
Joseph termangu menatap layar monitornya, tubuhnya memang berada di kantor tapi pikirannya mengembara. Berulang kali pria itu menghembuskan nafas sehingga membuat Matias teman seruangan dengannya menatapnya dengan penuh heran. Mathias ingin bertanya tapi dia mengurungkan niatnya saat dilihat wajah Joseph sudah sangat kusut.
"Yas, kenapa sama Joseph Kenapa dia berulang kali nafas seperti itu?" tanya Gerald yang baru memasuki ruangan khusus tim IT itu.
"Gua juga nggak tahu, Rald. itu anak dari mulai masuk kerja sampai sekarang mau makan siang kelakuannya kayak gitu nggak fokus seperti ada yang sedang dipikirkan." Mathias menjawab sembari menggedikan bahunya.
"Lo ga tanya Joseph apa yang membuat dia seperti itu?" tanya Gerald yang sedang menyeruput segelas kopi.
"Ga, masalahnya muka tuh anak udah kayak mau makan orang jadi gue nggak berani nanya," sahut Mathias kembali.
"Ya kalau begitu biarin gue yang nanya deh," ucap Gerald lalu mengambil kursi di sebelah meja Joseph.
Joseph yang sedang bingung dan kusut pikirannya tersentak saat seseorang menepuk bahunya dengan pelan saat menoleh dia melihat cengiran usil dari wajah Gerald.
"Ada apa, Jos. Muka lo kelihatannya kusut kayak baju belum disetrika aja," komentar Gerald saat melihat lingkaran hitam yang terdapat di bawah mata Joseph, jelas sekali bahwa wajah itu kurang tidur.
"Ga ada apa-apa, Yas. Gua cuman kurang tidur aja beberapa hari ini," kata Joseph dengan lesu.
"Hari ini Senin loh, berarti pas weekend kemarin lu kerjaannya begadang terus ya makanya sampai kurang tidur seperti ini," ucap Gerald saat mendengar kalimat Josep.
Joseph hanya mamanyunkan bibirnya saat mendengar komentar dari gerak yang tidak berguna menurutnya memang diakui jika dua hari kemarin dia tidak bisa tidur pikirannya selalu tertuju kepada Jeniffer. Dia kopi untuk dapat menyegarkan pikirannya pekerjaan masih menumpuk jika dia terus begini maka akan banyak yang terbengkalai dan Josep tidak suka itu.
"Jos, mau kemana. Belum selesai kita ngomongnya," panggil Gerald yang diabaikan oleh Joseph.
Begitu sampai pantry, Joseph terbingung-bingung dengan apa hendak diminumnya. Apa kopi pahit, kopi dengan sedikit krimer dan susu atau kopi putih sacetan. Mathias dan Gerald yang menyusulnya pun sampai berdecak melihat pria yang hanya terdiam memandangi beberapa jenis kopi yang ada di hadapannya.
"Jos, lo kenapa. Ga biasanya kayak gini," panggil Gerald yang sudah ada di samping kanan Joseph.
__ADS_1
"Gua pusing!" hanya satu kalimat itu yang Joseph lontarkan membuat dua spekulasi mengenai penyebab pusingnya Joseph ini.
"Ada program yang ga bisa Lo tanganin?" tebak Mathias sambil menyeduhkan kopi sedikit krim dan susu untuk Josep sementara untuk dirinya dia memilih susu kopi yang artinya perbandingan susunya adalah 3 sendok makan dibandingkan kopi yang hanya satu sendok teh saja.
"Lo lagi suka sama cewek.' ucap Gerald yang lebih mirip pernyataan daripada pertanyaan.
Joseph tersentak saat Gerald dengan tepat menebak apa penyebab keresahan hatinya, dia menghembuskan nafas berkali-kali membuat Gerald tersenyum penuh kemenangan.
"Jadi orang mana nih? Doi kerja di mana? Bagaimana penampilannya, seksi ga?" Gerald langsung memberondongnya dengan beberapa pertanyaan membuat Joseph meringis. Apakah dia harus mengatakan bahwa Jeniffer itu masih SMA, bisa-bisa ntar dia ditangkap pedofil yang menyukai anak di bawah umur.
"Hey! Kenapa diam aja, bro? Apa dia udah punya pacar yang lebih gila lagi apa dia juga udah punya suami?" tanya Gerald kembali, pemuda itu belum pernah melihat Joseph menyukai seorang perempuan. Jadi wajar saja kalau dirinya penasaran siapa sosok perempuan yang disukai oleh Joseph.
"Jos, minum dulu kopinya baru lo cerita." Mathias mengulurkan segelas kopi masih mengeluhkan uap panas.
"Kalau gua bilang cewek ini masih SMA bagaimana tanggapan kalian berdua?" tanya Joseph saat sudah menghabiskan setengah dari isi gelasnya itu.
"Serius, Jos. Lo suka anak SMA?"
