Aku Bukan Gadis Kecil, Om!

Aku Bukan Gadis Kecil, Om!
47. Bertemu dengan Keluarga Sukmajaya


__ADS_3

Tak terasa sudah hari Minggu siang dan James mengingatkan Karina yang tengah berbelanja untuk bergegas karena perjalanan masih jauh. Lalu lintas menuju Jakarta pasti sudah mulai padat menjelang sore hari sedangkan mereka masih harus mengantarkan Jennifer pulang.


Dengan sedikit menggerutu Karina melakukan apa yang dikatakan oleh sang suami dia bergegas memilih barang yang sekiranya menarik hati dan langsung melakukan pembayaran. Jeniffer tidak membeli apa-apa karena menurutnya tidak ada yang memikat hatinya. Sementara barang belanjaan waktu masih di Amsterdam saja belum ada yang dibuka olehnya masa dia mau menambahkan lagi barang-barang di rumah.


Yang membuat Jeniffer bingung adalah Jessi yang tidak menampakkan suaranya sejak dari dia bertemu dengan Karina Jumat kemarin. 'Ya seperti biasanya dia kayak jelangkung datang tak diundang pulang tidak diantar,' ucap Jeniffer dalam hatinya.


"Jeni Sayang, bagaimana kalau kita beli sedikit oleh-oleh dan makan dulu baru kita pulang ke Jakarta," Jeniffer langsung berniat saat mendengar perkataan makan.


Perutnya sudah lapar dan tak dia bukan untuk mengajak Karina makan karena Jeniffer sadar jika dia itu hanya sekedar nebeng pada liburan kali ini. Lain hal jika dia sedang berlibur dengan Stanley dan Camelia, Jeniffer tidak akan malu-malu meminta Stanley untuk pergi ke tujuan yang diinginkan.


Sementara mengenai Leo dan teman-temannya, pada Minggu pagi mereka harus segera pulang ke Jakarta. Joseph menghela nafas lega karena sang pengganggu sudah menghilang dari pandangan mata sementara ini.


"Jeni, kita makan di restoran Sunda aja ya?" tanya Karina sambil menggandeng tangan gadis itu.


Joseph merasa kecolongan dengan tingkah sang ibu, padahal baru saja dia akan mengajak gadis belia itu untuk makan dan menggandeng tangan gadis itu. Dia hanya menatap tangannya yang menggantung di udara dengan tatapan nestapa.


James yang melihatnya langsung menepuk bahu sang putra dan mengurai senyum yang seakan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"Jeni, mau makan ayam apa ikan gurami?" tanya Joseph saat keempatnya sudah duduk lesehan di sebuah restoran yang sangat Sunda sekali.


Meski terkejut tak ayal Jeniffer merasakan senang di dalam hatinya karena sang pria pujaan mulai menunjukkan perhatiannya.


"Mau ayam goreng pakai lalapan dan sambal terasi," jawab Jeniffer dengan lancar sambil tetap menatap mata Joseph dengan tatapan mata yang memuja.


"Kita beli saja dua-duanya ayam sama gurami terus sayurnya kangkung tumis kangkung aja ya sama sayur asem." ucap Karina yang juga memutus kontak mata keduanya.


Setelah menunggu beberapa saat semua makanan sudah tersaji di meja mereka, Joseph dengan telaten memisahkan daging ikan dan durinya agar memudahkan gadis belia itu dalam memakannya. Jeniffer yang sebenarnya kurang begitu menyukai ikan sungai ataupun ikan penangkaran mau tak mau tersentuh akan perlakuan dari Joseph dan memakan ikan gurami yang sudah bersih dari dirinya.


"Ayo kita pulang sekarang, udah pada kenyang kan?" tanya Karina setelah seluruh makanan di meja tak bersisa.

__ADS_1


Brukkk


Lagi-lagi Jeniffer menyenggol seseorang, namun kali ini tidak sampai menyebabkan gadis itu jatuh terpental hanya sekedar meringis kesakitan. Karina langsung merangkul gadis belia itu dan bersiap untuk meminta maaf kepada orang yang di tabrak oleh Jeniffer.


"Punya mata ga sih jalan segini lebarnya masih bisa nabrak orang," sunggut seorang wanita dengan nada marah.


Jeniffer langsung mendongak guna mengetahui siapa gerangan yang ditabraknya dan gadis itu terkejut saat mengetahui wanita yang berdandanan cukup menor untuk usianya yang lanjut. Jessi yang sebenarnya takut akan keberadaan Joseph dan keluarganya akhirnya memberanikan diri untuk keluar dan mengambil kesadaran Jeniffer yang sangat terkejut saat bertemu dengan nenek dari pihak sang ayah.


"Halo kita bertemu lagi ya, nenek tua," ucap Jessi dengan nada sinis membuat ketiga orang yang sedang bersamanya pun terkejut.


