Aku Bukan Gadis Kecil, Om!

Aku Bukan Gadis Kecil, Om!
37. Mengerjai Mental Edward!


__ADS_3

"Argggghhh! Dasar Edward kurang ajar!" teriakan pun bergema di dalam kelas itu membuat Jeniffer tertawa puas.


Jeniffer melihat dengan mengendap-endap Tania menuju ke arah kelas Edward dan menamparnya.


"Dasar cowo kurang ajar." maki Tania yang membuat Edward seketika termangu, apakah kesalahannya sehingga Tania marah begitu besar pada dirinya.


"Tania! Tunggu bisa jelaskan ada apa ini?" tanya Edward setelah pulih dari rasa terkejutnya.


"Jangan pura-pura be*o deh. Ini kan hadiah dari lo!" bentak Tania sembari melemparkan kotak hadiah bergambar hati berwarna merah muda.


Edward kembali terkejut saat kotak itu mengenai da*anya cukup keras sehingga pemuda itu meringis kesakitan. Karena penasaran Edward pun membuka kotak itu dan matanya melebar saat melihat isinya. Orang gila mana yang menghadiahkan ular dan tikus mainan serta beberapa potongan tubuh yang terbuat dari plastik. Mengesankan seakan di pengirim adalah seorang psikopat.


"Tania! Bukan gua yang kasih hadiah ini, please percaya sama gua!" seru Edward kembali namun Tania tidak mempercayainya.


Dari luar ruangan kelas, Jeniffer mendengar perdebatan diantara keduanya dan menyeringai sinis. "Bagus! Kalau lo masih mau dideketin sama Ade tiri gua, lo akan terima hadiah yang lebih menyeramkan daripada ini." gumam Jeniffer pelan.


'Jessi, terus bagaimana?' tanya Jeniffer sambil meninggalkan area kelas 10.


'Balik aja ke kelas dulu. Nanti pas pelajaran olahraga kita kasih hadiah ke Ade tiri lo.' ucap Jessi yang langsung dituruti oleh Jeniffer.


'Tapi gua bingung kenapa mesti ngerjain si Edward yang ga tahu apa-apa.' ucap Jeniffer mengemukakan hal yang membuat penasaran.


'Justru karena dia tidak tahu apa-apa jadi kita kerjain. Masa sih selamanya tuh orang akan diam saja kita kerjain. Pasti ada suatu saat dia mulai jengah dan memilih antara bertanya sama kita atau bertanya pada keluarga bang*at itu.'sahut Jessi dengan berapi-api.


'Oke kalau dia akhirnya tanya ke orangtuanya tapi mereka ga ngerti kenapa kita kerjain anaknya bagaimana?'tanya Jeniffer.


'Ya kita kasih tanda yang menunjukkan kalau keluarga bang*at itu juga punya satu anak selain si culun itu.' penjelasan Jessi membuat Jeniffer mengangguk.


'Oke berarti kita akan menghancurkan mental dari Edward dulu baru perlahan kita akan menghancurkan keluarga Sukmajaya.


'Iya seperti itu gambarannya, gua mau bocah itu duluan yang menderita baru bokap dan nenek lo yang baj*ngan itu.'


***

__ADS_1


Bel pergantian pelajaran pun berbunyi Jeniffer memanfaatkan hal itu untuk menyelinap keluar dan menuju kelas Edward, gadis itu sudah mempersiapkan kejutan-kejutan lainnya untuk adik tiri.


Teman sekelasnya pun tidak ada yang bertanya karena merasa ngeri akan dimarahi habis-habisan, sudah cukup mereka melihat kemarahan gadis itu dan hanya orang gila yang mau melihat seberapa menyeramkannya Jeniffer.


Dengan mengendap-ngendap layaknya seorang pencuri Jeniffer memasuki kelas sang adik tiri sembari memastikan tidak ada orang yang akan melihatnya.


'Jess, yang mana meja dan tas Edward?' tanya Jeniffer setelah beberapa saat memindai keadaan kelas yang kosong ini.


'Barisan kedua dari belakang, tas ransel berwarna hitam merek e*ger.' jawab Jessi.


'Ato kalau ga sini, gua yang take over lagi. Lo 'tidur' aja dulu.' Jeniffer langsung mengikuti perintah Jessi, dia segera 'tidur' dan membiarkan pribadi keduanya mengambil alih.


'Alangkah indahnya kalau gua yang menguasai tubuh ini. Apa gua buat Jeniffer tertidur aja ya selamanya.'pikir Jessi sembari melihat penampilannya melalui cermin saku yang memang selalu dibawa oleh Jeniffer kemanapun dia pergi.


'Ah, benar juga. Jangan lama-lama di kelas ini nanti keburu orang datang.' ucap Jessi setelah memastikan bahwa kejutan-kejutan sudah diletakkan di atas meja dan di dalam tas.


Sebenarnya Jessi bisa langsung kembali ke dalam pikiran Jeniffer, namum dia sengaja tidak melakukannya. Jessi masih ingin menikmati kebebasannya, mungkin dia harus membujuk Jeniffer agar bertukar tempat dengannya setiap 12 jam sekali.