"Gua ga tahu, apa gua suka kalau hanya sekedar memperhatikan dirinya aja karena merasa punya tanggung jawab atas diri dia. Tapi wajah dia terus terbayang-bayang setiap saat bahkan saat gua lagi mengerjakan program yang bakal jadi project kita selanjutnya."
"Atas dasar apa belum mengatakan bahwa ia merasa punya tanggung jawab terhadap cewek itu?" tanya Gerald penasaran.
"Karena cewek itu adalah keponakan dari kakak ipar gua jadi gua merasa harus melindunginya seperti menjaga seorang keponakan. Seperti Benjamin yang sudah di panggil oleh Tuhan, mungkin?"
"Kenapa ada mungkin kalau lo dari awal beranggapan ingin menjaga dia sebagai seorang keponakan. Kata mungkin itu berarti elo mungkin saja menyukainya sebagai seorang perempuan. Dan masalah cewek itu adalah keponakan kakak ipar lo memangnya kenapa? Kalian tidak punya hubungan darah jadi wajar-wajar saja kalau lu pacarin dia." Joseph hanya terdiam mendengar perkataan dari Gerald, meskipun terkesan tidak serius Gerald itu orang yang pintar menganalisis situasi.
"Benar kata Gerald, tapi yang mesti lo ingat adalah di sini cewek itu masih SMA. Berarti jalan hidupnya masih panjang, masih ada waktu sampai 10 tahun lebih untuk dia memikirkan pernikahan. Seandainya saja kalian benar-benar jadian dan serius. Apakah lu sanggup untuk menunggu cewek itu sampai di usia yang cukup dan matang untuk menikah?" Joseph masih terdiam memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Mathias.
__ADS_1
"Kalian nggak heran sama gua yang suka sama anak SMA?" tanya Joseph sembari memandang ke arah keduanya.
"Ga lah, nih ya gua kasih tahu kakak sepupu gua aja nungguin cewek yang disukanya dari SMP sampai sekarang mereka udah nikah. Bayangkan coy! Dari umur tuh cewek 13 tahun sampai umur 26 tahun. Gua aja sampai geleng-geleng kepala sama kakak sepupu gua," ucap Gerald dengan tertawa keras sementara Joseph meresapi setiap perkataan dari keduanya.
"Jos, ga usah terlalu dipikirkan, kalau berjodoh juga kalian berdua akan bersama akhirnya," ucap Mathias sambil memperhatikan Gerald yang tidak berhenti tertawa. Entah apa yang membuatnya begitu senang saat menceritakan tentang kakak sepupunya yang menurut Mathias biasa saja.
"Lagian itu cewek pasti disayang sama nyokap lo, secara dia adalah keponakan dari kakak ipar lo. Dia pasti anggap itu cucu dia kayak David." Joseph tidak suka saat mendengarkan kalimat dari Gerson barusan.
Bagian hatinya yang lain menolak jika Karina menganggap Jeniffer selayaknya David. Biar bagaimanapun usia Jeniffer dengan David berbeda sangat jauh. Dia itu sudah menjelma menjadi gadis cantik.
"Kenapa muka lo makin asem dah. Kayak mangga kecut," celetukan Gerson membuat Joseph meringis.
"Mendingan kita makan siang dulu, siapa tahu perut kenyang pikiran ikut tenang," usul Mathias yang mulai mencium aura gelap dari Joseph.
***
Jam makan siang pun telah usai, kegiatan perkantoran di mulai kembali. Apakah dengan perut yang kenyang pikiran Joseph ikutan tenang? Jawabannya tentu saja Tidak! Pria itu bahkan berhalusinasi melihat Jeniffer di mana-mana dan itu membuat Mathias dan Gerald menghembuskan nafas panjang.
Ini tidak dapat dibiarkan, Joseph harus segera dipulangkan agar tidak mengacaukan pekerjaan tim. Lagipula selama ini kinerja Joseph bagus dan bos mereka Pak Andre menyukainya. Yang mereka berdua khawatirkan adalah jika sang bos yang mengamuk melihat hasil pekerjaan Joseph yang hancur berantakan. Biarlah mereka berdua yang akan menggantikan pekerjaan Joseph sampai pikiran Joseph kembali seperti sediakala.
"Joseph Zedekiah! Mendingan lo pulang sekarang, daripada buat rusuh kerjaan kita semua. Pak Andre udah ngizinin koq," ucap Mathias dengan nada khawatir.
"Benar kata Mathias, mendingan pulang. Ambil cuti lagi sana sampai pikiran lo kembali ke asal!" ucap Gerson dengan nada tegas, dia kasihan dengan keadaan Joseph saat ini yang menggenaskan.
Joseph, Joseph. Gua kira lo ga normal karena ga pernah mikirin cewek, ekh sekalinya mikirin itu cewek masih ABG plus keponakan kakak ipar lo pula. Ucap Mathias dalam hatinya.
Sepertinya kali ini Joseph tidak dapat mengelak lagi jika dia sudah menyukai Jeniffer. Tapi apakah pria itu akan mengungkapkan perasaannya atau membiarkannya saja?
__ADS_1