Bahkan wanita yang tadi membentak Jeniffer pun memucat wajahnya saat melihat wajah Jeniffer yang saat ini menunjukkan raut wajah kebencian kepadanya.


"Kaa...kaamu Jeniffer, kamu masih hidup rupanya," ucap Gilda dengan tergagap.


"Ya tentu saja Jeniffer masih hidup, apa anda harapkan kematian Jeniffer sewaktu kebakaran di Puncak 9 tahun yang lalu?" sahut Jessi dengan mengurai senyuman sinis.


Perkataan Jeniffer sontak saja mengejutkan keluarga Zedekiah karena bertemu secara langsung dengan keluarga Sukmajaya yang terkenal masih menjunjung adat istiadat dan mitos yang diturunkan oleh para leluhur.


Gilda serta Verry langsung memucat karena anak yang mereka sangka telah meninggal 8 tahun yang lalu ternyata masih hidup dan berdiri tegak di hadapan mereka. Wajah Jeniffer yang bagaikan titisan dari mendiang sang ibu, Meylani menerbitkan ketakutan yang amat sangat bagi keduanya.


Ternyata selama ini keluarga mendiang Meylani menyembunyikan keberadaan gadis itu rupanya, geram Gilda dalam hatinya. Harus dengan cara apa dia menyingkirkankan anak dari wanita sial itu. Pikir Gilda dalam hatinya.


"Sedang memikirkan apa, Amah?" tanya Jessi dengan nada dingin membuat Gilda tergeragap.


Joseph sudah mulai menangkap sinyal bahaya dari pertemuan antara Jeniffer dan keluarga ayah kandungnya. Dengan cepat dia berpikir hal apa yang harus dia lakukan untuk membawa mereka berempat keluar dari situasi canggung yang mulai menyesakkan ini.


"Dasar anak kurang ajar, tatapan mata kamu masih sama seperti yang dulu rupanya," hardik Gilda berusaha menguasai kegugupannya.


"Memangnya Amah berharap tatapan mata Jeniffer seperti apa?" balas Jessi dengan nada yang tak kalah tajamnya.

__ADS_1


"Daaa...daaasar kamu anak jelmaan iblis," sentak Gilda kembali berusaha menekan mental Jeniffer, namun sayangnya wanita tua itu tidak tahu siapa yang sedang dilawannya saat ini.


"Kalau Jeniffer anak jelmaan iblis berarti kalian adalah iblisnya dong , cocok sih kelakuan kalian memang mengalahkan iblis asli," jawab Jessi dengan tawa menggelar.


Karina sudah mulai khawatir dengan apa yang terjadi dengan gadis belia ini yang dalam anggapannya terkejut karena bertemu dengan keluarga ayah yang telah membuangnya.


"Joseph, apa yang mesti kita lakukan sekarang? Kondisi Jeniffer tidak baik-baik saja dalam pandangan mata Mama," ucap Karina dengan khawatir saat melihat keadaan Jeniffer.


Meskipun Karina pernah melawan melawan mantan mertua Aster karena perlakuan wanita itu yang buruk terhadap sang putri namun kali ini dia sadar tidak berhak ikut campur karena Jeniffer bukanlah putri kandungnya.


"Kurang ajar!" bentak Gilda sembari melayangkan sebuah tamparan kepada Jeniffer


Plakkk


Bukan Jeniffer yang terkena pukulan Gilda melainkan Joseph yang dengan sigap melindungi gadis belia di balik punggungnya. Karina merasa bayangan Aster yang di aniaya oleh Mira kembali berputar bagaikan kaset yang bermain di otaknya.


"Dasar wanita kurang ajar beraninya kamu menampar anakku," sentak Karina sembari mendorong kasar tubuh Gilda hingga terhuyung.


"Siapa kamu beraninya mendorongku sembarangan!" bentak Gila sembari menunjuk-nunjuk ke arah Karina yang sudah diliputi kemarahan.


"Aku Karina Mama dari anak yang terkena tamparan tangan kotormu itu,' balas Karina dengan tak kalah sengitnya.


James tidak berani menenangkan sang istri yang sedang dalam mode induk singa yang tak terima sang anak terluka.


"Mama, Jeniffer pingsan!" teriakan Joseph seketika menyadarkan Karina dan berpaling ke arah gadis yang terkulai dipekukan sang putra.


"Bawa Jeniffer ke mobil kita ke dokter terdekat," perintah James yang kini mengambil alih kemudi. Tidak mungkin bagi pria renta sepertinya untuk menggendong seorang gadis belia. Yang ada punggungnya akan terkena rematik.


'Nampaknya pertemuan Jeniffer dengan keluarga Papanya menimbulkan trauma mendalam baginya,' ucap Joseph dalam hatinya sembari membopong tubuh lemas Jeniffer.

__ADS_1


__ADS_2