"Jeniffer! Tumben lo keluar kelas jam pelajaran seperti ini." panggilan itu membuat Jessi menoleh dan saat mengetahui siapa yang memanggilnya reflek pribadi kedua Jeniffer itu berdecih.


"Hey, koq diam aja. Sakit gigi ya?" tanya Leo usil.


"Minggir! Lo ganggu gua yang mau balik ke kelas!" sentak Jessi sembari mendorong tubuh pemuda jangkung itu.


"Jeniffer! Tunggu memangnya gua pernah buat salah sama lo, ya? Sampai-sampai lo benci banget sama gua." ucap Leo setengah berteriak, namun Jessi sama sekali tidak menoleh kebelakang.


"Harus dengan cara apa supaya lo mau bicara sama gua dengan lembut. Gua ini juga kenapa sih, bisa-bisanya jatuh cinta sama cewek sangar kayak gitu." ujar Leo pada dirinya sambil memandangi punggung Jeniffer yang mulai menjauh.


"Bang Leo!" Leo pun menoleh dan melihat Edward dan teman-teman sekelasnya yang sepertinya baru saja selesai mengikuti pelajaran olahraga.


"Kalian bau keringat, cepat sans ganti baju." ucap Leo dengan tertawa dan menutup hidungnya seolah Edward dan teman-teman 'bau' setelah berolahraga.


"Iya ini kami juga mau ganti baju, duluan ya kak.' pamit salah seorang teman Edward sopan.

__ADS_1


"Jangan lupa ntar jam 3 sore kita latihan basket sampai jam 5 sore aja. Jadi pastikan perut kalian tidak terlalu kosong dan tidak terlalu penuh." ucap Leo dengan nada serius kepada para juniornya.


"Bsok Bang, kami permisi." ucap teman Edward lagi.


Sebenarnya Leo ingin kembali ke dalam kelas, namun guru yang mengajar berhalangan masuk sehingga membuat suasana kelas yang semula hening menjadi seperti pasar. Bising dan penuh dengan hingar bingar membuat Leo merasakan pusing ketika berada di dalam kelas.


***


Jessi yang sudah kembali ke dalam kelas pun tersenyum puas membayangkan Edward akan terkejut saat menerima hadiahnya. Barang bukti sudah dia hilangkan, seharusnya tidak akan ada masalah bukan? Pikir Jessi dalam hatinya.


'Kira-kira untuk yang selanjutnya ngerjain bocah culun itu pakai apaan, ya?' tanya Jessi. Jeniffer tidak menjawab karena Jessi sudah membuat Jeniffer tertidur.


Karena terlalu asyik melamun membuat Jessi tak menyadari bahwa bel istirahat kedua telah berbunyi.


Kriukk


Bunyi perut Jeniffer yang berbunyi mengganggu pendengarannya, sebenarnya dia tidak ingin makan namun dengan melakukan itu dapat membuat Jeniffer akan tumbang dan itu jelas akan membahayakan keselamatan keduanya.


Di kantin saat Jessi sedang mengantri di Abang penjual bakso, sekelebat pendengarannya membicarakan tentang apa yang terjadi dengan Edward.


"Bener-bener ngeri yang kirim hadiah itu! Masa di atas meja Edward sudah tergeletak boneka voodo dengan nama Edward dan jarum pentul tertancap di titik vital boneka itu seperti kepala, jantung, leher dan kedua tangan dan kaki. Kayak santet gua lihatnya.


"Jangan lupakan juga di dalam tas Edward ada barang mengerikan seperti potongan kaki dan tangan plastik."


Jessi kembali menyeringai sinis. Harusnya itu sudah cukup untuk Edward untuk mengerti bahwa ada seseorang yang tidak menyukai kehadirannya. Dan jujur saja Jessi tidak perduli jika Edward menuduh dirinya atau tidak. Yang dia inginkan tentu saja membuat keluarga Sukmajaya hancur sehancur-hancurnya.


"Silahkan Dek, mau bakso komplit atau bakso biasa aja?" tanya Abang penjual bakso setelah tiba giliran Jessi.


"Aku mau bakso komplit pake mie instan rasa kari ayam jangan lupa sambelnya yang banyak." ucap Jessi lagi dan salah satu yang dia syukuri adalah Jeniffer tidak pantang makanan sekarang jadi dia dengan bebas memakan apapun.


"Gua jadi penasaran siapa ya yang ngirim hadiah itu sama Edward. Itu anak sampe syock dan minta pulang, gua lihat sampai pucat pasti itu mukanya."


"Tania juga pas denger Edward dapat hadiah yang sama dengar-dengar ga mau lagi berhubungan dengan Edward.

__ADS_1


Makan semangkuk bakso dengan diiringi gosip mengenai Edward membuat makanan itu bertambah-tambah besar nikmatnya.


'Tunggu anak tercinta kalian sakit jiwa baru gua akan perlahan menghancurkan kalian. Keluarga bang*at Sukmajaya.' tekad Jessi dengan semangat yang bergelora.


__ADS_2