
"Kalau mau nambah ambil aja sendiri ya Jeni. Ai mau buat jus dulu buat Qiume kamu sama Joseph." Jeniffer hanya mengangguk saat Karina mengatakan itu.
Sepertinya dia tidak harus menambah porsi makannya, segelas jus di hari yang panas ini jelas menarik minatnya. Karena itu dengan cepat Jeniffer menyusul Karina ke dapur dan melihat wanita yang telah melahirkan pria pujaan hatinya berkutat dengan pisau dan beberapa buah mangga dan sirsak yang tergeletak di atas meja.
"Enak sekali jusnya, padahal ga pake gula tapi bisa manis rasanya." ucap Jeniffer setelah menandaskan segelas jus mangga.
"Kamu mau pulang kapan? Ini sudah mau magrib loh, jalanan pasti masih macet. Apa tunggu Joseph sebentar lagi biar di antar pulang." Jeniffer bersorak dalam hati saat Karina berkata seperti itu, tapi apakah Joseph bersedia mengantarkan dia pulang. Pria itu sudah pasti lelah karena seharian bekerja, rasanya tidak etis membiarkan Joseph bertambah lelah. Rumahnya jauh dari sini sekitar 20 kilometer.
"Ga usah Ai, biar aku pulang naik taxi daring aja. Lagian Om Joseph pasti cape seharian bekerja, rasanya ga enak aja buat Om Joseph semakin cape." ucap Jeniffer bersiap memesan taxi melalui aplikasi.
"Joseph pasti ga keberatan, lagian kamu ini anak gadis loh. Masa pulang sendirian, oh iya Ai udah bilang ke Phopho kalau kamu di sini jadi ga usah khawatir Phopho marah ya." ucap Karina sambil mengusap lembut rambut gadis itu.
Meskipun sebentae dia dapat melihat punggung gadis itu yang bergetar. Karena itu Karina melanjutkan mengusap lembut rambut Jeniffer, dia tahu pasti berat rasanya menjadi Jeniffer, ditinggalkan oleh sang ibu untuk selamanya dan keluarga ayah kandungnya seakan tidak mau mengakuinya.
Meskipun dia tahu Stanley, Camelia dan Jorgie melimpahi Jeniffer dengan kasih sayang yang tak terhingga, tetap saja sosok orang tualah yang dibutuhkan oleh gadis belia ini. Dan apakah ini artinya Tuhan mengirimkan gadis ini ke dalam keluarga ini untuk mendapatkan kasih sayang dari 'orang tua'? pikir Karina dalam hati saat melihat Jeniffer sangat nyaman berdekatan dengannya.
"Kalau kamu mau mandi bisa mandi di kamar Qiume kamu, ada beberapa baju yang masih ada di sini. Cuma kalau **********, Ai ga tahu Qiume kamu masih ada yang baru atau ga?" ucap Karina setelah merasakan Jeniffer sudah lebih tenang.
"Aku selalu bawa cadangan di tas, Ai. Kalau udah ngerasa panas dan gerah pasti aku ganti." ucap Jeniffer kemball.
"Kalau gitu ikut ke kamar Qiume kamu ya. Pilih aja mau pakai baju yang mana, dia ga keberatan koq. Apalagi yang pakai kamu.". Ucap Karina sambil menggandeng tangan Jennifer membuat gadis itu terharu, dia merasa memiliki seorang ibu meskipun hanya melalui sosok Karina.
Jeniffer sudah segar kembali setelah air melalui shower mengenai tubuhnya, rasanya syarafnya yang kaku dan tegang menjadi sedikit rileks. keluar dari kamar mandi hanya memakai bathrobe Jeniffer melihat kaus bermotif bunga matahari dan celana jogger selutut sudah terletak di ranjang yang bermotifkan bunga tulip merah dengan latar putih yang sangat cantik, menyejukkan mata bagi yang menyegarkan nya.
"Wah pas sekali di badan kamu. Ini baju Qiume kamu waktu masih belum menikah sekarang udah sempit banget di badannya." puji Karina saat memasuki kamar Aster, sang putri yang telah menikah dengan Jorgie.
"Ai ntar Qiume denger marah loh." ucap Jeniffer dengan melontarkan candaan.
"Kaga bakal, memang kenyataannya badan Qiume kamu masih belum balik 3 kilo." sahut Karina dengan tertawa kencang.
Joseph yang baru pulang pun mengernyit saat mendengar suara sang ibu yang bersenda gurau dengan seseorang di dalam kamar kakaknya, dengan penasaran dia sedikit melongok dari pintu yang terbuka dan terkejut saat melihat Karina yang tertawa dengan Jeniffer sambil membuka sebuah album foto.
__ADS_1
Rasanya sudah lama sekali Joseph tidak melihat Karina tertawa lepas seperti ini, wajar saja Aster sang kakak baru saja melewati masa sulit dalam pernikahan pertamanya sebelum menikah dengan Jorgie.
"Joseph, kapan kamu pulang? Koq mama ga denger suara motor kamu?" tanya Karina dengan nada terkejut.
"Motor Joseph mogok, jadi taro di bengkel dulu sampai bener. Tadi pulang naik ojol."
"Oh kalau gitu kamu mandi dulu deh, terus kalau mau makan makan dulu, habis itu anterin Jeniffer pakai mobil Papa."
"Joseph mandi dulu terus langsung anter Jeniffer pulang aja, sekarang udah jam 7 kasihan kalau kemalaman. Apalagi besok masih mau sekolah kan." Jeniffer tersipu saat Joseph berkata seperti itu, seakan kalimat itu mengandung kekhawatiran yang besar.
