggak mau pulang bagaimana?" tanya Leo menantang.
"Terserah! Yang ada lo bakal gigit jari dan jadi obat nyamuk ntar," kata Jeniffer dengan nada suara agak tinggi.
Joseph yang tidak ingin melanjutkan keributan langsung menggenggam tangan sang kekasih dan membawanya menuju game center yang ada di mall ini. Sementara Leo mengekori keduanya dengan tidak tahu malunya.
***
"Om, main basket yuk?" ajak Jeniffer saat melihat deretan mesin game basket yang terpampang jelas.
"Boleh, mungkin aku bakal kaku karena enggak pernah olahraga lagi," ucap Joseph sambil mengulas senyum.
"Enggak apa-apa kaku, Om, asal enggak kaku pas barengan aku," kata Jeniffer sedikit menggombal membuat Joseph tertawa.
Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Joseph, pemuda itu hanya sanggup bermain 4 kali sebelum nafasnya tersengal-sengal. Itu juga Joseph memperoleh nilai yang lebih rendah dari Jeniffer.
Saat keduanya istirahat di dekat mesin game basket itu, Leo mencoba untuk gigi dengan ikut bermain. Dia bermain dengan penuh rasa percaya diri yang malahan membuat Jeniffer merasa sebal melihatnya.
__ADS_1
"Om, aku mau main game dance dulu, ya," ajak Jeniffer sambil menarik tangan sang kekasih.
Joseph memandang kagum akan stamina yang dimiliki oleh gadis belia ini. Memang usia dan tampilan fisik tidak dapat berbagi. 16 tahun dibandingkan 24 tahun tentu saja akan lebih berenergi usia remaja bukan?
"Om masih capek, enggak?" tanya Jeniffer setelah menggesek kartu miliknya sebanyak 5 kali.
"Sejujurnya aku masih capek, cuma kalau kamu masih mau main aku temani aja tapi enggak ikutan," ujar Joseph yang memilih jujur.
"Oh, aku lapar lagi, Om, cuma enggak mau makan berat," kata Jeniffer sambil memegang perutnya dan pikiran Joseph langsung berkelana membayangkan gadis itu yang akan mengandung anaknya di masa depan.
"Om, Om, koq ngelamun?" Joseph tersadar saat Jeniffer mengguncang lengannya dengan kuat.
Matanya menyipit saat melihat Leo yang sepertinya akan mengikuti mereka. Dia ingin sekali berkata pada pemuda itu agar tidak lagi mengejar Jeniffer, tapi sorot mata penuh kepercayaan diri itu yang membuat Joseph kagum. Sekarang yang perlu dia lakukan adalah menunjukkan dengan tegas perasaannya kepada Jeniffer di depan mata Leo dan menegaskan jika mereka sudah berpacaran.
"Mau makan donut atau shi*in aja enggak?" tawar Joseph yang hanya ditanggapi diam oleh Jeniffer.
"Bagaimana kalau kita lihat food court atau jajanan yang ada di mall ini?" usul Jeniffer setelah berpikir beberapa saat.
"Ayo." jawab Joseph sambil menggandeng mesra Jennifer.
***
Leo duduk di meja lain, karena tempat duduk di kafetaria ini dirancang untuk pasangan. Pemuda itu memesan chocolate iced latte. Leo hanya menatap nanar Joseph yang sering melakukan skinship kepada Jeniffer.
Dengan kasar dia mengusap wajahnya dan memutuskan untuk meninggalkan kafetaria ini serta menghilangkan rasa sukanya kepada Jeniffer karena menyadari tidak akan ada harapan untuknya memasuki hati gadis yang nampak kasmaran dengan pria yang umurnya terpaut cukup jauh.
***
"Akhirnya cowo itu pergi juga," ucap Jeniffer sambil mengunyah potongan tiramisu cake.
"Memang kenapa kamu enggak suka sama dia?" tanya Joseph yang sebenarnya penasaran juga.
"Kalau kata Jessi, sok kegantengan dan emang sih setelah aku ngeh itu cowo yang ketemu Ama Jessi itu cowo narsisnya luar biasa," ucap Jeniffer sambil memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Jadi yang pertama kali ketemu cowok tadi itu Jessi?" tanya Joseph memastikan.
Jessi mengangguk sebab mulutnya sudah penuh akan makanan. Joseph yang melihatnya merasa gemas akan tingkah laku dari gadis itu.
"Kalau makan itu pelan-pelan, lihat sampai belepotan gini," ucap Joseph sambil membersihkan ujung bibir Jeniffer ibu jarinya membuat Jeniffer tersipu.
Keduanya tidak menyadari jika ada beberapa pasang mata yang menatap Jeniffer sambil menyunggingkan senyum sinis.
***
Leo tiba di rumah dengan lesu sehingga membuat Akbar, sang ayah merasa heran. Dalam pikiran pria berusia 40 tahun itu kenapa sang putra malah sedih saat pulang dari mall.
Akhirnya Akbar masuk ke dalam kamar Leo dan melihat sang putra yang merebahkan tubuh dengan menutup mata dengan punggung tangan kanannya. Pria itu dapat melihat jika Leo sedang menangis.
"Leo, kenapa?" tanya Akbar setelah duduk di tepi ranjang dan mengusap lembut rambut sang putra.
"Leo patah hati," ucapnya dengan tergugu.
"Cewek itu lebih milih cowok yang usia lebih tua dan pekerja kantoran," sambungnya kembali.
"Berarti cewek itu bukan jodoh kamu saat ini," ucap Akbar memulai petuahnya.
"Leo, kita enggak bisa mengetahui masa depan. Ya memang kenapa kalau cewek itu milih cowok lain? Dia yang rugi karena tidak mengetahui kelebihan kamu," Leo yang mendengar itu langsung mendudukkan diri dan menatap sang ayah dengan sorot mata penuh pertanyaan.
"Kalau gitu sekarang Leo cuma bisa nerima rasa patah hati ini?" tanya Leo dengan nada lesu.
"Perasaan tidak dapat dipaksakan, tapi hati bisa berubah. Seandainya dia jodoh kamu pasti kalian bersatu akhirnya. Tapi jika di masa depan dia juga bukan jodoh kamu, Tuhan sudah menyiapkan pasangan yang terbaik untuk kamu," Leo meresapi apa yang menjadi nasehat dari sang ayah.
"Baik, Pa, berarti Leo harus fokus sama sekolah dan memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi," ujar Leo yang mencoba ikhlas melepas Jeniffer dengan Joseph.
"Nah itu baru anak Papa, lagian masih banyak cewek di dunia ini. Patah satu tumbuh seribu," Leo hanya tertawa saat mendengar kalimat terakhir dari sang ayah.
,
__ADS_1
'Aku akan coba merelakannya,' ucap Leo dalam hatinya.