"Jeni, kita tunggu di luar kamar saja ya. Atau kamu mau makan lagi?" Jeniffer menggelengkan kepalanya karena perutnya masih terasa penuh saat ini.
"Aku mau minum air hangat aja, Ai. Sepertinya seharian ini aku banyak makan yang berlemak jadi tenggorokan agak kering rasanya." Karina tersenyum saat mendengarnya, bahkan kebiasaannya dengan Aster sama jika sudah merasa akan sakit tenggorokan.
10 menit kemudian, Joseph sudah menyusul di ruang tamu yang menyatu dengan ruang televisi ini. Pria itu segera mengambil kunci mobil James, sang ayah yang sampai saat ini belum pulang. Mungkin keadaan di restoran sedang ramai jadi James merasa sayang untuk menutup restoran lebih cepat.
"Ma, Joseph antar Jeniffer pulang dulu."
"Sama-sama, Ai janji kalau kamu ke sini akan masakin yang enak-enak." ucap Karina sambil mengusap lembut rambut gadis itu. Lagi-lagi Karina sempat melihat sekilas mata Jeniffer yang menggenang yang membuat Karina terenyuh.
"Joseph hati-hati bawa mobilnya." ucap Karina setelah menetralkan perasaannya.
***
Sialnya lalu lintas pada malam ini masih cukup padat entah alasan apa, Joseph menghela nafas panjang memikirkan nasib Jeniffer yang akan tiba di rumah setidaknya pada jam 9 malam, menurut perkiraannya. Perutnya sudah keroncongan pula, tahu begini Joseph akan makan dulu di rumah tadi sebelum mengantarkan Jeniffer pulang.
Kriukk
Keduanya tersentak akibat bunyi perut yang keroncongan itu, bulan perut Joseph melainkan perut Jeniffer. Gadis itu langsung merasa malu dan wajahnya merah padam.
'Dasar perut tidak setia kawan, bisa-bisanya berbunyi kencang saat bersama Om Joseph.' omel Jeniffer dalam hati.
__ADS_1
Jessi sebenarnya ingin ikut meledek Jeniffer, namun dia cukup tahu diri untuk tidak melakukannya di depan Joseph. Ada sesuatu di dalam diri pria itu yang membuat Jessi merasa enggan, seperti rasa sungkan dan segan yang bercampur menjadi satu.
"Bagaimana kalau kita makan dulu, sepertinya ntar kita bisa memutar arah di depan. Ini sudah mulai bergerak macetnya." ucap Joseph dengan menahan tawa, sebenarnya siapa sih yang lapar di sini. Dirinya atau Jeniffer.
"Mau makan apaan emang, Om?" tanya Jeniffer masih menunduk, dia masih merasa malu melihat wajah Joseph.
"Kamunya mau makan apa? Setahu saya cuma ada restoran Jepang, restoran ayam cepat saji dan gerai Pizza. Jadi mau makan apa?" tanya Joseph sambil memutar arah mobil.
"Di restoran ayam goreng cepat saji aja, Om. Kayaknya makan cream soup malam gini enak juga di perut." ucap Jennifer mulai merasa santai, Joseph tidak menertawakan dirinya itu sudah cukup baginya untuk membangun kepercayaan dirinya kembali.
"Oke, your wish is my command." ucap Joseph menirukan kalimat dalam sebuah film.
Tak lama kemudian pria itu memarkirkan mobil di depan restoran yang masih terlihat sepi ini. Dalam hati Joseph untung saja Jeniffer sudah mengganti seragamnya dengan baju biasa, tidak dapat dia bayangkan bagaimana pandangan orang-orang bila melihatnya membawa seorang gadis SMA pada malam hari seperti ini. Meskipun orang tuanya dan wali Jeniffer sudah mengetahuinya, tapi tidak dengan orang-orang bukan?
"Om, aku duduk di sini ya!" teriak Jeniffer yang membuat pandangan mata orang-orang yang semula fokus pada makanannya kini terpusat kepada keduanya. Bahkan ada beberapa ibu-ibu yang memandangnya dengan tatapan sinis, seakan mengatakan dia adalah fedofil.
"Terserah." ucap Joseph lalu memesan makanan untuk keduanya. Bahkan tatapan mata mbak kasir pun seakan ikut mencemoohnya.
"Paket B 2, colanya ganti dengan air mineral." ucap Joseph langsung menyebutkan pesanannya.
"Sudah cuci tangan?" tanya Joseph saat tiba di meja dengan sebuah nampan berisi makanan keduanya.
"Sudah, Om. Ayo kita makan."
"Sudah berdoa?" tanya Joseph mengingatkan.
Dengan mengurai senyum canggung Jeniffer pun menjawab belum membuat Joseph menggelengkan kepalanya. Pria itu lalu memimpin doa sebelum mereka berdua memulai makan malam yang tidak direncanakan ini. Jeniffer tersenyum saat mulai mengunyah makanannya, ah alangkah bahagianya jika dia dapat terus berduaan dengan Joseph.
Bahkan Jeniffer terus memperhatikan cara makan Joseph yang baginya memukau, seketika dalam bayangan Jeniffer sekitar Joseph di penuhi oleh bunga-bunga dan bintang-bintang yang menyilaukan matanya. Gadis itu tidak tahu saja jika Joseph pun merasa grogi saat ditatap seintens itu oleh gadis yang berada di hadapannya, namun pria itu mencoba biasa saja.
Jadi siapakah diantara keduanya yang akan menyadari bahwa cinta telah tumbuh dihati kedua insan itu?
__ADS_1